Chapter: Cowok Bayaran“Mas Langit ganteng banget kalau pakai baju casual gini, kaya aktor Korea…” puji Jeeva ketika mereka baru masuk ke dalam mobil.“Udah, diem aja. Saya ga punya recehan.” Jawab Langit sok cool padahal di sudut bibirnya mengembangkan senyum walau hanya segaris.“Dih! Siapa juga yang mau receh? Itu mah anak kecil. Kalau udah seumuran Jeeva ini butuhnya LV, Gucci atau brand lainnya.”“Pasang seat belt dan duduk manis.” Potong Langit fokus mengemudi.Mobil mewah itu pun meluncur membelah jalanan kota yang mulai dihiasi lampu-lampu malam yang berpendar indah. Suasana di dalam kabin terasa jauh lebih hidup dibandingkan biasanya, berkat kehadiran Jeeva yang tak henti-hentinya bersenandung kecil mengikuti alunan lagu dari radio.Langit sesekali melirik ke arah Jeeva yang bersenandung dengan suara yang berantakan.Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk tiba di pusat perbelanjaan elit di pusat kota.Setibanya di area parkir basement yang cukup lengang, Langit mematikan mesin sedan hitamnya, lalu
Last Updated: 2026-10-20
Chapter: JanjianUdara sore di dalam kabin sedan hitam mewah itu mendadak terasa jauh lebih hangat, meski AC berkecepatan sedang terus berhembus. Langit kembali memfokuskan pandangannya ke jalan raya, sementara jemarinya dengan mantap mengendalikan kemudi. Pria itu sesekali melirik sekilas ke arah kursi belakang melalui kaca spion tengah, mengamati bagaimana Jeeva tengah sibuk merapikan tatanan rambutnya dengan pantulan jendela mobil yang berfungsi layaknya cermin."Jangan terlalu berharap banyak soal dandanan kamu," ucap Langit dengan nada datar khasnya, mencoba menetralkan kembali ketegangan di antara mereka setelah insiden kecupan spontan di tangan tadi. "Waktu kita terbatas. Sepuluh menit sampai rumah, tidak lebih."Jeeva yang mendengar teguran itu langsung mendengus kecil, memanyunkan bibirnya dengan gaya manja yang menggemaskan. "Iya, Mas Kulkas... bawel banget sih jadi cowok! Tenang aja, tangan ajaib Jeeva ini sanggup menyulap diri jadi princess dalam waktu lima menit kalau darurat.""Princes
Last Updated: 2026-10-20
Chapter: JinakLangit Banyuwangsa duduk tenang di balik kemudi sedan hitam mewahnya yang terparkir rapi tepat di tepi jalan, beberapa meter dari gerbang utama Livingston University. Pria dua puluh sembilan tahun itu tampak sangat berwibawa dengan kemeja formal berwarna putih tulang yang lengannya digulung setengah siku, memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. Wajah tampannya dingin, kaku, dan datar, memancarkan aura es batu berjalan yang membuat siapa pun berpikir dua kali untuk mendekat.Tepat saat jarum jam dinding kampus menunjukkan pukul empat sore lewat lima menit, sesosok gadis berbalut cardigan rajut pastel terlihat berjalan keluar dari gerbang bersama seorang teman prianya. Setelah melambaikan tangan perpisahan yang singkat, Jeeva langsung melangkah setengah berlari menuju mobil sedan Langit dengan binar kebahagiaan yang melompat-lompat terang di kedua bola matanya.Begitu pintu mobil terbuka, Jeeva langsung merangsek masuk ke dalam kabin yang sejuk dan dipenuhi aroma parfum maskulin kh
Last Updated: 2026-10-20
