LOGINBima hanya menyunggingkan senyum tipisnya, senyum tipis yang amat jarang muncul di wajah tenangnya.
Sementara matanya tetap tertuju pada jalanan malam yang mulai meremang.
"Tante nggak perlu pusing memikirkan alasan saya," ujar Bima. "Fokus kita malam ini cuma satu. Bukti."
Ratna menyandarkan punggungnya di kursi penumpang, jantungnya berdebar kencang oleh pertanyaan yang masih bergulung di kepala.
Namun, penjelasan Bima berikutnya menahan niat Ratna untuk bertanya lebih jauh.
"Kalau semua tuduhan dan penyelewengan Hendra terbukti secara hukum," lanjut Bima sambil mengendalikan kemudi dengan satu tangan.
“Mudah buat Tante untuk melapor balik atas dugaan penggelapan dan penipuan. Tante nggak perlu takut kehilangan kosan, dan Tante nggak wajib membayar sepeser pun utang tiga ratus juta yang dia pakai buat bersenang-senang sama cewek itu."
Ratna mengembuskan napas panjang. "Tapi apa foto dari dalam mobil ini sudah cukup, Bima?"
Bima melirik spion samping, lalu memperlambat laju mobilnya saat berbelok kembali mengitari blok bagian belakang hotel.
"Belum. Foto dari luar cuma membuktikan mereka jalan bareng. Kita butuh foto yang lebih rapat, atau dokumen bukti reservasi atas nama Hendra. Saya mau ambil satu jepretan lagi di area kafe samping lobi."
"Kamu mau turun?" tanya Ratna cemas. "Bahaya, Bima. Kalau Hendra lihat kamu—"
"Tante ikut saya," potong Bima. "Ingat syarat ketiga tadi siang? Tante harus nuruti instruksi saya."
Bima memarkirkan mobilnya di pelataran remang dekat area sudut bangunan hotel.
Keduanya turun secara diam-diam, menyusuri pilar-pilar beton besar yang menaungi koridor luar kafe.
Suasana di sekitar situ cukup sepi, hanya terdengar deru samar musik jazz dari dalam restoran.
Dari balik bayangan pilar, Bima pun mengintip. Hendra dan Vivi tampak sedang duduk di meja sudut kafenya yang berdinding kaca transparan.
Hendra tengah merangkulkan tangannya di bahu Vivi sambil tertawa lebar, sementara di atas meja terpampang dua cangkir kopi dan sebundel dokumen yang tampak familiar di mata Ratna.
"Itu... itu folder berkas kosan saya!" bisik Ratna penuh keterkejutan.
Tangannya refleks memegang lengan Bima. "Dia bawa berkas itu ke sini!"
"Tahan, Tante," bisik Bima, kemudian mengangkat ponselnya, memosisikan sudut lensa terbaik dari balik celah tanaman hias raksasa.
Jepret.
Lampu kilat tidak menyala, tetapi gerakan Bima mendadak terhenti ketika seorang petugas keamanan hotel berjalan cepat dari arah sudut koridor lain dengan lampu senter menyala.
"Hei! Siapa itu di balik pilar?" teriak petugas keamanan itu.
"Celaka!" gumam Bima rendah.
Sebelum petugas itu sempat menyorotkan lampunya tepat ke arah mereka, Bima bertindak cepat.
Dengan gerakan refleks yang penuh tekanan adrenalin, Bima menarik tubuh Ratna ke dalam celah sempit di antara dinding beton dan pilar dekoratif.
Sret!
Tangan Bima mendekap erat tubuh Ratna, melingkari pinggang dan menekan punggung wanita itu agar benar-benar tersembunyi rapat dalam kegelapan.
Tubuh mereka menempel tanpa jarak. Dada Bima yang bidang menghimpit dada Ratna, hingga membuat wanita itu menahan napas seketika.
Suara sepatu bot petugas keamanan terdengar lewat hanya beberapa senti di balik pilar tempat mereka bersembunyi.
Tap. Tap. Tap.
Ratna bisa merasakan detak jantung Bima yang teratur namun memburu, berpadu dengan detak jantungnya sendiri yang serasa mau melompat keluar dari dada.
