Mag-log inBagi Alya Senandika, beasiswa di Universitas Cakrawala adalah awal baru yang tampak menarik. Namun, segalanya berubah saat menyaksikan darah perak mengalir dari luka Revan Lazuardi Rajata. Revan bukan sekadar kakak tingkat misterius yang memiliki kekasih bernama Vanya. Di tengah penindasan Vanya dan konspirasi maut, Alya harus memilih. Akankah Alya membantu Revan meski harus membayar dengan nyawanya sendiri? Sanggupkah cinta mereka bertahan?
view more"Udah sampe, Pak? Ini beneran alamatnya, kan? Enggak salah, kan?" tanya Alya seraya melongokkan kepalanya ke jendela taksi daring yang sedikit terbuka. Mobil itu masih bergerak pelan.
Mata Alya memindai bangunan megah era kolonial yang ada di hadapannya. Alisnya berkerut karena sedikit khawatir sopir taksi daring yang dinaikinya tersasar.
"Enggak salah, Neng.” Sopir taksi menyahut lalu terkekeh pelan. “Ada tulisannya gede banget di gerbang utama tadi. Universitas Cakrawala. Neng mahasiswi baru, ya?”
Alya mengangguk pelan. Merasa malu karena meragukan sopir tersebut.
“Wah, selamat ya, Neng,” ujar sopir taksi itu dengan nada riang. “Masuk sini susah banget lho. Apalagi dapetin beasiswanya.”
Alya hanya tersenyum tipis. Itu merupakan senyum demi menyembunyikan rasa gugup daripada rasa bangga. Sejujurnya, dia sendiri tidak menyangka mendapatkan beasiswa di kampus ternama itu.
Bagi Alya yang tumbuh besar di panti asuhan, kesempatan ini terasa seperti sebuah keajaiban yang juga sekaligus beban.
Alya merapatkan tas selempang yang berisi buku catatan kesayangannya ke dada. Baginya, universitas ini bukan sekadar tempatnya berkuliah, tapi tiket untuk keluar dari nasibnya sebagai anak panti asuhan.
‘Gue harus sukses, atau gue nggak akan punya apa-apa di dunia yang keras ini,’ pikirnya.
Begitu taksi berhenti sepenuhnya di depan sebuah gedung yang tampaknya menjadi titik temu mahasiswa baru, Alya segera turun.
Segera saja dia disambut udara panas yang terjebak di antara kemegahan kampus. Sopir taksi membantunya menurunkan dua koper besar miliknya dan meletakkannya di trotoar.
Alya kembali memerhatikan sekitar lalu menarik napas panjang demi mengumpulkan tenaga. Di hadapannya, bangunan besar dengan pilar-pilar putih berdiri megah sangat serasi dengan lantai lobinya yang terbuat dari marmer mengkilap.
Dia kemudian menunduk, memerhatikan pakaian yang dikenakan. Sebagai penerima beasiswa penuh, Alya sadar betul penampilannya sangat kontras dengan mahasiswa lain yang turun dari mobil mewah menggunakan pakaian mahal.
Alya hanya mengenakan kaus putih polos, kemeja flanel kotak-kotak yang sudah agak pudar warnanya, dan celana jeans usang. Bahkan semua pakaian itu merupakan hasil donasi dari beberapa donatur yang datang ke panti.
‘Nggak apa-apa, Al. Fokus ke tujuan lo datang ke sini. Belajar,’ batinnya menguatkan hati.
Alya mulai menarik koper-kopernya menuju asrama putri yang letaknya cukup jauh di bagian dalam kampus. Roda kopernya berbunyi kasar di atas jalanan aspal yang bersih.
Sebelumnya, pihak pengurus panti sudah memberikan petunjuk jalan dan gambaran letak asramanya, jadi Alya tidak terlalu buta arah ketika datang untuk pertama kalinya.
Tepat di belokan menuju jalan setapak asrama, sebuah mobil sedan hitam mengkilap berhenti mendadak di dekatnya.
Hal itu membuat Alya tersentak dan hampir saja kehilangan keseimbangan. Jantungnya berdegup kencang karena kaget.
Pintu belakang mobil itu terbuka, seorang pria turun dengan gerakan yang tenang. Pria itu mengenakan kemeja biru navy yang lengannya digulung asal hingga siku.
Wajahnya sangat tampan menurut Alya. Namun, memiliki aura yang dingin dan tertutup. Yang mengejutkan bagi Alya, warna matanya hitam pekat.
Semua itu membuat Alya terpaku bahkan tidak sengaja menatap mata pria itu selama beberapa detik. Namun, pria itu hanya melirik koper-kopernya yang sedikit menghalangi jalannya dengan tatapan tidak senang.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, bahkan permintaan maaf karena hampir menyerempet Alya, pria itu berjalan melewatinya begitu saja. Alya menatap kepergian pria itu dengan mengerutkan hidungnya, tidak suka.
“Dasar nggak punya sopan santun,” bisik Alya setelah pria itu menghilang dari pandangannya. “Untung gue nggak kena serangan jantung. Mentang-mentang naik mobil mewah.”
Alya merasa kesal dan hatinya dongkol. Tapi entah kenapa di saat yang sama, ada rasa penasaran yang menggelitik benaknya.
Sebagai orang yang gemar menulis cerita, sosok pria itu terasa seperti karakter yang menarik untuk dituangkan ke dalam tulisan. Jiwa Alya yang seorang penulis tiba-tiba muncul.
“Catat dulu deh, siapa tahu jadi ide tulisan gue selanjutnya,” gumamnya.
Alya segera merogoh tasnya, mengambil pulpen dan buku catatan kecilnya. Sambil tetap berdiri di pinggir jalan, dia menulis dengan cepat.
[Pria berkemeja navy itu punya tatapan yang seolah membekukan waktu. Dingin, tidak tersentuh, seolah dia bukan bagian dari dunia yang berisik ini. Ada sesuatu yang janggal dari caranya berjalan.]
"Dek, mau masuk asrama ya? Sini, saya bantu dorong kopernya ke lobi."
Suara berat itu mengagetkan Alya. Dia menggumam sebagai jawabannya dan buru-buru menutup bukunya. Seorang satpam kampus yang tampak ramah sudah berdiri di sampingnya. Di bagian dadanya tertulis nama Darto.
"Eh, iya Pak. Makasih banyak ya, Pak," jawab Alya sopan.
Sambil berjalan menuju lobi, Darto melihat ke arah gedung yang bertuliskan Arkeologi. “Tadi itu namanya Revan. Setau saya, dia senior di sini.”
“Oh,” sahut Alya. “Jadi namanya Revan ya.”
Darto mengangguk. “Orangnya memang begitu, Dek. Jangan diambil hati ya, dia memang jarang ngomong sama orang."
Alis Alya terangkat.
“Oya, Pak? Sombong banget,” celetuk Alya tanpa sadar.
Darto tertawa kecil pada komentar Alya yang menurutnya ‘asal bunyi’.
“Dia itu sebenarnya pintar banget. Tapi ya memang tertutup.” Darto memberitahukan Alya lagi. “Sudah, ayo masuk. Kuncinya nanti kamu ambil di resepsionis asrama dulu. Bawa berkasnya kan?"
Alya mengangguk lalu menuju bagian resepsionis asrama. Setelah urusan administrasi selesai, Alya mendapatkan kunci kamar nomor 204. Darto bahkan membantunya menuju kamar 204.
Pintu kamar terbuka, Alya meletakkan koper-kopernya dan duduk di tepi tempat tidur yang masih terbungkus plastik.
Dia menghela napas panjang karena merasa lelah sekaligus lega. Tiba-tiba, dia teringat kembali pada orang yang bernama Revan tadi.
Alya mengambil kembali buku catatan dari dalam tasnya, berniat merapikan tulisan yang tadi dia buat dengan terburu-buru.
