Mag-log in"Gimana sih, kok aplikasi portal kampus ini error mulu dari tadi?" gerutu Rara sambil mengetuk-ngetuk layar ponselnya dengan kening berkerut saat mereka berjalan beriringan melintasi halaman utama Livingston University.Suasana pagi itu terasa jauh dari kata ramah bagi Jeeva. Baru saja ia melangkahkan kaki melewati gerbang kampus, puluhan pasang mata langsung menghujaninya dengan tatapan sinis dan berbisik-bisik di belakang punggungnya. Gosip panas hasil rekayasa Vanya telah menyebar begitu cepat, menjadikan Jeeva bahan gunjingan satu universitas.Jeeva menghentikan langkahnya sebentar, menoleh ke arah sahabatnya dengan ekspresi bingung bercampur kesal. “Ra, aku aneh banget deh sama orang-orang hari ini. Dari tadi pagi aku diliatin sinis terus sama anak-anak. Emangnya ada apa sih? Kenapa semua orang mendadak kayak natap aku jijik gitu?"Rara mendongak dari ponselnya, mengerjap bingung menatap Jeeva. "Hah? Emangnya ada apa, Va? Aku dari tadi sibuk ngurusin KRS yang error, jadi nggak
"Mas, biarin orang pada keluar dulu," bisik Jeeva sambil menarik ujung sweater Langit, menahan pergerakan sang CEO agar tidak terburu-buru berdiri saat lampu teater bioskop baru saja menyala terang.Langit menoleh, melirik tajam ke arah Jeeva dengan kening berkerut dalam. "Kenapa harus nunggu orang? Waktu itu berharga, buat apa dibuang untuk hal yang tidak penting?"Mendengar omelan khas sang pria kaku, Jeeva malah terkekeh kecil. Gadis sembilan belas tahun itu akhirnya bangkit berdiri, lalu dengan gaya manjanya yang khas, ia langsung menggelayut manja menggandeng lengan kekar Langit. Ajaibnya, meski berwajah dingin dan tidak suka disentuh sembarangan, Langit sama sekali tidak berusaha melepaskan tautan tangan itu, membiarkan Jeeva menempel erat di sisinya menyusuri lorong bioskop.Keduanya berjalan keluar dari area mal menuju lantai dasar. Namun, alut perjalanan mereka mendadak berbelok ketika Langit menghentikan langkah tepat di depan sebuah restoran fine dining mewah berlapis kaca
Layar bioskop berukuran raksasa di depan sana memantulkan cahaya temaram yang menerangi sebagian sudut studio VIP yang mewah. Suasana di dalam teater terasa begitu nyaman dengan deretan kursi empuk berjarak longgar, memberikan privasi lebih bagi para penontonnya. Di salah satu deretan kursi tengah, Langit Banyuwangsa duduk dengan postur tegap khasnya, mengenakan sweater rajut hitam yang melekat pas di tubuh atletisnya. Sementara di sampingnya, Jeeva duduk berbalut dress soft lilac yang memancarkan pesona manis seorang gadis sembilan belas tahun.Menjelang pertengahan durasi film Hollywood yang mereka tonton, alur cerita mendadak beralih menjadi sebuah adegan yang sangat emosional. Visual di layar memperlihatkan kisah perjuangan berat seorang anak yang berjuang melintasi badai demi bisa kembali kepada keluarganya, diiringi alunan musik orkestra yang mendayu-dayu menyayat hati. Suasana haru seketika menyelimuti studio.Jeeva yang sejak tadi fokus menatap layar lebar perlahan merasak
"Astaga mulutnya, gak sabar banget aku pengen gampar dan kasih sambel matah level seratus!" Geram Jeeva sambil mengepalkan kedua tangannya erat-erat di sisi tubuhnya ketika mendengar fitnahan dari teman sekampus ya.Dadanya bergemuruh hebat, menahan amarah yang mendidih akibat hinaan murahan yang dilemparkan Vanya dan teman-temannya tanpa rasa malu di tengah kerumunan lobi bioskop yang ramai. Namun, alih-alih meledak dan mempermalukan diri dengan membalas teriakannya, Jeeva menarik napas dalam-dalam. Sembari menunggu Langit menerima semua pesanan dari kasir bioskop, "Kenapa? Kamu mau makan sambal matah?" Tanya Langit yang ada di sebelahnya."Ihh, bukan, Mas. Ya kali ngemall sesekali sama CEO makan nya sambal matah? Rugi banget dong..." ketus Jeeva lagi"Lah! Kamu yang bilang barusan..." Langit yang tak ingin berdebat karena situasi lagi rame terpaksa meladeni kalimat Jeeva dengan sedikit tenang. Karena melihat Langit penasaran, gadis itu merapatkan tubuhnya, lalu berjinjit sedikit u
“Mas Langit ganteng banget kalau pakai baju casual gini, kaya aktor Korea…” puji Jeeva ketika mereka baru masuk ke dalam mobil.“Udah, diem aja. Saya ga punya recehan.” Jawab Langit sok cool padahal di sudut bibirnya mengembangkan senyum walau hanya segaris.“Dih! Siapa juga yang mau receh? Itu mah anak kecil. Kalau udah seumuran Jeeva ini butuhnya LV, Gucci atau brand lainnya.”“Pasang seat belt dan duduk manis.” Potong Langit fokus mengemudi.Mobil mewah itu pun meluncur membelah jalanan kota yang mulai dihiasi lampu-lampu malam yang berpendar indah. Suasana di dalam kabin terasa jauh lebih hidup dibandingkan biasanya, berkat kehadiran Jeeva yang tak henti-hentinya bersenandung kecil mengikuti alunan lagu dari radio.Langit sesekali melirik ke arah Jeeva yang bersenandung dengan suara yang berantakan.Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk tiba di pusat perbelanjaan elit di pusat kota.Setibanya di area parkir basement yang cukup lengang, Langit mematikan mesin sedan hitamnya, lalu
Udara sore di dalam kabin sedan hitam mewah itu mendadak terasa jauh lebih hangat, meski AC berkecepatan sedang terus berhembus. Langit kembali memfokuskan pandangannya ke jalan raya, sementara jemarinya dengan mantap mengendalikan kemudi. Pria itu sesekali melirik sekilas ke arah kursi belakang melalui kaca spion tengah, mengamati bagaimana Jeeva tengah sibuk merapikan tatanan rambutnya dengan pantulan jendela mobil yang berfungsi layaknya cermin."Jangan terlalu berharap banyak soal dandanan kamu," ucap Langit dengan nada datar khasnya, mencoba menetralkan kembali ketegangan di antara mereka setelah insiden kecupan spontan di tangan tadi. "Waktu kita terbatas. Sepuluh menit sampai rumah, tidak lebih."Jeeva yang mendengar teguran itu langsung mendengus kecil, memanyunkan bibirnya dengan gaya manja yang menggemaskan. "Iya, Mas Kulkas... bawel banget sih jadi cowok! Tenang aja, tangan ajaib Jeeva ini sanggup menyulap diri jadi princess dalam waktu lima menit kalau darurat.""Princes







