Pijat Yuk, Mas!

Pijat Yuk, Mas!

last update최신 업데이트 : 2026-04-17
에:  Irbapiko방금 업데이트되었습니다.
언어: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
순위 평가에 충분하지 않습니다.
13챕터
98조회수
읽기
보관함에 추가

공유:  

보고서
개요
장르
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

Dua Sahabat, Satu Takdir Kelam, dan Harga Sebuah Kehormatan. Mirah dan Nani adalah bunga desa Sukamaju yang mempesona, namun kemolekan tubuh mereka justru menjadi kutukan di tengah kemiskinan yang mencekik. Saat ijazah SMK tak mampu membeli napas untuk sang Ayah yang sekarat, Mirah terpojok dalam pilihan mustahil: mempertahankan kesuciannya atau menjualnya seharga dua puluh lima juta rupiah demi biaya operasi. Di Jakarta, kota yang tidak mengenal belas kasihan, mereka terjebak dalam gemerlap ruko lantai tiga Gading Resto hingga mewahnya Elegance Spa. Nani memilih berkhianat pada rasa malu demi tumpukan dollar, bertransformasi menjadi terapis binal kesayangan Agam—sang penguasa bisnis spa. Sementara Mirah, dengan kepolosan yang tersisa, harus berjuang di antara bayang-bayang masa lalu bersama Jaya dan perlindungan misterius dari Elang, pria hoodie yang menyimpan rahasia besar. Saat persahabatan berubah menjadi persaingan panas untuk menjadi primadona, satu kalimat godaan menjadi awal dari segalanya: "Pijat Yuk, Mas!" Akankah Mirah menemukan jalan pulang, ataukah ia akan selamanya tenggelam dalam nikmatnya dosa yang tak berujung?

더 보기

1화

Bab 1 Undangan Beracun

"Duh, gila ya panasnya! Bedak gue pasti sudah luntur semua, Mir," gerutu Nani sambil menarik kasar kerah bajunya. Celah udara itu memperlihatkan bayangan tipis tali pakaian dalamnya yang sudah melonggar. Sementara Mirah hanya menyeka peluh di pelipis.

"Ya lagian, lu. Udah tahu acara kelulusan cuma di aula yang kipas anginnya satu, malah dandan kayak mau kondangan," sahut Mirah dengan napas pendek.  Nani berhenti mendadak, merogoh cermin retak untuk memeriksa maskara yang mulai comot.

Seragam SMK Nani sudah dimodifikasi; rok dipendekkan jauh di atas lutut dan atasan dijahit super ketat. Setiap kali Nani mengambil napas dalam, kancing kemejanya seolah memohon pertolongan agar tidak terlepas. Mirah pun hanya terkekeh pelan.

"Fandi lagi? Emang dia beneran balik dari Jakarta?" tanya Mirah. Nani menyebut akan langsung menemui kekasihnya itu di ujung jalan desa. "Dia mana tahan lama-lama jauh dari gue, katanya kangen banget," cibir Nani sambil menutup cerminnya.

Nani melirik Mirah, "Cowok tuh ya, Mir... sekali lu kasih celah buat 'masuk', dia nggak bakal mau lepas". Mirah merasakan desiran aneh di tengkuknya.

"Nan, lu tuh ya... mulutnya nggak pernah disaring," bisik Mirah cemas. Ia teringat cerita anak kampung sebelah yang harus nikah buru-buru gara-gara "kecelakaan" malam kelulusan. Nani justru tertawa lepas,  

Nani merangkul bahu Mirah, membawa aroma parfum melati murah yang bercampur bau keringat tajam. "Mir, lu itu terlalu kaku. Lu pikir si Jaya itu pacaran sama lu cuma buat liatin muka lu doang?" ejeknya. Mirah hanya mampu menunduk, meremat ujung kain bajunya yang tipis.

"Yaaa... kita kan emang komitmen mau fokus cari kerja dulu," jawab Mirah ragu. Nani menyenggol lengan Mirah dengan nakal, matanya menjelajahi dada sahabatnya itu. "Gue liat ya tadi di aula, mata cowok-cowok nggak lepas dari dada lu yang makin wah," goda Nani.

Wajah Mirah seketika memerah padam, panas menjalar dari leher hingga ke telinganya. "Ihhh, Nani! Gue sama Jaya ya pacaran sehat, paling banter juga pegangan tangan," protesnya. "Pacaran sehat itu buat anak SD, sayangku," balas Nani cepat.

