LOGINMenjelang akhir tahun, kalangan sosialita di Kota Wastu mengatakan lebih baik memujaku daripada memuja dewa kekayaan. Karena setelah rujuk dengan mantan suamiku, aku menjadi istri paling materialistis di Kota Wastu. Aku tidak peduli lagi betapa Aswin mencintai wanita itu. Bahkan saat putraku memanggil wanita itu "Ibu", aku juga tidak ambil pusing. Namun, hanya ada satu aturan baru di rumah. Setiap menyebut nama Rosa, harus bayar denda 200 juta padaku. Dengan cara ini, kurang dari dua minggu, aku berhasil mengumpulkan uang 60 miliar. Pada hari perayaan ulang tahun pernikahan kami, Aswin dan putraku menyebut nama Rosa lagi. Wajah mereka berdua menegang, sedangkan aku hanya mengulurkan tangan dengan santai. "Denda 200 juta, transfer ke rekeningku." Putraku akhirnya tidak bisa menahan emosinya lagi, lalu menatapku dengan muak. "Ibu benar-benar matre, ya. Nggak ada hal lain yang ibu pikirkan selain uang? Hal sepele begini saja, kami harus bayar denda, Ibu memang kalah jauh dari Bibi Rosa." Aku tidak membantah, hanya mengulurkan tangan ke arah putraku. "Denda 200 juta, karena kamu yang sebut duluan, kamu juga kena denda."
View MoreToko kueku mulai berkembang, aku mulai buka cabang kedua.Putraku datang menemuiku setiap akhir pekan.Dia banyak berubah, bukan lagi anak manja yang suka bertindak seenaknya.Dia membantuku menyajikan kue, membersihkan meja, bahkan merekomendasikan kue yang enak kepada pelanggan."Bu, kue stroberi bikinan Ibu paling enak sedunia."Melihat senyuman lebarnya, aku langsung tertawa.Anakku memang seharusnya seperti ini.Aswin masih datang.Namun, kali ini dia tidak menggangguku seperti dulu, sekarang dia hanya menatapku dari jauh.Kadang di kafe yang ada di seberang, kadang di bangku panjang yang ada di sudut jalan.Tidak pernah mendekat, hanya diam mengawasi.Suatu ketika, Ivan tiba-tiba berkata, "Bu, sebenarnya Ayah sangat merindukan Ibu."Aku tidak menjawab."Ayah buang semua barang milik Bibi Rosa, bahkan sudah merenovasi rumah.""Katanya, ingin menghapus kenangan buruk."Aku meletakkan adonan, kemudian menatap Ivan."Ivan, nggak semua masalah bisa diperbaiki semudah itu."Ivan menund
Sudut Pandang Gisel.Ivan menatapnya dengan wajah ketakutan.Aswin baru menyadari, dirinya menangis.Dia berjongkok, memeluk putranya, lalu berkata dengan suara serak, "Ivan, Ayah telah melakukan kesalahan. Kesalahan Ayah sangat banyak.""Ayah merindukan ibumu."…Pada bulan ketiga, Ivan datang.Dia berdiri di depan pintu toko kue, tubuhnya tampak jauh lebih tinggi.Matanya sembap, seperti habis menangis."Ibu …."Setelah sekian tahun, ini pertama kalinya dia memanggilku dengan nada seperti itu.Aku menghentikan pekerjaanku dan menghampirinya."Ada apa?"Ivan menunduk, lalu berkata dengan nada sedih, "Bibi Rosa … Bibi Rosa sudah pergi.""Dia bawa kabur uang Ayah. Selain itu, dia … dia bilang aku ini cuma beban …."Ivan mendongak, tampak kebingungan."Bu, kenapa dia membohongiku? Bukankah katanya dia sayang aku?"Aku terdiam lama."Ivan, ada orang-orang yang baik sama kamu, itu karena dia menginginkan sesuatu dari ayahmu.""Setelah mendapatkan yang diinginkan, dia meninggalkanmu."Ivan
Saat keluar dari rumah duka, aku mendengar suaranya dari belakang."Gisel, kalau kamu beri aku satu kesempatan lagi …."Aku pergi tanpa menoleh sama sekali.Setelah bercerai, aku buka toko kue kecil.Sesuai janjinya, Aswin memberikan sebagian besar asetnya padaku.Setelah meninggalkan rumah Keluarga Gunadi, ini pertama kalinya aku merasakan ketenangan.Tidak ada lagi yang melempar cek ke wajahku.Tidak ada lagi yang memanggilku "Ibu jahat".Tidak ada yang menggunakan orang yang kucintai untuk mengancamku.Aku tidak perlu menyenangkan hati orang lain demi mendapatkan uang.Akhirnya, aku bisa benar-benar bernapas lega.Namun, Aswin belum rela melepasku.Satu bulan setelah perceraian kami, dia datang ke tokoku setiap hari.Dia memesan kue paling mahal, lalu duduk di pojokan sambil menatapku seharian.Namun, aku mengabaikannya."Gisel, kamu kurusan."Aku tidak mendongak, terus fokus membersihkan meja."Pak Aswin, toko kami sudah tutup."Dia terdiam sejenak, lalu berdiri sambil tersenyum ge
Di layar itu, terlihat rekaman saat ibuku meninggal karena tidak dilakukan operasi.Tangis dan teriakanku yang putus asa seolah masih terngiang di benakku.Kamera lalu beralih ke belakang panggung konferensi pers.Suara teriakan gembira Rosa terdengar di seluruh ruang pesta. "Bagaimana rasanya nggak dicintai suami dan nggak disukai anakmu sendiri?""Kamu rujuk kembali dengan Aswin, terus kenapa? Wanita yang dia cintai tetap aku.""Aswin memberiku kartu ini yang terhubung dengan biaya pengobatan ibumu.""Menurutmu, kalau aku menghentikan pengobatan ibumu, apa yang akan terjadi?"Situasi di ruang perjamuan seketika menjadi kacau balau.Para wartawan yang sudah kusiapkan sebelumnya langsung memotret tanpa henti ke arah panggung.Bahkan ada yang langsung melakukan siaran langsung dari ponsel.Wajah Aswin langsung pucat."Matikan, matikan sekarang!"Dia berlari ke ruang kontrol, tetapi dihalangi oleh wartawan yang sudah kuatur sebelumnya.Rosa menjerit dan bersembunyi di pojokan, seolah ing






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.