Share

Bab 24

last update publish date: 2026-07-13 00:21:17

Nadya merasakan seluruh sendinya lemas, seolah lantai marmer salon mewah yang dipijaknya mendadak runtuh. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya.

"T-Tapi, Ibu Lyra... Pak Kevin..."

Nadya meringis pelan sembari memeluk tas kosmetik di dadanya semakin erat sebagai benteng pertahanan diri. Suaranya bergetar halus saat mencoba membela diri.

"Saya tidak bisa melakukan itu. S-Saya sudah punya pacar di kampung, dan kami berniat untuk serius. Saya juga sama sekali tidak punya niat atau keberani
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 170

    Pagi hari di kediaman utama menyapa dengan kemilau cahaya mentari yang membiaskan kehangatan di sepanjang koridor berlantai marmer.Namun, kedamaian pagi itu mendadak terusik oleh sebuah fenomena baru yang datang tanpa kompromi, morning sickness Nadya yang kian menjadi-jadi.Usia kandungan yang makin menguat membuat indra penciuman Nadya menjadi teramat sensitif terhadap aroma apa pun di sekitarnya, terutama aroma yang menempel pada raga suaminya sendiri.Johan yang baru saja melangkah keluar dari kamar mandi utama dalam balutan jubah mandi bernuansa gelap tampak segar."Selamat pagi, sayang..." sapa Johan dengan suara baritonnya yang berat.Namun, belum sempat raga Johan berjarak satu meter dari tepi peraduan, Nadya mendadak membeku.Hidung mungilnya kembang kempis merespons aroma tajam yang mengudara. Seketika itu pula, rasa mual yang luar biasa membuncah hebat dari dasar perutnya."Ugh... Mas, stop! Jangan mendekat!" seru Nadya refleks. Jemari lentiknya langsung menutupi hidung dan

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 169

    Malam beranjak kian larut membalut kediaman utama dengan keheningan yang menenangkan.Usai melewati hari yang dipenuhi gejolak emosi membuncah dari pemeriksaan USG pertama, raga Nadya kini mulai merasakan dampak perubahan hormon awal kehamilan.Senut-senut halus dan rasa pegal yang menjalar di area pinggang hingga kedua betis mulusnya membuat wanita muda itu gelisah di atas peraduan.Nadya melirik pelan ke arah sofa panjang di sudut ruangan.Di sana, Johan masih duduk tegap berpakaian kaos santai, memangkas beberapa balasan email penting di komputer jinjingnya usai membatalkan seluruh agenda kantor seharian penuh.Tak ingin mengganggu konsentrasi sang suami yang baru saja kembali menyentuh pekerjaannya, Nadya mengembuskan napas perlahan. Dengan gerakan amat pelan, ia meraih botol lotion khusus ibu hamil bermotif lembut dari atas nakas.Nadya menyibak sedikit gaun tidur katunnya, lalu mengoleskan cairan dingin itu ke betis kanannya. Ia membungkukkan tubuh perlahan, berniat memijat kaki

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 168

    Pagi itu, pendar sinar mentari membias lembut menembus kaca-kaca besar ruang keluarga rumah utama, menciptakan atmosfer yang amat tenang nan hangat.Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, jadwal pemeriksaan kontrol dan USG pertama untuk Nadya.Memasuki usia kandungan yang kian menguat, hari ini menjadi momentum bersejarah bagi pasangan suami istri tersebut untuk menyaksikan tumbuh kembang awal calon buah hati mereka.Dinamika perhatian berlebih dari Johan kembali terlihat sempurna.Johan membatalkan seluruh agenda kerjanya seharian penuh tanpa ragu sedikit pun hanya demi fokus menemani Nadya ke rumah sakit.Pria tegap itu menolak delegasi rapat atau urusan dokumen apa pun yang dikirimkan Juan ke rumah.Bagi Johan, menyaksikan perkembangan calon anak darah dagingnya adalah prioritas mutlak yang tak boleh terdistraksi oleh tumpukan berkas bernilai miliaran rupiah sekalipun.Johan sendiri yang telaten membantu Nadya bersiap-siap.Pria itu menyisir rambut panjang istrinya dengan jemari

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 167

    Atmosfer di lantai teratas gedung pencakar langit markas besar bisnis Johan berjalan sangat kontras dengan situasi hati sang pemegang kendali utama.Meski jajaran direksi dan manajer divisi sibuk mempresentasikan laporan keuangan serta grafik ekspansi saham di dalam ruang rapat yang megah, pendar perhatian Johan sama sekali tidak tertuju pada papan layar proyeksi.Pria tegap yang mengenakan setelan jas abu-abu gelap itu duduk bersandar di kursi utamanya, mengabaikan tumpukan berkas penting yang terbuka di hadapannya.Fokus dan pikiran Johan terus tertinggal pada Nadya yang berada di rumah utama.Sejak vonis kehamilan lima minggu itu diketuk oleh dokter, benak Johan sepenuhnya tersita oleh sosok sang istri.Rasa khawatir bahwa Nadya merasa mual, lelah, atau membutuhkan sesuatu selalu memburu sanubarinya tanpa henti.Dinamika perhatian berlebih itu terpancar nyata dalam rutinitas kerja Johan hari itu. Johan menelepon Nadya hampir setiap jam hanya untuk menanyakan kondisinya.Di tengah-t

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 166

    Kepulangan dari rumah sakit sore itu membawa atmosfer yang sama sekali baru di kediaman utama.Kabar kehamilan Nadya yang baru menginjak usia lima minggu tidak hanya mendatangkan pendar sukacita bagi seluruh staf rumah tangga, tetapi juga memicu perubahan sikap Johan hingga ke tingkat yang teramat ekstrem.Johan, yang biasanya tegas dan tenang dalam mengendalikan segalanya, kini mendadak bertransformasi menjadi sosok suami yang protektif tiada tara.Bagi Johan, setiap inci ruang dan setiap langkah yang diambil Nadya kini harus berada dalam jangkauan pengawasannya.Sejak melangkahkan kaki menembus pintu depan, Johan melarang Nadya melakukan pekerjaan rumah tangga sekecil apa pun.Nadya yang terbiasa aktif, mulai dari menyusun bunga segar di vas ruang tamu hingga merawat tanaman di taman kaca, kini benar-benar dihentikan total dari seluruh aktivitasnya.Seluruh tugas rumah tangga dilimpahkan sepenuhnya kepada Mbok Sum dan para asisten rumah tangga lainnya.Aturan ketat tersebut makin te

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 165

    Mobil mewah yang dikemudikan Juan meluncur deras menembus lorong khusus unit gawat darurat di salah satu rumah sakit swasta terbaik Jakarta.Begitu kendaraan berhenti sempurna, Johan langsung melompat keluar seraya menggendong raga mungil Nadya yang masih terkulai lemas tanpa kesadaran.Para petugas medis dan perawat sigap menyambut mereka dengan brankar, membawa Nadya secara cepat menuju ruang pemeriksaan privat spesialis obstetri dan ginekologi.Di koridor luar ruang pemeriksaan, suasana terasa begitu mencekam. Johan berdiri bersandar pada dinding marmer yang dingin, menolak untuk duduk sedikit pun.Pria itu menanggalkan jasnya, melipat lengan kemeja putihnya yang kini tampak sedikit kusut, sementara jemari tegapnya terus memijat pelipis.Raut wajahnya yang biasanya tenang dan dominan kini sepenuhnya dipenuhi oleh rasa cemas yang teramat sangat.Pendar mata kelamnya tak pernah lepas menatap daun pintu kayu yang tertutup rapat, menghitung s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status