LOGIN"Saya paling benci hal milik saya disentuh. Tapi kenapa cuma sama kamu saya bisa tidur tanpa obat?" Jeeva hanya ingin bersembunyi dari bayang-bayang penagih hutang peninggalan almarhumah ibunya, sehingga dia menuruti ajakan Tante Marini sebagai penolongnya untuk tinggal di rumahnya. Namun, nasib malah menuntutnya tinggal satu atap dengan Langit Segara Banyuwangsa, seorang CEO tampan berhati dingin yang memiliki aturan ketat, ‘Jangan pernah sentuh milikku.’
View More“Mmh, rasanya hangat .…”
Gumaman itu lolos dari bibir mungil Jeeva seiring tangannya bergerak turun. Alam bawah sadarnya yang sedang tenggelam dalam mimpi sama sekali tidak mengenali bahwa yang sedang disentuhnya bukanlah bantal empuk yang dipeluknya semalam.
Melainkan lekukan perut six pack keras milik pria asing yang berbaring di sebelahnya.
Jemari lentiknya bergerak makin turun, lalu mendarat tepat di area sensitif teman tidurnya lalu mengelusnya pelan dengan penuh kepolosan sementara bibir Jeeva menyusuri dada bidang di sampingnya dengan manja, menyandarkan kepalanya dan menggesekkan pipinya di sana.
Posisinya terasa nyaman bagi Jeeva tengah terlelap setelah menempuh perjalanan panjang hari sebelumnya.
Namun, hal itu harus rusak ketika tiba-tiba Jeeva merasakan dahinya ditoyor pelan, tapi langsung mampu membuat Jeeva melepaskan pelukannya.
“Aduh–”
“Bukankah sudah cukup? Kamu masih mau melecehkanku lebih jauh?”
Suara berat dan dalam itu membuat Jeeva langsung membuka matanya. Gadis itu langsung terduduk dan menoleh ke sampingnya.
Sepasang matanya membola sempurna ketika melihat seorang pria asing di tempat tidurnya.
Pria itu tidak mengenakan atasan, menampilkan dada berotot yang tampak menggoda. Selimut yang tersingkap akibat Jeeva terduduk tiba-tiba membuat bagian bawah pria asing itu terekspos.
“S-siapa….” Suara Jeeva tercekat di tenggorokan. “Om siapa? Keluar dari sini atau saya teriak!”
Satu hari sebelumnya, Jeeva baru sampai di rumah ini, mengikuti ajakan sahabat mendiang ibunya untuk tinggal bersama. Sepeninggal ibunya, Jeeva tidak punya tempat tinggal. Rumahnya habis disita oleh para penagih utang karena mereka tidak sanggup mengembalikan uang, bahkan mencicil bunganya pun tidak sanggup.
Karenanya. Jeeva menerima penawaran wanita paruh baya yang baru ditemuinya kemarin.
Namun, kenapa pagi ini ia justru terbangun di sebelah pria asing dengan badan seksi ini!?
Dan–
Tunggu dulu.
Bukankah … pria ini putra sulung Tante Marini, sahabat mendiang ibunya itu?
Jeeva melihat foto pria itu terpampang di dinding ruang tengah. Bagaimana Jeeva bisa tidak langsung mengenalinya?
Dan lagi … setelah dilihat lagi, kamar ini tidak terlihat seperti kamar yang ditunjukkan kepadanya kemarin oleh Tante Marini.
Oh, sial. Dia salah kamar!?
“O-Om,” cicit Jeeva. Kini merasa bersalah karena tampaknya benar, ia salah masuk kamar setelah sempat mengambil minum ke dapur tengah malam kemarin. “Aku…”
“Om?” Pria itu mendengus kesal. Matanya yang tajam menatap Jeeva lekat-lekat, meneliti setiap senti wajah polos yang masih merah padam. "Panggilan yang buruk untuk pria yang semalaman kamu jadikan guling, kamu cium dan raba…”
"Enggak! Jeeva gak sengaja!"
Jeeva otomatis berlutut di atas tempat tidur, menghadap Langit Banyuwangsa. Pria asing yang merupakan tuan rumah di kediaman ini.
Rasanya Jeeva ingin menghilang saat itu juga.
“Aku salah masuk kamar, maaf. Aku masih belum hafal rumah ini,” ucap Jeeva sambil menunduk. “T-tapi kenapa aku nggak dibangunkan saja–”
"Kamu yang nyelonong masuk ke area pribadi orang lain, malah nyalahin pemilik rumah?" ketus Langit dengan suara beratnya yang menekan.
Jeeva semakin menunduk. “Maaf, Mas.”
