تسجيل الدخولAlunan musik waltz klasik mulai menggema lembut dari panggung utama, memecah ketegangan yang sempat membekukan seisi ruangan. Lampu kristal raksasa di langit-langit aula meredup perlahan, menciptakan nuansa temaram yang elegan dan menyamarkan sisa-sisa kegaduhan yang baru mereda.Aroma anggur merah bercampur wangi parfum mahal kembali menguar di udara. Meski insiden yang melibatkan Darius sempat menghentikan detak jantung para hadirin, rangkaian acara reuni sekolah bergengsi itu tetap dilanjutkan tanpa hambatan berarti. Para pelayan kembali mengantarkan minuman, sementara para tamu mulai membaur seolah tidak pernah ada pemuda kaya yang baru digotong keluar dalam kondisi mengenaskan.Namun, perubahan atmosfer di sekitar Jaka terasa begitu nyata dan mencekam. Sepanjang sisa acara berlangsung, dia benar-benar dijauhi oleh hampir semua mantan teman seangkatannya yang hadir di aula.Langkah kaki para tamu undangan sontak memutar arah setiap kali mereka berada dalam jarak beberapa meter da
Hawa dingin merayap di sepanjang lantai marmer, kontras dengan hangatnya lampu kristal yang menggantung megah di langit-langit aula. Darius sudah tergeletak kaku di lantai, sementara pemuda di hadapannya bahkan belum menggeser ujung sepatunya satu senti pun."Pemuda bernama Jaka itu hanya mengirimkan niat membunuh kepada Darius," bisik Hinata. Suaranya begitu rendah seperti tenggelam di antara bisikan orang-orang, namun sarat akan penekanan. Karina mengerjapkan mata, pupilnya melebar karena rasa ingin tahu yang bercampur cemas. Gaun sutranya berdesir pelan saat ia sedikit mencondongkan tubuh ke depan."Hanya niat membunuh? Mengapa dampaknya bisa sekuat itu sampai membuat orang pingsan seketika?" tanya Karina heran."Entahlah. Sejujurnya, meski tingkat kultivasi kami berada di tingkatan yang sama, auranya terasa seperti jurang tanpa dasar bagiku," jawab Hinata seraya melipat tangan di dada. Rahangnya mengeras, memperlihatkan ketegangan yang jarang tampak di wajahnya.Karina menelan lu
Bisik-bisik kasak-kusuk langsung menjalar cepat di antara kerumunan bagai api menyambar rumput kering. Kata-kata Darius yang aneh memicu kebingungan massal di sekeliling ruangan aula. Orang-orang saling bertukar pandang dengan dahi berkerut, mencoba mencerna apa yang baru saja mereka dengar."Ahli spiritual? Profesi macam apa itu?""Entahlah, ini pertama kali aku mendengarnya.""Mungkin semacam kultivator seperti dalam novel?""Ha ha ha, ayolah, kita hidup di dunia nyata, mana ada hal begituan.""He he, aku hanya bercanda, jangan dianggap serius."Di saat sebagian besar orang berbisik satu sama lain sambil tertawa meragukan, ada sebagian kecil orang yang justru memasang ekspresi sangat serius. Sorot mata mereka mengeras kaku, memancarkan ketegangan mendalam yang sangat kontras dari orang-orang awam.Mereka merupakan para elit yang mengetahui keberadaan asli ahli spiritual dari balik layar. Mereka paham betapa berbahayanya sosok ber aura monster seperti itu jika terusik. Tentu saja mer
Gema riuh suara di dalam aula perlahan menyusut saat sesosok pria berambut pirang mencegat langkah seorang gadis. Cahaya lampu gantung memantul di bahunya yang bidang, menyoroti mantel mahal yang membungkus tubuh kekarnya."Enyah dari hadapanku," ketus Andini dingin.Sepasang matanya menatap lurus tanpa minat sedikit pun, seolah pria di hadapannya hanyalah sebongkah batu di pinggir jalan.Pria itu memiringkan kepala, menyunggingkan sudut bibirnya dengan penuh percaya diri. Kulit cokelatnya membingkai ekspresi penuh superioritas yang biasa dimiliki orang-orang berkuasa."Jangan gitu, bagaimana kalau kenalan dulu? Namaku Darius Albert, keluargaku cukup kaya dan berkuasa di sekitar sini."Andini memutar pandangan, melipat kedua tangan di dada."Lantas kenapa? Aku tidak peduli," sahut Andini acuh tak acuh.Langkah sepatu kulit Darius terdengar menghentak pelan saat ia mengikis jarak. Tatapannya merendahkan, meneliti sosok Andini dari atas hingga bawah."Dingin sekali, tapi aku suka wanita
Hina Yulia mendadak menutup mulutnya sendiri rapat-rapat menggunakan kedua belah tangan. Wajahnya tersipu merah padam karena rasa malu yang membakar pipi. Gadis itu berusaha setengah mati untuk tetap tenang, berdiri mematung di tengah perhatian orang-orang hingga tatapan serempak dari para tamu yang ada di sana perlahan-lahan beralih darinya."Tidak mungkin, apa kamu benar-benar Jaka?" ucap seorang pria tampan yang datang melangkah bersama Hina Yulia. Nada suaranya diwarnai ketidakpercayaan yang begitu nyata saat menatap sosok pemuda di depannya.Masih ada beberapa orang yang berdiri berkumpul di sudut aula tersebut. Salah satunya adalah seorang gadis cantik berpenampilan mencolok dengan gaun merah yang memamerkan lekuk tubuhnya yang menggoda.Namanya Mila, gadis yang dulu pernah memiliki perasaan mendalam terhadap Jaka semasa mereka masih duduk di bangku sekolah.Namun mata Mila kini tidak bisa berhenti memindai penampilan Jaka dari atas sampai bawah. Pandangan matanya tertuju pada p
Suara langkah kaki berirama pelan mengiringi dua sosok yang baru saja memasuki koridor gedung. Lampu kristal memancarkan kilau keemasan, memantulkan kemewahan acara reuni malam itu.Bisikan halus dari beberapa tamu di sudut ruangan langsung terdengar saat mereka melintas."Siapa pria yang jalan di sebelah Dewi Bisnis Andini?""Entahlah, paling cuma cowok beruntung yang kebetulan bisa berkenalan dengannya.""Julukan Dewi Bisnis memang bukan main-main. Cantiknya luar biasa, tidak kalah dari Nona Karina."Langkah Andini terhenti seketika. Gesekan gaun malamnya berdesir pelan saat tumit tingginya berhenti menginjak lantai marmer. Nama terakhir yang diucapkan para tamu rupanya berhasil memicu riak di wajah cantiknya.Jaka yang berjalan tepat di sampingnya memiliki kepekaan tajam. Ia langsung menangkap perubahan mikro pada gestur kekasihnya. "Kamu ada masalah sama Karina?" tanya Jaka berbisik, matanya menatap lekat wajah Andini.Andini menoleh. Binar matanya memancarkan kilatan jahil, diir







