Penguasa Pedang

Penguasa Pedang

last updateLast Updated : 2026-04-14
By:  LembeanUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
16Chapters
5views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Dia selalu dihina dan ditindas karena tidak mampu ber kultivasi. Kejeniusannya dalam pedang, hanya jadi sia-sia. Sebuah peristiwa yang hampir membunuhnya, justru membuat dia akhirnya mampu menembus pembuluh darah spiritualnya. Kini dengan pedang di tangan, dia siap untuk menantang dunia

View More

Chapter 1

1 Seorang Budak Menyedihkan

Angin dingin menyapu halaman latihan Sekte Xuantian pagi itu, membawa serta bau tanah basah dan daun-daun gugur dari pegunungan di kejauhan. 

Matahari baru saja menyembul di balik puncak Gunung Xuantian, menerangi deretan bangunan kayu berlapis genteng hitam yang menjulang megah di sepanjang lereng. 

Namun di sudut halaman yang paling jauh dari aula utama, di tempat yang bahkan sinar matahari pun enggan menyentuh, seorang pemuda jatuh tersungkur ke tanah untuk kesekian kalinya.

Lin Xuan merasakan rasa besi di mulutnya. Darah. Dia sudah tidak asing lagi dengan rasanya.

Sebuah tendangan menghantam rusuknya dan membuatnya terguling beberapa kali di atas tanah berbatu. Tubuhnya yang kurus menabrak tiang kayu penyangga atap gudang senjata, menimbulkan bunyi debaman yang menggema singkat sebelum ditelan oleh suara tawa.

"Bangun, budak pedang! Kau pikir latihan sudah selesai?"

Seorang murid sekte luar dengan jubah abu-abu bertepuk tangan, matanya berbinar penuh kenikmatan melihat Lin Xuan meringkuk di tanah. Di belakangnya, lima murid lain berdiri dengan ekspresi serupa. 

Ada yang menyilangkan tangan di dada. Ada yang memutar-mutar pedang kayu di tangannya seperti mainan. Semuanya memandang Lin Xuan dengan tatapan yang sama, tatapan yang biasa diberikan seseorang kepada seekor anjing liar yang kebetulan masuk ke pekarangan rumahnya.

Budak pedang. Itulah sebutan untuk murid-murid seperti Lin Xuan. Mereka bukan murid sekte luar, apalagi murid sekte dalam. Mereka adalah lapisan paling bawah dalam hierarki Sekte Xuantian, orang-orang yang diterima hanya untuk melayani. Mencuci jubah para murid. Mengasah pedang mereka. Membersihkan aula latihan. Mengambil air dari mata air di puncak gunung sebelum fajar menyingsing. Dan yang paling menyakitkan dari semua tugas itu, menjadi sasaran latihan.

Para murid sekte membutuhkan lawan untuk mengasah teknik mereka. Boneka kayu terlalu kaku dan tidak memberikan sensasi yang nyata. Maka budak pedang seperti Lin Xuan menjadi pilihan yang sempurna. Mereka cukup hidup untuk memberikan reaksi, tapi cukup lemah untuk tidak bisa melawan.

Lin Xuan memaksakan kedua tangannya menopang tubuhnya. Lengannya gemetar. Sudut bibirnya sobek dan darah menetes ke tanah, membentuk bercak-bercak kecil yang langsung diserap oleh debu. Dia berhasil bangkit dengan satu lutut, lalu tangan kanannya bergerak ke dadanya secara naluriah.

Jari-jarinya menemukan liontin itu.

Sebuah liontin kecil berbentuk pedang, tergantung di rantai perak tipis yang sudah kusam dimakan waktu. Permukaannya dingin di bawah sentuhannya, tapi entah mengapa setiap kali dia menggenggamnya, ada kehangatan samar yang menjalar dari logam itu ke telapak tangannya.

'Ayah...'

Dia menggenggam liontin itu erat-erat sementara kakinya berusaha berdiri tegak. Ayahnya memberikan liontin ini kepadanya bertahun-tahun yang lalu, di malam terakhir sebelum pria itu pergi tanpa pernah kembali. Lin Xuan masih ingat tangan besar dan kasar ayahnya yang mengalungkan rantai itu ke lehernya, dan suara beratnya yang berkata bahwa suatu hari nanti Lin Xuan akan mengerti mengapa liontin ini begitu penting.

Sampai hari ini, Lin Xuan belum mengerti. Tapi liontin itu sudah menjadi satu-satunya pegangannya. Setiap kali tubuhnya dipukul hingga remuk, setiap kali harga dirinya diinjak-injak, dia menggenggam liontin itu dan membiarkan dinginnya logam mengingatkannya bahwa dia masih hidup. Bahwa dia masih punya alasan untuk bertahan.

"Kau masih bisa berdiri juga, ya?"

Sebuah tinju menghantam pelipisnya dan dunia berputar. Lin Xuan terhuyung ke samping, tersandung kakinya sendiri, dan jatuh lagi ke tanah. Kali ini dia mendarat dengan wajah lebih dulu. Kerikil-kerikil kecil menggores pipinya dan rasa perih langsung menyebar di separuh wajahnya.

"Zhang Bin, jangan terlalu keras. Kalau dia mati, siapa yang akan membersihkan gudang senjata malam ini?"

Tawa pecah di antara para murid. 

Zhang Bin, pemuda bertubuh kekar dengan rahang persegi dan mata kecil yang selalu menyipit penuh kebencian, hanya mendengus. Dia menurunkan tinjunya dan meludah ke tanah tepat di samping kepala Lin Xuan.

"Dia tidak akan mati semudah itu. Kecoak seperti dia selalu susah dibunuh."

Zhang Bin adalah murid sekte luar tahap ketiga alam kondensasi Qi, jauh di atas Lin Xuan yang hanya tahap 3 Alam Pemurnian Tubuh. 

Tendangan terakhir mendarat di punggung Lin Xuan sebelum Zhang Bin memasukkan tangannya ke dalam lengan jubahnya dan berbalik pergi. 

Para murid lain mengikuti di belakangnya, masih tertawa dan sesekali menoleh ke belakang untuk melihat tubuh yang terkapar di tanah.

Lin Xuan tidak bergerak sampai suara langkah mereka menghilang sepenuhnya.

Dia berbaring di sana, menatap langit yang biru cerah di atas sana. Langit yang sama yang dilihat oleh para murid sekte dalam di paviliun mewah mereka. Langit yang sama yang dilihat oleh para tetua sekte di puncak Gunung Xuantian. Tapi bagi Lin Xuan, langit itu terasa jauh. Terlalu jauh untuk dijangkau oleh tangan-tangannya yang penuh luka.

Dari sudut matanya, dia bisa melihat budak-budak pedang lainnya bergegas menghampiri para murid yang baru saja pergi. Mereka membungkuk dengan senyum yang dipaksakan, menawarkan teh, menawarkan untuk membawa tas dan senjata latihan para murid. Suara mereka manis dan penuh kepatuhan.

"Tuan Zhang, biarkan saya yang membawakan pedang Anda."

"Tuan Li, apakah Anda memerlukan air hangat untuk membersihkan tangan?"

Lin Xuan memejamkan matanya sejenak. Dia memahami mengapa budak-budak pedang itu melakukannya. Kalau mereka tidak menjilat, mereka akan bernasib sama dengannya. Atau bahkan lebih buruk. Setidaknya dengan menjadi anjing yang patuh, mereka bisa menghindari pukulan dan tendangan yang seharusnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.

Tapi Lin Xuan tidak bisa melakukan itu. Bukan karena dia terlalu bangga. Tubuhnya yang penuh luka adalah bukti bahwa kebanggaan sudah lama menjadi kemewahan yang tidak bisa dia miliki. Dia hanya tidak bisa memaksa dirinya untuk tersenyum kepada orang-orang yang memukulinya. Hanya itu saja. Hal sesederhana itu.

Dia bangkit perlahan. Setiap gerakan mengirimkan rasa sakit yang tajam menjalar di seluruh tubuhnya. Tulang rusuknya mungkin retak. Atau mungkin hanya memar parah. Dia sudah tidak bisa membedakan keduanya lagi.

Dengan langkah yang timpang, Lin Xuan berjalan meninggalkan halaman latihan dan menuju hutan di sisi timur kompleks sekte. Jalan setapak yang dia lalui sudah sangat dia hafal karena dia melewatinya setiap hari, kadang dua kali sehari. Melewati deretan pohon pinus tua yang batangnya berlumut, melewati sungai kecil yang airnya jernih, hingga dia sampai di sebuah lahan terbuka di tengah hutan yang menjadi tempat latihannya.

Sebatang pedang kayu sudah menunggunya di sana, bersandar di sebuah batu besar yang permukaannya rata. Dia mengambil pedang itu dan mulai mengayunkannya.

Tebasan pertama. Tubuhnya protes dengan rasa sakit yang menusuk dari rusuk kirinya. Dia menahan napas dan melanjutkan.

Tebasan kedua. Lebih cepat. Lebih tajam.

Tebasan ketiga. Pergelangan tangannya memutar dengan sudut yang presisi, membuat ujung pedang kayu membelah udara dengan suara siulan tipis yang nyaris tidak terdengar.

Gerakan-gerakannya bersih. Posisi kakinya tepat. Setiap ayunan mengikuti prinsip-prinsip dasar ilmu pedang dengan akurasi yang seharusnya tidak dimiliki oleh seorang budak pedang. 

Kalau ada seorang ahli pedang yang kebetulan lewat dan melihatnya berlatih, ahli itu pasti akan terkejut. Bukan karena tenaganya, tenaganya lemah, hampir tidak ada. Tapi karena pemahamannya terhadap setiap gerakan sangat dalam, seolah-olah setiap tebasan telah dipelajarinya selama bertahun-tahun.

Kenyataannya, Lin Xuan hanya perlu melihat sebuah teknik satu kali untuk memahaminya sepenuhnya.

Ini adalah bakatnya. Satu-satunya bakat yang dia miliki. Kemampuan pemahaman yang melampaui siapapun di Sekte Xuantian, atau bahkan mungkin di seluruh dunia kultivasi. 

Di mana murid lain membutuhkan berminggu-minggu untuk menguasai satu set gerakan dasar, Lin Xuan hanya perlu sekali melihat. Di mana murid lain harus membaca sebuah manual ilmu pedang berulang-ulang selama berbulan-bulan, Lin Xuan hanya perlu membacanya sekali dan seluruh isinya sudah terpatri di benaknya, dipahami hingga ke intinya.

Tapi apa gunanya pemahaman tanpa kekuatan?

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
16 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status