LOGINDua Sahabat, Satu Takdir Kelam, dan Harga Sebuah Kehormatan. Mirah dan Nani adalah bunga desa Sukamaju yang mempesona, namun kemolekan tubuh mereka justru menjadi kutukan di tengah kemiskinan yang mencekik. Saat ijazah SMK tak mampu membeli napas untuk sang Ayah yang sekarat, Mirah terpojok dalam pilihan mustahil: mempertahankan kesuciannya atau menjualnya seharga dua puluh lima juta rupiah demi biaya operasi. Di Jakarta, kota yang tidak mengenal belas kasihan, mereka terjebak dalam gemerlap ruko lantai tiga Gading Resto hingga mewahnya Elegance Spa. Nani memilih berkhianat pada rasa malu demi tumpukan dollar, bertransformasi menjadi terapis binal kesayangan Agam—sang penguasa bisnis spa. Sementara Mirah, dengan kepolosan yang tersisa, harus berjuang di antara bayang-bayang masa lalu bersama Jaya dan perlindungan misterius dari Elang, pria hoodie yang menyimpan rahasia besar. Saat persahabatan berubah menjadi persaingan panas untuk menjadi primadona, satu kalimat godaan menjadi awal dari segalanya: "Pijat Yuk, Mas!" Akankah Mirah menemukan jalan pulang, ataukah ia akan selamanya tenggelam dalam nikmatnya dosa yang tak berujung?
View More"Duh, gila ya panasnya! Bedak gue pasti sudah luntur semua, Mir," gerutu Nani sambil menarik kasar kerah bajunya. Celah udara itu memperlihatkan bayangan tipis tali pakaian dalamnya yang sudah melonggar. Sementara Mirah hanya menyeka peluh di pelipis.
"Ya lagian, lu. Udah tahu acara kelulusan cuma di aula yang kipas anginnya satu, malah dandan kayak mau kondangan," sahut Mirah dengan napas pendek. Nani berhenti mendadak, merogoh cermin retak untuk memeriksa maskara yang mulai comot.
Seragam SMK Nani sudah dimodifikasi; rok dipendekkan jauh di atas lutut dan atasan dijahit super ketat. Setiap kali Nani mengambil napas dalam, kancing kemejanya seolah memohon pertolongan agar tidak terlepas. Mirah pun hanya terkekeh pelan.
"Fandi lagi? Emang dia beneran balik dari Jakarta?" tanya Mirah. Nani menyebut akan langsung menemui kekasihnya itu di ujung jalan desa. "Dia mana tahan lama-lama jauh dari gue, katanya kangen banget," cibir Nani sambil menutup cerminnya.
Nani melirik Mirah, "Cowok tuh ya, Mir... sekali lu kasih celah buat 'masuk', dia nggak bakal mau lepas". Mirah merasakan desiran aneh di tengkuknya.
"Nan, lu tuh ya... mulutnya nggak pernah disaring," bisik Mirah cemas. Ia teringat cerita anak kampung sebelah yang harus nikah buru-buru gara-gara "kecelakaan" malam kelulusan. Nani justru tertawa lepas,
Nani merangkul bahu Mirah, membawa aroma parfum melati murah yang bercampur bau keringat tajam. "Mir, lu itu terlalu kaku. Lu pikir si Jaya itu pacaran sama lu cuma buat liatin muka lu doang?" ejeknya. Mirah hanya mampu menunduk, meremat ujung kain bajunya yang tipis.
"Yaaa... kita kan emang komitmen mau fokus cari kerja dulu," jawab Mirah ragu. Nani menyenggol lengan Mirah dengan nakal, matanya menjelajahi dada sahabatnya itu. "Gue liat ya tadi di aula, mata cowok-cowok nggak lepas dari dada lu yang makin wah," goda Nani.
Wajah Mirah seketika memerah padam, panas menjalar dari leher hingga ke telinganya. "Ihhh, Nani! Gue sama Jaya ya pacaran sehat, paling banter juga pegangan tangan," protesnya. "Pacaran sehat itu buat anak SD, sayangku," balas Nani cepat.
"Bodi udah mateng begini kalau nggak dinikmatin ya mubazir," lanjut Nani tanpa beban. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Mirah, membisikkan hal-hal tentang video orang dewasa yang sering ditontonnya bersama Fandi. Mirah merasa jantungnya berdegup tak karuan mendengar itu.
