MasukMelihat bagaimana Ivan bersumpah dengan penuh keyakinan, aku hanya mengajukan satu pertanyaan."Apa kamu mencintaiku?"Aura di sekitar Bryan terasa makin dingin, dia menatapku dengan sedikit tegang.Aku pelan menyentuh punggung tangannya sebagai penenang.Ivan pun tertegun sejenak, lalu menjawab dengan tegas, "Aku mencintaimu!"Ekspresiku tetap tenang, aku bertanya lagi, "Apa kamu mencintai Isabella?"Ivan ragu, alisnya menunjukkan kebingungan."Linda, aku ditipu olehnya, aku mencintaimu. Terhadap dia ... aku nggak punya perasaan."Aku perlahan tersenyum tipis. "Ivan, kamu berbohong."Sebenarnya, terkadang aku lebih memahami Ivan daripada dirinya sendiri.Dia terlihat dewasa, tetapi dalam hal perasaan, justru sangat berbelit.Aku percaya selama tujuh tahun ini dia punya perasaan padaku.Namun dibandingkan dengan yang dia berikan pada Isabella, terlalu sedikit, terlalu tidak berarti."Aku sudah memberimu kesempatan, tapi kamu yang membuat pilihan."Bibir Ivan bergetar.Dia teringat saat
Ivan mengernyit melihat bubur di atas meja.Namun di kepalanya justru terbayang sosok Melinda di dapur, sibuk membuat bubur penyehat lambung untuknya.Suasana hatinya makin buruk."Aku nggak selera makan."Isabella merasakan sikap dingin Ivan, menggigit bibir bawahnya dengan kesal.Masih tak mau menyerah, dia berkata, "Ivan, kematian Melinda memang pantas. Dia ingin membunuhku, dia memang pantas menerima itu!" Ivan tiba-tiba mencekik lehernya, mengertakkan gigi dan berkata, "Tarik kembali ucapan itu! Melinda nggak mati, dan dia nggak mungkin melakukan hal seperti itu."Isabella kesulitan bernapas. "Jangan-jangan kamu benar-benar jatuh cinta padanya? Jangan lupa! Dulu dia yang mengusirku! Kalau nggak, yang bersama seharusnya kita!"Ivan teringat alasan dia dulu tidak mau menanggapi Melinda.Setelah menikah, sebenarnya dia berniat menjalani kehidupan sebagai pasangan biasa dengan Melinda.Namun saat perjalanan dinas ke luar negeri, dia tanpa sengaja bertemu Isabella dan mengetahui sesua
"Bukankah aku baik-baik saja?"Aku berpura-pura santai, tersenyum untuk meredakan suasana.Bryan tiba-tiba menarikku ke dalam pelukannya, nada suaranya bergetar."Mulai sekarang aku nggak akan membiarkan siapa pun merebutmu lagi."Saat ini, Ivan berdiri dengan wajah dingin seperti es, menatap ke arah laut.Tim penyelamat naik satu demi satu.Namun tak satu pun membawa kabar baik.Wajah Shuman terlihat pucat. "Pak Ivan, sudah satu hari satu malam pencarian dilakukan, tapi tetap nggak ada jejak.""Nyonya seolah menghilang begitu saja ... apa mungkin ...."Meski pertolongan datang tepat waktu, bagaimanapun itu laut sedalam puluhan ribu meter.Apa pun bisa terjadi.Kalau sampai bertemu jenis ikan yang buas di laut ....Dia tak berani melanjutkan pikirannya.Wajah Ivan tanpa ekspresi, tetapi lengan yang sedikit gemetar sudah membocorkan kepanikan di lubuk hatinya."Perluas area pencarian, tambahkan personel.""Hidup atau mati pun harus ditemukan ...."Sudah melewati waktu terbaik untuk peny
"Pak Ivan, tim penyelamat sudah mencari lama, tapi nggak menemukan keberadaan Nyonya!" Mata Ivan sontak membelalak karena marah dan panik. "Apa kamu bilang?"...Dingin.Kedinginan yang menusuk hingga ke tulang.Isabella memelukku dan segera melompat ke laut.Aku hanya sempat mendengar Ivan berteriak memanggil namaku dengan penuh kepedihan.Gendang telinga dipenuhi air laut, lalu yang tersisa hanya detak jantung di tengah kesunyian.Di kejauhan, sebuah sosok berenang ke arahku, naluri untuk hidup membuatku tanpa sadar mengulurkan tangan.Saat ujung jari hampir bersentuhan, terdengar teriakan Isabella dari kejauhan.Ivan terdiam sejenak, lalu dengan tegas berbalik dan berenang ke arah Isabella.Tanganku tidak bisa meraih apapun, dan punggung Ivan seolah bertumpuk dengan bayangan tujuh tahun lalu.Musim dingin itu, saat aku tahu harus menerima perjodohan keluarga dengan seorang bos yang tujuh belas tahun lebih tua dariku.Aku bersembunyi di atap gedung, menangis diam-diam untuk waktu yan
Tak lama kemudian, banyak perahu kecil penyelamat bermunculan di permukaan laut.Ivan mengangkat Isabella ke atas kapal layar, di sana sudah ada asisten dan dokter yang menunggu.Dia secara tanpa sadar hendak kembali melompat ke laut, tetapi ditahan oleh Isabella.Tubuh Isabella basah kuyup, gemetar kedinginan."Ivan ... temani aku ...."Alisnya sedikit berkerut, keraguan melintas di matanya.Shuman melirik permukaan laut, lalu berkata, "Pak Ivan, tim penyelamat sudah mulai melakukan pencarian."Maksud tersiratnya, sekarang, kalau Ivan ikut turun ke air lagi, itu hanya akan menjadi penghiburan bagi dirinya sendiri, tidak akan membantu apa pun.Ivan pun berkata dengan suara rendah, "Suruh mereka bergerak lebih cepat."Setelah berganti pakaian bersih, suhu tubuhnya perlahan kembali normal.Seusai diperiksa dokter, selain pipi yang bengkak kemerahan, tubuh Isabella tidak mengalami luka lain.Namun karena jatuh ke laut dan terkejut, mentalnya kurang stabil.Dia bersikeras Ivan harus berada
Ternyata bukan karena Ivan tidak menginginkan anak, melainkan dia yang membunuh janin sehat dalam kandunganku.Perut bagian bawah terasa nyeri hebat seperti terkoyak.Aku pun terjatuh terduduk di lantai, menangis tanpa suara.Di tengah suara cemas perawat yang bertanya, terdengar suara rendah."Linda, kamu kenapa?"Wajah Ivan dipenuhi kekhawatiran, lalu berteriak memanggil dokter.Kelembutan yang dulu paling kuharapkan, kini justru bagai ular berbisa yang melilit dan mencekikku.Tubuhku kaku gemetar, Ivan menepuk punggungku seperti saat aku kehilangan anak dulu.Dengan muak aku mendorongnya, berdiri dengan susah payah.Tanpa sadar Ivan mengernyit. Namun saat melihat wajahku yang pucat, ekspresinya melunak, sekilas rasa bersalah melintas di matanya."Linda, beberapa hari ini aku ...."Ivan sudah siap menghadapi aku yang akan menangis, marah, dan menyalahkannya.Namun setelah menenangkan napas, aku hanya menatapnya dengan penuh ejekan, lalu beranjak pergi.Ivan tertegun menatap punggungk