Aroma parfum kayu sage dan ketenangan yang maskulin dari tubuh Bima menyerbu pancaindera Ratna, membuat dadanya berdebar tak karuan.
Dalam jarak yang teramat dekat itu, Ratna perlahan mendongak. Matanya berpapasan langsung dengan mata cokelat gelap milik Bima.
Pria itu menunduk, menatapnya lurus dengan sorot mata yang tajam, dalam, dan dipenuhi intensitas yang belum pernah Ratna lihat sebelumnya.
Tidak ada kata-kata yang terucap di antara mereka, hanya keheningan membakar yang diisi oleh deru napas hangat yang saling berkejaran.
Satu detik... dua detik... mereka saling mengunci tatapan dalam kegelapan sempit itu.
Setelah suara langkah petugas keamanan menjauh dan menghilang di belokan koridor, Bima seolah mendadak tersadar dari keterpakuannya.
Ia berkedip pelan, lalu mengeratkan cengkeramannya sejenak sebelum perlahan menurunkan tangannya dari pinggang Ratna.
"Aman," bisik Bima pendek, lalu melangkah mundur setengah pijakan.
"Ayo balik ke mobil. Meskipun cuma sedikit, minimal kita sudah punya bukti tambahan."
Ratna hanya sanggup mengangguk kaku. Wajahnya terasa amat panas.
Dengan langkah canggung, ia menyusul Bima berjalan cepat kembali menuju mobil sedan tua yang terparkir di area remang.
Begitu pintu mobil tertutup rapat, suasana kabin mendadak canggung.
Bima langsung menyalakan mesin, tetapi ia tidak segera memajukan kendaraan.
Ia menyandarkan punggungnya di kursi pengemudi, meraih ponselnya, lalu fokus memeriksa jepretan foto yang baru saja ia dapatkan di galeri.
Ratna yang duduk di sebelah kiri masih sibuk membenahi tatanan rambutnya yang sedikit berantakan.
Rasa salah tingkah yang luar biasa membuat ujung jemarinya gemetar.
Sambil pura-pura membetulkan posisi sabuk pengaman, matanya diam-diam melirik ke arah Bima yang terlihat begitu serius menatap layar ponselnya di bawah pendar redup lampu dasbor.
Bima yang merasa diperhatikan, mendadak memutar kepalanya. Pandangan mereka bertemu lagi.
Bima yang memergoki Ratna sedang meliriknya hanya menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya, sebuah senyuman kecil yang terkesan menggoda namun tetap sopan.
Ratna tertangkap basah.
Wajahnya makin merona merah. Untuk menutupi rasa salah tingkahnya, Ratna berdeham pelan dan mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Hasil... hasil fotonya kelihatan jelas, Bima?" tanya Ratna kaku. "Saya boleh lihat?"
"Boleh. Kelihatan lumayan jelas kok," jawab Bima, kemudian menggeser posisi ponselnya ke tengah, mendekatkannya ke arah Ratna.
Ratna memajukan badannya dan mengulurkan tangan untuk meraih ponsel itu dari jemari Bima.
Namun, karena gerakannya yang terlalu cepat dan agak canggung, jari-jemari Ratna malah menggenggam jemari Bima yang masih menempel di tepi ponsel.
Deg.
Kulit tangan mereka bersentuhan lagi. Sentuhan yang hangat itu membuat Ratna tersentak kaget.
Ia refleks hendak menarik tangannya kembali, tetapi gerakan canggungnya justru membuat ponsel di tangan Bima hampir terlepas ke bawah dasbor.
"Eh—!" seru Ratna panik.
"Awas, Tante!" Bima ikut bertindak cepat menahan ponsel itu agar tidak jatuh.
Namun, tepat di saat yang bersamaan, pendar sinar lampu mobil lain yang baru saja masuk ke area parkir memancar terang tepat dari arah kaca depan mereka.
Suara langkah kaki beberapa orang terdengar mendekat ke area kendaraan mereka.
Mereka hampir ketahuan lagi oleh petugas atau pengunjung hotel!
Dalam kepanikan yang mendadak itu, Bima bereaksi cepat tanpa berpikir panjang.
Ia menyambar bahu Ratna, menangkup tubuh wanita itu dan menariknya turun ke bawah garis jendela mobil. Intensi awalnya adalah menutupi wajah Ratna rapat-rapat dengan lengannya agar tidak terlihat dari luar.
Namun karena dorongan yang terlalu cepat, tubuh Bima justru ikut condong melingkupi tubuh Ratna di kursi penumpang.
Wajah mereka terkunci dalam jarak yang teramat sangat dekat, hanya tersisa beberapa milimeter di udara.
Hidung mereka nyaris bersentuhan, dan bibir Bima yang hangat berada begitu tepat di atas garis bibir Ratna yang gemetar.
Pria itu menangkup pipi dan bahu Ratna, menahannya dalam posisi mengunci.
Di bawah remang kabin mobil yang diwarnai pendar lampu dari luar, mata mereka saling bertatap dalam jarak yang begitu membakar.
Ratna merasa dadanya naik turun dengan cepat.
Kehangatan napas Bima menyapu bibirnya, memacu adrenalin yang membuat kepalanya mendadak kosong.
Ratna menelan ludahnya dengan pelan, memecah keheningan yang amat pekat di antara wajah mereka.
"Bima?" bisik Ratna serak. "Ini... kita masih lama?"
Bima hanya menyunggingkan senyum tipisnya, senyum tipis yang amat jarang muncul di wajah tenangnya.Sementara matanya tetap tertuju pada jalanan malam yang mulai meremang."Tante nggak perlu pusing memikirkan alasan saya," ujar Bima. "Fokus kita malam ini cuma satu. Bukti."Ratna menyandarkan punggungnya di kursi penumpang, jantungnya berdebar kencang oleh pertanyaan yang masih bergulung di kepala.Namun, penjelasan Bima berikutnya menahan niat Ratna untuk bertanya lebih jauh."Kalau semua tuduhan dan penyelewengan Hendra terbukti secara hukum," lanjut Bima sambil mengendalikan kemudi dengan satu tangan.“Mudah buat Tante untuk melapor balik atas dugaan penggelapan dan penipuan. Tante nggak perlu takut kehilangan kosan, dan Tante nggak wajib membayar sepeser pun utang tiga ratus juta yang dia pakai buat bersenang-senang sama cewek itu."Ratna mengembuskan napas panjang. "Tapi apa foto dari dalam mobil ini sudah cukup, Bima?"Bima melirik spion samping, lalu memperlambat laju mobilnya
Sebelum Bima sempat menjawab, pintu ruang tamu terdorong lebih lebar.Jo dan Leo yang menyelinap masuk sejak tadi langsung menyerobot bicara tanpa dosa, memecah atmosfer berat di ruangan tersebut."Syarat dari saya simpel, Tante!" seru Leo dengan cengiran lebar, lalu memajukan badannya di sebelah Dimas."Mulai besok Tante harus masakin ayam bumbu balado seminggu tiga kali! Bosen saya makan mi instan terus tiap malam.""Dih, dasar perut karet!" pangkas Jo tidak mau kalah sambil menyenggol bahu Leo dan mengacungkan jarinya tinggi-tinggi."Kalau saya beda lagi, Tante. Diskon uang kosan sepuluh persen bulan depan kalau masalah ini beres! Lumayan buat tambahan beli kuota."Arka yang berdiri bersandarkan tembok dekat pintu hanya menggelengkan kepala, menyunggingkan senyum tipis melihat tingkah dua penghuni paling muda itu.Ratna tertegun. Ketegangan yang mencekat dadanya mendadak mengendur.Ia menatap dua anak muda itu dengan rasa tak percaya, lalu menghela napas panjang saat menyadari beta
