ANMELDENAku memohon pada suamiku sebanyak 304 kali. Akhirnya, dia setuju menemaniku membawa Ayah ke laut, menyelesaikan perjalanan terakhir dalam hidupnya. Namun, saat aku berdiri di tepi pantai, suhu tubuh Ayah di kursi roda perlahan-lahan menurun. Aku masih tidak melihat bayangan suamiku. Cinta pertamanya, Kyra, mengunggah foto di media sosial. Mereka sedang melihat awan di padang rumput. [ Jauh dari hiruk-pikuk dunia, asalkan ada kamu. ] Jariku tak sengaja menekan tombol suka. Tak lama kemudian, dia langsung mengirim pesan untuk mempertanyakanku. [ Sudah berapa kali kukatakan, jangan ganggu Kyra. Kalau tanganmu nggak bisa dikendalikan, kita cerai saja! ] Aku sudah tak ingat ini yang keberapa kalinya dia mengancamku dengan perceraian. Aku pun muak mendengarnya. [ Baiklah, kita cerai. ]
Mehr anzeigenTristan menggeleng. "Untuk mereka sudah kupesan. Cuma belum sampai."Karena dia berkata begitu, aku pun tak enak menolak lagi.Kami berdua berjongkok di lorong laboratorium, makan ayam goreng. Rasanya seperti kembali ke masa kuliah.Di laboratorium tidak boleh makan. Kalau sudah terlalu lapar, kami diam-diam pesan makanan dan makan di lorong. Setiap kali kembali, pasti ketahuan oleh dosen.Tristan juga pernah mengalaminya. Dalam kenangan itu, kami menemukan kisah pahit dan manis sebagai mahasiswa pascasarjana.Kami tertawa bersama, lalu kembali mengenang lebih banyak lagi. Hingga sepasang sepatu kulit berhenti di hadapan kami, memutus percakapan harmonis itu.Jacob berdiri di sana, membawa termos makanan, lalu perlahan menyodorkannya ke arahku. "Tadi kamu nggak makan banyak. Nanti perutmu sakit."Ternyata dia masih ingat. Dulu saat sering melakukan eksperimen, makan tidak teratur sudah biasa. Lama-kelamaan, lambungku memang tidak terlalu baik. Saat masih berpacaran, dia bahkan pernah m
"Seorang perempuan mana mungkin mengerti kimia!" pekik investor itu."Dia adalah mahasiswa yang diminta langsung oleh dosen untuk lanjut doktoral. Artikel yang pernah dia terbitkan lebih banyak daripada kontrak yang pernah kamu tanda tangani." Jacob berjalan dari belakangku, tangannya diletakkan di bahuku."Kalau dia nggak ngerti, memangnya kamu ngerti?"Melihatnya, investor itu gemetar dan bergumam, "Pak Jacob ... kalian saling kenal ya ...?""Dia istriku." Setelah mengatakan itu, Jacob menoleh padaku, seolah-olah ingin meminta pujian."Aku bukan istrinya."Senyuman Jacob membeku. Dia hendak mengatakan sesuatu lagi, tetapi tangan yang berada di bahuku disingkirkan oleh orang lain.Seorang pria yang tidak kukenal masuk, tersenyum padaku. "Kamu asisten Pak Kevin? Sudah lama aku dengar tentangmu. Aku Tristan ... kakak kelasmu."Aku pernah mendengar dari dosen bahwa Tristan bekerja di laboratorium luar negeri dan kali ini juga akan ikut serta dalam proyek ini."Aku pernah melihat eksperim
Demi mengejar ketertinggalan, aku terpaksa begadang membaca dan belajar. Namun untungnya, hal-hal yang pernah dipelajari, saat diulang kembali, tidak terasa terlalu buruk.Pekerjaan asisten dosen tidak terlalu sibuk. Pelajaran tetap diajar oleh dosen, sementara tugasku lebih banyak membantu beliau menangani urusan administratif dan koordinasi dengan perusahaan.Meskipun aku tidak pernah bekerja di perusahaan keluarga Jacob, aku sering mendengar Jacob menelepon di rumah.Begitu mulai terjun langsung, barulah kusadari bahwa aku sudah terbiasa mendengarnya. Semuanya terasa tidak asing.Mengatur jamuan makan dengan investor pun bukan hal yang sulit bagiku. Hanya saja, aku tidak menyangka akan bertemu kembali dengan Jacob dalam kesempatan seperti ini.Sudah setengah bulan sejak aku meninggalkan Jacob. Masih ada waktu sebelum sidang dimulai. Aku tidak menghubunginya, Jacob juga tidak menghubungiku.Dengan kemampuannya, seharusnya mudah baginya untuk menyelidiki keberadaanku. Awalnya kupikir
"Kamu pindah?"Aku terkejut dia bisa menyadarinya. Bagaimanapun, satu-satunya barang yang kubawa hanyalah hadiah pernikahan dari ayahku, sebuah ukiran kayu pohon pinus dan cemara yang selama ini diletakkan di dekat pintu masuk.Setiap kali pulang, dia sering menggantung topi dan syalnya begitu saja di atasnya. Kupikir di matanya, benda itu sudah lama hanya menjadi pajangan biasa."Mm." Aku menjawab dengan datar.Aku tidak mendengar suara dari seberang sana. Lama sekali hingga kukira dia sudah menutup telepon.Baru kemudian Jacob berbicara. Suaranya sedikit serak. "Pulanglah. Waktu itu aku cuma emosi sesaat."Nada suaranya begitu lirih, belum pernah kudengar sebelumnya, bahkan seperti mengandung permohonan.Beberapa jam lalu, dia masih berkata aku tidak pantas. Sekarang, dia justru bisa merendahkan diri seperti ini."Aku mengajukan cerai bukankah sesuai keinginanmu? Apa yang nggak bisa kamu relakan?""Nggak .... Hubunganku dengan Kyra bukan seperti yang kamu bayangkan." Jacob menjelaska


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.