Langit menaikkan sebelah alisnya. "Mas?"
"I-iya... Mas Langit," jawab Jeeva gugup, refleks mengikuti kata hatinya untuk tidak memanggil pria seseksi dan semenakutkan ini dengan sebutan 'Om' lagi.
Belum sempat Langit membalas argumentasi polos nan membakar itu, tiba-tiba pintu kamar terdorong terbuka lebar.
"Langit! Kamu kok berisik banget sih pagi-pagi. Suara sampai bawah ada apa?"
Tante Marini berdiri di ambang pintu, membeku seketika. Matanya membelalak lebar melihat pemandangan di depannya.
Putranya yang setengah telanjang … sedang di tempat tidur dengan anak angkatnya. Bahkan, piyama kebesaran Jeeva pun tampak tersingkap, menampilkan tulang selangkanya yang menonjol.
"Astaga naga! Langit, Jeeva?!" jerit Tante Marini histeris seraya menutupi mulutnya. “Kalian–”
"T-Tante... ini gak seperti yang Tante bayangkan!" Jeeva panik luar biasa, buru-buru menyibak paha Langit dan bangkit berdiri, merapikan piyamanya dengan tangan gemetar. “Jeeva nggak bermaksud apa-apa!”
Astaga, baru juga punya tempat tinggal semalam. Masa Jeeva harus diusir lagi pagi ini!?
Sementara itu, Langit hanya menghela napas panjang, bangkit berdiri santai tanpa canggung sedikit pun meski tubuh kekarnya terekspos.
"Anak ini yang menyusup ke kamar Langit, Ma."
“Menyusup?”
“Tante, Jeeva nggak sengaja. Jeeva salah kamar,” ucap Jeeva, sudah ingin menangis.
Melihat itu, Tante Marini menghela napas dan langsung menghampiri Jeeva. Wanita paruh baya itu menarik Jeeva ke belakang punggungnya, melindungi Jeeva bak seorang ibu ayam melindungi anaknya.
Langit mengernyit. “Mama membela anak itu?”
"Jeeva itu baru datang semalam, dia masih asing sama rumah ini! Jangan menyalahkan dia."
"Ma, ini kamar Langit. Dia yang salah..."
"Ya tapi kan kamu punya tangan, punya kaki!" potong Tante Marini tak mau kalah. Sejak dulu ia sangat mengidamkan anak perempuan karena kedua buah hatinya cowok semua. Kehadiran Jeeva adalah impian yang terwujud baginya. "Kalau kamu tahu Jeeva salah masuk kamar, kenapa gak kamu bangunkan dari semalam? Atau kamu gendong dia pindahin ke kamar tamu di sebelah! Kenapa malah kamu biarkan dia tidur di sini semalaman sama kamu?!"
Jeeva makin menundukkan kepalanya dalam-dalam. Rasa malu dan bersalah membakar seluruh wajahnya. Ia merasa sangat tidak enak hati sudah memicu keributan di rumah orang yang telah menyelamatkan hidupnya.
Di balik omelan ibunya, Langit hanya diam. Tatapan matanya yang tajam dan dingin terarah lurus pada Jeeva yang makin menyusut di belakang sang mama, seakan sedang menimbang sesuatu.
"Tidak usah diperpanjang," ucap Langit akhirnya.
Pria itu melangkah maju, memangkas jarak sampai posisinya tepat berhadapan dengan Jeeva. Langit menunduk sedikit, menatap datar dengan kharisma yang terpancar begitu pekat dan mendebarkan.
"Dengar baik-baik," bisik Langit di samping telinga Jeeva, begitu dingin sampai membuat bulu kuduk gadis itu berdiri tegak.
"Saya paling benci hal milik saya disentuh, apalagi dikotori. Kamu sudah lancang mengintip privasi saya, menyusup ke tempat tidur saya, dan menyentuh tubuh saya tanpa izin."
Jeeva meremas piyamanya kuat-kuat, napasnya tertahan karena rasa takut yang teramat sangat.
"Hanya karena Mama yang membawa kamu ke sini, bukan berarti kamu aman," lanjut Langit dengan nada rendah yang sarat ancaman mematikan. "Sekali lagi kamu berani mengusik batas privasi saya, atau mencoba memanfaatkan kebaikan Mama... saya sendiri yang bakal lempar kamu keluar. Paham?"
"Kamu... siapa?" tanya Karen gelagapan, suaranya yang tadinya melengking kini bergetar hebat di bawah tatapan mata elang Langit.Langit tidak menjawab. Ia bahkan tidak sudi menyebutkan namanya pada tiga gadis di depannya. Tatapan matanya yang dingin merengkuh seisi meja yang berantakan, lalu beralih pada manajer restoran yang berdiri kaku di samping mereka."Berapa total kerugiannya?" tanya Langit datar, suaranya tenang namun sarat akan otoritas yang tak bisa dibantah."Ah... i-iya, Tuan. Untuk ganti rugi gelas kristal dan piring impor, ditambah pembersihan lokasi, totalnya dua puluh lima juta rupiah," jawab sang manajer dengan membungkuk sopan, sadar betul dari aura dan pakaian Langit bahwa pria di depannya bukanlah orang sembarangan.Tanpa mengedipkan mata, Langit mengeluarkan dompet kulitnya, menarik kartu hitam tanpa batas limit, dan menyerahkannya pada manajer restoran. "Ambil secukupnya. Saya minta kalian minta maaf ke dia, dan bersihkan meja ini sekarang."Manajer itu dengan si
"Buruan naik, kamu udah terlambat satu menit!"Suara berat dan tajam itu menyambar begitu Jeeva baru saja membuka pintu gerbang. Langit duduk di balik kemudi mobil sedan mewah hitamnya yang terparkir di depan rumah, menatap Jeeva lewat kaca jendela yang terbuka dengan raut wajah penuh kekesalan.Jeeva tersentak, refleks mempercepat langkahnya. "M-maaf ya, Mas. Jeeva buat Mas nunggu..."Bukannya lumer, Langit justru mendengkus dan mencibir julid. "Lain kali kalau tidak punya jam tangan, beli! Waktu saya ini mahal, bukan buat nungguin kamu berdandan."Jeeva menunduk seraya membuka pintu baris kedua dan dengan santainya masuk lalu duduk di kursi belakang, mengira ada sopir keluarga yang akan mengantar mereka. Namun, baru saja ia hendak menarik sabuk pengaman, sebuah bentakan menyengat telinganya."Kamu pikir wajah saya ini kayak sopir?!" semprot Langit seraya memutar tubuhnya ke belakang, menatap Jeeva dengan tatapan menusuk.Jeeva yang polos terkedip-kedip, mengernyitkan dahi tidak paha
"Kenapa? Kamu takut nasi gorengnya saya racuni?"Suara berat dan dingin itu memecah keheningan meja makan yang kaku. Langit meletakkan garpu dan sendok stainlesnya dengan denting halus yang sengaja, tatapan tajamnya menghunus lurus ke arah Jeeva yang sejak tadi hanya memutar-mutar sendok di atas piringnya tanpa benar-benar menyuapnya.Jeeva tersentak, refleks menegakkan punggung. "G-gak... bukan gitu, Mas.""Kalau begitu makan," perintah Langit tak terbantahkan. Ia merapikan kemeja hitam yang membalut tubuh jangkungnya, memancarkan aura dominan yang makin membuat ruang makan semi-terbuka di samping kolam renang itu terasa sesak.Tante Marini yang duduk di kepala meja memutar ingatan ke kejadian tadi pagi di kamar, lalu mendengkus kesal melihat sikap putra sulungnya. "Langit, bisa gak sih kamu bicara pakai nada yang sedikit lebih lembut? Jeeva ini baru ditinggal ibunya, masih trauma. Jangan disamakan seperti kamu membentak karyawan kamu di kantor!"Langit tidak mengindahkan teguran ib
“Mmh, rasanya hangat .…”Gumaman itu lolos dari bibir mungil Jeeva seiring tangannya bergerak turun. Alam bawah sadarnya yang sedang tenggelam dalam mimpi sama sekali tidak mengenali bahwa yang sedang disentuhnya bukanlah bantal empuk yang dipeluknya semalam.Melainkan lekukan perut six pack keras milik pria asing yang berbaring di sebelahnya.Jemari lentiknya bergerak makin turun, lalu mendarat tepat di area sensitif teman tidurnya lalu mengelusnya pelan dengan penuh kepolosan sementara bibir Jeeva menyusuri dada bidang di sampingnya dengan manja, menyandarkan kepalanya dan menggesekkan pipinya di sana. Posisinya terasa nyaman bagi Jeeva tengah terlelap setelah menempuh perjalanan panjang hari sebelumnya.Namun, hal itu harus rusak ketika tiba-tiba Jeeva merasakan dahinya ditoyor pelan, tapi langsung mampu membuat Jeeva melepaskan pelukannya.“Aduh–”“Bukankah sudah cukup? Kamu masih mau melecehkanku lebih jauh?”Suara berat dan dalam itu membuat Jeeva langsung membuka matanya. Gadi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews