LOGINPukul dua dini hari,Wanita muda itu mengerjapkan mata perlahan, merasakan sebuah desakan aneh yang tiba-tiba membuncah dari dasar perutnya.Bukan rasa mual morning sickness seperti biasanya, melainkan sebuah hasrat mengidam yang teramat spesifik, aneh, dan tak bisa ditawar lagi.Tenggorokannya mendadak terasa haus akan keasaman yang segar.Nadya melirik ke samping. Di atas peraduan king-size tersebut, Johan tertidur lelap dengan posisi wajah mendekat ke arahnya.Tangan tegap pria itu melingkar posesif di pinggang mungil Nadya, menjaga sang istri bahkan di dalam alam mimpinya.Nadya bergerak canggung, berusaha melepaskan pelukan kokoh suaminya tanpa membangunkan pria yang tampak begitu lelah usai mendampinginya seharian."Ugh... Mas..." cicit Nadya pelan, mencoba menggeser lengan tegap Johan.Namun, gerakan sekecil apa pun dari Nadya seketika mengaktifkan insting protektif sang pengusaha.Manik mata kelam Johan terbuka lebar dalam hitungan detik."Ada apa, sayang? Perutmu sakit? Mual
Hari ini adalah momentum khusus yang telah disiapkan Johan dengan matang: sesi foto dokumentasi perjalanan kehamilan pertama untuk mengabadikan setiap jengkal pertumbuhan calon buah hati mereka.Untuk menjaga kenyamanan penuh sang istri yang kini kian sensitif, Johan sengaja menyewa seorang fotografer wanita profesional kelas atas secara pribadi.Tak tanggung-tanggung, seluruh peralatan studio dipindahkan langsung ke dalam kediaman utama demi koleksi foto pribadi yang eksklusif.Nadya yang sedang duduk di depan meja rias kamar utama menatap bayangan suaminya melalui cermin.Pria tegap itu baru saja melangkah keluar dari area walk-in closet seraya membawa dua stel pakaian yang terbungkus rapi dalam kantong kain transparan."Mas... itu baju apa?" tanya Nadya penasaran, memutar tubuhnya sedikit.Johan berdeham pelan.Wajah tegas dengan rahang kokohnya menyunggingkan gurat kecanggungan yang teramat langka, namun tangannya dengan sangat hati-hati membentangkan pakaian tersebut di atas pera
Usia kandungan Nadya baru memasuki beberapa minggu awal, seharusnya belum menuntut persiapan apa pun secara fisik.Namun, ritme hidupnya bersama Johan selalu saja dipenuhi oleh kejutan-kejutan manis berbalut tindakan ekstra protektif yang tak terduga.Johan yang melangkah di sampingnya tiba-tiba menggenggam lembut jemari lentik Nadya, membimbing langkah sang istri menuju area sayap timur rumah utama.Area tersebut merupakan kawasan yang cukup tenang, tempat di mana sebuah ruangan luas yang tadinya difungsikan sebagai ruang kerja cadangan Johan berada."Kita mau ke mana, Mas?" tanya Nadya penasaran seraya mendongak, menatap profil samping rahang kokoh suaminya yang tampak begitu misterius.Johan tak langsung menjawab. Pria tegap berbalut kemeja kasual yang digulung hingga siku itu hanya menyunggingkan senyum tipis di bibirnya."Ada sesuatu yang mau aku perlihatkan padamu, sayang."Ketika mereka tiba di depan pintu kayu mahoni ganda yang megah, Johan menghentikan langkahnya.Jemari tega
Pagi hari di kediaman utama menyapa dengan kemilau cahaya mentari yang membiaskan kehangatan di sepanjang koridor berlantai marmer.Namun, kedamaian pagi itu mendadak terusik oleh sebuah fenomena baru yang datang tanpa kompromi, morning sickness Nadya yang kian menjadi-jadi.Usia kandungan yang makin menguat membuat indra penciuman Nadya menjadi teramat sensitif terhadap aroma apa pun di sekitarnya, terutama aroma yang menempel pada raga suaminya sendiri.Johan yang baru saja melangkah keluar dari kamar mandi utama dalam balutan jubah mandi bernuansa gelap tampak segar."Selamat pagi, sayang..." sapa Johan dengan suara baritonnya yang berat.Namun, belum sempat raga Johan berjarak satu meter dari tepi peraduan, Nadya mendadak membeku.Hidung mungilnya kembang kempis merespons aroma tajam yang mengudara. Seketika itu pula, rasa mual yang luar biasa membuncah hebat dari dasar perutnya."Ugh... Mas, stop! Jangan mendekat!" seru Nadya refleks. Jemari lentiknya langsung menutupi hidung dan
Malam beranjak kian larut membalut kediaman utama dengan keheningan yang menenangkan.Usai melewati hari yang dipenuhi gejolak emosi membuncah dari pemeriksaan USG pertama, raga Nadya kini mulai merasakan dampak perubahan hormon awal kehamilan.Senut-senut halus dan rasa pegal yang menjalar di area pinggang hingga kedua betis mulusnya membuat wanita muda itu gelisah di atas peraduan.Nadya melirik pelan ke arah sofa panjang di sudut ruangan.Di sana, Johan masih duduk tegap berpakaian kaos santai, memangkas beberapa balasan email penting di komputer jinjingnya usai membatalkan seluruh agenda kantor seharian penuh.Tak ingin mengganggu konsentrasi sang suami yang baru saja kembali menyentuh pekerjaannya, Nadya mengembuskan napas perlahan. Dengan gerakan amat pelan, ia meraih botol lotion khusus ibu hamil bermotif lembut dari atas nakas.Nadya menyibak sedikit gaun tidur katunnya, lalu mengoleskan cairan dingin itu ke betis kanannya. Ia membungkukkan tubuh perlahan, berniat memijat kaki
Pagi itu, pendar sinar mentari membias lembut menembus kaca-kaca besar ruang keluarga rumah utama, menciptakan atmosfer yang amat tenang nan hangat.Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, jadwal pemeriksaan kontrol dan USG pertama untuk Nadya.Memasuki usia kandungan yang kian menguat, hari ini menjadi momentum bersejarah bagi pasangan suami istri tersebut untuk menyaksikan tumbuh kembang awal calon buah hati mereka.Dinamika perhatian berlebih dari Johan kembali terlihat sempurna.Johan membatalkan seluruh agenda kerjanya seharian penuh tanpa ragu sedikit pun hanya demi fokus menemani Nadya ke rumah sakit.Pria tegap itu menolak delegasi rapat atau urusan dokumen apa pun yang dikirimkan Juan ke rumah.Bagi Johan, menyaksikan perkembangan calon anak darah dagingnya adalah prioritas mutlak yang tak boleh terdistraksi oleh tumpukan berkas bernilai miliaran rupiah sekalipun.Johan sendiri yang telaten membantu Nadya bersiap-siap.Pria itu menyisir rambut panjang istrinya dengan jemari







