Home / Romansa / Pijat Yuk, Mas! / Bab 22 Sahabat Jadi Rival

Share

Bab 22 Sahabat Jadi Rival

Author: Irbapiko
last update publish date: 2026-04-20 08:10:34

Lantai marmer Elegance Spa terasa sedingin es saat kaki Mirah melangkah masuk. Aroma cendana dan vanila mahal mencekik udara, sangat kontras dengan bau oli di gudang persembunyian Elang. Mirah meremas tali tasnya, mencoba meredam gemetar yang merambat hingga ke ulu hati.

Di depan pintu kamar 404, Elang berhenti dan menatap Mirah dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Ingat, Mir... sekali pintu ini terbuka, nggak ada jalan balik ke Sukamaju," bisiknya berat.

Mirah hanya m

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 31 Racun di Istana Cendana

    Langkah kaki Mirah terasa goyah saat menyusuri lorong sunyi menuju mess terapis. Rambutnya sedikit berantakan, dan di lehernya, ada bercak kemerahan samar yang ia coba tutupi dengan sisa helaian rambut. Kepalanya masih berdenyut; gairah yang baru saja merobek pertahannya di kamar Agam masih menyisakan getaran di sekujur tubuh.Baru saja ia hendak memutar knop pintu, sebuah bayangan muncul dari kegelapan sudut lorong. Mirah tersentak, hampir memekik."Lama banget, Mir. Gue kira lo udah pingsan di atas kasur sutra Mas Agam," celetuk Nani dengan nada yang sarat sindiran. Ia bersandar di dinding dengan daster satin ungu yang sangat pendek.Mirah menarik napas dalam, mencoba tenang. "Gue baru selesai layanan, Nan. Lo ngapain di sini jam segini? Belum tidur?"Nani melangkah mendekat, memperpendek jarak hingga Mirah bisa mencium aroma parfum vanilanya yang kuat. Nani memutari Mirah, matanya terpaku pada leher."Layanan apa sampai ada tanda 'kepemilikan' d

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 30 Genjotan Agam

    "Mendekatlah, Mirah," suara Agam rendah dan berwibawa.Mirah melangkah maju, jantungnya berdegup kencang. "Mbak Sesil bilang... Bapak mau saya ke sini?""Sesil bilang progresmu luar biasa. Kamu punya sentuhan yang bikin pria rela antre," Agam meletakkan gelasnya. "Tapi saya nggak mau dengar dari laporan kertas saja. Malam ini, tunjukkan pada saya apa yang sudah kamu pelajari. Anggap saya adalah tamu yang paling sulit kamu taklukkan."Agam melangkah menuju tempat tidur berukuran king size. Ia melepas jubah mandinya, membiarkan tubuhnya yang kekar terekspos. Mirah terpaku, tenggorokannya mendadak kering melihat sisa uap panas yang masih menguap dari kulit pria itu."Kenapa diam? Kamu sudah melayani lima pria hari ini, kan?" tanya Agam sambil merebahkan diri."I-iya, Pak. Tapi... ini berbeda," bisik Mirah jujur."Buat ini jadi sama. Mulai dari bahu, Mirah. Gunakan minyak yang kamu bawa," perintah Agam tanpa bantahan.Mirah mende

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 29 Strategi Mirah

    Malam di Elegance Spa selalu punya cara untuk mengaburkan batas antara kehormatan dan kebutuhan hidup yang mendesak. Di koridor mess yang sunyi, Mirah berdiri di depan cermin besar, merapikan seragam batiknya yang terasa semakin sesak di bagian dada. Sebulan telah berlalu, dan rasa mual yang dulu menyiksa kini berganti menjadi ketenangan yang dingin.Ia bukan lagi Mirah yang menangis di ruko Gading Resto. Kini ia sadar bahwa tubuhnya adalah mata uang tunggal untuk menyelamatkan Bapaknya di Sukamaju. Jakarta memang keras, namun Mirah mulai belajar menari di atas bara apinya."Mir, lo tuh kelamaan main aman," sindir Nani sambil menghitung tumpukan uang tips di depan Mirah. Nani baru saja keluar kamar dengan rambut acak-acakan dan wajah yang masih memerah. "Tamu tadi minta 'lebih', ya gue kasih semuanya sampai lemas!"."Gue punya cara sendiri, Nan. Pak Agam juga bilang gue harus berproses," jawab Mirah pelan tanpa menoleh dari cermin.Nani mendengus

