"Vita, apa benar kamu cemburu sama Stella?"Yovita mengernyitkan kening sambil mengamati Paramita yang terlihat sengaja mampir setelah pulang kerja. Tidak ada hujan, tidak ada angin, tiba - tiba saja sang tetangga menembaknya dengan pertanyaan aneh."Kamu ngomong apa sih? Aku kok gagal paham," sahut Yovita kemudian."Pertanyaanku ini sangat jelas lho, Vita. Masa kamu nggak mengerti sih?" ujar Paramita lagi. Dia memandang Yovita dengan tatapan menyelidik sambil mengulang kembalI pertanyaannya, kali ini dengan nada penuh penekanan, "Apa kamu cemburu sama Stella?"Tidak langsung merespon, Yovita memiringkan wajah. Keningnya berkerut kian dalam saat mengamati tetangganya itu dengan seksama. Paramita duduk di atas sepeda motor yang biasa dia pakai pergi dan pulang kerja. Dari penampilannya, terlihat kalau tetangganya itu belum sempat masuk ke rumahnya sendiri. Pakaian yang dikenakan pun masih setelan celana panjang khas seragam kantor sebuah pabrik tekstil yang cukup terkenal di kota ini.
"Maafkan kami, Nenek. Kami sudah menikah." Dia menarik tangan Maureen, lalu mengangkat tangan mereka bersamaan untuk menunjukkan sepasang cincin yang melingkar di jari manis masing-masing.Benda mungil yang selama ini mungkin kurang diperhatikan oleh Nenek. "A-apa?" gagap Nenek.Dia melihat Maureen lalu Erland, secara bergantian. "Kalian..."Mulutnya terbuka, tapi tidak jadi melanjutkan kalimatnya seakan takut mengungkapkan isi pikirannya."Ya. Kami sudah menikah," ujar Erland melanjutkan kata-kata Nenek Argantha."Ya Tuhan..." gumam Nenek sambil memegang dadanya yang berdetak kencang. Ketakutannya terbukti. Erland mengakuinya.Melihat itu, Maureen melepaskan tangannya dari Erland, dan kembali memeluk Neneknya."Maafkan aku, Nek," rengeknya, khawatir sekaligus sedih melihat Neneknya yang tampak shock.Air mata menetes di pipi Nenek. "Maureen, Maureen, sejak kapan? Kenapa kamu tidak memberitahuku, Nak?" sesal Nenek, suaranya pelan dan nyaris tak terdengar.Erland berlutut di depan Nen
"Nenek!" sapa Maureen dan Erland hampir bersamaan. Mereka nyaris memekik karena terkejut.Mata Nenek memindai Erland dan Maureen dengan sangat cermat. Beliau melihat sendiri Maureen sedang duduk di pangkuan Erland dan mereka tampak sedang bermesraan. Dia tidak mungkin salah lihat.Seketika Maureen melompat turun dari pangkuan Erland, lalu merapikan rambut dan pakaiannya dengan gugup. Matanya menatap Nenek takut-takut.Berbeda dengan Maureen, Erland terlihat lebih tenang. Lelaki itu meraih tangan Maureen dan menggandengnya berjalan mendekat ke Nenek. Langkah Maureen terasa berat saat mengikuti Erland."Apa yang kalian lakukan malam-malam begini, hah?" sergah Nenek. Sorot matanya tajam dan menghakimi."Uhm, Nenek..." Maureen mengkeret. Otaknya blank, tidak bisa menemukan alasan yang tepat untuk menjelaskan keberadaan Erland disini."Apa kalian pacaran diam-diam di belakangku?" tanya Nenek lagi. Matanya tertuju pada tangan sepasang suami istri yang saling bertautan.Maureen memutar perge
"Erland...." Sesaat Maureen tidak tahu harus menjawab apa. Ajakan Erland terdengar spontan dan lugas. "Oke. Diam berarti setuju," putus Erland, kembali menyuap makanannya. Dia sangat lapar. "Kita pacaran?" tanya Maureen seperti orang berbisik, seakan-akan takut ada yang mendengar percakapan mereka. Erland mengangguk. "Ya." Maureen menarik tangannya dari genggaman Erland, lalu melipatnya di depan dada. "Kamu sedang menjadi pacarmu, atau sudah memutuskannya? Sepertinya aku tidak mendengar kalimat permohonan darimu," ucap Maureen, berpura-pura marah. "Aku tidak perlu memohon pada istriku untuk menjadi pacarku. Pokoknya, kita pacaran," tegas Erland, memasukkan potongan terakhir makanan ke dalam mulut. Perut kenyang, hati pun senang. Maureen mengernyitkan wajah, tiba-tiba kesulitan menata kalimatnya. "Jadi, kita pacaran seperti... " Erland mengusap mulutnya dengan serbet, lalu menunggu Maureen melanjutkan ucapannya. "Seperti?" pancing Erland kemudian. "Yeah..., jadi hubungan kita
Reaksi Lillian yang tampak diluar kebiasaan itu membuat Maureen tersadar akan sesuatu. Di menunduk, melihat ke dirinya sendiri. Tersentak, Maureen langsung mengibaskan rambutnya kembali ke depan supaya kembali menutup bagian dadanya yang sedikit terbuka. Dia berusaha tersenyum meski bibir dan pipinya terasa panas. Ini memalukan sekali! Sejak tadi, Erland sesekali mencuri lihat interaksi Mommy dan istrinya. Ekspresi janggal Lillian ditambah reaksi aneh Maureen menimbulkan penasaran di hati Erland. "Ada apa dengan kalian?" tanya Erland curiga. "Kulitmu merah-merah, apakah gatal? Atau, sebaiknya kita pergi ke dokter kulit saja?" tanya Lillian, mengabaikan pertanyaan Erland. Maureen refleks melirik ke arah Erland. Tatapan yang singkat, tapi cukup menyadarkan lelaki itu akan sesuatu. Bibir bengkak? Lalu, merah-merah di kulit. Astaga! Erland nyaris mengelus dada. Jelas sekali kedua hal itu adalah hasil karyanya. "Tidak perlu, Lillian. Cuma diolesi salep pasti akan sembuh," jawab Mau
"Oh, Erlan... mmmph." Suara Maureen tenggelam dalam ciuman panas Erland yang menggebu. Jari-jarinya meremas rambut Erland. Matanya terpejam menikmati setiap perlakuan Erland. Di dalam kamar yang kedap suara itu, Erland bebas memberi hukuman pada Maureen. Diatas tempat tidur, Maureen tergolek pasrah. Wajahnya merah padam saat merasakan tangan Erland dengan lincah menyusup ke punggung lalu melepaskan tali bikini yang menutupi tubuh bagian atasnya. "Please, stop..." rengek Maureen mengiba, berharap Erland menghentikan hukumannya. Erland tidak mau berhenti. Namun saat lidahnya mulai menikmati gundukan kembar nan cantik, suara intercom memecah suasana panas yang memenuhi ruangan itu. Mencoba mengabaikannya, tangan Erland menekan pinggang Maureen. Bibirnya kembali menangkup bibir Maureen. Tapi, lagi-lagi intercom berbunyi. Kali ini terdengar lebih lama dan mengganggu. Mau tidak mau Erland berhenti. Rahangnya mengeras ketika bunyi itu terhenti hanya sesaat, lalu kembali bersuara. Men