Share

125 Hukuman

Author: AgamYupi02
last update publish date: 2026-08-19 17:13:05

Layar ponsel pintar itu perlahan meredup, menyisakan pantulan bayangan wajah Jaka di permukaan kaca yang mengilap.

Nada penutup panggilan dari Andini baru saja memudar, meninggalkan keheningan yang merayap di sekeliling kamar tidurnya.

Tepat pada detik itu, hawa dingin tiba-tiba menusuk tengkuknya, memicu instingnya untuk segera menoleh ke arah celah pintu yang terbuka separuh.

Sepasang manik mata bundar berkilau dalam kegelapan lorong, menatapnya lurus tanpa berkedip sedikit pun.

Dina berdi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Petani Terkuat   126 Obrolan Tengah Malam Ayah dan Anak

    Keheningan kembali merayap di lorong rumah kayu itu begitu pintu kamar Dina tertutup rapat. Bunyi detak jam dinding tua bergema pelan dengan ritme yang teratur, mengisi ruang kosong di antara ayah dan anak yang masih berdiri berhadapan. Cahaya lampu temaram menyorot bayangan panjang mereka yang saling bersilangan di lantai."Kamu juga, kenapa belum tidur?" tanya Bejo kepada Jaka seraya memandang putranya dengan tatapan teduh."Ah, aku baru mau tidur sekarang," sahut Jaka pelan sambil melangkah mendekat. "Ayah sendiri kenapa belum tidur? Padahal sudah hampir larut."Bejo menggaruk punggung kepalanya yang sama sekali tidak gatal, sebuah kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan ketika merasa canggung atau sedang memikirkan beban pikiran yang berat. Punggungnya yang kokoh tampak sedikit membungkuk karena kelelahan, namun sorot matanya tetap menunjukkan ketenangan seorang kepala keluarga."Aku tidak bisa tidur. Karena itu, aku ingin keluar sebentar untuk mencari udara segar," ucap Bejo den

  • Petani Terkuat   125 Hukuman

    Layar ponsel pintar itu perlahan meredup, menyisakan pantulan bayangan wajah Jaka di permukaan kaca yang mengilap. Nada penutup panggilan dari Andini baru saja memudar, meninggalkan keheningan yang merayap di sekeliling kamar tidurnya. Tepat pada detik itu, hawa dingin tiba-tiba menusuk tengkuknya, memicu instingnya untuk segera menoleh ke arah celah pintu yang terbuka separuh.Sepasang manik mata bundar berkilau dalam kegelapan lorong, menatapnya lurus tanpa berkedip sedikit pun. Dina berdiri mematung di sana dengan kedua tangan terlipat kaku di depan dada. Bibirnya mengerucut tajam, memancarkan aura kecurigaan dan permusuhan yang menyala membara di sekeliling tubuh mungilnya.Sudah seminggu penuh rumah mereka diselimuti atmosfer aneh yang menyesakkan ini. Gadis itu selalu melayangkan pandangan tajam seolah menuntut penjelasan ke mana pun Jaka melangkah. Jaka sudah berulang kali memanggil Dina, tetapi selalu diabaikan mentah-mentah dengan dengusan dingin yang menusuk.Hari ini, t

  • Petani Terkuat   124 Kecurigaan Dina

    Kabut tipis sisa fajar perlahan-lahan terangkat saat semburat cahaya keemasan matahari pagi mulai menyinari hamparan perbukitan hijau di pinggir desa. Angin sejuk pegunungan berhembus lembut melintasi petak-petak tanah gembur, membawa aroma tanah basah yang segar serta wangi khas dedaunan hijau yang bermandikan butiran embun berkilau laksana intan.Setelah perhelatan reuni sekolah usai, Jaka kembali ke keseharian biasa yang tenang dan damai di pedesaan.Setiap fajar menyingsing sebelum kokok ayam jantan reda terdengar, pemuda itu sudah melangkah turun ke ladang dengan pakaian kerja sederhana dan sepasang sepatu bot karet. Ritme hidupnya kembali berputar secara teratur: menebar bibit sayur pilihan ke dalam tanah yang gembur, menyiram ladang dengan air campuran energi spiritual murni, merawat tunas-tunas hijau yang bermunculan di sepanjang bedengan, memanen hasil ladang yang tumbuh luar biasa subur serta sarat nutrisi alami, dan menjual seluruh hasil panen bermutu tinggi kepada Andini

