MasukJean and Marie studying at Liberal International School became classmates and shared something more than what just friends would share. They stood their ground of being best friends, but they were on the way to becoming something more. Because their country had certain restrictions that would cause hindrance in letting them stay together in the way that they wanted to, will both of them be able to fight against all odds or will they be forced to surrender all hope?
Lihat lebih banyak"Maaf, Nyonya. Keadaan Tuan Altan semakin memburuk. Dan kondisinya akan semakin memburuk lagi jika tidak segera melakukan operasi donor jantung."
"Daddy, hiks!" Zehra menatap sang daddy yang terbaring semakin lemah. Tak ada yang bisa mereka lakukan selain hanya menangis dan meratapi nasib itu. Zehra menyeka air matanya. "Nyonya, bagaimana? Apa operasinya bisa secepatnya dilakukan? Keadaan Tuan Altan sudah tidak memungkinkan untuk bertahan lagi." "Astaghfirullah, apa yang harus aku lakukan? Semua harta Daddy sudah dibekukan. Darimana aku bisa mendapatkan biaya untuk operasi donor jantung Daddy?" Zehra keluar ruangan sang Dady, lalu duduk di bangku tunggu pasien dengan menyenderkan tubuhnya yang lelah. Dengan pikiran kusutnya, Zehra beranjak mengambil beda pipih miliknya. "Aku coba hubungi Uncle Jack lagi, deh. Semoga Uncle Jack kali ini aktif dan membantuku membiayai operasi Daddy." Sekian detik Zehra kembali menunggu panggilannya diangkat, namun, nyatanya pemilik nomer itu tak ingin bicara dengan gadis itu. "Agrh! Kalian tidak punya hati!" Zehra tak ingin putus asa. Digulirnya kembali nomor-nomor saudara sang mommy juga sang daddy. Dengan harapan masih ada saudara yang masih memiliki hati nurani untuk membantunya. "Aunty Merry, bismilah semoga Aunty Merry mau membantuku." Lagi, Zehra harus kembali kecewa karena lagi-lagi pemilik nomer itu tak ingin bicara dengannya. Air mata Zehra kembali mengalir deras begitu saja. Dunia seakan benar-benar meninggalkan keluarganya ketika mereka berada di posisi terendah seperti saat ini karena kasus korupsi yang dialami oleh Altan, daddy Zehra. "Aku pastikan kalian akan menyesal karena membuat Daddy menungguku, hiks!" rutuk Zehra dengan dada yang kembang kempis menahan amarah. Zehra pun memutuskan untuk pergi dari rumah sakit mencari bantuan. Satu persatu saudara dari Dewi juga Altan telah Zehra datangi dan hubungi. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang mau membantunya dengan alasan takut terseret kasus yang tengah dihadapi daddy Zehra. "Aku harus kuat demi Daddy, aku yakin pasti ada jalannya." Zehra kembali melangkahkan kaki menuju satu perusahaan yang selama ini memiliki kerja sama dengan perusahaan sang daddy sangat baik. "Saya mohon, Tuan. Saya janji akan segera mengembalikan uang itu ketika saya sudah memiliki uang." "Maafkan kami, Nona. Tapi, bagaimana mungkin kami percaya jika Anda akan segera mengembalikan uang kami dalam waktu dekat jika sampai saat ini Anda saja tidak memiliki pekerjaan? Setidaknya harus ada jaminan agar kami bisa percaya, Nona." Zehra mengepalkan tangannya mendengar ucapan salah satu rekan bisnis sang daddy yang dikira begitu dekat, nyatanya memang orang asing. "Tapi Tuan adalah rekan bisnis Daddy yang begitu dekat, bukan? Tidakkah Anda merasa kasihan pada daddyku?" Zehra tak ingin membuang-buang waktu, karena Zehra sadar masih ada hal yang lebih penting dari itu. Zehra kembali menaiki motor maticnya meninggalkan kediaman perusahaan itu. Hatinya lelah, tapi gadis itu harus kuat demi sang daddy. Jam terus berputar. Jiwa dan raga Zehra pun sudah letih berjalan kesana kemari mencari bantuan untuk sang daddy. Namun, nyatanya sampai detik itu juga belum ada orang yang mau menolongnya. "Ya Allah, kenapa semua ini datang bertubi-tubi? Apa aku akan kuat? Aagrh!!" Brak!! Motor Zehra terjatuh tertabrak mobil karena tidak lihat kanan kiri saat di pertigaan. Zehra mengerjapkan matanya yang mulai kunang-kunang. Sekilas terlihat seorang wanita juga pria menghampiri Zehra sebelum akhirnya mata Zehra terpejam. Setelah beberapa menit Zehra memejamkan mata, gadis itu akhirnya tersadar. "Daddy!" Dada Zehra kembang kempis karena memimpikan sang daddy. "Astaghfirullah, alhamdulilah ... ini hanya mimpi." Dengan segera, Zehra beranjak dari baringannya. "Daddy." "E eh, tunggu!" Wanita itu menahan tubuh Zehra. "Apa kamu sudah baikan?" Zehra mengamati wanita dewasa yang terlihat sangat cantik dengan baju bahkan lipstik mahalnya. "Aku sudah tidak apa-apa, Nyonya." Wanita itu terlihat tersenyum, lalu memberikan handphone milik Zehra. "Ooh syukurlah, aku minta maaf karena tidak melihatmu nyebrang tadi. Ini, sejak tadi handphonemu berdering." Zehra segera mengambil handphonenya. "Mommy?" Zehra langsung kembali menghubungi nomor sang mommy karena takut ada hal penting tentang daddynya. "Moms, maaf aku--apa?" Wanita tadi ikut terkejut mendengar sentakan Zehra. "Ada apa? Apa ada terjadi sesuatu pada keluargamu?" Zehra menatap wanita cantik itu dengan sendu. "Aku harus pergi, daddyku kritis." Gadis berpasmina hitam itu beranjak dan langsung menaiki motor maticnya dengan tidak peduli pada keadaanya. "Daddy, hiks!" Zehra tidak peduli pada lututnya yang terluka. Gadis itu berlari ke ruangan sang daddy dengan deraian air mata. Langkahnya berakhir gontai melihat dokter dan para suster tengah mengecek keadaan sang daddy. "Daddy." "Nyonya, Tuan Altan sudah bisa bertahan lama lagi. Kondisinya sudah kritis. Jika tidak melakukan operasi sekarang, maka nyawanya ...." Ucapan sang dokter terhenti mendengar teriakkan Zehra menghampiri sang daddy. "Tidak, Dokter! Tolong selamatkan daddyku, hiks!" Zehra memeluk tubuh sang mommy yang hanya bisa menangisi nasib mereka. "Mungkin kita harus ikhlas, Zehra, hiks!" "Tidak, Mommy, hiks! Aku tidak mau kehilangan Daddy." "Sepertinya aku bisa membantumu, gadis muda." Zehra menoleh pada arah suara wanita yang tiba-tiba masuk ke ruangan Altan. Anak dan istri dari Altan itu saling lirik antara senang dan tidak percaya. Siapa wanita itu? Mengapa dia mau membantu mereka? "Nyonya, Anda ke sini?" Zehra menatap wanita itu heran karena mengikutinya sampai ke rumah sakit. Wanita cantik yang ternyata adalah wanita yang sudah menabrak Zehra tadi, tersenyum tipis melihat raut sendu dari Zehra dan dan ibunya. Wanita itu pun membawa Zehra dan Dewi ke tempat lain untuk berdialog. Setelah suasana tenang, bibir seksi wanita itu mulai berbicara. "Sebelumnya, perkenalkan ... namaku, Laura." Wanita bernama Laura itu mengulurkan tangan lembutnya pada Zehra. "Apa kamu tidak mengenalku?" Zehra menggelengkan kepalanya dengan membalas uluran tangan Laura. "Maaf, mungkin Anda wanita baik yang sudah mengobati tadi." Bibir seksi wanita itu tersenyum tipis mendengar jawaban Zehra. "He he. Baiklah, lupakan! Siapa namamu?" "Zehra." "Zehra? Cantik, tapi lebih cantik namaku, he he. Okey, jadi begini ...." Laura pun mulai membicarakan maksud dan tujuannya berbicara dengan Zehra. Tak ada yang ingin Zehra ucapkan selain kata gila mendengar penuturan Laura. Bagaimana mungkin seorang istri lebih memilih suaminya menikah lagi dengan wanita lain untuk mendapatkan keturunan sebab alasan dirinya tidak mau memberikan keturunan itu. "Astaghfirullah!" Zehra tersentak mendengar penuturan Laura tentang apa yang harus disetujuinya sebelum Laura membantu Zehra. "Anda gila, Nyonya! Saya tidak mau!" sentak Zehra yang langsung berdiri meninggalkan wanita itu. "Kamu yakin, Zehra? Aku akan membiayai semua operasi daddymu tidak kamu bersedia," ujar si wanita yang membuat langkah Zehra terhenti.The silence after Marie’s question was killing. It took a little while for Jean to come back to the reality from what was going on in her mind. She was thinking about how she would cope with Marie being gone, and how they would keep in touch with each other. Primarily, the thing that was disturbing her was the fact that she would be left without friends again as other batchmates did not fondly accept her different likings.But because Marie had put forward a serious question, Jean answered, “Because you are going away tomorrow.”“I am here with you now,” Marie mentioned and asked, “Why don’t we make full use of that instead of getting upset over something which neither of us can change?!”It was a rhetorical question; Jean understood that, and she responded, “That is logical. I want to have the best memories with you.”“I am not dying; just going away,” Mar
Marie and Jean were lost in each other’s arms, and they had completely disconnected themselves with the world. They were involved only in the feeling that they were getting at the present time. It was a beautiful scenario which was sparkling with the freshness that their smiles were beaming out. If anyone were to see them, they would have agreed that beautiful was just an underrated word for that moment.Just as soon as Mr. Jones reached closer to his daughter, Marie and Jean got done with their hug, and they were letting go of each other. That is when Mr. Jones said, “Marie, won’t you introduce your friend to me?”“Yes, daddy. Jean, meet my father and dad, meet my best friend, Jean.”“Hello, sir!” Jean greeted him, and she initiated a handshake with him as she continued, “It is a pleasure to meet you.”“Likewise,” Mr. Jones responded and was impressed with
Marie woke up the next morning with a weird feeling. She was excited to meet Jean after the holidays in which different feelings were experienced between both of them. A few of the things that they had done were big enough to create a lasting expression for life. They were not the little things but quite a lot according to their age.Besides, they were both unsure of who they actually were. They liked being together but also to the level that they didn't need anyone else, and not just figuratively but also literally. Being with the boys stopped appealing to them even though their friends and other people their age were crazy about talking to the opposite gender and being friends with them.Marie was in the best school, and her parents pulling her out of it was not easy for either party. But because of the doubts that appeared in their minds about her liking some other girl, forced them to take such a step. The society wasn't really accepting
Listening to her dad, Marie felt a heavy lump in her throat. Unable to decide if she should be happy about finally getting to stay at home with her dad and the family after such a long time, or whether she should be sad about having to call off her friendship with Jean. Because the two things which Marie wanted for the rest of her life were not possible to happen at once. It was either this or that.For a young girl like her, it was a tough choice to make. She had always wanted to stay at home with her family just like the rest of her friends and everybody whom she had known. Youngsters her age stayed in the family and kept very happy about the little things which they got to do at home. During the time when they discussed such things, Marie dreamt if it was ever going to be possible for her to feel just the same and not be separated from her family members after a couple of days or weeks.But the depressing part about it was that even thoug
A couple of strokes that Jean was giving Marie on her lower back were making both of them wet. But because they did not know much about what had to be done, they were not doing anything more except Jean feeling Marie and Marie letting her touch the way Jean wanted. Marie had her eyes closed to fe
Tears rolled down from Marie’s eyes as soon as Mr. Jones placed his palm on her cheek, giving her a comforting touch. By this time, he had already made up his mind for what had to be done next to avoid Marie doing anything that would cause her trouble in the country that they lived in. But
Mr. Jones was completely shocked and could not believe what he heard Delilah say out loud. He never thought of assuming that his very own daughter, Marie, would be in to people of the same gender to which she also belonged. He did not want to trust his wife and wanted to ask Marie, but at least f
It took Delilah less than a minute to be shattered completely and to get a feeling to be on the other side. She certainly had her own reasons to have been involved with the handsome hunk from the neighborhood, but that was only because Mr. Jones was always at work. Delilah’s age was such th






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan