Share

Bab 5

last update publish date: 2026-10-21 17:09:43

Sebelum Bima sempat menjawab, pintu ruang tamu terdorong lebih lebar.

Jo dan Leo yang menyelinap masuk sejak tadi langsung menyerobot bicara tanpa dosa, memecah atmosfer berat di ruangan tersebut.

"Syarat dari saya simpel, Tante!" seru Leo dengan cengiran lebar, lalu memajukan badannya di sebelah Dimas.

"Mulai besok Tante harus masakin ayam bumbu balado seminggu tiga kali! Bosen saya makan mi instan terus tiap malam."

"Dih, dasar perut karet!" pangkas Jo tidak mau kalah sambil menyenggol bahu Leo dan mengacungkan jarinya tinggi-tinggi.

"Kalau saya beda lagi, Tante. Diskon uang kosan sepuluh persen bulan depan kalau masalah ini beres! Lumayan buat tambahan beli kuota."

Arka yang berdiri bersandarkan tembok dekat pintu hanya menggelengkan kepala, menyunggingkan senyum tipis melihat tingkah dua penghuni paling muda itu.

Ratna tertegun. Ketegangan yang mencekat dadanya mendadak mengendur.

Ia menatap dua anak muda itu dengan rasa tak percaya, lalu menghela napas panjang saat menyadari betapa konyol dan polosnya permintaan mereka.

Rasa cemas dan prasangka buruk yang sempat ditiupkan oleh Hendra mendadak menguap tanpa bekas.

Namun, Bima mengetuk permukaan meja dua kali dengan pulpennya.

Tuk. Tuk.

Suara ketukan itu serta-merta membungkam celotehan Jo dan Leo seketika. Wajah Bima kembali dingin dan tak tersentuh humor.

"Syarat dari Jo sama Leo bisa diurus nanti," potong Bima datar, melirik dua pemuda itu hingga keduanya langsung bungkam dan mundur satu langkah.

Bima lalu mengalihkan pandangannya kembali pada Ratna. "Imbalan dari saya berbeda, Tante," tegas Bima.

"Ada tiga syarat. Pertama, Tante harus berhenti meminta maaf atas hal-hal yang bukan kesalahan Tante. Kedua, Tante dilarang keras mengalah atau menunduk lagi di depan Pak Hendra.

“Dan ketiga... selama tujuh hari ke depan, Tante harus menuruti seluruh rencana dan instruksi dari saya tanpa membantah. Itu harga yang harus Tante bayar."

Ratna terpaku. Itu bukan imbalan berupa materi atau uang.

Bima sedang menuntut agar Ratna menanggalkan tabiat buruknya yang terlalu sabar dan lemah. Penilaian Bima begitu tepat sasaran hingga meremas tenggorokan Ratna.

"Gimana, Tante?" tanya Bima lagi dengan nada menuntut dan lurus. "Tante sanggup?"

Tanpa ragu lagi, Ratna menganggukkan kepalanya kuat-kuat. "Saya setuju, Bima. Saya janji."

"Bagus," sahut Bima singkat. "Sekarang Tante siap-siap. Kita berangkat lima belas menit lagi."

**

Malam harinya, sekitar pukul sembilan lewat lima belas menit, sebuah sedan hitam tua yang dikendarai Bima membelah kegelapan jalan raya, melaju pelan mendekati area boutique hotel yang dilaporkan Dimas.

Ratna duduk di kursi penumpang depan, tangannya memegangi sabuk pengaman erat-erat.

Mobil mereka berhenti di balik deretan pohon peneduh yang remang, beberapa puluh meter dari lobi utama hotel.

Suasana malam terasa dingin, dipenuhi deru kendaraan yang lalu lalang di jalan utama.

"Bima, kalau kita ketahuan gimana?" bisik Ratna penuh kecemasan. Tangannya dingin.

"Kaca mobil ini dipasang kaca film gelap, Tante," balas Bima tenang tanpa menoleh, matanya tetap tertuju pada pintu kaca lobi hotel yang terang benderang.

"Tetap duduk dan jangan nyalakan lampu kabin."

Dari dalam kegelapan kabin, mata Ratna menangkap dua sosok yang baru saja melangkah keluar dari pintu kaca hotel.

Hendra berjalan dengan senyum merekah, merangkul mesra pinggang seorang wanita muda berambut panjang dengan gaun merah ketat—Vivi Amelia.

Pria itu tampak begitu bahagia, tertawa manja sembari mengelak saat wanita itu mencubit lengannya.

Hendra terlihat sangat santai, seolah tak baru saja menghancurkan hidup istrinya beberapa jam lalu.

Hati Ratna rasanya diiris sembilu. Napasnya memburu, air mata menumpuk di sudut pelupuk matanya.

Menyaksikan pengkhianatan itu dengan mata kepala sendiri di depan umum membuat tangannya gemetar hebat karena emosi.

Tepat ketika Ratna hendak mendorong pintu mobil karena emosi yang memuncak, sebuah tangan yang hangat dan kokoh menggenggam pergelangan tangannya.

"Tahan, Tante," bulir suara Bima terdengar begitu dekat di samping telinganya.

Tangannya menahan Ratna dengan lembut namun tak tergoyahkan. "Jangan pakai emosi. Biarkan hukum yang bekerja."

Ratna tertegun, menahan dorongan badannya. Ia menatap genggaman tangan Bima di pergelangan tangannya, lalu beralih menatap wajah pengacara muda itu dari samping.

Bima mengarahkan kamera ponselnya yang canggih ke arah lobi.

Dengan gerakan jemari yang tenang dan profesional, ia mengambil beberapa jepretan foto yang sangat tajam, menangkap jelas wajah Hendra, Vivi Amelia yang sedang bergelayut di bahunya, serta pelat nomor mobil mewah yang mereka naiki.

Jepret. Jepret.

"Dapat," gumam Bima pelan, kemudian menurunkan ponselnya, meletakkannya di atas paha, lalu perlahan melepas cengkeramannya di tangan Ratna.

"Foto perselingkuhan secara terbuka di tempat umum. Ini bisa jadi amunisi tambahan buat gugatan cerai dan pembatalan kuasa."

Ratna menatap profil samping wajah Bima yang tersiram cahaya remang lampu jalan.

Sentuhan tangan pria itu di pergelangan tangannya tadi masih menyisakan kehangatan yang memancarkan rasa aman, sesuatu yang tak pernah Ratna dapatkan dari suaminya sendiri selama bertahun-tahun pernikahan mereka.

Bima bukan lagi sekadar penghuni kamar nomor satu yang irit bicara; pria ini adalah pelindung yang teramat tangguh.

"Terima kasih, Bima," bisik Ratna pelan, menyeka sudut matanya yang basah.

Bima memutar kunci kontak, menyalakan mesin sedan tua itu kembali.

Saat sedan tua itu mulai melaju pelan meninggalkan area hotel menyusuri jalanan malam yang sepi, Ratna akhirnya memberanikan diri menyuarakan ketidakpahamannya yang tertahan sejak semalam.

"Bima?" panggil Ratna pelan, memecah keheningan di dalam mobil.

"Kenapa kamu sebegitu yakin soal kelakuan Hendra? Cara kamu menganalisis semuanya, seolah kamu sudah tahu ini bakal terjadi."

Bima tetap menatap lurus ke jalan raya di depannya. Jemarinya mencengkeram kemudi dengan stabil.

Pria itu diam cukup lama, hingga keheningan terasa begitu pekat di antara deru mesin mobil.

"Saya tidak secara kebetulan memilih ngekos di rumah Tante selama enam tahun ini," jawab Bima pelan, suaranya mengandung rahasia tersembunyi yang dalam.

Ratna menoleh kaget, matanya membelalak. "Maksud kamu apa, Bima? Kamu ngekos di tempat saya, karena ada alasannya?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Tante Ratna yang Memikat   Bab 6

    Bima hanya menyunggingkan senyum tipisnya, senyum tipis yang amat jarang muncul di wajah tenangnya.Sementara matanya tetap tertuju pada jalanan malam yang mulai meremang."Tante nggak perlu pusing memikirkan alasan saya," ujar Bima. "Fokus kita malam ini cuma satu. Bukti."Ratna menyandarkan punggungnya di kursi penumpang, jantungnya berdebar kencang oleh pertanyaan yang masih bergulung di kepala.Namun, penjelasan Bima berikutnya menahan niat Ratna untuk bertanya lebih jauh."Kalau semua tuduhan dan penyelewengan Hendra terbukti secara hukum," lanjut Bima sambil mengendalikan kemudi dengan satu tangan.“Mudah buat Tante untuk melapor balik atas dugaan penggelapan dan penipuan. Tante nggak perlu takut kehilangan kosan, dan Tante nggak wajib membayar sepeser pun utang tiga ratus juta yang dia pakai buat bersenang-senang sama cewek itu."Ratna mengembuskan napas panjang. "Tapi apa foto dari dalam mobil ini sudah cukup, Bima?"Bima melirik spion samping, lalu memperlambat laju mobilnya

  • Pesona Tante Ratna yang Memikat   Bab 5

    Sebelum Bima sempat menjawab, pintu ruang tamu terdorong lebih lebar.Jo dan Leo yang menyelinap masuk sejak tadi langsung menyerobot bicara tanpa dosa, memecah atmosfer berat di ruangan tersebut."Syarat dari saya simpel, Tante!" seru Leo dengan cengiran lebar, lalu memajukan badannya di sebelah Dimas."Mulai besok Tante harus masakin ayam bumbu balado seminggu tiga kali! Bosen saya makan mi instan terus tiap malam.""Dih, dasar perut karet!" pangkas Jo tidak mau kalah sambil menyenggol bahu Leo dan mengacungkan jarinya tinggi-tinggi."Kalau saya beda lagi, Tante. Diskon uang kosan sepuluh persen bulan depan kalau masalah ini beres! Lumayan buat tambahan beli kuota."Arka yang berdiri bersandarkan tembok dekat pintu hanya menggelengkan kepala, menyunggingkan senyum tipis melihat tingkah dua penghuni paling muda itu.Ratna tertegun. Ketegangan yang mencekat dadanya mendadak mengendur.Ia menatap dua anak muda itu dengan rasa tak percaya, lalu menghela napas panjang saat menyadari beta

  • Pesona Tante Ratna yang Memikat   Bab 4

    Siang merambat menjadi sore, tetapi ketegangan di ruang tamu kosan sama sekali belum reda.Meja kayu di tengah ruangan kini tertutup oleh lembaran berkas fotokopi, catatan mutasi rekening, dan lembar tagihan Rp 300 juta yang diletakkan Bima di bawah lampu meja yang menyala terang.Bima duduk tenang dengan kacamata baca hinggap di pangkal hidungnya, meneliti lembar demi lembar berkas yang berhasil ia kumpulkan dari sisa dokumen di kamar kerja Hendra.Di seberangnya, Ratna duduk dengan jemari yang saling bertaut rapat di pangkuan."Surat kuasa yang Tante tanda tangani memang memberikan hak penjaminan sertifikat," Bima membuka suara, memecah hening sambil menunjuk sebuah frasa di halaman kedua dokumen."Tetapi ada celah hukum yang sangat fatal di sini. Penanggalan surat kuasa ini dimajukan dua bulan sebelum akad pinjaman diproses. Ini bentuk cacat administrasi."Ratna mendongak, matanya memancarkan sedikit titik terang. "Artinya surat itu bisa dibatalkan?""Bisa," jawab Bima lugas."Sela

  • Pesona Tante Ratna yang Memikat   Bab 3

    Baru pukul delapan lewat empat puluh lima menit, tetapi dua mobil sudah terparkir berderet di depan pagar besi yang terbuka separuh.Hendra turun dari mobil depan dengan setelan kemeja rapi, melangkah penuh percaya diri.Di sampingnya, berjalan seorang pria berbadan tambun berpakaian necis yang memegang map tebal, Pak Darto, penagih pinjaman swasta, diikuti oleh dua pria bertubuh kekar dengan tato menjalar di lengan yang berdiri sigap di belakang mereka.Suara langkah kaki dan nada bicara yang keras mengundang perhatian para penghuni kos.Dari balkon lantai dua, Jo dan Leo mengintip dengan wajah cemas, sambil saling berbisik dengan raut tegang yang tak lagi diwarnai keusilan."Jo, itu Om Hendra bawa orang-orang gede banget," bisik Leo tegang, tangannya meremas cengkeraman pagar balkon. "Mau ada penggusuran apa gimana?""Diem dulu, Leo. Jangan kenceng-kenceng," balas Jo panik seraya menarik lengan kaos temannya itu.Sementara itu di dekat tangga bawah, Arka berdiri kaku dalam seragam k

  • Pesona Tante Ratna yang Memikat   Bab 2

    "Halah! Masuk sana kamu. Gak usah ikut campur urusan kami!" ucap Hendra dengan kasar.Namun, Bima justru memicingkan matanya kala melihat Ratna yang tampak hancur.Ia tidak mematuhi gertakan Hendra, melainkan tetap berdiri kukuh di posisinya, menatap Hendra dengan sorot mata dingin yang sukar diartikan.Hendra menyadari tatapan itu. Rasanya seperti ditelanjangi oleh pemuda yang umurnya jauh di bawahnya.Merasa terpojok dan tak punya argumen lagi, Hendra mendesis gusar.Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi pada Ratna, pria itu menyambar kunci mobil di atas meja, berbalik kasar, dan membanting pintu depan hingga kaca-kaca jendela bergetar keras.Suara deru mesin mobilnya menggerung membelah malam, lalu menghilang ditelan kegelapan jalan raya.Begitu deru mobil memudar, pertahanan Ratna runtuh. Punggungnya merosot, bersandar lemah pada kursi kayu.Tangannya terangkat menutupi wajahnya yang mendadak panas.Dadanya naik turun menahan guncangan napas, berusaha mati-matian agar tangisnya tid

  • Pesona Tante Ratna yang Memikat   Bab 1

    "Tiga juta seratus dua puluh ribu?" bisik Ratna dengan suara yang tercekat di tenggorokan.Layar ponsel di atas meja makan kayu menyala redup, memancarkan deretan angka di aplikasi mobile banking.Ratna menyapu permukaan meja dengan telapak tangannya yang dingin, lalu menggeser ponsel itu lebih dekat ke wajahnya.Ia menghitung angka nol di layar sekali lagi. Lalu untuk kedua kalinya. Dan untuk ketiga kalinya.Seratus delapan puluh tujuh juta rupiah. Uang hasil memeras keringat mengurus delapan kamar kos warisan almarhum ayahnya, ditambah sisa uang peninggalan orang tua, kini menguap begitu saja.Dengan jemari gemetar, Ratna menggulir riwayat mutasi rekening. Deretan transaksi keluar tercetak rapi selama empat bulan terakhir.Sebagian besar berupa transfer berulang ke satu nama: Vivi Amelia. Sisanya adalah pembayaran di boutique hotel, restoran mewah pusat kota, hingga toko perhiasan.Ratna memijit pelipisnya yang mulai berdenyut parah. Pikirannya langsung tertuju pada jadwal besok pag

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status