Beranda / Male Adult / Pesona Pria Plus-plus / Bab⁸⁵—Menyusun rencana~

Share

Bab⁸⁵—Menyusun rencana~

Penulis: Na_Vya
last update Tanggal publikasi: 2026-05-11 20:04:52

Sepanjang perjalanan menuju ke rumah Marco, suasana di mobil sangat hening. Sejak Vanila memergoki Bagas sedang teleponan dengan Rachel, perempuan itu hanya diam dan tidak bertanya apa pun.

Situasi yang membuat Bagas menjadi serba salah. Inginnya menjelaskan, tetapi dia tidak tahu—harus menjelaskan di bagian mana. Sebab, Vanila sendiri tidak berkomentar atau bertanya soal itu.

Sudut mata Bagas melirik Vanila yang sedari tadi hanya menatap ke luar jendela. Perempuan itu duduk bersedekap, d
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹²⁰—Pengakuan~

    Andaikan Bagas tidak sedang diburu waktu, tentu detik ini dia tengah duduk bersama dengan Vanila, bukannya malah duduk di dalam ruangan bersama ketiga rekannya. Membicarakan soal hubungannya baik-baik dan meminta maaf kepada perempuan itu.Sungguh, meskipun dia ada di sini, tetapi pikiran dan hatinya seakan tertinggal di sana—di rumah Marco, bersama Vanila. Sendu tatapan mata perempuan itu, belum pernah sekalipun Bagas lihat. Suara rendahnya ketika mengucapkan hal terakhir yang sama sekali tidak Bagas harapkan, bak ujung pisau yang menusuk-nusuk. 'Kamu gak usah mikirin aku, Gas. Aku gak pa-pa. Aku baik-baik aja.' Bagas tahu, saat ini Vanila pasti kecewa padanya. Oleh sebab itu, tanpa mengatakan apa pun, meski tidak secara langsung dia mengakui jika akan mundur. Vanila mengalah dan memberi Bagas kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Mempertanggung jawabkan perbuatannya pada Rachel yang telah dia hamili.Lantas, setelah ini apakah Bagas bisa bahagia, lantaran telah menyakiti hati

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹¹⁹—Berusaha legowo~

    "Malem ini gue gak pulang," ucap Bagas yang berniat menginap di rumah Marco. Yang sebenarnya adalah dia malas pulang ke rumah dan bertemu Maudy. Dia muak melihat wajah jalang itu. "Iya. Lo tidur di sini aja," sahut Marco, yang langsung tahu maksud perkataan Bagas. "lagian malem ini gue ada tugas di luar. Paling gak, ada cowok yang jagain Rachel sama Vanila." Bagas mengangguk, dan berkata, "Makasih ya, Bang. Udah repot-repot bantu gue sampe sekarang." "Yaelah, Gas. Kayak sama siapa aja, lo? Santai, Gas... Gue malah seneng bisa bantu lo." Marco menepuk-nepuk pundak Bagas. Lantas dia berdiri. "ya udah, nanti lo bisa tidur di kamar gue." Bagas mengangguk, lalu ikut berdiri. "Lo mau berangkat jam berapa, Bang?" Marco melirik jam digital di pergelangan tangan. "Bentar lagi. Gue nunggu dicalling dulu," ucapnya sambil memasukkan senjata api ke dalam saku jaket kulit. "ayo masuk dulu." Bagas dan Marco masuk. Keduanya mengobrol sebentar di ruang tamu—membahas untuk pertemuan be

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹¹⁸—Meminta Waktu~

    "Halo, Om?" Bagas memilih duduk di teras, sambil mendengarkan Hendra yang baru saja menelponnya. "Halo, Gas. Apa kabar?" "Baik, Om. Baik. Om sendiri gimana?" Bagas tentu harus bertanya balik. Biar bagaimanapun Hendra sudah mau repot-repot membantunya.. "Om baik, Gas." "Syukurlah." Bagas mengeluarkan kotak rokok dari saku jaket beserta korek. Tak lama kemudian Marco menyusul keluar dan ikut duduk di samping Bagas. Pria itu meletakkan senjata api di atas meja, lalu mengambil sebatang rokok milik Bagas, dan menyulutnya. Bagas melirik senjata api yang di atas meja sambil mendengarkan Hendra bicara. "Besok kita ketemuannya siang aja, ya, Gas. Nanti om sharelok lokasinya," kata Hendra, membahas pertemuannya dengan Bagas. "Iya-iya, Om. Gak masalah. Soalnya, aku besok ke kantor dulu sama temen-temen. Maudy nyuruh ke sana." "Hmm. Iya-iya." "Ya sudah. Sampai ketemu besok." "Oke-oke, Om." Bagas meletakkan ponselnya di atas meja setelah obrolan dengan Hendra berakhir. Di