Siang merambat menjadi sore, tetapi ketegangan di ruang tamu kosan sama sekali belum reda.Meja kayu di tengah ruangan kini tertutup oleh lembaran berkas fotokopi, catatan mutasi rekening, dan lembar tagihan Rp 300 juta yang diletakkan Bima di bawah lampu meja yang menyala terang.Bima duduk tenang dengan kacamata baca hinggap di pangkal hidungnya, meneliti lembar demi lembar berkas yang berhasil ia kumpulkan dari sisa dokumen di kamar kerja Hendra.Di seberangnya, Ratna duduk dengan jemari yang saling bertaut rapat di pangkuan."Surat kuasa yang Tante tanda tangani memang memberikan hak penjaminan sertifikat," Bima membuka suara, memecah hening sambil menunjuk sebuah frasa di halaman kedua dokumen."Tetapi ada celah hukum yang sangat fatal di sini. Penanggalan surat kuasa ini dimajukan dua bulan sebelum akad pinjaman diproses. Ini bentuk cacat administrasi."Ratna mendongak, matanya memancarkan sedikit titik terang. "Artinya surat itu bisa dibatalkan?""Bisa," jawab Bima lugas."Sela
Baru pukul delapan lewat empat puluh lima menit, tetapi dua mobil sudah terparkir berderet di depan pagar besi yang terbuka separuh.Hendra turun dari mobil depan dengan setelan kemeja rapi, melangkah penuh percaya diri.Di sampingnya, berjalan seorang pria berbadan tambun berpakaian necis yang memegang map tebal, Pak Darto, penagih pinjaman swasta, diikuti oleh dua pria bertubuh kekar dengan tato menjalar di lengan yang berdiri sigap di belakang mereka.Suara langkah kaki dan nada bicara yang keras mengundang perhatian para penghuni kos.Dari balkon lantai dua, Jo dan Leo mengintip dengan wajah cemas, sambil saling berbisik dengan raut tegang yang tak lagi diwarnai keusilan."Jo, itu Om Hendra bawa orang-orang gede banget," bisik Leo tegang, tangannya meremas cengkeraman pagar balkon. "Mau ada penggusuran apa gimana?""Diem dulu, Leo. Jangan kenceng-kenceng," balas Jo panik seraya menarik lengan kaos temannya itu.Sementara itu di dekat tangga bawah, Arka berdiri kaku dalam seragam k
"Halah! Masuk sana kamu. Gak usah ikut campur urusan kami!" ucap Hendra dengan kasar.Namun, Bima justru memicingkan matanya kala melihat Ratna yang tampak hancur.Ia tidak mematuhi gertakan Hendra, melainkan tetap berdiri kukuh di posisinya, menatap Hendra dengan sorot mata dingin yang sukar diartikan.Hendra menyadari tatapan itu. Rasanya seperti ditelanjangi oleh pemuda yang umurnya jauh di bawahnya.Merasa terpojok dan tak punya argumen lagi, Hendra mendesis gusar.Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi pada Ratna, pria itu menyambar kunci mobil di atas meja, berbalik kasar, dan membanting pintu depan hingga kaca-kaca jendela bergetar keras.Suara deru mesin mobilnya menggerung membelah malam, lalu menghilang ditelan kegelapan jalan raya.Begitu deru mobil memudar, pertahanan Ratna runtuh. Punggungnya merosot, bersandar lemah pada kursi kayu.Tangannya terangkat menutupi wajahnya yang mendadak panas.Dadanya naik turun menahan guncangan napas, berusaha mati-matian agar tangisnya tid
"Tiga juta seratus dua puluh ribu?" bisik Ratna dengan suara yang tercekat di tenggorokan.Layar ponsel di atas meja makan kayu menyala redup, memancarkan deretan angka di aplikasi mobile banking.Ratna menyapu permukaan meja dengan telapak tangannya yang dingin, lalu menggeser ponsel itu lebih dekat ke wajahnya.Ia menghitung angka nol di layar sekali lagi. Lalu untuk kedua kalinya. Dan untuk ketiga kalinya.Seratus delapan puluh tujuh juta rupiah. Uang hasil memeras keringat mengurus delapan kamar kos warisan almarhum ayahnya, ditambah sisa uang peninggalan orang tua, kini menguap begitu saja.Dengan jemari gemetar, Ratna menggulir riwayat mutasi rekening. Deretan transaksi keluar tercetak rapi selama empat bulan terakhir.Sebagian besar berupa transfer berulang ke satu nama: Vivi Amelia. Sisanya adalah pembayaran di boutique hotel, restoran mewah pusat kota, hingga toko perhiasan.Ratna memijit pelipisnya yang mulai berdenyut parah. Pikirannya langsung tertuju pada jadwal besok pag







