Home / Male Adult / Pesona Pria Plus-plus / Bab⁸⁹—Mandi bersama~

Share

Bab⁸⁹—Mandi bersama~

Author: Na_Vya
last update publish date: 2026-05-13 12:13:37

"Ini mobil buat siapa, Tan?" tanya Bagas, yang masih mengamati mobil berwarna putih metalik keluaran dari pabrik otomotif terbesar di Jerman.

Mobil listrik keluaran terbaru yang bisa ditebak Bagas berkisar hampir 3M itu begitu mewah dan elegan. Tetapi, yang jadi pertanyaannya saat ini, untuk apa Maudy membeli mobil lagi, sementara di rumahnya sudah ada 4 mobil yang selalu memenuhi garasi.

Maudy mendekat, bibir merahnya menyeringai menggoda, kemudian menggelayut manja di lengan Bagas. "Ini mobi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁹⁰—Dia siapa?

    Rachel ternyata menagih janjinya pada Bagas, yang kemarin belum tuntas memberikan informasi soal kondisi sang papi. Rupanya semalaman gadis itu menunggu Bagas, yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Rachel bilang kalau dia semalaman gelisah dan tidak bisa tidur nyenyak lantaran terus memikirkan kondisi papinya. Berbanding terbalik dengan Bagas, yang semalaman asyik bersama Maudy, karenanya dia tidak bisa keluar kamar dan menemui Rachel. Alhasil, hari ini dia menuruti kemauan Rachel yang meminta bertemu di suatu tempat. Bagas mendengarkan gadis itu bercerita banyak tentang Maudy. Tentang bagaimana dia bertemu dengan Maudy, dan memercayai perempuan itu sepenuhnya. Rachel pun mengatakan jika dia sama sekali tidak pernah berprasangka buruk terhadap ibu tirinya. Sebab, Maudy terlihat tulus menyayanginya. "Dulu, seinget gue. Maudy dateng ke kantor Papi sambil nangis-nangis. Dia minta tolong sama Papi buat pinjemin dia dana. Perusahaannya waktu itu mau bangkrut, dan dia bingun

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁸⁹—Mandi bersama~

    "Ini mobil buat siapa, Tan?" tanya Bagas, yang masih mengamati mobil berwarna putih metalik keluaran dari pabrik otomotif terbesar di Jerman. Mobil listrik keluaran terbaru yang bisa ditebak Bagas berkisar hampir 3M itu begitu mewah dan elegan. Tetapi, yang jadi pertanyaannya saat ini, untuk apa Maudy membeli mobil lagi, sementara di rumahnya sudah ada 4 mobil yang selalu memenuhi garasi.Maudy mendekat, bibir merahnya menyeringai menggoda, kemudian menggelayut manja di lengan Bagas. "Ini mobil buat kamu, Sayang," ucapnya dengan suara yang mendayu. "Suka, gak?" Sepasang alis Bagas tersentak tinggi, sontak dia menoleh. "Apa? Buat Lingga?"Maudy mengulas senyum lalu mengangguk. Sudut bibir Bagas berkedut, memicing tak percaya pada Maudy yang masih menampilkan senyum menggodanya. 'Maudy gak lagi nyogok gue, kan? Apaan,coba? Dia pikir gue bakal seneng dibeliin mobil beginian? Gak!' Meskipun dia seorang pria pemuja uang, tetapi Bagas lebih suka jika dia bisa membeli barang keinginann

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁸⁸—Utang Penjelasan~

    Sepulang mengantar Marco, Bagas benar-benar langsung kembali ke rumah Maudy. Tubuhnya terasa cukup letih, lantaran seharian ini dia bolak-balik menempuh jarak yang lumayan jauh. Paling tidak Bagas menghabiskan waktu sekitar satu setengah jam untuk antar jemput temannya itu. Masuk ke rumah dan langsung menuju kamarnya, Bagas merebahkan badan di kasur empuk, seraya menggapai remote AC yang tergeletak di nakas. Menyetel pendingin ruangan tersebut lebih rendah, dia lantas menaruh remote asal. "Gue, kok, ngantuk, ya?" Maniknya tetiba terasa berat, mungkin karena pengaruh sejuknya AC. Dia bahkan menguap berulang-ulang, ingin sekali memejamkan matanya barang sejenak. Buaian lelap, nyatanya tak bisa ditolak. Bagas tertidur sangat pulas. Napasnya mulai terdengar teratur, pertanda jika dirinya benar-benar sudah larut ke alam mimpi. Pintu kamar Bagas dibuka perlahan oleh seseorang. Orang tersebut main asal masuk tanpa meminta izin pada sang pemilik. "Tumbenan udah di rumah." Rachel menutup

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁸⁷—Pertimbangan Bagas~

    "Baiklah, kalo gitu saya permisi dulu," ucap Marco seraya berdiri, lalu membenarkan jaket yang dikenakan.Urusannya dengan Maudy sudah selesai, dan telah mengambil kesepakatan. Marco tak menyangka akan semudah itu mengelabui Maudy. Cukup berbicara santai dan sedikit ditambah bumbu.Bagas dan Maudy pun ikut berdiri."Saya akan mentransfer uangnya kalau pekerjaan Anda sudah beres," ucap Maudy sembari mengulurkan tangan ke Marco, dan langsung dibalas pria bertato itu."Lusa saya akan mengabari." Marco melepas jabatan tangannya, dan Maudy mengangguk.Bayaran yang ditawarkan oleh Maudy mungkin jadi salah satu bahan pertimbangan Marco. Perempuan itu berani membayarnya tinggi asalkan bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik dan benar. Yang paling utama ialah tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Rencana ini merupakan rencana paling berbahaya yang baru pertama kali Maudy lakukan. Demi kekuasaan dia rela menyingkirkan pria yang pernah membantunya, beserta puteri yang sudah menganggapnya sebag

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁸⁶—Dibakar?

    Seminggu kemudian~ "Kita langsung ke kantor aja, Bang. Tadi, sih, dia nyuruhnya gitu." Bagas naik ke mobil setelah keluar dari kediaman Marco. Disusul dengan lelaki bertato itu di belakangnya. Tak berselang lama, mobil pun melaju meninggalkan halaman rumah yang tak berpagar tersebut. Satu Minggu Bagas yang dilanda dilema, akhirnya memutuskan untuk menjalankan rencana yang diusulkan Vanila. Sempat merasa tak yakin, jika Marco mau diajak bekerja sama untuk berpura-pura menjadi pembunuh bayaran. Masalahnya, rencana yang akan dijalankan terlalu berisiko. Bagas tidak mau jika sampai ada kesalahan dan membuat Maudy curiga. Namun, Marco yang telah berjanji akan selalu ada untuk membantu Bagas pun langsung setuju, dan menyusun rencana. Dia malah senang bisa ikut andil dalam menyelamatkan nyawa seseorang yang tidak berdosa. "Tampang gue emang mirip penjahat, ya, Gas?" celetuk Marco, yang menatap pantulan wajahnya dari kaca spion mobil. Wajah garang, rahang yang ditumbuhi bulu-bulu tipis

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁸⁵—Menyusun rencana~

    Sepanjang perjalanan menuju ke rumah Marco, suasana di mobil sangat hening. Sejak Vanila memergoki Bagas sedang teleponan dengan Rachel, perempuan itu hanya diam dan tidak bertanya apa pun. Situasi yang membuat Bagas menjadi serba salah. Inginnya menjelaskan, tetapi dia tidak tahu—harus menjelaskan di bagian mana. Sebab, Vanila sendiri tidak berkomentar atau bertanya soal itu. Sudut mata Bagas melirik Vanila yang sedari tadi hanya menatap ke luar jendela. Perempuan itu duduk bersedekap, dan entah sedang memikirkan apa. Bagas menghela panjang, berdeham ringan, lalu memelankan laju mobil karena lampu merah. Roda empat itu berhenti, dan kesempatan Bagas untuk memulai pembicaraan. "Gimana tadi hasil konsultasi sama Karen?" tanya Bagas, menoleh ke samping—menatap Vanila yang tak bergeming. "kapan disuruh balik ke sana lagi?" lanjutnya. Vanila menarik napas, lalu menoleh dan menjawab, "Aku diminta balik ke sana seminggu lagi, Gas." Vanila mengulas senyum tipis. "kamu gak usah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status