Home / Pendekar / Petani Terkuat / 126 Obrolan Tengah Malam Ayah dan Anak

Share

126 Obrolan Tengah Malam Ayah dan Anak

Author: AgamYupi02
last update publish date: 2026-08-19 17:13:53

Keheningan kembali merayap di lorong rumah kayu itu begitu pintu kamar Dina tertutup rapat. Bunyi detak jam dinding tua bergema pelan dengan ritme yang teratur, mengisi ruang kosong di antara ayah dan anak yang masih berdiri berhadapan.

Cahaya lampu temaram menyorot bayangan panjang mereka yang saling bersilangan di lantai.

"Kamu juga, kenapa belum tidur?" tanya Bejo kepada Jaka seraya memandang putranya dengan tatapan teduh.

"Ah, aku baru mau tidur sekarang," sahut Jaka pelan sambil melangkah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Petani Terkuat   162 Dominasi Sang Petani

    Gideon melangkah masuk dengan santai, mengibaskan jubah panjangnya yang berwarna abu-abu. Namun, begitu pandangannya jatuh ke arah Andini dan Dinda, langkah kaki pria tua itu langsung terhenti seketika. Tatapan matanya terpaku, memancarkan binar ketertarikan dan keserakahan yang tidak berusaha dia sembunyikan saat memandangi paras cantik kedua wanita di depannya.Melihat sorot mata mesum dari pria tua itu, Andini tidak tinggal diam. Dia segera berdiri dari kursinya, lalu berjalan mundur dengan tenang menuju sisi kanan Jaka. Dinda ikut bergeser rapat di samping mereka, mempercayakan seluruh situasi kepada pemuda yang berdiri tegap di dekat mereka.Jaka menyunggingkan senyum tipis penuh percaya diri. Tanpa tergesa-gesa, dia melangkah maju satu tapak, menempatkan tubuhnya sebagai benteng kokoh di depan Andini dan Dinda. Tatapan matanya yang semula terlihat biasa mendadak memancarkan kedalaman yang tak terduga, seolah menyimpan kekuatan raksasa yang siap meledak sewaktu-waktu."Namaku

  • Petani Terkuat   161 Gertakan di Meja Negosiasi

    Suasana di dalam ruangan rapat ber-AC itu terasa sangat dingin dan kaku. Di satu sisi meja kayu, Jaka, Andini, dan Dinda duduk berdampingan. Di seberang mereka, Tom dan Hendric menatap dengan percaya diri.Tom, pria berambut pirang dengan setelan jas rapi, menyunggingkan senyum tipis. "Nona Andini bahkan lebih cantik saat dilihat dari dekat," katanya, tersenyum tipis penuh pesona.Andini bergeming di kursinya, bahkan tidak tergerak sedikit pun oleh pujian yang terdengar tulus itu. Dia menatap Tom dingin. "Tidak perlu basa-basi, langsung saja katakan maksud kalian."Tom terkekeh. "Kalau Nona Andini bilang begitu, kami tidak membuang waktu. Langsung saja, kami menginginkan seribu botol cairan spiritual dari kalian."Andini tertegun sekilas. Padahal dirinya sudah menyiapkan diri, tetapi masih kaget mendengar permintaan tidak masuk akal dari pria asing di depannya."Seribu terlalu banyak," sela Hendric, "Seratus botol saja," lanjutnya santai.Tom mengangguk setuju. "Masuk akal. Kalau begi

  • Petani Terkuat   160 Masalah Dengan Pihak Asing

    "Kamu terlambat!" bentak Andini tajam.Suara lengkingannya memotong keheningan ruangan dengan keras. Andini berdiri tegak di tengah ruangan dengan kedua tangan bersedekap rapat di bawah dadanya. Matanya yang jernih dan indah menatap lurus ke arah pintu masuk, menyerupai seorang hakim tegas yang siap memberikan hukuman berat kepada terdakwa. Kakinya yang terbalut sepatu hak tinggi mengetuk lantai marmer dengan irama konstan, menandakan kesabarannya sudah habis sejak tadi.Jaka yang baru saja melangkahkan sebelah kakinya melewati ambang pintu langsung menghentikan posisinya. Ia mengusap bagian belakang lehernya yang tidak gatal sambil memamerkan raut wajah serba salah. Senyum tipis yang penuh dengan rasa canggung terlukis di bibirnya, memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih."Maaf, ya. Di jalan tadi sedikit macet," bisik Jaka pelan, berusaha memelankan nada suaranya agar suasana hati wanita di depannya tidak berubah menjadi lebih buruk.Andini tidak langsung merespons. Ia jus

  • Petani Terkuat   159 Pembukaan Lahan Baru

    Hina Yulia tersenyum ambigu. Sudut bibirnya terangkat tipis, memperlihatkan lengkungan misterius yang membuat siapa saja yang melihatnya bakal salah tingkah. Matanya melirik bergantian ke arah dua orang di hadapannya.Jaka dan Shizu berpura-pura menoleh seolah tidak menyadari senyum Hina Yulia. Jaka menatap ke luar jendela, pura-pura memperhatikan deretan pohon yang tertiup angin sejuk. Sementara itu, Shizu menunduk memandangi jemarinya di atas meja, berusaha menyembunyikan wajahnya yang menghangat."Saudari Shizu, selamat!" seru Hina Yulia tiba-tiba memecah keheningan dengan nada riang."Mm." Shizu mengangguk lembut. Tatapannya sedikit sayu, menyiratkan sisa-sisa rasa lelah, meski kebahagiaan terpampang sangat jelas di wajah cantiknya. Rona merah tipis merambat di kedua pipinya, membuat senyumannya tampak begitu memikat.Jaka yang merasa suasana mulai mengarah ke hal-hal memalukan langsung berdeham keras. "Ehem! Bagaimana hasil panen hari ini?"Hina Yulia mengangkat wajahnya dan mena

  • Petani Terkuat   158 Rapat Polisi Khusus

    Hari ini ada pertemuan di markas polisi khusus. Jaka dan Shizu berangkat bersama setelah setengah hari bekerja di ladang. Keringat tipis masih membasahi pelipis mereka saat melintasi pematang tanah.Langkah kaki keduanya berayun beriringan di atas jalan setapak berbatu. Tidak ada yang berubah dari status hubungan mereka, tapi jelas mereka semakin dekat satu sama lain. Setiap lirikan mata di antara mereka terasa alami.Kedekatan mereka membuat orang lain berpikir bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Para petani desa yang berpapasan sering kali tersenyum menggoda melihat keakraban keduanya. Namun, mereka berdua memilih membiarkan anggapan itu berlalu tanpa membantahnya.Shizu menoleh sedikit menatap pemuda di sampingnya. “Kira-kira kali ini ada masalah apa, apa kamu tahu sesuatu?”Jaka melangkah santai dengan tangan di saku. “Entahlah, belakangan ini aku tidak mendapatkan kabar dari organisasi.”Shizu mengangguk pelan memahami situasi markas. “Wajar, lagipula mereka sibuk mengurus masa

  • Petani Terkuat   157 Pemurnian Qi

    “Di mana Nona Andini?”Hina Yulia menatap sekelilingnya dengan ragu. Matanya sibuk mencari sosok Andini di setiap sudut ruangan makan pribadi yang tenang itu. Namun, meja kayu di hadapannya tetap kosong tanpa tanda-tanda kehadiran wanita yang ia cari.“Andini tidak ada di sini,” ucap Jaka dengan suara tenang.“Eh? Tapi Nona Andini yang mengundangku ke sini.” Hina mengerjapkan matanya bingung. “Katanya ada masalah serius yang ingin dibicarakan denganku.”Jaka menggelengkan kepala perlahan.“Itu hanya pancingan, sebenarnya aku yang memiliki urusan denganmu.”Hina Yulia tertegun di tempatnya berdiri. Pipinya seketika merona merah saat detak jantungnya mendadak berdegup kencang tanpa kendali.“Kamu?” gumam Hina dengan bibir sedikit bergetar.Jaka mengangguk lembut, menyambut tatapan gadis itu tanpa ragu sedikit pun.Hina menarik napas panjang untuk meredakan gejolak di dalam dadanya. Ia melangkah perlahan lalu duduk di seberang meja dengan gugup. Kedua tangannya meremas ujung rok di atas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status