  • Petani Terkuat   123 Bayangan Dendam

    Lampu kristal gantung di langit-langit aula membiaskan kilau keemasan yang jatuh menimpa lantai marmer berpelitur licin. Alunan melodi instrumental mengalun pelan di latar belakang, berpadu dengan aroma wewangian para alumni yang mulai beranjak meninggalkan ruangan satu per satu. Di sudut aula yang mulai lengang, Jaka berdiri tegak sembari menatap dua sosok wanita di hadapannya dengan sepasang alis terangkat heran."Apa kalian memang sedekat ini?" Jaka bertanya heran melihat kedekatan Andini dan Hina Yulia yang duduk bersisian secara akrab.Andini tertawa kecil, nada tawanya terdengar merdu bagai denting lonceng kaca di tengah keheningan. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan sangat anggun seraya menyandarkan bobot tubuhnya santai. "Ufufu~ kami sudah berdiskusi, mulai sekarang dia akan bekerja padaku.""Benarkah?" Jaka menatap Hina Yulia, mencari kepastian langsung dari wanita itu. Gadis cantik berambut hitam legam yang terurai lurus itu sempat menundukkan pandangann

  • Petani Terkuat   122 Menyelamatkan Kecantikan

    Moncong laras baja hitam berjarak kurang dari satu meter di depan keningnya, tetapi Jaka sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar. Kedua tangannya tetap tergantung santai di samping pinggang.Jaka terlihat sangat tenang, seolah tidak peduli dengan ancaman kematian yang berada tepat di depan pelupuk matanya."Ada apa ini?" tanyanya ragu dengan nada yang dibuat sepolos mungkin.Pria berjubah itu mempererat cengkeramannya pada pegangan senjata berkaliber sembilan milimeter itu, urat-urat di punggung tangannya menegang kasar."Kamu orang luar, pergi sebelum aku tembak!" tegas pria itu dengan suara berat yang bergetar penuh ancaman.Jaka melirik Karina yang berdiri mematung di sudut ruangan dekat wastafel marmer.Karina awalnya mengangguk pasrah seraya memeluk tubuhnya sendiri, tetapi seolah mendapatkan pencerahan tiba-tiba saat menatap garis wajah pemuda itu, ia menatap lurus ke wajah Jaka."Pria ini seorang penguntit! Tolong bantu aku mengurusnya, nanti aku kasih imbalan!" seru aktris c

  • Petani Terkuat   121 Suara Logam

    Lampu kristal gantung di sudut ruang VIP membiaskan cahaya keemasan yang temaram. Denting gelas kaca dan alunan musik instrumental lembut mengaburkan riuh pesta perayaan di aula utama yang megah.Andini melangkah anggun mendekati sofa, lalu mencondongkan tubuhnya ke samping. Hawa hangat beraroma vanila menyapu telinga rekannya saat ia berbisik pelan."Aku melihatmu, kerja bagus sudah mengusir gadis itu."Hina Yulia tidak langsung menoleh. Ia tetap duduk tegak dengan pandangan lurus ke depan, mempertahankan postur kaku seperti seorang pengawal. "Aku hanya melakukan yang seharusnya. Di mana Jaka?""Sedang ke toilet.""Ah."Andini sedikit menarik sudut bibirnya ke atas, membentuk senyuman penuh misteri. Matanya yang tajam menatap lekat gadis berambut hitam di hadapannya."Bagaimana? Kamu mau bekerja di bawahku? Tergantung kinerjamu, aku bisa memberimu gaji yang fantastis."Hina menatap karpet mewah bercorak floral di bawah sepatunya, menimbang tawaran yang meluncur tanpa aba-aba itu. Ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status