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 28 Binalnya Nani

    Sementara itu, suasana di dalam kamar terapi "Cempaka" terasa begitu pekat oleh aroma minyak esensial cendana yang berpadu dengan hawa panas dari pendingin ruangan yang seolah tak sanggup meredam gejolak di dalamnya.Nani berdiri di samping meja terapi, menatap Pak Yandi, seorang pria paruh baya bertubuh tambun yang menjadi tamunya sore itu. Pak Yandi sudah dalam posisi terlentang, hanya ditutupi selembar handuk putih di bagian pinggang, namun matanya yang kecil dan licik tidak pernah lepas dari setiap gerak-gerik Nani.Nani sadar betul bahwa di kamar sebelah, Mirah mungkin sedang berjuang dengan rasa malunya. Namun bagi Nani, rasa malu adalah kemewahan yang tidak sanggup ia beli. Ia membutuhkan pengakuan dari Agam, dan ia membutuhkan uang.Dengan senyum binal yang menjadi ciri khasnya, Nani menuangkan minyak ke telapak tangannya, lalu mulai mengusap punggung tangan Pak Yandi dengan gerakan yang sangat pelan namun menuntut."Gimana, Pak Yandi? Pekerjaan di kantor bikin capek banget ya?

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 27 Layanan Pertama

    Malam itu, Elegance Spa tidak lagi sekadar gedung mewah yang dingin di mata Mirah. Baginya, tempat ini telah berubah menjadi arena pembuktian di mana setiap helai kain sutra yang menutupi pintu-pintu kamar terapi menyimpan rahasia gairah yang harus ia pelajari secara bertahap.Sesuai instruksi Agam, Mirah dan Nani tidak langsung diterjunkan untuk melayani tamu VVIP Singapura karena mereka dianggap masih terlalu baru. Mereka harus melewati periode "jam terbang" dengan melayani tamu-tamu level reguler atau ringan untuk mengasah mental dan teknik mereka.Mirah berdiri di depan cermin besar ruang mess terapis yang jauh lebih layak daripada kontrakan mereka sebelumnya. Ia menatap pantulannya yang kini mengenakan seragam baru—sebuah kebaya batik sutra yang sangat pas di badan, menonjolkan lekukan pinggangnya yang ramping dan dada yang berisi.Rambut panjangnya yang biasa dikuncir kuda kini ditata jatuh ke satu sisi bahu, menyisakan leher putihnya yang j

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 26 Bukan Sekadar Pijat

    "Mirah! Fokus! Kamu nggak lagi liat hantu, kan?"Suara Sesil yang dingin membuyarkan lamunan Mirah. Sesil berdiri di dekat meja terapi yang kini sudah disiapkan dengan kain satin halus dan beberapa lilin aroma terapi yang mulai mengeluarkan wangi cendana yang memabukkan."Maaf, Mbak. Saya... saya cuma sedikit pusing," jawab Mirah bohong. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia baru saja melihat seorang pria asing yang seolah sedang mengawasinya dari kegelapan.Sesil mendengus, jemarinya yang lentik menyalakan pemanas minyak. "Simpan pusingmu untuk nanti. Malam ini, seperti yang saya janjikan, kita nggak akan bahas soal teknik otot lagi. Kita akan bahas soal... jiwa pria. Pak Agam sudah memutuskan, kamu dan Nani belum akan saya lepas untuk tamu VVIP Singapura itu. Kalian masih terlalu mentah. Pak Agam mau kalian 'berproses' dulu dengan tamu-tamu reguler selama beberapa minggu ke depan."Mirah merasa sedikit lega mendengar kata 'tunda', namun kalimat Sesil ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status