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹¹⁷—Rumah Marco~

    "Lo dikasih saham sama Maudy?" Tiba-tiba Rachel menyahut dengan nada bicara terdengar tidak percaya sekaligus tak terima. "Kapan? Kok, gue gak tau?" Tatapan Rachel tertuju pada Bagas yang nampak fokus menyetir. Vanila bahkan sampai terkejut mendengar Rachel yang tiba-tiba menyahut dengan nada bicara agak tinggi. Sedangkan Bagas melirik gadis itu dari kaca spion tengah. Pemuda itu menghela panjang, merasa bingung menjelaskannya pada Rachel yang saat ini menuntut jawabannya. Tak heran gadis itu terkejut bukan main. Sebab, Bagas sama sekali tidak menceritakan perihal saham yang dijanjikan oleh Maudy. Belum. Dan sebenarnya Bagas tak berniat memberitahu. Namun, semua sudah terlanjur. Rachel sudah mendengarnya. Mau tak mau Bagas harus bicara supaya gadis yang sedang mengandung anaknya itu merasa tenang. "Beberapa hari yang lalu, sih," jawab Bagas lirih, sambil melirik Rachel dari kaca spion tengah. Rachel mendengkus, melipat tangan di dada, dan menyahut, "Bisa-bisanya dia

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹¹⁶—Pulang~

    Beberapa hari kemudian~ Kondisi Rachel yang sudah cukup membaik, telah mendapatkan izin dari dokter untuk pulang. Namun, dengan catatan gadis itu harus betres untuk sementara waktu lantaran kandungannya yang masih lemah. Di trisemester awal seperti sekarang memang ibu hamil harus memperbanyak istirahat dan tidak boleh banyak pikiran. Hal tersebut dapat mengganggu kondisi mental sang calon ibu, apalagi usia Rachel yang masih sangat muda dan belum memiliki banyak pengalaman. Di usianya yang masih sembilan belas tahun, tentu akan ada banyak faktor yang tidak mendukung. Sementara, hati gadis itu sedang tidak baik-baik saja karena masih teringat dengan pernyataan Bagas yang sangat jujur. Rachel sampai tidak bisa tidur dan gelisah semalaman. Memikirkan nasibnya setelah menikah dengan Bagas yang tidak mencintainya. Entah akan seperti apa rumah tangganya kelak. Yang jelas, hidupnya mungkin akan terasa hampa dan kosong. Percuma hidup bersama, jika hati dan cinta suaminya sudah jadi mili

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹¹⁵—Bertepuk sebelah tangan~

    Baru kali ini, Rachel merasa tidak nyaman berduaan dalam satu ruangan dengan Bagas. Meskipun bibirnya memaksa untuk tersenyum, tetapi sesuatu yang mengganjal di hati tak kunjung hilang. Rachel resah, cemas, takut dan was-was. Mendengar kabar kehamilannya saja, dia masih syok bukan main. Lantas, kini Bagas ada di sampingnya, duduk dekat dengannya, menatapnya dengan raut yang sama sekali tak terbaca. Sejak lelaki itu masuk sampai detik ini belum bersuara sama sekali. Namun, dari sorot mata yang bisa Rachel bisa baca, bila Bagas seakan hendak memuntahkan banyak sekali pertanyaan padanya. "Lingga, gue—" "Ada yang mau lo jelasin?" Kalimat Rachel tersekat di tenggorokan ketika Bagas menyelanya dengan pertanyaan. Untuk menelan ludah saja rasanya sangat susah, tatapan lelaki yang sangat dia sukai itu begitu mengintimidasi. Rachel seperti tengah berada di ruang persidangan. "Elo diem, karena lo gak bisa jawab pertanyaan gue," ujar Bagas, yang lantas berdiri seraya membuang kasar napasnya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status