LOGINDesakan finansial membuat Belle akhirnya terlibat dengan Mattias, pria matang kaya raya yang ia temui di kelab malam. Namun, siapa sangka, Mattias ternyata adalah ayah tiri Zayn, pria yang menyukai Belle, dan Belle juga menyukai pria itu. Lantas apa yang akan dilakukan Belle, saat tubuh dan kekayaan Mattias justru memaksa Belle untuk kembali dan kembali lagi pada pria itu?
View More"Zaman sekarang, perawan itu tidak penting, Belle Aurora! Yang penting itu uang. Ingat, hanya uang."
Belle terdiam sambil memegang gelas jus mangga di tangannya. Kata-kata Natt sang sahabat barusan, kini memenuhi pikirannya. "Dari pada kamu pusing cari uang ke sana kemari tapi tidak dapat juga, mending kamu jadi peliharaan om-om. Gampang, bukan?" Natt kembali berkata santai. Kemudian, Natt memegang dagu Belle dan mengangkat wajah sahabatnya itu perlahan. "Kamu cantik, manis, putih, body bagus, dan ya, kamu masih perawan juga. Sudah pasti kamu akan dapat uang banyak dari om-om tajir, yang penting kamu mau jadi peliharaannya Bell." "Natt, jangan jerumuskan Belle ke hal yang tidak benar." Suara Maudi, membuat Natt menoleh. Maudi yang baru saja datang membawa nampan berisi makanan langsung duduk di samping Belle. Wajahnya terlihat tidak setuju sejak mendengar perkataan Natt dari kejauhan. Tanpa banyak bicara, Maudi mengelus punggung Belle dengan lembut. "Jangan dengarkan apa yang Natt katakan, Bell." ujar Maudi. "Dia sudah tersesat, kamu jangan ikut tersesat." "Eleh, jangan sok suci kamu, Maudi." Natt langsung menimpali dengan wajah tidak terima. "Apa kamu bisa membantu Belle? Tidak, bukan? Buat keperluan sehari-hari kamu saja masih kekurangan." Lanjut Natt lagi. Ucapan itu membuat wajah Maudi berubah kesal. "Terus kamu bisa membantu Belle?" balas Maudi. Natt terdiam sejenak, lalu berkata. "Bisa sih, tapi aku sudah pesan tas keluaran terbaru. Tidak mungkin aku membatalkan pesanan itu. Kalian tahu sendiri tas itu edisi terbatas. Sudah lama aku memimpikannya kalau aku membatalkan pesanan, belum tentu aku bisa mendapatkannya lagi." "Sudah, tidak usah ngomong!" sahut Maudi kesal. "Kamu benar-benar tidak peduli." "Tentu saja aku peduli!" Natt membela diri. "Buktinya aku sudah menyarankan Belle bagaimana caranya dia bisa dapat uang yang sangat banyak." "Tapi saran kamu sesat, Natt!" Maudi semakin kesal. "Yang penting dapat uang kan?” "Sudahlah!" Belle akhirnya bersuara, niat hati bercerita pada sahabatnya jika Belle membutuhkan banyak uang, tapi malah semakin membuat kepala Belle pusing, dengan perdebatan kedua sahabatnya itu. Natt dan Maudi kini terdiam ketika melihat wajah Belle yang semakin murung. Sebenarnya Belle sama sekali tidak peduli dengan perdebatan mereka. Pikirannya sedang berada di tempat lain, Belle benar-benar bingung. Dari mana ia harus mendapatkan uang yang cukup banyak. Biaya operasi sang nenek bukan jumlah yang sedikit. Dokter mengatakan bahwa operasi itu tidak bisa terus-menerus ditunda. Kondisi neneknya harus segera mendapatkan penanganan. Belum lagi uang kuliah Belle yang belum dibayarkan. Sementara uang yang ada di tangan Belle hampir tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, meskipun Belle sudah bekerja paruh waktu di sebuah kafe, dan kadang-kadang mencari pekerjaan lain yang bisa Belle lakukan. "Bell, kamu baik-baik saja?" Pertanyaan Maudi membuat Belle tersadar dari lamunannya. Belle menoleh dan memaksakan sebuah senyuman. "Ya, aku baik-baik saja." Jawabnya. "Bohong." Kali ini Natt yang berbicara. Lalu kini bergeser dan duduk di sisi lain Belle. Natt mendekatkan wajahnya, lalu berbisik tepat di telinga sahabatnya itu. "Kalau kamu mau mengikuti saranku, aku akan membawa kamu ke tempat om-om tajir yang kesepian. Kamu tinggal menjadi peliharaannya. Dan berapapun uang yang kamu butuhkan, akan dia berikan." "Natt!" Maudi langsung mendorong kepala Natt menjauh dari Belle. "Jangan bisik-bisik!" "Apa sih!" Natt menatap Maudi dengan kesal. "Pasti kamu bilang yang tidak-tidak pada Belle." "Nuduh tanpa bukti itu sama saja dengan kejahatan." "Eleh, aku tahu siapa kamu, Natt." "Ya udah sih." Balas Natt santai. Natt dan juga Maudi tidak lagi berkata, ketika Belle yang tidak memiliki tenaga untuk mendengarkan pertengkaran kedua sahabatnya yang selalu seperti itu, kini beranjak dari duduknya. "Aku pulang dulu." Kata Belle. Maudi langsung menatap Belle. "Bell, kita masih ada kelas." Namun Belle tidak menimpali, ia mengambil tasnya dan langsung melangkah meninggalkan kantin kampus. "Belle!" panggil Maudi. Tetapi gadis itu terus berjalan, langkahnya semakin cepat menuju area parkir. Maudi berniat mengejarnya, tetapi Natt justru kembali bersuara, sambil menahan satu tangan sahabatnya itu. "Maudi." Maudi menoleh dengan malas. "Apa lagi?" "Kalau kamu mau jadi peliharaan sugar daddy tajir seperti aku, aku bisa mengenalkan kamu pada om-om kaya." Maudi menatap Natt dengan kesal. "Sorry, aku tidak murahan seperti kamu." Setelah mengatakan itu, Maudi langsung pergi meninggalkan Natt. "Dasar sok suci!" teriak Natt kesal. *** Belle meninggalkan kampus dengan menggunakan motor kesayangannya. Motor itu memang bukan motor baru atau mahal. Namun, kendaraan itu sangat berarti bagi Belle. Motor itu telah menemani Belle pergi kuliah, bekerja, mengantar sang nenek ke rumah sakit, dan melakukan berbagai aktivitas lainnya. Hari ini, Belle mengendarai motornya dengan pikiran yang benar-benar kacau. Pikirannya terus memikirkan biaya operasi sang nenek, dan biaya kuliahnya. Lalu Belle teringat kembali saran Natt. Belle langsung menggelengkan kepalanya pelan. Tidak, Belle tidak akan pernah mengikuti saran Natt. "Kenapa semuanya harus sesulit ini?" gumam Belle. Tangannya semakin erat memegang setang motor. Ia tidak menyadari bahwa kendaraan di depannya mulai berhenti. Lampu lalu lintas telah berubah merah. Sebuah mobil berhenti tepat di depan Belle. Namun karena pikirannya tidak fokus, Belle terlambat menarik tuas rem. BRAK! "Ya ampun!" Belle terkejut sekaligus panik. Motor yang dikendarainya menabrak bagian belakang mobil yang sedang berhenti di lampu merah itu. Tubuh Belle terdorong ke depan, tetapi untungnya ia masih mampu menjaga keseimbangannya. Dengan wajah pucat, Belle segera turun dari motornya. Belle menatap bagian belakang mobil tersebut, mobil itu sedikit peyok. Wajah Belle semakin pucat. Ia bahkan tidak ingin membayangkan berapa biaya yang harus ia dikeluarkan untuk memperbaiki kerusakan mobil itu. Belle baru menyadari bahwa telapak tangannya lecet akibat benturan tadi, namun Belle tidak peduli. Dengan langkah gugup, ia segera berdiri di sisi mobil untuk meminta maaf kepada pemilik kendaraan yang baru saja ia tabrak. Belle belum sempat mengetuk kaca mobil itu, dan tiba-tiba pintu mobil terbuka.Belle menatap pada Mattias setelah pria itu memintanya berlutut, untuk membuktikan jika Belle tidak akan mengingkari janjinya. "Kenapa diam sayang?" tanya Mattias. "Apa kamu ingin mengingkari janjimu?"Belle tidak menjawab, ia mulai menekuk kakinya untuk berlutut di hadapan Matiias.Namun, belum juga kedua lutut Belle menyentuh lantai. Matiias kini menarik tangannya, kemudian memeluk pinggang Belle. Membuat gadis itu terkejut, dan mengangkat wajahnya menatap Mattias."Jangan pernah berlutut pada siapapun, termasuk padaku, sayang. Kamu tidak pantas melakukan itu, kamu sangat berharga." ucap Mattias sambil mengelus pipi Belle.Belle benar-benar tidak mengerti dengan pria yang masih memeluk pinggangnya. Dalam sesaat Matiias seperti orang yang berbeda-beda, marah, kesal, emosi, penuh ancaman dan kini penuh perhatian. Belle semakin tidak mengerti dengan Matiias."Besok aku akan membawamu menemui nenek kamu, malam ini aku ingin tidur di rumah ini bersama kamu, sayang." ucap lembut Mattias,
Mattias tersenyum tipis, lalu beranjak dari duduknya. Puntung rokok yang masih terselip di antara jarinya ia lempar begitu saja ke lantai, kemudian diinjak hingga bara merahnya benar-benar padam.Suara gesekan sepatu Mattias dengan lantai terdengar pelan, tetapi entah mengapa justru membuat dada Belle semakin sesak.Tatapan pria itu kini tertuju sepenuhnya kepada Belle. Namun, kali ini Belle tidak memundurkan langkah.Ia sudah terlalu sering membiarkan dirinya ditakut-takuti. Terlalu sering membiarkan Mattias menentukan apa yang harus ia lakukan, ke mana ia harus pergi, bahkan dengan siapa ia boleh berbicara.Tidak, Belle tidak boleh terus seperti ini, ia harus berani menghadapi pria yang telah memberikan Belle kemewahan.Mattias justru tersenyum semakin lebar. "Ya, aku mengancammu, sayang," Matiias menimpali ucapan Belle.Nada suara pria itu sama sekali tidak terdengar seperti seseorang yang sedang kehilangan kendali. Justru sebaliknya. Mattias tampak begitu yakin bahwa apa pun yang
Belle memundurkan langkah ketika Mattias berjalan mendekatinya sambil tersenyum.Senyum yang justru membuat Belle semakin kesal.Beberapa saat lalu, ia sempat merasa lega karena akhirnya rencananya berhasil. Belle berhasil melarikan diri dari rumah itu setelah mengelabui Bibi Yuyu dan Pak Hani ketika berada di taman kota.Belle bahkan sudah membayangkan dirinya pergi ke luar kota. Menjauh dari Mattias, dan dari semua kendali pria itu.Namun, harapan tersebut benar-benar pupus ketika kini Mattias berdiri di hadapannya.Entah bagaimana pria itu bisa lebih dulu sampai di rumah, dan tahu jika Belle akan pulang.Belle ingin berlari, namun belum sempat ia melangkah, satu tangannya sudah lebih dahulu ditahan Mattias.Dengan satu tarikan kuat, tubuh Belle langsung membentur dada bidang pria itu."Kamu sangat bodoh sayang." ucap Mattias saat sudah memeluk tubuh Belle dari belakang. "Harusnya aku tahu, kamu seperti anjing yang penurut karena ingin kabur dariku, tapi bodohnya aku percaya begitu
Bibi Yuyu masih duduk santai di atas tikar, dan berbincang dengan pak Hani. Sesekali wanita itu melirik ke arah toilet."Kenapa Mbak Belle lama sekali, ya Han?" tanya Bibi Yuyu pada Pak Hani.Pak Hani melihat jam tangannya, dan menjawab. "Mungkin sedang antre."Bibi Yuyu mengangguk. "Mungkin saja." Kemudian keduanya kembali berbincang. Sampai akhirnya keduanya menghentikan perbincangan mereka, saat ada seorang perempuan melewati tempat mereka berada. Perempuan itu pergi ke toilet jauh setelah Belle pergi. Tapi perempuan itu sudah lebih dulu kembali di banding Belle.Membuat Bibi Yuyu bertanya pada perempuan itu. "Mbak, di toilet masih antri?""Tidak Bu, toilet sejak tadi sepi."Bibi Yuyu dan juga pak Hani menautkan kening mendengar jawaban perempuan itu. Keduanya kini memilih beranjak dari tempatnya. "Terima kasih Mbak."Setelah perempuan itu pergi, Bibi Yuyu dan juga pak Hani kini saling pandang."Han, jangan-jangan Mbak Belle kabur." ujar Bibi Yuyu, lalu berlari menuju toilet.Di






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews