Beranda / Romansa / Pesona Presdir Dingin / Bab 51 Komunikasi dalam Pernikahan

Share

Bab 51 Komunikasi dalam Pernikahan

last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-07 23:55:19

Sesuai rencana, Alisa dan Dirga berangkat keesokan harinya ditemani oleh sopir keluarga. Larissa melepas kepergian mereka dengan ucapan yang hangat, “Semoga bulan madunya menyenangkan!”

“Dirga, jangan lupa bersenang-senang dan bahagiakan Alisa. Mengerti?” Itu hal terakhir yang Larissa katakan dan Dirga hanya membalasnya dengan singkat, “Oke.”

Partisi mobil diturunkan sehingga memberi ruang bagi sepasang pengantin baru itu privasi untuk sekadar membuka obrolan. Namun, suasana di dalam mobil hanya diisi keheningan. Baik Dirga maupun Alisa belum ada yang membuka suara setelah hampir setengah jam keduanya ada di sana.

Dirga duduk di sebelah kanan. Manik hitamnya menatap keluar jendela dengan pandangan kosong. Seperti biasa, pria itu tampak tenang. Tapi, sebenarnya isi kepalanya tidak demikian.

“Aku tidak akan membiarkan Dirga kesepian, Ma.”

Kalimat itu masih bergema di kepalanya. Cara Alisa ketika mengatakannya … sama sekali tanpa keraguan. Perkataan itu mengirimkan sesuatu yang asing di
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pesona Presdir Dingin   Bab 127 Cucu untuk Mama

    Beberapa saat kemudian, Alisa pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia sedikit kesulitan berjalan mengingat kakinya cukup pegal akibat aktivitas semalam. Untuk menuruni anak tangga pun, Alisa melangkah dengan penuh kehati-hatian. Bi Mirna yang sedang membereskan ruang tengah langsung tergopoh-gopoh menghampirinya. “Selamat pagi, Bi,” sapa Alisa dengan senyum cerahnya. “Nona Alisa baik-baik saja?” tanya Bi Mirna dengan nada sedikit khawatir. Pandangannya mengarah pada kaki Alisa. Mengikuti arah pandang Bi Mirna, Alisa seketika meringis pelan. Sebisa mungkin dia berjalan dengan langkah tenang. “Tentu, aku baik. Tapi, Dirga demam pagi ini, Bi. Tolong buatkan bubur dan sup hangat, ya,” beritahu Alisa salam satu kali ucapan. Mata Bi Mirna membola. “Ya ampun, Tuan Dirga sakit?” Air wajahnya tampak panik. “Perlu dibawa ke rumah sakit sekarang?” Kepala Alisa menggeleng cepat. “Kalau demamnya tidak turun, kita bawa Dirga ke rumah sakit. Untuk sekarang, biar aku yang tangani du

  • Pesona Presdir Dingin   Bab 126 Sisi Lain Dirga

    ‘Ya sudah, mau bagaimana lagi ….’ Pada akhirnya, Alisa memilih mengikuti suara hatinya dengan tetap tinggal di sisi Dirga. Bagaimanapun juga, itu sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang istri untuk merawat suaminya dalam keadaan sehat maupun sakit. Alisa mendongakkan wajah, menatap Dirga yang masih memejamkan mata. Wajah tampannya terlihat lebih pucat. Dia semakin tidak tega apabila meninggalkan Dirga. “Aku akan minta izin ke Argo untuk mengerjakan naskahnya di rumah,” beritahu Alisa dengan suara lembutnya. Diam-diam dia berdoa semoga Argo tidak keberatan. “Sekarang … bisa tolong lepaskan aku?” lanjutnya sambil menyipitkan mata. Dirga tak segera menjawab. Ketika Alisa mencoba melepaskan diri, pelukan pria itu justru tak mengendur sedikit pun. “Dirga …?” panggilnya lirih. Napas Alisa tertahan karena wajahnya nyaris menempel di dada pria itu. Dan lebih parahnya, Alisa tidak mengenakan apapun di tubuhnya. BLUSH Rasa panas kembali menjalar ke wajahnya. Ini jauh lebih

  • Pesona Presdir Dingin   Bab 125 Prioritas

    Melihat raut wajah Argus yang benar-benar tampak tidak mengetahui apapun tentang Alisa, emosi Dirga mereda. Cengkeramannya mengendur, lalu dia menarik tangannya menjauh.Bukannya Dirga tak merasa murka, hanya saja dia bukan tipe orang yang akan membuang energinya secara cuma-cuma.“Lupakan saja,” dengusnya kasar. Sorot maniknya tampak menusuk tajam ke arah Argus, sama sekali tidak peduli bahwa pria di hadapannya ini adalah ayah mertuanya–setidaknya secara tidak langsung.Dirga mengatakan penuh keseriusan dan cukup panjang. “Sekarang Alisa sudah menikah denganku. Dia istriku dan aku yang akan bertanggung jawab atas hidupnya.”Kedengarannya ucapan yang dilontarkan Dirga benar-benar serius. Argus bisa merasakannya melalui tatapan pria tersebut. Dia mendengus kasar, sedikit tak percaya bahwa pria di hadapannya ini akan menjadi menantunya.Bahunya mengedik pelan. “Baiklah, aku akan mencari tahu sendiri soal keluarga Gunawan lebih dalam.” Argus sedikit menaikkan dagunya. Ditatapnya balik Di

  • Pesona Presdir Dingin   Bab 124 Saudara?

    Cengkraman di kerah baju Dirga perlahan melonggar seiring Argus mulai menarik tangannya dari sana dengan cara yang agak kasar. Dia terkekeh sinis. “Tidakkah hanya dengan melihat wajah Alisa, kamu seharusnya bisa mengenalinya, Dirga?” Sorot mata Argus tampak dingin selaku seseorang yang ternyata telah mengenal Dirga di masa lalu. Meskipun Dirga memiliki hubungan dekat dengan putra laki-lakinya, tak menjadikan Argus bersikap ramah pada pria muda di hadapannya ini. Hampir lima tahun tak pernah mendengar kabar Dirga, beberapa hari lalu, dia mendapatkan sebuah email dari pria itu yang memintanya untuk bertemu. Bukan untuk urusan bisnis, tapi katanya ... cukup penting. Tadinya Argus tak menggubris dikarenakan dia sedang ada kepentingan di kota lain sampai akhirnya Dirga mengirimkan lampiran foto polaroid yang menampilkan foto seorang gadis manis berponi dengan jaket putihnya. Tentu Argus mengenali gadis itu. Alisa. Mana mungkin dia tak mengenali darah dagingnya sendiri?! "Dia terlalu

  • Pesona Presdir Dingin   Bab 123 Bertemu A

    “Tidurlah ….”Dirga menyentuhkan keningnya pada kening milik Alisa sebagai penutup pada malam yang panas itu. Napasnya masih berat dan berembus panas di wajah sang wanita.Karena mengantuk berat, Alisa hanya merespons dengan menggumam pelan. Matanya terpejam dan perlahan napasnya terdengar teratur.Melihat itu, kedua sudut bibir Dirga tertarik ke atas. Sesekali Alisa membantah perintahnya. Namun, sebagian besar Alisa lebih sering menuruti keinginannya, baik dalam urusan hal lain dan … ranjang.Seperti tadi, wanita itu menurut saja kala Dirga mengusulkan untuk melakukannya satu kali lagi.Dirga menggelengkan kepala mengingat malam ini dia kehilangan kontrol dirinya. Manik hitamnya menatap lekat-lekat wajah Alisa yang sepertinya sudah berada di alam mimpi.“Apa yang sudah kamu lakukan padaku?” tanyanya dengan suara pelan. Jari telunjuknya terangkat di udara ketika berniat menyentuh wajah Alisa.Dia segera mengurungkan niat karena Alisa mudah sekali terbangun dengan gerakan kecil. Sebaga

  • Pesona Presdir Dingin   Bab 122 Sekali Lagi

    Warning! Bab ini mengandung mature content, bagi yang kurang nyaman untuk baca, bisa diskippp aja, ya^^ *** Alisa tidak mempercayai apa yang Dirga tanyakan sebelumnya. Mustahil bahwa ini pengalaman pertama bagi Dirga. Pada kenyataannya, pria itu memiliki kemampuan yang baik untuk memberinya kepuasan di atas ranjang. Tidak hanya itu, Dirga melakukannya dengan penuh kehati-hatian, seolah takut menyakitinya. Terlebih saat Dirga berhasil membuka segel keperawanannya. Kini, tubuh keduanya sama-sama menegang, hendak meraih puncak pelepasan pada waktu yang hampir bersamaan. Alisa menggigit bibir bawahnya sekuat tenaga begitu merasakan gelombang yang kuat keluar dari pusat tubuhnya. Napas Alisa tersengal. “Dirga … ahh!” Pria itu berada di atas tubuhnya dan satu tangannya mencengkram pinggang Alisa, seolah tak membiarkannya berjarak. Kepala Dirga bergerak turun menuju ceruk leher Alisa. Napasnya terdengar berat. “Sebentar,” bisiknya dengan suara yang serak. “Jangan bergerak dulu.” Milik

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status