"Lu bayangin deh, rasanya gimana kalau tangan cowok yang lu sayang mulai gerilya di balik baju lu," bisik Nani lagi. "Sstt! Diem, Nan! Kalau ada yang denger gimana?" Mirah mempercepat langkahnya.
Mereka sampai di persimpangan jalan desa yang dinaungi rumpun bambu yang gelap. Sebuah motor sport merah milik Fandi sudah terparkir di sana. Di sampingnya, berdiri Jaya dengan motor bebek butut yang knalpotnya sudah berkarat.
"Lama amat sihhh, Nan? Aku udah jamuran nunggu di sini," keluh Fandi. Matanya tidak membuang waktu, langsung menjelajahi tubuh Nani dan beralih ke arah Mirah dengan tatapan mengintimidasi. "Sabar dong, Sayang," jawab Nani manja sambil menempelkan dadanya ke punggung Fandi.
Fandi menyeringai, melirik Jaya yang berdiri kaku meremas ujung kaosnya yang mulai pudar. "Woi, Jay! Jangan kelamaan ngobrolnya! Gue sama Nani mau 'belajar kelompok' dulu ya buat masa depan!" seru Fandi merendahkan. Namun, ia tidak segera tancap gas, matanya tetap tertuju pada Mirah.
"Mir, lo ikut sekalian ke rumah gue. Ada syukuran kelulusan kecil-kecilan, ada makanan enak," ajak Fandi dengan nada mutlak. Mirah ragu, menatap punggung Jaya yang terlihat begitu kecil di depan motor sport mewah itu. "Tapi, Nan... gue udah janji mau pulang sama Jaya," bisiknya pelan.
"Bapak juga lagi nggak enak badan," tambah Mirah mencoba memberi alasan. "Cuma sebentar, Mir! Masa lo tega ngebiarin gue sendirian di sana sama Fandi?" Nani menarik lengan kemeja Mirah. "Gue agak ngeri kalau berdua saja di rumahnya yang segede itu," bujuk Nani.
Jaya hanya menunduk, kepasrahannya terasa seperti tamparan bagi harga diri Mirah. "Nggak apa-apa, Mir. Kalau mau ikut Nani sebentar, ikut saja," ujar Jaya pelan. "Aku tunggu di depan rumahmu saja nanti malam, aku bawakan dodol dari Ibu," tambahnya.
Mirah merasa hatinya teriris melihat ketulusan Jaya yang kontras dengan aroma parfum citrus mahal Fandi. Akhirnya, dengan perasaan tidak enak, Mirah naik ke boncengan motor sport itu. Ia duduk terjepit di antara tubuh Nani dan punggung kokoh Fandi.
Saat mesin menderu kencang, getarannya terasa asing dan mengintimidasi. Getaran itu merambat naik dari jok langsung ke pangkal pahanya. Ada sensasi panas yang nyetrum, membuat Mirah mendadak gelisah.
Mirah sempat menoleh ke belakang, menatap punggung Jaya yang perlahan menghilang ditelan debu jalanan. Ia tidak tahu bahwa keputusan ini akan menjadi awal dari kehancuran harga diri yang selama ini ia jaga. Ponsel di saku roknya tiba-tiba bergetar pendek.
Sebuah pesan singkat dari Nani masuk ke layar ponselnya. "Tenang, Mir. Malam ini lo bakal tahu rasanya jadi 'ratu'. Fandi punya kejutan buat kita," baca Mirah dalam hati. Napasnya seolah tercekat di tenggorokan, matanya menatap layar itu dengan nanar.
Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba mengusir rasa takut yang mulai merayap di tengkuknya. Motor itu melesat semakin kencang menuju rumah besar di ujung desa. Di balik kelopak matanya, bayangan wajah tulus Jaya perlahan memudar, digantikan oleh debar jantung yang menyakitkan.
Suara deru mesin motor matic tua milik Jaya melesat membelah sisa kepulan asap knalpot, meninggalkan area ruko Taman Suci yang kian menjauh di belakang lantai aspal.Ditariknya gas sedalam mungkin, membiarkan angin malam Jakarta Selatan menusuk pori-pori kulitnya yang masih berlumur sisa debu semen proyek fondasi.Kini, motor itu melambat di sebuah gang sempit, berhenti tepat di depan sebuah rumah petak kayu beratap seng yang nampak kusam.Jaya yang berhasil bersembunyi di sebuah rumah kontrakan pinggiran kota langsung mematikan mesin, melangkah masuk ke dalam ruangan pengap berukuran tiga kali tiga meter.Suasana di dalam kamar sewaan itu terasa sangat sunyi, hanya ditemani oleh derit suara nyamuk yang melintas di dekat tumpukan kasur lepek.Jaya mendudukkan bokongnya di atas lantai semen tanpa alas, meletakkan benda jarahannya dengan telapak tangan yang masih gemetaran karena sisa kepanikan.Ditariknya napas pendek, mencoba menenangkan deb
Pecahan kaca botol masih berdenting pelan di lantai ruang arsip atas, beradu dengan teriakan histeris Nani yang kian melengking membelah kegelapan ruko.Jaya melompat bebas melewati celah kusen jendela lantai dua, mendarat dengan mulus di atas gundukan pasir basah proyek pelataran depan Jakarta Selatan.Grip tangan kasarnya meremas erat amplop cokelat tebal berisi cetak biru sandera Elang, menyembunyikannya ke balik lipatan hoodie hitam lusuhnya.Kini, sorot lampu jauh dari mobil Mercedes-Benz milik Fandi mendadak menyala terang, memotong kegelapan malam dengan kilatan putih yang membutakan mata.Fandi bersama barisan pengawal pusat Agam langsung bergerak taktis, memulai aksi sweeping besar-besaran untuk mencari sosok pencuri tersebut."Heh, itu ada bayangan orang di dekat tumpukan batako! Kepung area perancah depan sekarang juga!" teriak sang komandan pengawal beringas."Aa... anu, Mas Fandi, be-beneran itu cuma kucing garong lewat, ta-tapi
Gagang besi pintu darurat itu mendadak sunyi kembali, menyisakan deru napas Jaya yang melebur bersama sisa kabut fajar Jakarta Selatan.Mirah masih berdiri mematung di balik selot kunci, meraba permukaan dadanya yang tertutup sisa kain kemben hijau VVIP yang kusut.Kini, waktu merambat sangat cepat menuju jam sibuk malam hari, mengubah atmosfer lobi menjadi arena perburuan paket 'pijat yuk mas' yang bising.'Gusti, si Sari udah siap di panel listrik selasar tengah, modal nekat ini beneran penentu hidup matinya Elang,' batin Mirah bergejolak.Suasana koridor lantai dua ruko Taman Suci nampak lengang, sebagian besar pengawal pusat sedang sibuk memantau tamu kementerian di bawah.Jaya menyelinap masuk melalui celah jendela ruang arsip utama ruko, bergerak tanpa alas kaki agar tidak memicu derit lantai tripleks.Dia membawa sebatang linggis besi kecil berukuran tiga puluh senti, hasil curian dari tumpukan material proyek fondasi tadi siang.
Kertas draf baru mendarat kasar di atas nampan kosmetik, bergoyang pelan di antara sisa botol minyak cendana yang retak.Agam mendengus, sorot matanya mengunci wajah Mirah yang masih berbalut kain kemben hijau VVIP sisa pelarian kamar atas.Suasana subuh di lobi utama ruko Taman Suci Jakarta Selatan mendadak mati suri, menyisakan deru napas penuh intimidasi.'Gusti, si Agam beneran udah dibutakan sama duitnya Fandi, takhta gue dipreteli sampai gak bersisa,' ratap Mirah dalam batinnya yang hancur.Kini, Nani melangkah maju dengan tawa yang tertahan, memperlihatkan dokumen hitam berlogo resmi korporasi Elegance Spa.Agam yang tergiur suntikan modal baru dari Fandi resmi menandatangani surat pemotongan otoritas manajer milik Mirah sepihak.Alasannya simpel, sang bandar besar butuh dana segar berlipat ganda untuk menebus garis polisi ruko Barat yang menyita omzet utamanya."Mulai besok subuh, setiap gerak-gerik lo bakal diawasi langsung s












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.