INICIAR SESIÓNHari ketiga latihan dimulai dengan semangat yang sama seperti hari-hari sebelumnya, namun kali ini diselingi oleh kejutan yang tidak terduga. Ketika Suliwa dan Alicia baru saja memasuki ruang latihan, sosok bercahaya pendiri kuil muncul dengan raut wajah yang tampak sedikit berbeda dari biasanya, lebih serius dan waspada."Ada sesuatu yang perlu kusampaikan," ucap sosok itu, sebelum mereka sempat memulai latihan hari itu. "Formasi pelindung di batas wilayah kuil mendeteksi kehadiran seseorang di gerbang terluar, seseorang yang membawa tanda perlindungan suku pengembara.""Rakai?" tanya Suliwa terkejut, mengingat kalung pemberian pemandu mereka yang masih tersimpan aman di dalam ranselnya."Kemungkinan besar," jawab sosok itu. "Ia tampak ingin menyampaikan sesuatu yang mendesak, namun formasi ujian tidak mengizinkan siapa pun tanpa tujuan murni untuk melewatinya sepenuhnya.""Bisakah kita menemuinya?" tanya Alicia, khawatir dengan kemungkinan berita buruk yang dibawa Rakai.Sosok itu
Pagi berikutnya, Suliwa terbangun dengan tubuh yang terasa jauh lebih segar dibandingkan hari-hari sebelumnya. Alicia sudah lebih dulu bangun, duduk di dekat pintu ruangan sambil memeriksa beberapa catatan medis yang ia bawa sepanjang perjalanan."Kau tidur nyenyak?" tanya Alicia begitu melihat Suliwa mulai bergerak."Sangat nyenyak," jawab Suliwa, meregangkan tubuhnya yang terasa jauh lebih ringan. "Rasanya seperti energi baruku sudah mulai menyatu sepenuhnya dengan tubuhku.""Syukurlah," ucap Alicia lega, menutup catatannya. "Sosok pendiri kuil bilang akan mulai mengajarkanmu teknik pengendalian hari ini."Tidak lama kemudian, sosok bercahaya keemasan itu muncul di ambang pintu, wujudnya kali ini terlihat lebih jelas dan stabil dibandingkan sebelumnya. "Selamat pagi, Pewaris. Aku harap kau sudah siap untuk memulai latihan yang sesungguhnya.""Aku siap," jawab Suliwa mantap, bangkit berdiri dengan penuh semangat.Mereka mengikuti sosok itu menuju sebuah ruangan latihan terpisah di
Sementara Suliwa dan Alicia menjalani masa pemulihan di dalam Kuil Awan Beku, jauh di Sekte Gunung Hitam, suasana semakin tegang seiring berlalunya hari tanpa hasil dari pencarian yang dilakukan Kanaka. Ia berdiri di balkon kediamannya, menatap ke arah pegunungan yang membentang jauh di utara, pikirannya dipenuhi kegelisahan yang terus membesar."Komandan," suara salah satu bawahannya memecah lamunannya, "para pelacak yang dikirim minggu lalu belum juga kembali membawa kabar.""Sudah berapa lama mereka pergi?" tanya Kanaka, tanpa menoleh dari pemandangan pegunungan di kejauhan."Hampir sepuluh hari, Komandan," jawab bawahannya. "Biasanya mereka melapor setiap tiga hari sekali."Kanaka mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras menahan amarah yang mulai membara. "Kirim kelompok pencari lain untuk mencari tahu apa yang terjadi pada mereka. Aku tidak suka ketidakpastian seperti ini.""Baik, Komandan," bawahan itu membungkuk sebelum bergegas pergi melaksanakan perintah.Kanaka kembali men
Kuil kuno itu menyediakan sebuah ruangan kecil namun nyaman bagi Suliwa dan Alicia untuk beristirahat, tersembunyi di salah satu sudut aula utama yang dilindungi formasi kuno dari gangguan luar. Cahaya lembut menembus dari celah dinding batu, memberikan penerangan alami yang menenangkan sepanjang hari.Suliwa terbaring di atas alas sederhana yang disediakan, tubuhnya masih terasa lemas setelah proses pembukaan segel yang menguras banyak energi. Alicia duduk di sampingnya, memeriksa kondisinya dengan seksama menggunakan kemampuan tabibnya."Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Alicia, tangannya lembut memeriksa denyut nadi Suliwa."Lebih baik," jawab Suliwa, mencoba duduk meski tubuhnya masih terasa berat. "Rasanya seperti baru saja berlari sejauh puluhan kilometer tanpa henti.""Itu wajar, mengingat energi yang baru saja kau serap," ucap Alicia, membantu menyangga punggungnya agar bisa duduk lebih nyaman. "Beristirahatlah dengan baik. Tubuhmu butuh waktu untuk sepenuhnya beradaptasi
Genggaman Alicia semakin erat begitu cahaya keemasan dari sosok pendiri kuil kembali menyelimuti kepala Suliwa, kali ini jauh lebih intens dari sebelumnya. Suliwa merasakan kesadarannya tertarik jauh lebih dalam, melewati lapisan demi lapisan ingatan yang bahkan bukan miliknya sendiri, menuju sesuatu yang terasa jauh lebih purba dan mendasar. Ia mendapati dirinya berada di sebuah ruang kosong tanpa batas, hanya dipenuhi oleh cahaya keemasan yang berdenyut seperti detak jantung raksasa. Di tengah kekosongan itu, tergantung sebuah bola cahaya kecil yang berputar perlahan, memancarkan energi yang begitu familiar namun juga begitu asing. "Ini adalah inti sesungguhnya dari warisan yang kau bawa," terdengar suara sosok bercahaya, meski kali ini tidak terlihat wujudnya, hanya suaranya yang menggema di seluruh ruang kosong itu. "Bukan sekadar kekuatan kultivasi biasa, melainkan sebagian dari esensi jiwa ketujuh pendiri kuil ini, yang diwariskan turun-temurun melalui setiap murid terba
Begitu tangan transparan sosok bercahaya itu menyentuh puncak kepalanya, kesadaran Suliwa seketika tertarik masuk ke dalam pusaran cahaya yang membawanya jauh melampaui ruang dan waktu yang ia kenal. Ia mendapati dirinya berdiri di tengah sebuah aula yang sama, namun jauh lebih hidup, dipenuhi oleh sosok-sosok kultivator berjubah putih yang berlatih dengan tekun di bawah bimbingan tujuh sosok agung yang berdiri di altar.Di antara para murid itu, Suliwa mengenali sosok seorang pemuda dengan wajah yang familiar, meski jauh lebih muda dan penuh semangat dibandingkan saat ia menemukannya sekarat di dalam gua. Itu adalah Tetua Agung, dalam wujudnya yang masih muda, tekun berlatih dengan tekad yang membara di matanya."Kau melihatnya," terdengar suara sosok bercahaya yang tetap menyertainya meski dalam kilasan ingatan ini. "Muridku yang paling berbakat, yang kelak akan mendirikan Sekte Pedang Langit."Suliwa mengamati bagaimana pemuda itu berlatih dengan tekun, jatuh bangun namun tidak p