Namun, saat membuka tas selempangnya, Alya menyadari ada sesuatu yang tertinggal di dalam tasnya. Sebuah benda yang bukan miliknya.
Alya menarik keluar sebuah gantungan kunci berbahan perak dengan ukiran yang sangat rumit. Di tengahnya terdapat simbol sebuah gerbang dengan aksara yang tidak dikenalinya.
Alya mengernyitkan dahi seraya membolak-balikkan gantungan kunci tersebut.
“Ini punya siapa?” bisiknya bingung. “Gue yakin ini nggak ada di dalam tas waktu packing. Masa punya anak panti? Perasaan nggak ada yang bawa-bawa ginian.”
Masih menatap benda itu, Alya kemudian teringat kejadian saat Revan berpapasan dengannya.
“Mungkin nggak sih kalau lo ini punya Revan? tapi gimana caranya lo masuk ke dalam tas gue sih?” gumamnya heran.
Baru saja Alya hendak memperhatikan ukiran itu lebih dekat, terdengar suara ketukan pintu yang sangat keras dan beruntun dari luar kamarnya.
Brak! Brak! Brak!
"Buka pintunya! Saya tahu kamu bawa sesuatu yang bukan punya kamu!"
Alya membeku di tempatnya sebab suara itu terdengar berat dan sangat mengancam. Itu bukan suara Darto, dan bukan juga suara Aini yang merupakan petugas asrama yang ramah.
Jantung Alya seolah berhenti berdetak ketika melihat gagang pintu kamarnya tiba-tiba bergerak turun perlahan dari luar. Seseorang sedang berusaha masuk paksa ke kamarnya.
“Gue nggak boleh lari sekarang,” bisik Alya.Suara Alya terdengar sangat pelan di antara isak tangisnya yang tertahan. Tangannya yang gemetar menyapu air mata dingin di pipinya secara kasar.Rasa sakit hati akibat kenyataan bahwa beasiswanya hanyalah umpan palsu sempat membuat kakinya ingin berlari menjauh dari gedung mencekam ini. Namun, Alya memaksakan dirinya untuk tetap bertahan di balik celah pintu.Ingatan Alya mendadak melayang pada pesan Revan. Revan memintanya untuk berpura-pura tidak tahu apa-apa dan tetap bertahan.Alya butuh informasi. Dia harus tahu apa rencana sebenarnya dari ayah dan anak gila kuasa itu terhadap dirinya dan Revan, agar dia dan Revan bisa menyusun rencana pembalasan.Di dalam ruangan kerja yang luas itu, suara langkah kaki Iwary terdengar berjalan mendekati meja kerjanya.“Terus rencana Papa selanjutnya apa pas malam bulan purnama nanti?” tanya Vanya, menyuarakan rasa penasarannya. “Bukannya selama ini kita udah cukup dapat ekstrak darah peraknya Revan?”
“Umpan beasiswa...?” bisik Alya.Suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam di balik embusan angin pendingin ruangan yang keluar dari celah pintu. Alya masih berdiri kaku di balik dinding, memegangi dadanya yang terasa sangat sesak.Dunia Alya rasanya benar-benar runtuh seketika.Ingatannya melayang kembali ke hari di mana surat penerimaan Beasiswa Penuh Universitas Cakrawala tiba di Panti Asuhan Kasih Bunda.Alya ingat betul bagaimana Ibu Panti menangis terharu sambil memeluknya erat-erat hari itu. Alya ingat bagaimana adik-adik pantinya menatapnya dengan penuh rasa bangga, menganggap Alya sebagai sosok teladan yang berhasil membuktikan bahwa anak panti miskin pun bisa sukses lewat jalur prestasi.Alya telah belajar setengah mati setiap malam. Dia mengorbankan waktu tidurnya demi mempertahankan nilai akademisnya agar beasiswa itu tidak dicabut.Namun sekarang, seluruh kebanggaan dan kerja keras yang dia bangun selama ini hancur berantakan. Semua itu ternyata hanyalah skenario palsu yan
Alya menahan napasnya rapat-rapat. Dia semakin merapatkan telinganya ke celah pintu kayu yang terbuka sedikit. Suara Dekan Iwary dari dalam ruangan terdengar begitu menuntut dan tak sabar.“Apa maksudmu, Vanya? Jangan bertele-tele kalau ngomong,” ulang Dekan Iwary dengan nada suara yang semakin keras dan kesal ketika Vanya hanya menghela napas.Terdengar suara gesekan kursi kulit mahal saat Iwary menegakkan posisi duduknya di balik meja kerja raksasa.Vanya melangkah dua tindak lebih dekat ke meja ayahnya. Suara ketukan hak sepatunya terdengar melambat, dipenuhi oleh kepuasan yang luar biasa.“Alya Senandika itu seorang Penenun Realita, Pa,” desis Vanya mantap. “Dia seorang Weaver!”Keheningan mendadak menyergap ruangan kerja dekan yang luas itu.Alya yang berada di balik pintu merasa jantungnya berhenti berdetak selama beberapa detik. Tangan kirinya mencengkeram dinding beton yang dingin untuk menopang tubuhnya yang mendadak lemas.“Weaver...?” cicit Dekan Iwary pelan.Suara pria tua
‘Nggak bisa. Mendingan Nggak ke sini. Gue harus pergi dari sini...’ pikir Alya.Tumit sepatu Alya sudah berputar setengah langkah di atas lantai marmer yang dingin. Ketakutan yang melumpuhkan membuatnya ingin segera memutar balik tubuhnya dan berlari kencang menuruni anak tangga lantai tiga Gedung Rektorat.Alya sekali lagi menatap papan kuningan di dinding: RUANG KERJA DEKAN - PROF. DR. IWARY.Nama itu terasa seperti nama seorang algojo di dalam kepalanya.Ingatan Alya mendadak tertuju pada tatapan mata Revan di bawah pohon beringin tadi. Pria itu menyuruhnya tetap tenang melalui tatapan mata, tapi melangkah masuk ke ruangan ini rasanya seperti berjalan secara sukarela menuju tiang gantungan.Namun, sebelum kakinya sempat melangkah lari ke arah tangga utama, sebuah suara dari balik belokan lorong mendadak menghentikan gerakannya.Tuk. Tuk. Tuk.Irama ketukan sepatu hak tinggi itu terdengar sangat familiar, melangkah mantap di atas lantai marmer. Vanya sedang berjalan menyusuri loron
"Lo kenapa lagi sih, Al? Dari balik selimut suaranya kedengaran kayak orang lagi nahan sesak gitu," suara Rini memecah keheningan kamar asrama sore itu.Alya sudah tidak ada jam kuliah sedangkan Rini bersiap-siap hendak menghadiri jam kuliah sorenya.Alya tidak menjawab. Dia semakin menenggelamkan
"Al, lo bengongin gantungan kunci itu lagi?" tegur Rini yang baru saja selesai memakai masker wajah.Alya yang sedang memerhatikan gantungan kunci yang ada di atas meja belajarnya tersentak, lalu cepat-cepat memasukkan benda itu ke dalam sakunya."Enggak, Rin. Gue cuma mikir, gimana cara ketemu Kak
Tuk. Tuk. Tuk. Suara langkah kaki yang diiringi ketukan hak sepatu tinggi bergema di sunyinya perpustakaan pusat. Suara itu lambat terdengar. Namun, memiliki ritme menuntut yang membuat udara di sekitar seketika terasa lebih tipis."Revan? Kamu ada di dalam?"Suara Vanya kembali terdengar memecah
“Kenapa emangnya kalau aku ke sini malam-malam?” tanya Alya menantang.Revan membuang muka. “Sudah malam. Rawan untuk perempuan.”Alya berusaha untuk tidak memutar matanya. Dia sudah terbiasa bepergian seorang diri ke mana pun."Kakak emang hobi ya duduk di pojokan gelap begini?" tanya Alya sambil






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore