ANMELDENKabut tipis sisa fajar perlahan-lahan terangkat saat semburat cahaya keemasan matahari pagi mulai menyinari hamparan perbukitan hijau di pinggir desa. Angin sejuk pegunungan berhembus lembut melintasi petak-petak tanah gembur, membawa aroma tanah basah yang segar serta wangi khas dedaunan hijau yang bermandikan butiran embun berkilau laksana intan.Setelah perhelatan reuni sekolah usai, Jaka kembali ke keseharian biasa yang tenang dan damai di pedesaan.Setiap fajar menyingsing sebelum kokok ayam jantan reda terdengar, pemuda itu sudah melangkah turun ke ladang dengan pakaian kerja sederhana dan sepasang sepatu bot karet. Ritme hidupnya kembali berputar secara teratur: menebar bibit sayur pilihan ke dalam tanah yang gembur, menyiram ladang dengan air campuran energi spiritual murni, merawat tunas-tunas hijau yang bermunculan di sepanjang bedengan, memanen hasil ladang yang tumbuh luar biasa subur serta sarat nutrisi alami, dan menjual seluruh hasil panen bermutu tinggi kepada Andini
Lampu kristal gantung di langit-langit aula membiaskan kilau keemasan yang jatuh menimpa lantai marmer berpelitur licin. Alunan melodi instrumental mengalun pelan di latar belakang, berpadu dengan aroma wewangian para alumni yang mulai beranjak meninggalkan ruangan satu per satu. Di sudut aula yang mulai lengang, Jaka berdiri tegak sembari menatap dua sosok wanita di hadapannya dengan sepasang alis terangkat heran."Apa kalian memang sedekat ini?" Jaka bertanya heran melihat kedekatan Andini dan Hina Yulia yang duduk bersisian secara akrab.Andini tertawa kecil, nada tawanya terdengar merdu bagai denting lonceng kaca di tengah keheningan. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan sangat anggun seraya menyandarkan bobot tubuhnya santai. "Ufufu~ kami sudah berdiskusi, mulai sekarang dia akan bekerja padaku.""Benarkah?" Jaka menatap Hina Yulia, mencari kepastian langsung dari wanita itu. Gadis cantik berambut hitam legam yang terurai lurus itu sempat menundukkan pandangann
Moncong laras baja hitam berjarak kurang dari satu meter di depan keningnya, tetapi Jaka sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar. Kedua tangannya tetap tergantung santai di samping pinggang.Jaka terlihat sangat tenang, seolah tidak peduli dengan ancaman kematian yang berada tepat di depan pelupuk matanya."Ada apa ini?" tanyanya ragu dengan nada yang dibuat sepolos mungkin.Pria berjubah itu mempererat cengkeramannya pada pegangan senjata berkaliber sembilan milimeter itu, urat-urat di punggung tangannya menegang kasar."Kamu orang luar, pergi sebelum aku tembak!" tegas pria itu dengan suara berat yang bergetar penuh ancaman.Jaka melirik Karina yang berdiri mematung di sudut ruangan dekat wastafel marmer.Karina awalnya mengangguk pasrah seraya memeluk tubuhnya sendiri, tetapi seolah mendapatkan pencerahan tiba-tiba saat menatap garis wajah pemuda itu, ia menatap lurus ke wajah Jaka."Pria ini seorang penguntit! Tolong bantu aku mengurusnya, nanti aku kasih imbalan!" seru aktris c
Lampu kristal gantung di sudut ruang VIP membiaskan cahaya keemasan yang temaram. Denting gelas kaca dan alunan musik instrumental lembut mengaburkan riuh pesta perayaan di aula utama yang megah.Andini melangkah anggun mendekati sofa, lalu mencondongkan tubuhnya ke samping. Hawa hangat beraroma vanila menyapu telinga rekannya saat ia berbisik pelan."Aku melihatmu, kerja bagus sudah mengusir gadis itu."Hina Yulia tidak langsung menoleh. Ia tetap duduk tegak dengan pandangan lurus ke depan, mempertahankan postur kaku seperti seorang pengawal. "Aku hanya melakukan yang seharusnya. Di mana Jaka?""Sedang ke toilet.""Ah."Andini sedikit menarik sudut bibirnya ke atas, membentuk senyuman penuh misteri. Matanya yang tajam menatap lekat gadis berambut hitam di hadapannya."Bagaimana? Kamu mau bekerja di bawahku? Tergantung kinerjamu, aku bisa memberimu gaji yang fantastis."Hina menatap karpet mewah bercorak floral di bawah sepatunya, menimbang tawaran yang meluncur tanpa aba-aba itu. Ke
Alunan musik waltz klasik mulai menggema lembut dari panggung utama, memecah ketegangan yang sempat membekukan seisi ruangan. Lampu kristal raksasa di langit-langit aula meredup perlahan, menciptakan nuansa temaram yang elegan dan menyamarkan sisa-sisa kegaduhan yang baru mereda.Aroma anggur merah bercampur wangi parfum mahal kembali menguar di udara. Meski insiden yang melibatkan Darius sempat menghentikan detak jantung para hadirin, rangkaian acara reuni sekolah bergengsi itu tetap dilanjutkan tanpa hambatan berarti. Para pelayan kembali mengantarkan minuman, sementara para tamu mulai membaur seolah tidak pernah ada pemuda kaya yang baru digotong keluar dalam kondisi mengenaskan.Namun, perubahan atmosfer di sekitar Jaka terasa begitu nyata dan mencekam. Sepanjang sisa acara berlangsung, dia benar-benar dijauhi oleh hampir semua mantan teman seangkatannya yang hadir di aula.Langkah kaki para tamu undangan sontak memutar arah setiap kali mereka berada dalam jarak beberapa meter da
Hawa dingin merayap di sepanjang lantai marmer, kontras dengan hangatnya lampu kristal yang menggantung megah di langit-langit aula. Darius sudah tergeletak kaku di lantai, sementara pemuda di hadapannya bahkan belum menggeser ujung sepatunya satu senti pun."Pemuda bernama Jaka itu hanya mengirimkan niat membunuh kepada Darius," bisik Hinata. Suaranya begitu rendah seperti tenggelam di antara bisikan orang-orang, namun sarat akan penekanan. Karina mengerjapkan mata, pupilnya melebar karena rasa ingin tahu yang bercampur cemas. Gaun sutranya berdesir pelan saat ia sedikit mencondongkan tubuh ke depan."Hanya niat membunuh? Mengapa dampaknya bisa sekuat itu sampai membuat orang pingsan seketika?" tanya Karina heran."Entahlah. Sejujurnya, meski tingkat kultivasi kami berada di tingkatan yang sama, auranya terasa seperti jurang tanpa dasar bagiku," jawab Hinata seraya melipat tangan di dada. Rahangnya mengeras, memperlihatkan ketegangan yang jarang tampak di wajahnya.Karina menelan lu







