Se connecter“Kamu masih perawan?” “Ya, tapi tenang saja. Aku tahu cara memuaskan anda.” Dalam keadaan terdesak, akhirnya Belle mengikuti saran sang sahabat. Untuk tidur dengan Mattias, pria matang demi imbalan uang yang cukup banyak. Tapi siapa sangka, Mattias adalah ayah tiri dari Zayn, pria yang menyukai Belle, dan Belle juga menyukai pria itu. Lantas apa yang akan dilakukan Belle, saat gairah Mattias dan juga kekayaannya membuat Belle tejebak untuk kembali dan kembali lagi pada pria itu. Sedangkan hati Belle hanya untuk Zayn.
Voir plus"Kamu yakin?" tanya Natt, karena ia pikir Belle tidak akan mengikuti sarannya, untuk mendapatkan uang dengan cepat dari om-om kaya raya. Belle tidak langsung menjawab. Tatapannya justru bergetar sebelum akhirnya ia melangkah mendekati Natt dan memeluk sahabatnya itu erat. Tangis yang sejak tadi ditahannya kembali pecah. "Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Natt." kata Belle di sela isak tangisnya. Natt menghela napas panjang. Ia mengusap punggung Belle, berusaha menenangkannya sebelum akhirnya membawa sang sahabat masuk ke dalam kamar kosnya. Natt kemudian mendudukkan Belle di pinggir tempat tidur. "Jangan menangis," ujar Natt lembut sembari menghapus air mata yang membasahi pipi Belle. "Natt, bawa aku ke tempat om-om yang kamu bilang. Aku membutuhkan uang itu secepatnya." Belle menarik napas panjang, berusaha menghentikan tangisnya. "Nenek harus segera dioperasi. Dan uang yang aku butuhkan ternyata lebih banyak dari sebelumnya." Natt menatap dalam pada Belle. "Kamu yakin, Bell
Tentu saja Belle mengenali Zayn. Zayn adalah teman satu kampusnya, pria yang beberapa kali hadir dalam hari-harinya tanpa pernah benar-benar bisa Belle abaikan. Karena Belle diam-diam menyimpan perasaan pada Zayn.Apalagi Zayn juga pernah beberapa kali mencoba mengungkapkan perasaannya pada Belle. Namun, Belle selalu memilih diam. Bukan karena ia tidak memiliki perasaan yang sama, melainkan karena hidupnya sendiri masih terlalu berantakan. Ia tidak ingin memikirkan cinta ketika hidupnya dipenuhi begitu banyak masalah.Terlebih sekarang, ia harus memikirkan neneknya yang sedang terbaring tidak sadarkan diri di rumah sakit.Sementara itu, Zayn beberapa saat hanya menatap Belle. Sebelum menatap pada tiga pria yang masih memegangi tangan Belle. "Pecundang, beraninya cuma sama perempuan. Kalian banci?" tanya Zayn. "Kalau berani, maju kalian bertiga, atau kalian ingin mamakai rok?"Pak Anton, Ferry dan Dani tentu saja terpancing dengan ucapan Zayn. Membuat ketiganya langsung melepas Belle,
"Bagaimana? Tentu saja kamu tidak menolak, bukan, Belle cantik."Tatapan Pak Jhoni berubah menjadi tatapan penuh gairah. Kedua matanya tanpa malu mengamati Belle dari ujung kepala hingga ujung kaki.Membuat Belle merasa sangat risih. Perlahan, gadis itu memundurkan langkah.Belle baru saja hendak berbalik ketika tiba-tiba tangan Pak Jhoni meraih pergelangan tangannya."Pak, lepas!" teriak Belle terkejut.Cengkeraman tangan pria itu begitu kuat hingga Belle kesulitan menarik tangannya.Pak Jhoni justru tersenyum. "Bagaimana? Mau, kan?" tanyanya. "Tenang, tidak ada yang tahu. Hanya kamu dan aku yang tahu."Belle menatap atasannya dengan wajah pucat. "Pak, saya datang ke sini hanya untuk meminjam uang.""Dan aku sudah memberikan jalan keluar untuk masalahmu.""Bukan seperti ini maksud saya."Pak Jhoni tidak peduli, dan lebih dekat lagi mendekati Belle. "Belle, asal kamu tahu, sudah lama aku menginginkan kamu, cantik."Ucapan itu membuat Belle semakin panik dan takut. Dan coba untuk tida
Bibi Mila menatap tajam ke arah sumber suara. Dari arah kamar, Nenek Maria berjalan perlahan dengan wajah pucat. Salah satu tangannya berpegangan pada dinding, seolah tubuhnya sudah tidak cukup kuat untuk menopang dirinya sendiri."Bu, jangan ikut campur!" bentak Bibi Mila.Tatapan Nenek Maria langsung tertuju pada Belle yang masih berada dalam cengkeraman putrinya. Rambut gadis itu masih ditarik dengan kasar hingga wajah Belle dipenuhi air mata."Mila, sudah! Lepaskan cucuku!" suara Nenek Maria terdengar lemah, tetapi penuh ketegasan.Bibi Mila tertawa sinis. "Ya, cucu Ibu yang tidak berguna!""Belle keponakan kamu, Mila," kembali Nenek Maria berkata."Cih! Tidak sudi aku punya keponakan benalu seperti ini."Tangan Bibi Mila justru semakin kencang menarik rambut Belle."Aw... Bi! Sakit!" pekik Belle.Air mata Belle semakin deras. Tangannya mencoba melepaskan cengkeraman tangan Bibi Mila."Mila!" teriak Nenek Maria. Wanita tua itu melangkah lebih cepat, tetapi tiba-tiba wajahnya berub






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.