MasukLeon is an Omega, a secret his desperate mother has hidden for years. When his ruthless father, Alpha Zane Darkwood, discovers the truth, he makes Leon a brutal offer: infiltrate the elite Dunaris Academy as his other son or watch his mother die. Now, Leon must survive in a school for Alphas while spying on their greatest enemy, the Crescent heir, all to save his mother, he must play the part of the alpha brother he never knew. But unbeknownst to him, this brother of his has a secret, one crazy enough to turn the tides of his entire mission and drag him deeper into the dangerous world of Alphas.
Lihat lebih banyak"Pakai ini." Andreas mengulurkan lingerie merah. "Biar tambah panas," ucapnya kemudian sembari mengedipkan matanya.
Aku menerima lingerie, lalu tertunduk malu. Rautku pasti semerah warna lingerie.
"Aku tunggu di sini," ujar Andreas, menepuk-nepuk tempat tidur.
Dengan perasaan yang tak keruan, aku masuk kamar mandi. Memakai lingerie. Pantulan diri pada cermin membuatku semakin tersipu malu. Lekuk tubuh ini samar terlihat.
Aku menarik napas dalam. Andreas adalah suamiku, jadi tidak perlu malu. Membayangkan malam pertama yang bakalan kami lewati, membuat degup jantung melesat cepat. Mendadak hasrat meledak sempurna.
Perlahan aku menguak pintu kamar mandi. Lagi, aku tertunduk dalam seraya melangkah ke tempat tidur. Namun, suamiku tidak ada.
"Andreas," panggilku, memindai setiap sudut kamar. "Andreas ...."
Ke mana dia? Apa mungkin dia keluar kamar? Aku meraih jubah kimono yang tersampir di kursi.
Tiba-tiba lampu kamar mati ketika kaki hendak berjalan ke arah pintu. Embusan hangat pada tengkuk dan tangan yang melingkar di pinggang membuatku terkejut setengah mati.
"Andreas, dari mana saja?" tanyaku.
Andreas tidak menjawab, dia malah membopong tubuhku ke peraduan. Sentuhan demi sentuhan dari Andreas membuatku terseret dalam letupan indah yang tidak berkesudahan. Napas kami berkejaran pada malam yang sunyi. Debaran di dada nyaris terbakar.
Akan tetapi, aku tersadar dengan aroma citrus. Seingatku parfum Andreas beraroma bunga lili. Dan, ketika tanganku menyentuh rambut---rambutnya tebal, sepertinya sedikit bergelombang. Rambut Andreas pendek ala anggota militer.
"Siapa kamu?" Aku mendorong tubuh lelaki yang tidak kukenal, menyambar selimut untuk menutupi tubuh, dan menyalakan lampu meja di samping tempat tidur.
Seorang lelaki yang tidak kukenal tersenyum lebar. "Aku?"
Aku turun dari tempat tidur, memegang erat selimut.
"Aku lelaki yang akan menghabiskan malam bersamamu," ucapnya dingin.
"Andreas!" teriakku.
"Suamimu sudah pergi."
"Tidak mungkin." Aku mengambil tas di atas meja rias. Ponselku tidak ada di dalam tas, sehingga aku menumpahkan semua isi tas di lantai. Tetapi, ponselku tidak ketemu. Aku mencari ke setiap sudut kamar dengan kebingungan.
"Kara, Andreas menjual dirimu seharga mobil dan menyewakan selama satu bulan untuk melayaniku," kata lelaki bermata cokelat itu.
"Dari mana kamu tahu namaku?" Aku merapat ke pintu, mencoba membuka pintu. Aku sangat ketakutan. "Andreas, tolong!"
Berkali-kali aku menggerakkan pegangan pintu, berharap ada keajaiban pintu bisa terbuka.
"Andreas tidak akan datang, Kara Sayang. Dia sudah meninggalkan vila."
Aku menoleh, lelaki yang tubuhnya tidak tertutup sehelai benang pun itu berjalan mendekat.
"Andreas, tolong! Andreas!" Aku menggedor-gedor pintu.
"Jika kamu menurut, aku tidak akan kasar dan kamu tidak akan kesakitan." Wajah itu menyeringai mengerikan. Kedua tangannya mencengkeram kuat pundakku.
"Lepaskan! Andreas! Tolong!"
Teriakanku percuma. Tidak bisa menembus dinding kamar. Perlawananku pun tidak bisa menyelamatkan kehormatanku.
***Lelaki itu tidur nyenyak setelah menjamah paksa tubuh ini. Sementara aku meringkuk di atas sofa, meratapi nasib. Aku masih tidak percaya Andreas menjualku demi uang. Aku mengenal Andreas dua bulan yang lalu, dia dari keluarga terpandang, ayahnya seorang pejabat. Status Andreas duda tanpa anak, istrinya meninggal dalam sebuah kecelakaan empat bulan yang lalu.Andreas sangat sopan dan ramah, itu yang membuatku jatuh hati dan menerima lamarannya. Aku yang hanya buruh pabrik dan yatim piatu tentu saja bahagia. Lelaki tampan serta pujaan para perempuan memilihku sebagai istrinya. Aku tidak berpikir dua kali, karena usiaku dua puluh sembilan tahun. Dan, yang pasti karena rasa cinta.
Aku mengusap butir air mata yang luruh di pelipis dan membasahi bantal. Masih saja mengingkari kenyataan--tidak mungkin Andreas berbuat kejam dan biadab--mungkin saja lelaki itu berbohong. Atau mungkin saja Andreas disekap di suatu tempat.
"Tidak mungkin, tidak mungkin ...." desisku.
Ingin kabur tidak bisa, jendela kaca dengan teralis besi dan pintu kayu itu cukup tebal. Tubuhku lelah dan perih, yang bisa kulakukan hanya tetap bisa terjaga sepanjang malam.
"Kara ...."
Sentuhan hangat terasa di pipi lalu di hidung. Refleks, aku terbangun. Denyut-denyut nadiku berantakan karena terkejut. Ya, Tuhan, aku terlelap. Mataku mengerjap, wajah lelaki bejat itu sangat dekat.
"Apa yang ingin kau lakukan?!" Aku langsung berdiri dan menjauh.
"Rupanya kamu kelelahan." Lelaki itu mengambil jas yang tergeletak di lantai. "Ayo, keluar, kita akan ke rumahku. Di sana kita akan memadu kasih setiap malam."
Aku menggeleng. "Tinggalkan aku."
"Oh, tidak bisa, Nona cantik. Aku sudah membeli dan menyewamu," katanya, "ngomong-ngomong mungkin kamu ingin menyimpan seprai? Usiamu sudah tidak muda lagi, tapi kamu masih perawan. Ternyata Andreas tidak berbohong."
Mataku melihat ke arah seprai, noda merah membuat dadaku sesak. Rasa pedih merayapi hati. Kedua tanganku mengepal kuat, hingga kuku-kuku menghujam.
Lelaki itu menyeretku keluar kamar, aku tersuruk-suruk mengikuti langkahnya. Cengkeramannya kuat sekali.
"Tolong, lepaskan aku." Aku mengiba. Aku tidak ingin berakhir dalam dekapan lelaki bejat itu.
"Selamat pagi, Pak Angkasa," sapa seorang lelaki yang berdiri di sisi mobil, dia kemudian membuka pintu mobil.
Aku menggigit tangan lelaki yang bernama Angkasa itu. Dia berteriak dan mengumpat. Namun, tidak membuatnya melepaskan cengkeraman. Tubuhku didorong masuk ke mobil, hampir tersungkur di jok belakang.
Mobil sedan meluncur. Pada garis batas, langit mulai terang dengan warna kemerahan. Aku telah melalui malam laknat. Aku tidak ingin melaluinya lagi. Tidak.
Aku harus bisa kabur, lari dari lelaki yang duduk di sebelahku. Mobil berhenti karena lampu merah. Aku beruntung, karena sistem autolock pada mobil sepertinya rusak, sehingga aku bisa membuka pintu mobil. Andreas sempat meraih ujung kemejaku, tetapi tidak bisa mencegahku keluar mobil.
"Kara, kembali!"
Lampu yang berubah hijau menyelamatkan diriku. Terus berlari menyusuri trotoar jalan dengan bertelanjang kaki. Aku baru berhenti setelah sepuluh menit lari. Tidak ada Angkasa di belakangku.
Aku duduk pada bangku trotoar, telapak kaki berdarah sedikit karena tergores batu. Menyelaraskan napas yang hampir habis. Ke mana tujuanku sekarang? Menghubungi Andreas? Aku bimbang. Kalaupun dia tidak menjualku, dia pasti tidak menerima istri yang telah ternoda.
Setelah merasa cukup istirahat, aku melangkah perlahan. Aku akan pulang ke rumahku sendiri.
"Kara!"
Aku menoleh, Bu Zunaira--mertuaku--turun dari mobil. Dia memelukku.
"Kara, telah terjadi pada Andreas tadi malam. Kami mencoba meneleponmu, tetapi ponselmu tidak aktif. Kenapa kondisimu memprihatinkan begini?" Bu Zunaira melepas pelukan dan melihat diriku dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Apa yang terjadi dengan Andreas, Bu?"
"Dia diculik."
"Diculik? Tapi--"
"Kita pulang dulu, ya, Nak." Bu Zunaira membimbingku masuk mobil. "Tenangkan dirimu, pasti Andreas baik-baik saja."
Aku antara percaya dan tidak. Tapi, mungkin saja bisa terjadi. Apa Angkasa yang menculik Andreas tadi malam? Bu Zunaira tampak tegang, dia memegang jemari tanganku. Sementara mobil membelah jalan raya yang mulai hidup.
"Rumah siapa, Bu?" tanyaku saat mobil merapat di rumah besar berpagar tinggi.
"Rumah petinggi polisi, dia yang membantu keluarga kita melacak Andreas. Seharusnya kalian berbulan madu, malah kemalangan yang menimpa," jawab Bu Zunaira sebelum turun dari mobil.
Aku pun ikut turun. Dua lelaki tinggi besar mendekati kami. Lalu, dengan cepat mereka mengunci tubuhku.
"Apa-apaan kalian? Lepas!" Aku memberontak, namun sia-sia. "Bu Zunaira, tolong aku."
"Tempatmu di sini, Kara," sahut Bu Zunaira sinis.
"Apa maksudmu?" Aku tidak mengerti.
"Hei, Kara, kita berjumpa lagi." Lelaki yang memakai kemeja putih muncul dari dalam rumah.
"Bu Zunaira ...." Aku memandangi mertuaku tidak percaya. Perempuan tua itu menyerahkan aku pada Angkasa.
"Terima kasih, Bu Zunaira," ujar Angkasa.
"Tentu saya dan Andreas tidak akan mengecewakan Anda, Pak Angkasa. Uang Anda tidak akan sia-sia," sahut Bu Zunaira. "Ikat saja kaki Kara, supaya tidak lari lagi. Saya permisi dulu."
Aku serasa ditusuk-tusuk ribuan pisau, Ibu mertua dan suamiku melakukan hal biadab. Mereka berdua bak malaikat, namun pada kenyataannya, mereka iblis ....
Leon POV “Well, Leon? What will it be?” Valen asked once more, his smirk much wider and his eyes… well, they certainly were far more welcoming, like the devil waiting for the obvious prey to bite already.And seeing I'm now the prey that has no other choice that to leap into this hell, I might as well do it without showing fear.So I gave a blunt smile, barely holding my knees still up as I stretched forth my hands towards Valen, “Sure, why not, this will certainly be interesting with you,” I said, my eyes still in his.He willingly accepted my handshake, with this grip tighter than normal, “Of course it will,” he responded, before finally letting go.Yeah, I know I'm about to be serious fucked up by him but rather that than being exposed right? Right?My eyes stayed fixed on him for a second and—Ding! Ding!The class bell rang, dragging our attention back to the real world.“Great then, I'm glad we have all come to an agreement, Leon, you will start your student council training to
Leon POV “All students, proceed back into your classroom, that's enough sightseeing for today,” Sarah voiced out as she proceeded to escort the other wolves back in,“ Hey Ryker lend a hand in this okay.”With the commotion of students going on, my eyes still stayed fixed on the very angry looking Valen that walked even faster to my position.Thank goodness he shot that spare when he did, or I really would have been gone, but seriously, why is he looking so pissed off again? I didn't even do anything this time?And before my next blink, he was standing right in front of me, his face still ragging with anger as he scoffed.“Well, you certainly haven't lost that annoying charm of yours, has you Leon?” Valen said, his voice a mix of unfiltered anger.“What?” I questioned, my tone calm, my eyes unwavering to him as I was back on acting mode.And what exactly is this dude even talking about? Without another word, he pulled his spear out of the beast head, his hands instantly shifted towar
Leon POV With my entire body and soul now all crushed, I decided to use this silent moment of what I could say is the last minute of my normal life to suppress my pheromones properly.Yeah… at least if I do get caught by these two brothers, the last thing I need is for them to find out that I'm an omega and not even the real Leon they know.And as for L… just the thought of the mess this dude pulled me into continued to run free in my head.“I'm for sure going to strangle that dude when we finally meet,” I muttered in anger as I ruffled up my hair.A few minutes passed, and I was finally calm, well, my Pheromones I mean, as for me, I was still mentally drained from the info dump that had drowned me a while ago.But I can't sit in here forever, and Ryker is still outside waiting for me.I got up and opened the door up to Ryker, who had his smug smirk on.“So, you ready now?” he asked, as he moved aside for me to walk through.“And why exactly is Mr Cain asking for my attention,” I ask
Leon POV Half an hour had passed, and I was still stuck in this silence.Wow… and here I thought my life couldn't get any more complicated and messed, but now technically my step alpha of a brother dated and dumped the dude meant to get close to and spy on.And worst of all, this dude is literally our pack's enemy son! Like, what the hell was he thinking when he was in a secret relationship with Valen Crescent.The entire thought of what I had been dragged into instantly exhausted and drained me off all energy I had left, as a heavy sigh came right out my mouth, with my body falling back into the walls.“Well, Zane certainly doesn't know, I mean that ruthless tyrant would never allow his son date a crescent not to talk of their heir,” I muttered with a crank chuckle escaping my lips, as my fingers ran through my hair.And he must really adore his precious Leon, seeing he doesn't care to sacrifice me in this pit, only if he knew that his so-called perfect precious alpha of a son has b
Leon POV My mind now scattered in a million places as I tried to wake myself up from this damn dream. Wake up Leon! Wake up! You need to wake up already… “Mr Leon,” a deep structured voice snapped me out of daze as I swiftly looked back up, my eyes meeting a somewhat middle-aged man, who I'm
Leon POV “Did you miss me? My love,” My mystery Mr V asked, his voice as deep and smooth as always, but love?Love really? That's weird, he never calls me weird, or reaches for my face this softly.“Love,” he called again, his voice softer but more demanding than before.I couldn't help but chuckl






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.