Chapter: Berbunga-bungaFahira tampak sedikit terkejut, alis indahnya berkerut tipis mendengar jawaban tersebut."Kamu sarapan di rumah?" ulang Fahira dengan nada tidak percaya. "Sejak kapan seorang Langit mau repot-repot sarapan di rumah sebelum ke kantor? Biasanya kamu selalu melewatkan waktu makan pagi atau paling banter hanya minum kopi hitam di ruangan ini."Bagi Fahira, selama Langit belum menikah, ia merasa masih memiliki kebebasan penuh untuk merebut kembali posisi spesial di sisi pria itu. Terlebih lagi, ia tahu betul bahwa ibu Langit sedang gencar menjodohkan putranya dengan Valerie, seorang wanita dari kalangan elit yang sering diajak hadir bersama Langit dalam berbagai acara sosial sebagai calon tunangan. Namun, Fahira sama sekali tidak gentar pada Valerie. Ia sangat percaya diri bahwa sisa-sisa kenangan dan rasa cinta di masa lalu masih memegang kendali atas diri Langit."Ada beberapa hal yang memang berubah," balas Langit singkat, suaranya terdengar datar tanpa menyisipkan emosi berlebih. Pr
Last Updated: 2026-10-19
Chapter: DengkiLayar ponsel Vanya menyala terang di hadapan banyak orang. Di sana terpampang jelas sebuah dokumen digital administrasi kampus berisi data pribadi mahasiswa jalur beasiswa, lengkap dengan alamat domisili sementara Jeeva yang terdaftar di sebuah rumah kos sederhana kawasan pinggiran kota.Bisik-bisik riuh langsung mendadak menyeruak di sepanjang koridor. Beberapa mahasiswa yang tadinya sempat ragu kini kembali menatap Jeeva dengan sorot mata meremehkan, merasa mendapatkan bukti otentik untuk membenarkan gosip miring tersebut."Tuh, lihat sendiri!" seru Vanya penuh kemenangan, menarik kembali ponselnya dengan gaya angkuh. "Alamat kosnya aja di daerah kumuh begitu, tapi tiap hari sok berlagak diantar jemput mobil mewah sekelas sedan eksekutif. Kalau bukan simpanan sugar daddy, darimana dia bisa dapet fasilitas begituan? Jangan-jangan keluarganya di kota asal juga cuma kedok buat nutupin kedok aslinya!"Jeeva mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh. Rahangnya mengeras menahan gejolak em
Last Updated: 2026-10-19
Chapter: Langkah KakiLangkah kaki Jeeva terasa begitu ringan pagi itu. Semburat senyuman manis masih enggan luntur dari bibirnya setelah insiden kecupan kilat di dalam mobil Langit beberapa menit yang lalu. Bayangan wajah sang CEO yang sempat membeku kaku karena syok sukses membuat hati gadis sembilan belas tahun itu berbunga-bunga sepanjang jalan menuju koridor utama kampus.Namun, euforia kebahagiaan itu tidak bertahan lama begitu ia melewati area selasar fakultas. Suasana di sekitar mendadak terasa berbeda ketika beberapa pasang mata mahasiswa mulai menatapnya dengan sorot sinis dan berbisik-bisik di belakang punggungnya. Livingston University memang dikenal sebagai kampus swasta paling elit dan mahal di kota ini, tempat berkumpulnya anak-anak konglomerat dan para pewaris tahta perusahaan besar. Kehadiran Jeeva di sana yang statusnya hanyalah mahasiswi jalur beasiswa murni sudah sejak lama menjadi duri di mata sebagian mahasiswi kelas atas.Belum sempat Jeeva melangkah lebih jauh, sebuah suara tajam
Last Updated: 2026-10-19
Chapter: BatalAncaman itu menggantung di udara, menciptakan jarak di antara mereka berdua. Melody berdiri dengan napas memburu, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah begitu saja membasahi pipinya. Rasa cemburu, kecewa, dan lelah bercampur aduk menjadi satu, menghantam pertahanan mentalnya yang sedang sensitif karena kehamilannya.Casey terpejam sejenak, mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Dilema besar menghimpit dadanya. Di satu sisi, ia tidak sanggup melihat air mata sang istri atau membayangkan rumah tangga yang baru saja mereka bangun harus retak karena bayang-bayang masa lalu. Namun di sisi lain, mengabaikan Catherine secara total detik ini bisa memicu kecurigaan keluarga Sinclair dan bisa memecahkan konsentrasi dalam pengungkapan kasus sabotase kecelakaan kedua orang tuanya. Jika hubungan itu mendadak runtuh, seluruh bukti kejahatan Paman Richard yang sudah dikumpulkannya selama bertahun-tahun terancam menguap begitu saja."Sayang..." panggil Casey lirih, suaranya terdengar se
Last Updated: 2026-10-20
Chapter: Ancaman MelodyPagi itu di kediaman yang ditinggali Casey dan Melody tampak suasana semakin hangat dengan interaksi sepasang suami-istri yang telah saling menerima itu."Jangan bergerak, atau aku akan menciummu sampai kehabisan napas..." bisik Casey serak, tepat di lekuk leher istrinya.Suara berat itu terdengar begitu dekat dan penuh gairah, membuat pertahanan Melody langsung runtuh seketika pagi itu. Berdiri di area minibar dapur rumah mereka, tubuh Melody sepenuhnya terperangkap dalam pelukan posesif suaminya. Casey mengurungnya dengan kedua tangan kokoh yang menumpu di meja, sementara napas hangat pria itu menggelitik kulit lehernya.Melody mendengus kecil, meski debaran jantungnya berkhianat memukul cepat di dalam dada. Ia mencoba mendorong pelan dada bidang suaminya yang memakai kemeja putih dengan kancing atas terbuka. "Casey, ini masih pagi... Kalau pelayan rumah lewat gimana?" protesnya setengah hati, sementara pipinya sudah merah padam menahan malu dan gejolak rasa yang dipicu sentuhan
Last Updated: 2026-10-19
Chapter: Damai“Mulai sekarang, ceritakan semuanya padaku. Kita hadapi sama-sama," ucap Melody tulus, matanya menatap lurus ke dalam manik mata suaminya. "Kau juga tahu bukan keluarga besar Whitney tidak benar-benar menerimaku dengan baik. Apalagi ibu Gwen sudah menghasut sedemikian rupa. Bahkan papaku sekalipun seperti sosok yang berbeda untukku. Jadi, ayolah. Berhenti menanggung semuanya sendiri, Casey..."Melody menyelesaikan kalimatnya sambil membelai wajah Casey dengan hangat, mengusap sisa ketegangan di rahang kokoh pria itu.Sentuhan lembut itu bekerja bagai penawar racun bagi jiwa Casey yang bertahun-tahun membeku. Perlahan, napas pria itu mulai teratur. Casey menegakkan tubuhnya, menatap wajah istrinya yang basah oleh air mata dengan perasaan campur aduk, antara rasa bersalah, takjub, dan cinta yang begitu besar."Baiklah," bisik Casey akhirnya, menyerah pada ketulusan yang ditawarkan oleh wanita di hadapannya. "Aku akan menceritakan semuanya. Tapi tidak di sini, dan tidak sekarang. Tubuhm
Last Updated: 2026-10-19
Chapter: Pelukan HangatTatapan tajam Casey menembus pertahanan Melody, seolah pria itu ingin melihat seberapa jauh informasi gelap yang telah meresap ke dalam benak istrinya. Tidak ada sisa kehangatan dari candaan mereka sebelumnya yang tersisa di udara hanyalah ketegangan mencekam yang siap meledak kapan saja.Dominic yang berdiri tepat di belakang sang tuan besar menunduk dalam-dalam, gestur tubuhnya menyiratkan rasa bersalah yang teramat besar karena telah membiarkan rahasia inti perusahaan dan keluarga bocor ke telinga yang salah."Keluar, Dominic," perintah Casey datar tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun dari wajah sang istri."Baik, Tuan," sahut Dominic cepat sebelum melangkah pergi dengan tergesa-gesa, meninggalkan pintu perpustakaan tertutup rapat kembali demi privasi nyaman di antara pasangan suami istri itu.Begitu deru langkah Dominic memudar, keheningan di dalam perpustakaan terasa semakin menyesakkan. Melody meremas ujung gaunnya erat-erat, jemarinya dingin dan gemetar. Ia membuka bibir
Last Updated: 2026-10-18
Chapter: Rahasia“Kalau kamu diam berarti boleh dong?” rengek Casey dengan senyum usil yang tersungging di bibir tegasnya.Melody spontan mendengus geli campur sebal. Ia mendorong pelan dada suaminya yang kian mendekat. “Modus saja kerjamu! Sana, katanya tadi ada urusan penting dengan jajaran direksi. Jangan buang-buang waktu di sini.”Casey terkekeh rendah. Sebelum benar-benar beranjak berdiri dari sofa ruang keluarga, ia menyempatkan diri mendaratkan satu kecupan singkat di Pipi Melody yang merona merah. “Iya, Sayang. Aku pergi sebentar ke ruang kerja. Jangan ke mana-mana, tunggu aku selesai.”“Aku mau kemana juga, udah jelas di rumah ini mana mungkin bisa kemana-mana.”Setelah bayangan Casey menghilang di balik pintu ruang kerjanya yang kokoh, Melody menghela napas panjang. Suasana rumah utama kembali tenang. Namun, sisa-sisa percakapan di makam tadi pagi dan rasa penasaran luar biasa mengenai bisikan Casey tentang “mengusut semuanya” mendesak-desak pikirannya.Rasa penasaran itu mengalahkan rasa
Last Updated: 2026-10-18
Chapter: Canda SiangBisikan penutup Casey yang terucap di hadapan pusara kedua orang tuanya seketika meninggalkan gema misterius di kepala Melody. Dahi wanita itu berkerut tipis. Tatapannya beralih menatap profil samping suaminya yang masih lurus memandangi batu nisan marmer hitam tersebut.“Casey janji, akan mengusut semuanya, Ma…Pa…”Kalimat itu berputar ulang di benak Melody. Mengusut apa? Apakah kematian kedua orang tua Casey di masa lalu bukanlah kecelakaan murni seperti yang selama ini keluarga besar ketahui? Pertanyaan itu mendadak mengusik nuraninya, memunculkan rasa penasaran sekaligus kekhawatiran baru di tengah kerapuhan hatinya yang baru saja mereda.Belum sempat Melody membuka mulut untuk menanyakan maksud dari bisikan tersebut, Casey sudah lebih dulu menoleh. Pria itu menangkap raut bingung di wajah istrinya, lalu tersenyum tipis seraya mengusap lembut puncak kepala Melody."Ayo kita pulang, Sayang. Hari sudah semakin siang, dan kamu tidak boleh terlalu lama terkena angin terbuka," ajak Ca
Last Updated: 2026-10-18
Chapter: Happy Family- End*** Seminggu setelah kejadian pertemuan Vania dan nyonya Iriana di Mall. Tampak Verrel menemani Vania duduk menikmati suasana pagi melakukan olahraga yoga di samping kolam renang dekat taman bunga Anggrek mereka. Vania tampak melipat matras yoga nya, dan berjalan menghampiri Verrel yang tengah duduk memperhatikan perut buncitnya. Dengan manja Vania mengelendot duduk di sisi Verrel. “ Makasih sayang, sudah menemaniku olahraga, kamu mau kerja di kantor atau di ranjang? “ Vania mengerlingkan sebelah matanya. Sontak tawa Verrel mengisi area yang sepi itu. “ Mumpung anak-anak sedang private…” Bisik Vania lagi, merebahkan kepalanya dengan manja di dada bidang pria yang telah menyempurnakan hidupnya. “ Apapun yang kau
Last Updated: 2021-08-20
Chapter: Meet Up Ny. Iriana Dua Tahun kemudian… Pagi itu terlihat Verrel tengah bermain bersama putra pertamanya yang masih berumur 1 tahun 6 bulan di sebuah taman di rumah mereka, terlihat disana dilengkapi fasilitas bermain. " Reeceee...sudah bermainnya, Daddy harus bekerja nak.." Ujar Vania yang mendekat kearah ayah dan anak yang tengah bermain dengan sangat seru " lihat lah Daddy mu Reecce baju nya sudah basah semua..." Lanjut Vania mengulurkan kedua tangannya kepada sang putra Reece Bibby Gondokusumo. Tapi sang putra yang memilih mengabaikannya dan melanjutkan bermain kuda-kudaan bersama sang ayah, membuat Vania mendengus kesal karena merasa di abaikan oleh anak dan ayah yang tengah asyik bermain. Sedangkan Verrel tersenyum menggoda Vania karen
Last Updated: 2021-08-20
Chapter: Monica Ardiananda" Dok.., coba deh rasakan sentuhan angin malam ini terasa damai bangettt. Keluarin tangan dokter Dendi abis tu pejam kan mata lalu tarik nafas dalem-dalem dan rasakan sensasinya…” Lanjut Monica seraya membuka kaca mobil di dekat Dendi. Dendi yang semula terlihat enggan mencoba apa yang di sarankan Monica akhirnya dengan ragu-ragu dia mengeluarkan tangannya dan mengikuti saran Monica dengan mengeluarkan tangannya menerpa angin malam. Dendi perlahan tersenyum walau itu belum terlihat jelas di balik wajah frustasinya namun hal itu cukup melegakan bagi Monica yang sedikit kawatir jika dokter berprestasi seperti Dendi mengakhir hidupnya secara tragis hanya karena permasalahan kecil yang di hadapinya. Walau Monica juga tak bisa menjengkali permasalahan Dendi karena setiap orang memiliki caranya sendiri dalam menyelesaikan masalahnya sehingga Monica memilih menghormati Dendi d
Last Updated: 2021-08-20
Chapter: Putus asa Sementara itu disisi lain, di tempat yang berbeda. Setelah keluar dari rumah Verrel dan Vania, tampak Dendi seperti kehilangan arah saat itu. Malam semakin larut tapi Dendi terus mengendarai mobilnya, dia hanya berhenti ketika di SPBU untuk pengisian bahan bakar mobilnya, setelah itu dia akan kembali menginjakkan gas mengitari kota Jakarta tanpa arah dan tujuan. Saat ini dia hanya tak ingin keluar dari mobil itu, seolah dunianya telah runtuh sehingga dia memilih berada di dalam mobil dan terus mengendarai mobil sport miliknya. Dendi bahkan masih tak mempercayai tindakannya di hadapan Verrel, pria yang telah merebut seluruh hati Vania. Entah apa yang telah terjadi mengapa dia keluar dari rumah itu dengan tanpa wanita yang dia cintai. Dia meneteskan air mata meski tanpa suara tangis. Hatinya pilu menyadari betapa dirinya telah menyia-nyiakan cinta dan kesempatan yang ada dengan memilih ber
Last Updated: 2021-08-20
Chapter: Dating “ Yuk sayang, keburu Jessica pergi karena terlalu lama menunggumu…” Bisik Verrel kepada sang istri yang merengut sembari mencubit perutnya. Verrel hanya tersenyum simpul melihat kejahilan sang istri. Lalu mereka bangkit dari ranjang dan berjalan menaiki lift yang menghubungkan dari lantai kamarnya menuju lantai dasar. Verrel berjalan menuju ruang kerjanya, sedangkan sang istri menemui Jessica yang terlihat tengah mengobrol dengan malu-malu bersama Arjun. Terlihat Arjun tersentak dan salah tingkah melihat kehadiran Nyonya rumah itu, lalu Arjun berpamitan dan berjalan menuju ruang kerja, dimana bossnya pasti telah menunggunya disana. Waktu beranjak dengan cepat, hingga tanpa sadar hari telah senja, Verrel meminta Arjun mengantar Jessica pulang. Dan Verrel menitip pesan p
Last Updated: 2021-08-20
Chapter: Oke. Aku menyerah! “ Atau bung Dendi menginginkan video ini berada di tangan polisi? Saya bisa menyerahkannya sekarang juga, dan kasus ini bisa di persidangkan, saya sengaja tidak membawa kasus ini ke ranah hukum kenapa? Karena saya percaya hukuman yang saya berikan akan membuat mereka berfikir ribuan kali untuk menyentuh milik saya, saya harus melindungi apa yang menjadi milik saya hingga nafas terakhir saya…” Verrrl melirik Dendi yang memasang wajah tegang. “ Andai bung Dendi malam itu tidak dapat mengurangi kesalahan bung Dendi, dengan memberikan pertolongan Vania, mungkin seluruh peluru pistol ini sudah bersarang di dada bung Dendi dan menembus ke jantung, hingga membuat bung Dendi dan pasangan bung Dendi merasakan sakitnya sekarat di tempat saya mengeksekusi orang, mengapa saya menganggap kesalahan ini juga milik bung Dendi? Karena pemicu semua penderitaan Vania sumbernya adalah bung Dendi! Andai bun
Last Updated: 2021-08-20