/ Pendekar / Petani Terkuat / 121 Suara Logam

공유

121 Suara Logam

작가: AgamYupi02
last update 게시일: 2026-08-16 07:13:18

Lampu kristal gantung di sudut ruang VIP membiaskan cahaya keemasan yang temaram. Denting gelas kaca dan alunan musik instrumental lembut mengaburkan riuh pesta perayaan di aula utama yang megah.

Andini melangkah anggun mendekati sofa, lalu mencondongkan tubuhnya ke samping. Hawa hangat beraroma vanila menyapu telinga rekannya saat ia berbisik pelan.

"Aku melihatmu, kerja bagus sudah mengusir gadis itu."

Hina Yulia tidak langsung menoleh. Ia tetap duduk tegak dengan pandangan lurus ke depan, me
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Petani Terkuat   122 Menyelamatkan Kecantikan

    Moncong laras baja hitam berjarak kurang dari satu meter di depan keningnya, tetapi Jaka sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar. Kedua tangannya tetap tergantung santai di samping pinggang.Jaka terlihat sangat tenang, seolah tidak peduli dengan ancaman kematian yang berada tepat di depan pelupuk matanya."Ada apa ini?" tanyanya ragu dengan nada yang dibuat sepolos mungkin.Pria berjubah itu mempererat cengkeramannya pada pegangan senjata berkaliber sembilan milimeter itu, urat-urat di punggung tangannya menegang kasar."Kamu orang luar, pergi sebelum aku tembak!" tegas pria itu dengan suara berat yang bergetar penuh ancaman.Jaka melirik Karina yang berdiri mematung di sudut ruangan dekat wastafel marmer.Karina awalnya mengangguk pasrah seraya memeluk tubuhnya sendiri, tetapi seolah mendapatkan pencerahan tiba-tiba saat menatap garis wajah pemuda itu, ia menatap lurus ke wajah Jaka."Pria ini seorang penguntit! Tolong bantu aku mengurusnya, nanti aku kasih imbalan!" seru aktris c

  • Petani Terkuat   121 Suara Logam

    Lampu kristal gantung di sudut ruang VIP membiaskan cahaya keemasan yang temaram. Denting gelas kaca dan alunan musik instrumental lembut mengaburkan riuh pesta perayaan di aula utama yang megah.Andini melangkah anggun mendekati sofa, lalu mencondongkan tubuhnya ke samping. Hawa hangat beraroma vanila menyapu telinga rekannya saat ia berbisik pelan."Aku melihatmu, kerja bagus sudah mengusir gadis itu."Hina Yulia tidak langsung menoleh. Ia tetap duduk tegak dengan pandangan lurus ke depan, mempertahankan postur kaku seperti seorang pengawal. "Aku hanya melakukan yang seharusnya. Di mana Jaka?""Sedang ke toilet.""Ah."Andini sedikit menarik sudut bibirnya ke atas, membentuk senyuman penuh misteri. Matanya yang tajam menatap lekat gadis berambut hitam di hadapannya."Bagaimana? Kamu mau bekerja di bawahku? Tergantung kinerjamu, aku bisa memberimu gaji yang fantastis."Hina menatap karpet mewah bercorak floral di bawah sepatunya, menimbang tawaran yang meluncur tanpa aba-aba itu. Ke

  • Petani Terkuat   120 Keraguan Mila

    Alunan musik waltz klasik mulai menggema lembut dari panggung utama, memecah ketegangan yang sempat membekukan seisi ruangan. Lampu kristal raksasa di langit-langit aula meredup perlahan, menciptakan nuansa temaram yang elegan dan menyamarkan sisa-sisa kegaduhan yang baru mereda.Aroma anggur merah bercampur wangi parfum mahal kembali menguar di udara. Meski insiden yang melibatkan Darius sempat menghentikan detak jantung para hadirin, rangkaian acara reuni sekolah bergengsi itu tetap dilanjutkan tanpa hambatan berarti. Para pelayan kembali mengantarkan minuman, sementara para tamu mulai membaur seolah tidak pernah ada pemuda kaya yang baru digotong keluar dalam kondisi mengenaskan.Namun, perubahan atmosfer di sekitar Jaka terasa begitu nyata dan mencekam. Sepanjang sisa acara berlangsung, dia benar-benar dijauhi oleh hampir semua mantan teman seangkatannya yang hadir di aula.Langkah kaki para tamu undangan sontak memutar arah setiap kali mereka berada dalam jarak beberapa meter da

  • Petani Terkuat   119 Tawaran

    Hawa dingin merayap di sepanjang lantai marmer, kontras dengan hangatnya lampu kristal yang menggantung megah di langit-langit aula. Darius sudah tergeletak kaku di lantai, sementara pemuda di hadapannya bahkan belum menggeser ujung sepatunya satu senti pun."Pemuda bernama Jaka itu hanya mengirimkan niat membunuh kepada Darius," bisik Hinata. Suaranya begitu rendah seperti tenggelam di antara bisikan orang-orang, namun sarat akan penekanan. Karina mengerjapkan mata, pupilnya melebar karena rasa ingin tahu yang bercampur cemas. Gaun sutranya berdesir pelan saat ia sedikit mencondongkan tubuh ke depan."Hanya niat membunuh? Mengapa dampaknya bisa sekuat itu sampai membuat orang pingsan seketika?" tanya Karina heran."Entahlah. Sejujurnya, meski tingkat kultivasi kami berada di tingkatan yang sama, auranya terasa seperti jurang tanpa dasar bagiku," jawab Hinata seraya melipat tangan di dada. Rahangnya mengeras, memperlihatkan ketegangan yang jarang tampak di wajahnya.Karina menelan lu

  • Petani Terkuat   118 Bayangan di Sudut Aula

    Bisik-bisik kasak-kusuk langsung menjalar cepat di antara kerumunan bagai api menyambar rumput kering. Kata-kata Darius yang aneh memicu kebingungan massal di sekeliling ruangan aula. Orang-orang saling bertukar pandang dengan dahi berkerut, mencoba mencerna apa yang baru saja mereka dengar."Ahli spiritual? Profesi macam apa itu?""Entahlah, ini pertama kali aku mendengarnya.""Mungkin semacam kultivator seperti dalam novel?""Ha ha ha, ayolah, kita hidup di dunia nyata, mana ada hal begituan.""He he, aku hanya bercanda, jangan dianggap serius."Di saat sebagian besar orang berbisik satu sama lain sambil tertawa meragukan, ada sebagian kecil orang yang justru memasang ekspresi sangat serius. Sorot mata mereka mengeras kaku, memancarkan ketegangan mendalam yang sangat kontras dari orang-orang awam.Mereka merupakan para elit yang mengetahui keberadaan asli ahli spiritual dari balik layar. Mereka paham betapa berbahayanya sosok ber aura monster seperti itu jika terusik. Tentu saja mer

  • Petani Terkuat   117 Kepercayaan Diri Sang Petani

    Gema riuh suara di dalam aula perlahan menyusut saat sesosok pria berambut pirang mencegat langkah seorang gadis. Cahaya lampu gantung memantul di bahunya yang bidang, menyoroti mantel mahal yang membungkus tubuh kekarnya."Enyah dari hadapanku," ketus Andini dingin.Sepasang matanya menatap lurus tanpa minat sedikit pun, seolah pria di hadapannya hanyalah sebongkah batu di pinggir jalan.Pria itu memiringkan kepala, menyunggingkan sudut bibirnya dengan penuh percaya diri. Kulit cokelatnya membingkai ekspresi penuh superioritas yang biasa dimiliki orang-orang berkuasa."Jangan gitu, bagaimana kalau kenalan dulu? Namaku Darius Albert, keluargaku cukup kaya dan berkuasa di sekitar sini."Andini memutar pandangan, melipat kedua tangan di dada."Lantas kenapa? Aku tidak peduli," sahut Andini acuh tak acuh.Langkah sepatu kulit Darius terdengar menghentak pelan saat ia mengikis jarak. Tatapannya merendahkan, meneliti sosok Andini dari atas hingga bawah."Dingin sekali, tapi aku suka wanita

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status