Share

6. Baikan

Author: January yeoja
last update Last Updated: 2024-03-15 23:41:46

Tangisan Chava sudah berhenti, namun baik Chava dan Alvian masih tidak ingin berganti posisi, mereka setia dengan posisi saling membelakangi pintu. Hening, hanya suara denting jam dinding saja yang terdengar kini. Masing – masing dari mereka sibuk dengan pemikiran – pemikiran yang kini seperti berkecamuk di benaknya.

“Ca, kamu tahu kan bahwa aku adalah orang yang selalu merencanakan masa depan? Bahkan ingin menikahi kamu pun, itu sudah aku rencanakan dari dulu.” Suara Alvian memecahkan keheningan.

Detik demi detik terus berjalan, namun telinga Alvian tidak mendengar tunangannya itu merespon perkataan Alvian. Alvian tersenyum palsu, dia menarik napas dalam – dalam, mengerti bahwa Chava masih marah kepada dirinya.

“Pekerjaan ku tadi, ada hubungannya dengan rencana yang udah aku buat. Pak Hartono — calon investor perusahaan aku. Tiba – tiba aja dia ubah jadwal pertemuan aku dan dia, yang seharusnya dua hari lagi, menjadi sekarang.”

Mulut Alvian tidak henti – hentinya mengeluarkan suara. Alvian tahu, meski di balik pintu sana, Chava tidak merespon perkataannya, tapi Chava pasti mendengarkan.

Maka dari itu Alvian tidak akan berhenti bicara untuk meluruskan kesalah pahaman.

“Pembicaraan aku dengan beliau benar – benar penting dan jika aku berhasil meyakinkan beliau untuk jadi investor, maka udah aku pastikan keuangan perusahaan akan stabil. Bukan aku serakah, Ca. Tapi aku beneran butuh keuangan perusahaan stabil, apalagi sebentar lagi aku udah enggak hidup sendirian. Aku akan menikah dengan kamu.”

“Aku harus menafkahi kamu, menambah tabungan lagi untuk kita kedepannya dan aku juga udah mulai mempersiapkan biaya untuk Pendidikan anak kita nanti. Aku gak mau kelak nanti istri aku dan anak – anak kita kekurangan biaya untuk hidup, seperti aku dulu, Ca.”

Ada rasa sesak kini menghingapi relung hati nya. Ingatan Alvian kini berputar pada puluhan tahun lalu, di saat dia mengalami kekacauan besar di hidupnya.

“Dulu, ketika Mama dan Papa bercerai, aku hidup kesusahan, Ca. Untuk makan pun, kita susah, dan aku enggak mau hal itu terulang serta terjadi ke istri dan anak aku.”

Alvian tersenyum getir, dia menghirup udara dalam – dalam, lalu mengeluarkan secara perlahan. Alvian berusaha mengurangi rasa sesaknya itu.

“Aku berhasil, Ca. Pak Hartono mau jadi investor di perusahaan aku.” ucap Alvian, lagi dan lagi.

Meski Alvian tidak fokus seharian ini, namun dewi fortuna ternyata berpihak padanya.

“Aku tahu, Ca, hari ini gak akan pernah bisa terulang lagi. Aku minta maaf, aku benar – benar menyesal.”

“Maaf karena udah mengingkari janji, maaf karena udah buat kamu bad mood, maaf udah enggak sengaja bentak kamu, maaf buat kamu sakit dan aku sangat minta maaf karena udah membuat kamu menangis.”

Kesalahan – kesalahan Alvian hari ini dia akui sangat banyak. Jika Alvian bisa memutar waktu, dia pasti akan memilih untuk menepati janjinya. Alvian tidak akan pernah menyangka bahwa dia dan Chava akan bertengkar sehebat ini.

Alvian menundukan kepalanya, lagi dan lagi dia menghirup udara dalam – dalam. Chava bahkan masih enggan untuk berbicara, padahal Alvian dengan jelas bisa mengdengar suara napas Chava.

“Aku beneran sangat semangat untuk menikahi kamu. Aku enggak mau pernikahan ini batal. Ca, jangan ba-“

Ceklek

Belum sempat Alvian menyelesaikan pembicaraanya, pintu yang sedari tadi Alvian punggungi terbuka lebar. Alvian membalikan badannya.

Dia melihat Chava berada di ambang pintu dengan dress floral yang di kenakan sudah terlihat berantakan, matanya yang sembab kini terlihat memandang dia dengan sendu.

“Ca-“

Chava mendekati Alvian, kemudian mengulurkan tangannya. “Ayo kita makan, abang?” suara yang Alvian tunggu, kini terdengar.

Alvian menatap nanar ke arah tangan Chava yang terulur padanya. “Ayo? Aku lapar.” Ajak Chava lagi kepada Alvian seperti sebuah perintah.

Alvian meraih tangan Chava yang terulur padanya, kemudian dia bangun dari duduknya. Chava mengenggam tangan Alvian lalu melangkahkan kakinya menuju dapur.

Alvian hanya mengekori Chava dari belakang, tatapan matanya tak henti – hentinya memandangi Chava dengan sendu. Alvian bahkan tidak sadar bahwa kini dirinya dan Chava sudah berada di dapur.

“Aku masak dulu, kamu duduk aja disana.” Perintah perempuan itu pada Alvian.

Alvian tidak menuruti perintah Chava, karena ketika Chava berbalik, Alvian terlebih dahulu memeluk Chava dari belakang. Alvian mencium rambut Chava yang wangi itu, lalu menempelkan dagunya pada bahu tunangannya itu. Seketika rasa lelah Alvian lenyap, hanya dengan memeluk tubuh Chava.

“Chava, please, maafin aku … “ lirih Alvian.

Berbeda dengan beberapa menit lalu, Chava terlihat menganggukan kepalanya, “Iya, Abang. Maafin aku juga.” ujarnya kemudian mengelus lengan Alvian.

Seberapa banyak pun kesalahan Alvian, Chava pasti akan memaafkannya. Dengan memaafkan Alvian, seharusnya Alvian sudah tahu betapa besar cintanya Chava pada dirinya. Alvian selalu berhasil meluluhkan hati Chava.

“Widih, ada yang baru baikan nih?” teriakan Gara mampu membuat calon pengantin ini membelalakan matanya, pasalnya saat Chava dan Alvian datang ke dapur tadi, tidak ada siapa – siapa disana.

Alvian membalikan tubuhnya dengan otomatis Chava pun ikut berbalik karena Alvian masih belum melepaskan pelukannya. Disana mereka melihat Gara memasuki dapur dengan menenteng kantong plastik di kedua tangannya.

“Nah gini dong pasangan yang mau kawin tuh, mesra – mesraan, bukan marah – marahan kayak tadi.” Sindir Gara pada pasangan tersebut.

“Bacot, bang!” seru Chava yang kini menatap nyalang pada Gara.

“Adek abang ini, galak banget ah. Kalian berdua pasti pada lapar kan? Tenang aja, Abang Gara udah belikan makanan untuk kalian. Ada Pizza, spaghetti, dan pasta. Tinggal makan aja.” Gara memamerkan kantung plastik yang ada di kedua tangannya dengan mengangkat tinggi – tinggi.

Tadi saat mereka betengkar, Gara memilih keluar rumah untuk memberikan privasi kepada mereka berdua. Sebenarnya membeli makanan pun itu hanya untuk alasan Gara saja, agar alasan yang sebenarnya tidak diketahui.

“Ayolah, makan? Mari kita menuju ke meja makan!” ajak Gara pada adik dan calon adik iparnya itu. Gara membalikan badannya.

Belum sempat Gara berjalan, seakan teringat sesuatu, Gara mengurungkan langkahnya itu dan berucap, “kalau mau makan, jangan lupa di lepasin dulu pelukannya, ya?”

Gara benar – benar membuat pipi pasangan itu memerah, meskipun Gara tidak melihat ekspresi keduanya, Gara tetap tertawa lepas dan kini berjalan meninggalkan mereka.

Alvian dengan cepat melepaskan pelukannya pada tubuh Chava. Memeluk Chava sangat nyaman, hingga dia lupa untuk melepaskan. Chava membalikan tubuhnya, kini mereka saling bertatapan dengan canggung.

Pipi Chava dan Alvian masih memerah gara – gara perkataan Garalen tadi, bahkan Chava kini menggigit bibir bawahnya. Namun tak lama sudut bibir mereka terangkat, kemudian mereka saling tertawa, mentertawakan kebodohan mereka.

“Yuk kita makan? Sebelum Gara bawel lagi.” Giliran Alvian mengenggam tangan Chava.

“Ayo!” ujar Chava yang membalas genggaman tangan Alvian.

Mereka berjalan beriringan menuju meja makan yang dimana disana sudah ada Gara yang menunggunya. Sambil berjalan bersama, mereka saling bercanda satu sama lain. Gara yang melihatnya pun ikut tersenyum melihat kedua calon pengantin itu.

***

Bersambung ...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan yang Membingungkan   57. Kehidupan baru

    Alvian menghela napas panjang sambil berbaring di sofa di ruang TV, menatap langit-langit dengan pikiran yang melayang-layang. Apa sebenarnya kesalahan yang telah ia lakukan pada Chava? Seharian ini, Chava menghindarinya, tak mau bicara sedikit pun. Ia bahkan melarang Alvian masuk ke kamar, membuatnya terpaksa tidur di ruang TV.Alvian sudah mencoba berbagai cara untuk meluluhkan hati Chava. Berkali-kali ia meminta maaf, meski ia sendiri tak merasa telah melakukan kesalahan yang cukup serius untuk membuat Chava marah. Namun, tetap saja Chava tak memberi respons.“Ting!”Ponselnya tiba-tiba berbunyi, memecah keheningan. Ia meraih ponsel yang terletak di sampingnya dan membaca pesan yang baru saja masuk. Mata Alvian terbelalak. Pesan dari Chava itu langsung membuatnya bergegas.[ Cepat masuk ke kamar, kalau lima menit kamu enggak masuk, aku akan kunci lagi! ]Tanpa pikir panjang, Alvian segera melompat dari sofa dan berlari menuju kamar. Benar saja, pintu kamar yang tadinya terkunci kin

  • Pernikahan yang Membingungkan   56. Perpisahan sang mantan

    “Geli banget deh aku!” jerit Joya, begitu masuk ke dalam ruangan. Suaranya melengking, membuat Chava dan Binar langsung mengerutkan dahi. Joya baru tiba, tapi sudah menghebohkan suasana. Wajahnya menahan geli sekaligus ngeri, bahkan bahunya ikut bergidik.“Kenapa?” Binar bertanya, penasaran.Joya duduk di depan mereka, menarik napas sebelum mengeluarkan ponselnya. “Nih, lihat,” katanya sambil menunjuk layar ponselnya yang menampilkan foto Gavin, mantan pacar Chava, bersama seorang pria.Sekilas, foto itu terlihat biasa saja, hanya dua orang yang duduk bersama. Namun, ketika Chava dan Binar melihat caption foto itu, mereka langsung mengerti mengapa Joya sampai merinding. Tertulis dengan jelas: "My beloved, Gavin."Joya menarik kembali ponselnya, lalu menggeleng pelan sambil menghela napas. “Si Gavin, setelah putus dari kamu, jadi aneh banget kelakuannya. Masa pacaran sama sejenisnya, sih?”Faktanya, Chava memang sudah tahu soal ini sejak lama, bahkan kabar ini sempat membantunya untuk

  • Pernikahan yang Membingungkan   55. Perasaan yang masih sama

    Gavin melangkah keluar dari ruangan Alvian, berusaha tetap tenang meski hatinya bergolak. Situasi semakin tidak nyaman, dan yang lebih menghantam perasaannya adalah pengakuan mantan kekasihnya, Chava, bahwa ia telah menikah dengan Alvian. Meskipun Gavin sudah tahu hal ini lewat unggahan media sosial teman Chava, mendengarnya langsung dari mulut Chava menimbulkan rasa sakit yang mendalam.Sejenak, Gavin menyesali keputusannya di masa lalu. Seandainya saja ia bisa memperlakukan Chava dengan lebih baik, mungkin cincin yang melingkar di jari manis Chava adalah cincin dari dirinya, bukan dari Alvian. Ia tak menyangka akan bertemu kembali dengan Chava dalam kondisi seperti ini.Saat Gavin mengetahui kerja sama yang datang dari perusahaan milik Alvian, Gavin langsung menyetujuinya. Gavin bahkan berani menunjukan wajahnya pada Alvian, padahal orang – orang yang pernah bekerja sama dengan dia tidak pernah ada yang tahu wajah Gavin. Gavin juga sengaja menyamarkan namanya.Hal tersebut dia lakuk

  • Pernikahan yang Membingungkan   54. Bertemu mantan kembali

    Hari ini hari pertama Alvian bekerja sama dengan Gavin, mereka akan bertemu. Pertemuan ini adalah awal dari rencana pembangunan kantor baru Alvian, namun rasa gelisah menguasai hatinya. Alvian merasa enggan, bahkan sedikit malas, untuk bertatap muka apalagi berbicara dengan Gavin.Namun, demi Chava, Alvian tahu ia harus melakukannya. Ia bertekad menyingkirkan perasaannya demi keprofesionalan dia.Saat pintu ruangannya terbuka, Alvian melihat Mario masuk lebih dulu, diikuti oleh Gavin di belakangnya. "Pak Alvian, ini Pak Gavin," kata Mario, mencoba mencairkan suasana dengan sapaan formal yang terdengar datar.Alvian bangkit dari kursinya, mengulurkan tangan dengan sikap profesional meskipun hatinya terasa berat. Ia sadar, bagaimanapun, Gavin adalah tamunya, dan sebagai tuan rumah, ia harus menunjukkan sikap yang baik. Dalam hatinya, ada perasaan campur aduk—rasa tidak nyaman yang tak bisa ia abaikan.Gavin menyambut uluran tangan Alvian dengan senyuman lebar, membuat suasana seakan-ak

  • Pernikahan yang Membingungkan   53. Kepercayaan

    Sepulang dari kantor, Alvian sama sekali tidak membuka mulut, suaranya pun tidak Chava dengar. Wajah Alvian memang terlihat sudah biasa saja, tidak menunjukan ekspresi marah seperti saat di Kantor tadi. Maka dari itu Chava simpulkan, suaminya masih kesal padanya.Chava melingkarkan kedua tangannya dari arah belakang pada dada Alvian yang sedang menyesap rokok elektronik di Rooftop rumahnya. Dia juga menempelkan kepalanya pada punggung Alvian. Alvian yang tiba – tiba saja dipeluk, membuat Alvian terkejut, namun tidak membuat dia berbalik untuk melihat Chava.“Masuk, Ca. Aku lagi ngerokok.” Akhirnya Alvian mengeluarkan suara hanya untuk memperingatkan Chava.Alvian jika ingin merokok, dia akan merokok di Rooftop ataupun ditempat lain yang tidak ada Chava. Karena Alvian tidak ingin membuat Chava terbatuk – batuk menghirup asap rokok.“Enggak mau,” tolak Chava, dia memang sengaja menyusul Alvian ke Rooftop untuk membujuk Alvian. Dia bahkan menahan agar dia tidak batuk saat asap rokok itu

  • Pernikahan yang Membingungkan   52. Hal tak terduga

    Alvian sudah menjalankan rutinitas harian seperti biasanya, setelah mengetahui kondisi Chava mulai membaik. Bahkan istrinya itu sudah pulang ke rumah dua hari lalu. Hanya saja Dokter memberikan pesan pada Alvian, agar tetap mengawasi Chava.Tadinya Alvian menolak untuk pergi bekerja, dia berencana akan mengambil cuti kembali karena kondisi Chava. Namun Chava menolak, dia menyuruh Alvian untuk pergi bekerja, karena Chava tahu Alvian sudah banyak sekali tidak hadir. Meski perusahaan itu milik Alvian, tapi Chava ingin Alvian pula menepati peraturan yang dia buat.“Bos, apa kamu tahu siapa arsitek yang akan mendesain pembangunan kantor baru, kamu?” Tanya Mario yang kini sedang duduk diseberang Alvian.“Tidak, saya hanya tahu bahwa nama dia Alend.” Ucap Alvian yang tidak mengalihkan perhatian matanya saat Mario bertanya.Memang Alvian berencana untuk membangun kantor baru yang lebih luas dari kantornya sekarang. Alvian akan lebih banyak merekrut karyawan, apalagi penjualan dari usaha pakai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status