"Kenapa diam saja? Kamu takut?" Pak Broto mendekat, aroma wiski murah bercampur cerutu mahal mengepung indra penciuman. Mirah tersentak, punggungnya tertahan pintu kayu jati yang kokoh dan dingin, sementara jantungnya berdegup. Ia teringat Jaya yang selalu memperlakukannya dengan sangat sopan, sebuah kontras yang membuat ulu hatinya terasa nyeri dan sesak.Pak Broto meraih dagu Mirah, memaksanya mendongak untuk menatap mata yang keruh oleh alkohol dan obsesi. "Jaya nggak akan bisa kasih kamu apa yang saya kasih malam ini, Mirah. Dengan uang ini, bapakmu bisa operasi. Kamu mau bapakmu selamat, kan?". Mantra itu menghantam pertahanan terakhir Mirah, memaksanya memejamkan mata rapat-rapat saat air matanya jatuh merusak riasan tebal."Bagus. Sekarang, lupakan desa. Lupakan sawah. Malam ini, cuma ada saya dan kamu," bisik Pak Broto sembari membuka kancing kemeja Mirah satu per satu dengan jemarinya. Kemeja transparan itu perlahan melorot, jatuh ke karpet tebal tanpa suara, meninggalkan Mir
Last Updated : 2026-02-21 Read more