Share

Ragu

last update Tanggal publikasi: 2026-04-08 22:26:24

Salah satu anak buah menelan ludah. Target sudah benar-benar terkunci. Baga hanya ingin memberikannya pelajaran, dia juga tetap harus meminta pendapat Santi untuk hal yang sebenarnya sangat mudah dilenyapkan.

“Apakah kita langsung—” tanya salah satu dari anak buah Baga.

“Belum.” Suara Baga memotong. Tenang, tapi justru itu yang membuatnya lebih menekan, “Kita tidak akan menyerang setengah-setengah.” Tatapannya mengeras.

“Kalau dia ingin bermain … kita pastikan ini jadi permainan terakhirnya.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pesona Perawat Papa   Menurut Keadilan

    Bimo menghela napas mendengar penjelasan danira yang terdengar tidak masuk akal, namun tetap saja keraguan itu muncul di hatinya. Bimo tidak pernah menyangka kalau denira akan saya nekat itu membuat fitnah portal online untuk istrinya. “Bagaimanapun Santi itu masih istriku, selama kami belum benar-benar bercerai dia tetap menjadi istriku. Dan kau juga sudah pernah bilang, kamu nggak memerlukan status resmi. Bukankah kalau sekarang kamu bahas, kata-katamu terdengar sangat picik dan dulu itu terkesan kamu sedang berpura-pura padaku,” Danira memutar kedua bola matanya, dia tidak menyangka kalau perasaan Bimo masih sangat besar terhadap Santi.“Bisa-bisanya di saat seperti ini pun dia masih memuji istrinya. Aku benar-benar kesal saat mendengar Bimo lebih sayang dan membela istrinya itu,” rasa yang dipikirkan Danira benar-benar sudah di luar pemikiran yang bisa dibilang suatu hal yang tidak dilakukan oleh semua orang. “Aku bukannya nggak percaya dengan semua ucapan itu. Istriku menganca

  • Pesona Perawat Papa   Ragu

    Salah satu anak buah menelan ludah. Target sudah benar-benar terkunci. Baga hanya ingin memberikannya pelajaran, dia juga tetap harus meminta pendapat Santi untuk hal yang sebenarnya sangat mudah dilenyapkan.“Apakah kita langsung—” tanya salah satu dari anak buah Baga.“Belum.” Suara Baga memotong. Tenang, tapi justru itu yang membuatnya lebih menekan, “Kita tidak akan menyerang setengah-setengah.” Tatapannya mengeras.“Kalau dia ingin bermain … kita pastikan ini jadi permainan terakhirnya.”Baga tidak mungkin membiarkan seseorang menyakiti orang yang sangat dilindungi olehnya. Meskipun itu hanya serangan portal online, dia pasti akan membuatnya hancur tanpa tersisa.Sore hari, di kantor Abdinegara. Bimo sedang berjalan cepat di lorong ketika seorang staf menghampiri dengan wajah panik.“Pak … ada sesuatu yang harus Anda lihat,” ujarnya terlihat tergesa.“Tidak sekarang—” Bimo langsung memotongnya dan bersiap pergi.“Ini tentang Bu Danira.” Langkah Bimo terhenti. Tidak ingin peduli,

  • Pesona Perawat Papa   Hening

    Sementara itu, di kantor Abdinegara—Bimo sedang duduk dengan wajah tegang saat pintu ruangannya diketuk pelan.“Masuk.” seseorang yang tidak diharapkan datang. Danira muncul. Wajahnya tampak berbeda. Lebih pucat. Lebih rapuh.Seolah itu benar-benar ditunjukkan untuk Bimo.“Bim …,” suaranya lirih.Bimo langsung berdiri. “Kamu kenapa?” Danira menunduk, tangannya gemetar.“Aku … aku didatangi seseorang semalam ….” Kata-katanya terasa janggal. Namun, membuatnya penasaran.“Apa?” Bimo mendekat cepat, “Siapa?!”“Aku tidak tahu …,” jawab Danira, air matanya mulai jatuh, “dia bilang, aku harus menjauh darimu atau sesuatu yang buruk akan terjadi pada bayiku.” Tubuh Bimo menegang.Bimo mengerutkan kening sambil menelaah setiap perkataannya.“Apa maksudnya?! Siapa yang berani—”“Aku takut, Bim …,” Danira memeluk perutnya, suaranya pecah, “Aku benar-benar takut .…” Tanpa berpikir panjang, Bimo menariknya ke dalam pelukan.Tanpa sadar meskipun dia sudah tidak menganggap perasaan apapun pada Dan

  • Pesona Perawat Papa   Nomor Tidak Dikenal

    “Jatah?” Santi mengucapkan kata itu dalam hati, “ya ampun … beberapa hari ini aku benar-benar lupa. Bagaimanapun Baga sudah banyak membantu dan sangat mengerti tentangku, tapi aku malah mengabaikannya.”Santi menatapnya sesaat seolah tidak bisa berkata, dia tahu sudah banyak merepotkan untuk hal perceraian atau menampung hidupnya selama ini. “Aku …,” Santi tertunduk saat Baga menarik pinggangnya, “bukankah seharusnya aku tetap mendapatkan sarapan penuh sesuai dengan ucapanku atau saat ini kamu sudah melupakan itu? Kamu sudah tidak membutuhkan aku lagi?”Ucapan yang sangat menusuk dan benar-benar membuat Santi merasa tidak enak, “Bu-bukan seperti itu, aku nggak pernah berpikir seperti itu,” jawabnya terbata.“Bagaimana kalau dia benar-benar tidak ingin bercerita dan kamu juga merasa ragu? Apa kamu akan benar-benar melupakan aku? Kamu akan meninggalkanku? Membuangku seperti sampah yang sudah tidak ada gunanya?” Skakmat lagi Santi mendengar ucapan Baga.“Apaan sih! Kamu kok berpikir sej

  • Pesona Perawat Papa   Harapan Palsu

    Santi menutup pintu di belakangnya tanpa suara.“Aku nggak datang untuk basa-basi.” sudut bibir Danira menarik kecut. Menyeringai seperti menyepelekan.“Basa-basi? Yang benar saja, benar-benar ucapan nggak masuk akal,” sahut Danira ringan, “kamu datang untuk merebut kembali suamimu kan?” nadanya pelan, tapi penekanannya sangat terasa.Santi berjalan mendekat, langkahnya tenang tapi penuh tekanan, “Aku datang untuk melihat seberapa rendah kamu bisa jatuh. Aku pikir kamu wanita baik-baik, ternyata …,” kalimat Santi juga terputus, tatapannya seolah menghakimi.Senyum Danira kembali muncul, tipis dan tajam, “Kalau bicara hati-hati, Santi. Kamu sedang bicara dengan wanita yang sekarang membawa anak dari suamimu. Ini bukan main-main loh … nyatanya kamu sudah kalah denganku, ah … bukan kalah tapi sebenarnya sejak dulu itu akulah yang memang pantas menjadi istri dari Bimo Prakoso Abdinegara,” ujar Danira, seolah dialah yang seharusnya sejak dulu menjadi pemenangnya.“Benarkah?” suara Santi d

  • Pesona Perawat Papa   Tamu nggak diundang

    Santi melangkah masuk ke gedung Abdinegara dengan napas yang terasa lebih berat dari biasanya. Setiap langkahnya dipenuhi keraguan, tapi juga tekad yang perlahan mengeras.Hari ini, dia tidak datang sebagai istri.Dia datang untuk mengakhiri semuanya.Lift berdenting pelan saat terbuka. Santi melangkah keluar, menatap lorong panjang yang terasa asing meski sudah terlalu sering dia lalui. Beberapa karyawan menunduk hormat, tapi dia tidak membalas. Fokusnya hanya satu. Bimo.Saat pintu ruangan itu terlihat di ujung lorong, langkah Santi sempat terhenti. Tangannya mengepal. Lalu—Tanpa menunggu jeda ataupun salam sebagai ucapan, dia menerobos, membuka pintu.Bimo yang masih berdiri di dekat meja langsung menoleh. Wajahnya berubah—antara terkejut dan … berharap. Sesuatu yang tidak mungkin dia bayangkan, kini berdiri dihadapannya.“Sayang …” Suara itu lirih, berbeda dari sebelumnya.Santi menutup pintu di belakangnya, berdiri tegak. Tatapannya datar, nyaris tanpa emosi.“Kita perlu bicara.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status