Masuk"Buka matamu, Salsabila, jangan biarkan rahasia kematian ibumu terkubur bersama kebohongan klan Svarga ini!" jerit Michael seraya mencabut belati bayangan dari bahunya.CROT! Darah segar menyembur basah membasahi lantai marmer aula takhta, namun pemuda itu mengabaikan rasa sakitnya demi menatap Salsabila.Pendar sihir merah Alexandrite di sekitar tubuh Salsabila perlahan meredup, menyisakan napas tersengal-sengal dari gadis yang terkulai di pelukan Rafael. "Tutup mulutmu, Michael, dia butuh istirahat, bukan hasutan beracun kamu!" bentak Rafael seraya mendinginkan suhu api keunguannya. Pangeran pertama Svarga itu menggendong tubuh istrinya secara protektif, menatap tajam sepupunya yang masih bersimbah darah di dekat takhta."Apa dia sudah mati?" Lazarus melangkah mendekat seraya menyarungkan pedang emasnya, memandang ke arah Raja Misterius yang terbaring kaku di balik reruntuhan.Pertempuran fisik di aula pus
"Serahkan Inti Alexandrite itu atau aku sendiri yang akan mencabut nyawa pangeran kesayanganmu ini di depan mata kepalamu!" raung Raja Misterius. "Jangan! Hentikan kejahatanmu, Raja Misterius," teriak Lady Florist. Ia melihat putra sulungnya dalam bahaya, nyawanya nyaris terancam di tangan Raja yang kabur dari hukuman neraka itu. Tongkat kerajaan berukir naga emas melayang mendekati leher Rafael, memancarkan gelombang energi hitam yang langsung mengikis perisai pelindung keunguan. "Argh!" Rafael mengerang tertahan saat ujung sihir pengikat jiwa menembus zirah dadanya, memicu reaksi racun Mawar Hitam yang sempat mereda. "Jangan sentuh dia dengan tangan kotor Kerajaan Svarga yang terselubung!" jerit Salsabila seraya menebaskan belatinya memotong jalur energi tongkat tersebut. BLEDAR! Semburan cahaya merah Alexandrite bertabrakan keras dengan sihir Raja Tertinggi, menciptakan ledakan yang menghempaskan puing-puin
"Sir Rangga? Bukankah dia sudah mati dalam perang. Apa Lady Eliza memalsukan kematiannya demi rencana busuknya hari ini," Salsabila bingung melihat sosok panglima perang klan Chrysan yang berdiri gagah lengkap dengan baju perang dan senjata mematikannya. Ia terlihat awet muda."Bakar mereka semua sampai tak tersisa satu pun dari keturunan pemicu perang ini!" jerit Panglima Chrysan seraya memegang pangkal tangannya yang putus. "Klan Svarga harus musnah bersama klan Alexandrite. Klan Chrysan harus berjaya lagi seperti dulu, memimpin semua klan," lanjutnya penuh percaya diri.BLAZ! Puluhan prajurit bayangan melompat menembus asap hitam, mengayunkan pedang-pedang beracun ke arah barisan empat ksatria yang bertahan. BYUR!Semburan sihir kegelapan meledak berturut-turut, memancarkan bau sangit Mawar Hitam yang menyengat hidung hingga membuat napas terasa sesak. "Waspada! Tetap dalam formasimu, Lazarus. Jangan biarkan sisi kirimu ter
"Kau pikir garis tipis ini sanggup menghentikan langkahku untuk merebut kembali wanita yang kau telantarkan, Rafael?!" raung Lazarus seraya melangkahi garis goresan di atas tanah. Pangeran kedua itu menerjang maju tanpa memedulikan ancaman sihir Alexandrite, mengarahkan belati emasnya tepat ke arah dada sang kakak. Rasa cemburu dan amarah yang terendam sekian lama meledak hebat, menghancurkan sisa-sisa rasionalitas di dalam kepalanya. BUGH! Rafael bergeser kilat menangkis serangan tersebut, menghantamkan siku tangannya ke rahang Lazarus hingga adiknya itu terhuyung mundur. "Sadar diri, Lazarus, kau sendiri yang membuangnya demi kepalsuan Safira!" bentak Rafael seraya menyapukan pedang apinya untuk mengunci gerakan Lazarus. SREK! Pangeran pertama Svarga itu berdiri tegak dengan aura keunguan yang kian membara, membentengi jalur menuju gerbang istana dari kejaran siapa pun. Bentrokan fisik dan emosi antar-saudara kandung itu kembali meletus di tengah reruntuhan halaman yang mu
"Jangan pernah bermimpi untuk melangkah pergi sebelum kau menandatangani surat pembatalan pernikahan ini, Salsabila!" gertak Lord Svarga seraya melempar gulungan perkamen emas ke atas meja batu yang retak. Pemimpin klan Svarga itu berdiri angkuh di tengah reruntuhan halaman istana, menatap dingin ke arah menantunya yang masih menggenggam belati Alexandrite.Pengorbanan sang tabib wanita malam ini seolah tak berbekas di mata pria paruh baya yang hanya mementingkan kemurnian kehormatan garis keturunannya. "Ayah! Hentikan kegilaan ini sekarang juga!" bentak Rafael seraya pasang badan memblokir pandangan ayahnya. Pangeran pertama Svarga itu mengepalkan tangannya hingga memutih, menyelimuti tubuhnya dengan aura sihir keunguan yang kembali membumbung tinggi. Ia tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan ayah kandungnya sendiri, memaksa Salsabila mengakhiri hubungan pernikahan sah yang telah mereka bina.Salsabila menatap perkamen emas itu denga
"Serahkan pusaka inti klan Alexandrite itu padaku atau klan Svarga dan klan Alexandrite yang tersisa akan musnah bersama racun ini!" raung Lady Eliza seraya mengalirkan petir hitam dari jarinya. Semburan energi terlarang menghantam barisan pertahanan depan, meremukkan lantai marmer hingga berkeping-keping. "Tidak semudah itu, ular betina licik! Langkahi dulu mayatku!" teriak Lord Rafael. BLAZ! Rafael melompat kilat memotong serangan tersebut, memutar pedang apinya demi menangkis kilatan sihir hitam yang menyambar dada istrinya. BLEDAR! Benturan sihir tingkat tinggi melontarkan gelombang kejut yang merubuhkan pilar-pilar batu di sekitar mereka. BRUK! Salsabila mengencangkan genggaman pada belati Alexandrite, memancarkan pendar cahaya merah penyembuh untuk melapisi zirah pelindung Rafael dan Lazarus. "Sialan! Ular betina itu kuat juga untuk ukuran nenek keriput," gumam Lord Michael.







