LOGINPahlawan kemalamam baru datang wkwkwkk
“Ehem!”Dehaman ringan yang tiba-tiba menggema di dalam ruangan mengagetkan Sherin. Ia buru-buru melepaskan tautan bibirnya dengan Arnold dan mendorong dada pria itu menjauh.Sherin menoleh dengan napas yang masih memburu. Ia mendapati sahabatnya, Hailey Flynn berdiri di ambang pintu. Gadis itu menempelkan telapak tangannya di bibir yang telah menyunggingkan senyum usil.“Sepertinya aku datang di waktu yang sangat tepat, huh? Lumayan dapat tontonan gratis,” goda Hailey sembari menaikkan kedua alisnya.Wajah Sherin seketika memerah padam hingga ke telinga. Rasa malunya memuncak bukan hanya karena kepergok oleh Hailey, tetapi karena ada sosok lain yang datang bersama sahabatnya itu.“Ha-Hailey, se-sejak kapan kalian ada di sana?” tanya Sherin dengan suara terbata.Hailey tidak langsung menjawab. Ia melirik sekilas ke arah pria yang masih berdiri mematung di sampingnya. Senyum di bibir Hailey perlahan luruh saat melihat ekspresi Leon yang sama sekali tidak terlihat senang.Sesaat tadi, H
"Distrik selatan?" Alis Oliver bertaut rapat. "Maksud Anda .... lahan yang dibeli Tuan Besar dulu?"Arnold mengangguk singkat."Apa ada masalah dengan lahannya, Tuan Muda?" tanya Oliver bingung. Sejauh yang ia tahu, lahan itu bersih dari sengketa, meski memang masih dibiarkan mangkrak tak tergarap hingga sekarang."Bukan masalah pada lahannya, tapi informasi itu mungkin akan membantu kita menemukan jawaban yang kita cari selama ini," jawab Arnold dengan suara yang terdengar semakin rendah seiring dengan tajamnya kilatan di manik birunya.Arnold pun menjelaskan kepada Oliver mengenai sosok pengusaha misterius yang kerap menekan ayahnya dulu demi menguasai lahan itu dan mendapatkan proyek perencanaan ayahnya.Seperti yang dijelaskan Natalie, kecelakaan ayahnya bukanlah kecelakaan murni. Karena itulah, Arnold meyakini bahwa pengusaha tersebut adalah dalang di balik tragedi itu—dan besar kemungkinan, dialah pemimpin Shadow Eagle yang telah memerintah Frans untuk memata-matai ayahnya dan me
“Bagaimana?” tanya Arnold dengan suara datar dan penuh selidik.. “Kamu sudah memeriksa isi USB-nya?”“Sudah, Tuan Muda,” Oliver menjawab dengan sigap. Ia menyerahkan tablet di tangannya kepada Arnold.“Seperti dugaan Anda, isinya adalah aliran dana dari pihak-pihak yang terlibat dalam penggelapan ke rekening Race Holding. Dana itu digunakan untuk mendanai pelelangan J-Charity waktu itu. Perusahaan cangkang tersebut tercatat atas nama Charles Jovan. Dengan bukti ini, dia dan komplotannya tidak akan ada lagi yang bisa mengelak dari jeratan hukum," sambung Oliver.Arnold menatap layar sekilas, lalu mengembalikan tablet itu tanpa ekspresi. “Tidak cukup,” gumamnya.Oliver mengerutkan dahinya. “Apa maksud Anda, Tuan Muda?”“Charles Jovan hanya kambing hitam,” tukas Arnold dengan dingin.“Apa?” Oliver terperangah. “Tapi, USB itu─”“USB itu memang milik Shadow Eagle, tapi bukan berarti Charles adalah anggota mereka,” ujar Arnold.Sorot matanya perlahan menyipit tajam. “Kalau dia bagian dari o
“Jadi, kecelakaan yang Anda alami juga direncanakan orang itu?”Dahi Arnold mengernyit, Raut wajahnya masih dipenuhi keterkejutan dan kebingungan. “Tapi, aku dengar dari Sherin kalau istri kedua mantan suami Anda yang sudah─”“Tidak, Arnold!” sergah Natalie dengan panik. Matanya menyorotkan kegelisahan yang mencekam.Dengan suara gemetar, ia menceritakan kejadian lengkap yang dialaminya dalam kecelakaannya sepuluh tahun lalu. Ia juga menjelaskan kecurigaannya terhadap Penelope yang mungkin hanyalah pion yang dimanfaatkan “dalang” dari pengejaran tersebut untuk membungkamnya.Terlebih lagi, kasus penculikan Sherin sebelumnya telah membuktikan bahwa Penelope dan David bertindak atas perintah Frans Langdon, di mana di belakang Frans sendiri masih ada sosok yang mengendalikan semuanya.“Bukankah bukti itu belum ditemukan sampai sekarang? Mereka pasti pikir aku yang menyimpannya waktu itu, makanya mereka ingin melenyapkanku agar tidak ada yang mengetahui kejahatan mereka,” gumam Natalie de
Kepanikan memenuhi ruang rawat Natalie. Arnold telah mengangkat tubuh ibunya keluar. Sementara, Sherin telah berjalan lebih dulu, mencari tim medis agar ibu mertuanya dapat segera mendapatkan penanganan. Derap langkah dan gema kepanikan di koridor perlahan menjauh. Natalie tidak dapat berbuat apa pun selain menatap kepergian mereka dari atas ranjangnya. Dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah, merasa ucapannya yang telah mengguncang Beatrice hingga akhirnya kehilangan kesadaran. Keheningan yang dipenuhi kecemasan memenuhi setiap sudut ruangannya. Ia tidak dapat memejamkan matanya dengan tenang. Setelah bergulat dengan kegelisahan yang tak kunjung lemyap, akhirnya ia memutuskan untuk melihat keadaan majikannya—yang kini juga menjadi besannya. Namun, pintu ruang rawatnya tiba-tiba digeser dari luar. Arnold kembali muncul di hadapannya. Wajahnya terlihat lelah. Garis ketegangan masih jelas tercetak di rahangnya. Meski demikian, ia tetap melangkah mendekat ke sisi ranjang Natalie. "An
“Karena dia ingin melindungi kalian.”Ruangan kembali diliputi keheningan yang pekat. Jawaban Natalie menggantung di udara, menimbulkan tanda tanya besar di dalam kepala mereka.Tepat saat Beatrice hendak membuka mulut untuk bertanya lebih jauh, terdengar ketukan pelan dari balik pintu yang tidak tertutup sempurna. Semua mata spontan menoleh.Arnold muncul di hadapan mereka, lalu berjalan masuk dengan langkah tergesa dan tergopoh karena menahan sakit. Sherin langsung bergerak mendekatinya, meraih tangannya.“Arnold, kenapa kamu malah keluar dari kamar?” tanya Sherin dengan cemas.Arnold menoleh sekilas. “Aku mencemaskanmu,” gumamnya.Karena Sherin tidak kunjung kembali ke ruangan, Arnold memutuskan untuk menyusul. Ia sangat mencemaskan keselamatan istri kecilnya tersebut. Namun, ia tidak pernah menyangka akan mendengar pembicaraan yang selama ini menjadi teka-teki besar dalam hidupnya.Tanpa menunggu respon istrinya, Arnold kembali menatap Natalie dengan tajam. “Tolong jelaskan apa ma