"Bodi udah mateng begini kalau nggak dinikmatin ya mubazir," lanjut Nani tanpa beban. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Mirah, membisikkan hal-hal tentang video orang dewasa yang sering ditontonnya bersama Fandi. Mirah merasa jantungnya berdegup tak karuan mendengar itu. 

"Lu bayangin deh, rasanya gimana kalau tangan cowok yang lu sayang mulai gerilya di balik baju lu," bisik Nani lagi. "Sstt! Diem, Nan! Kalau ada yang denger gimana?" Mirah mempercepat langkahnya.  

Mereka sampai di persimpangan jalan desa yang dinaungi rumpun bambu yang gelap. Sebuah motor sport merah milik Fandi sudah terparkir di sana. Di sampingnya, berdiri Jaya dengan motor bebek butut yang knalpotnya sudah berkarat.

"Lama amat sihhh, Nan? Aku udah jamuran nunggu di sini," keluh Fandi. Matanya tidak membuang waktu, langsung menjelajahi tubuh Nani dan beralih ke arah Mirah dengan tatapan mengintimidasi. "Sabar dong, Sayang," jawab Nani manja sambil menempelkan dadanya ke punggung Fandi.

Fandi menyeringai, melirik Jaya yang berdiri kaku meremas ujung kaosnya yang mulai pudar. "Woi, Jay! Jangan kelamaan ngobrolnya! Gue sama Nani mau 'belajar kelompok' dulu ya buat masa depan!" seru Fandi merendahkan. Namun, ia tidak segera tancap gas, matanya tetap tertuju pada Mirah.

"Mir, lo ikut sekalian ke rumah gue. Ada syukuran kelulusan kecil-kecilan, ada makanan enak," ajak Fandi dengan nada mutlak. Mirah ragu, menatap punggung Jaya yang terlihat begitu kecil di depan motor sport mewah itu. "Tapi, Nan... gue udah janji mau pulang sama Jaya," bisiknya pelan.

"Bapak juga lagi nggak enak badan," tambah Mirah mencoba memberi alasan. "Cuma sebentar, Mir! Masa lo tega ngebiarin gue sendirian di sana sama Fandi?" Nani menarik lengan kemeja Mirah. "Gue agak ngeri kalau berdua saja di rumahnya yang segede itu," bujuk Nani.

Jaya hanya menunduk, kepasrahannya terasa seperti tamparan bagi harga diri Mirah. "Nggak apa-apa, Mir. Kalau mau ikut Nani sebentar, ikut saja," ujar Jaya pelan. "Aku tunggu di depan rumahmu saja nanti malam, aku bawakan dodol dari Ibu," tambahnya.

Mirah merasa hatinya teriris melihat ketulusan Jaya yang kontras dengan aroma parfum citrus mahal Fandi. Akhirnya, dengan perasaan tidak enak, Mirah naik ke boncengan motor sport itu. Ia duduk terjepit di antara tubuh Nani dan punggung kokoh Fandi.

Saat mesin menderu kencang, getarannya terasa asing dan mengintimidasi. Getaran itu merambat naik dari jok langsung ke pangkal pahanya. Ada sensasi panas yang nyetrum, membuat Mirah mendadak gelisah.

Mirah sempat menoleh ke belakang, menatap punggung Jaya yang perlahan menghilang ditelan debu jalanan. Ia tidak tahu bahwa keputusan ini akan menjadi awal dari kehancuran harga diri yang selama ini ia jaga. Ponsel di saku roknya tiba-tiba bergetar pendek.

Sebuah pesan singkat dari Nani masuk ke layar ponselnya. "Tenang, Mir. Malam ini lo bakal tahu rasanya jadi 'ratu'. Fandi punya kejutan buat kita," baca Mirah dalam hati. Napasnya seolah tercekat di tenggorokan, matanya menatap layar itu dengan nanar.

Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba mengusir rasa takut yang mulai merayap di tengkuknya. Motor itu melesat semakin kencang menuju rumah besar di ujung desa. Di balik kelopak matanya, bayangan wajah tulus Jaya perlahan memudar, digantikan oleh debar jantung yang menyakitkan.

펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기

독자들에게

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

댓글 없음
13 챕터
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status