MasukDada Thalia berdesir hebat saat tangan Zacky bergerak aktif di balik blazer abu-abunya, menyusup ke pinggang mulusnya dengan sentuhan hangat yang memabukkan. Kehangatan dan rasa aman yang diberikan Zacky sepenuhnya mengikis sisa-sisa trauma dan ketakutan akan ancaman teror yang baru saja mereka baca."Mmphh... Zacky... Ini masih pagi..." cicit Thalia terbata-bata saat Zacky melepaskan pertautan bibir mereka sejenak untuk mengecup ceruk lehernya yang mulus."Justru itu yang membuatku semangat, Thalia," pangkas Zacky kaku di leher Thalia, suaranya berat dan penuh gairah. "Aku selalu menginginkanmu..""Tapi jam kerja masih baru dimulai, Pak Zacky..." protes Thalia pelan, walau jari tangannya justru meremas bahu kokoh Zacky makin erat.Zacky menyunggingkan senyum tipis. Pria itu mengangkat tubuh ringan Thalia, membawanya duduk di atas meja kerja yang luas, menggeser beberapa map berkas. Mengungkung tubuh Thalia di antara kedua tangannya, menatap dalam ke manik mata cokelat gadis it
"Zacky..." cicit Thalia lirih, suaranya gemetar saat manik mata melihat Zacky baru saja melangkah keluar dari pintu ruang kerja utama.Zacky berjalan mendekat dengan langkah lebar yang tegas. Manik matanya yang tajam langsung terkunci pada sesuatu dalam genggaman tangan Thalia yang gemetaran."Apa yang kalian sembunyikan dariku?" tanya Zacky dengan nada suara sangat rendah dan penuh intimidasi.Ivan menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Maafkan saya, Pak Zacky. Saya baru saja mau melaporkan hal ini pada Anda setelah memastikan keabsahan dokumen dari pihak kejaksaan."Zacky tidak membalas ucapan Ivan. Tangannya meraih foto tersebut dari genggaman Thalia. Saat matanya membaca setiap deretan kalimat betinta merah pekat di atas kertas hitam itu, rahang Zacky mengetat keras. Aura mematikan yang sangat dingin seketika tampak jelas dari tubuh tegapnya."Keracunan di dalam sel isolasi..." desis Zacky kaku, suaranya terdengar bagaika
Pintu kamar VIP kembali tertutup rapat. Suara jeritan histeris Sabrina perlahan menghilang di kejauhan koridor, menyisakan suasana hening yang berat di dalam ruangan. Nyonya Tamara terduduk lemas di sofa ruang tunggu, menutupi wajahnya dengan kedua tangan sambil terisak pelan. Rasa syok dan kekecewaan yang mendalam terpancar jelas dari bahunya yang gemetaran. Thalia menghembuskan napas panjang, melepaskan ketegangan yang sempat mengepung dadanya. Ia melangkah mendekati Nyonya Tamara, lalu berlutut perlahan di samping sofa wanita paruh baya tersebut. "Mama..." panggil Thalia lembut, mengulurkan tangannya dan mengusap jemari Nyonya Tamara dengan penuh rasa iba. "Mama yang sabar ya..." Nyonya Tamara menurunkan tangannya, menatap wajah cantik Thalia dengan mata yang sembab oleh air mata. Rasa bersalah seketika memenuhi hati Nyonya Tamara saat mengingat bagaimana ia dulu sempat meragukan Thalia dan membela S
”Zacky... Tunggu! Kamu modus aja nih!” protes Thalia sambil mendorong tubuh Zacky. “Lagian, aku kan kesana buat bantu kamu..." bisik Thalia lirih, mengulurkan kedua tangannya dan melingkarkannya di leher tegap pria itu. “Tetap saja tidak patuh! Jadi hukuman setiap hari berlalu..” Tangan Zacky menarik tubuh Thalia merapat ke tubuhnya. Rasa bahagia dan cinta terlihat tulus dari mata coklatnya. "Baiklah... Kalau Pak CEO mau kasih hukuman... Aku gak bakal lari kok." Zacky menyunggingkan senyum sensual yang sangat memikat. Tanpa memberikan celah sedikitpun, pria itu menundukkan kepala dan mendaratkan ciuman yang sangat dalam, panas, dan memabukkan di atas bibir Thalia. "Mmphh... Zacky..." desah Thalia halus, membalas tautan bibir pria itu dengan penuh rasa cinta mendalam. Zacky mengangkat tubuh ramping Thalia ke dalam gendongannya tanpa memutuskan tautan bibir mereka. Langkah tegap pria itu mem
Thalia duduk di kursi belakang, meremas flashdisk hitam di tangannya sementara Ivan fokus mengemudi di balik kemudi menuju Rumah Sakit Medika Alvarez tempat Sabrina dirawat. "Pak Ivan, tolong hubungi Pak Zacky," pangkas Thalia dengan nada suara sangat yakin. "Minta Pak Zacky datang langsung ke kamar VIP Sabrina sekarang juga. Kita bongkar semuanya hari ini di depan Nyonya Tamara."Ivan melirik melalui kaca spion dalam, menyunggingkan senyum tipis kagum. "Sudah dilaksanakan, Nona Thalia. Pak Zacky sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit bersama tim pengaman utama.""Bagus," pangkas Thalia dingin.Beberapa menit kemudian, kendaraan mereka tiba di pelataran VIP Rumah Sakit Medika Alvarez. Thalia melangkah turun dengan penuh percaya diri. Blazer abu-abunya terpasang rapi, dan matanya memancarkan keberanian yang nyata.Di koridor khusus lantai teratas, Zacky sudah berdiri tegap bersama dua pengawal pribadi. Begitu melihat Thalia melangkah mendekat, pandangan mata pekat Zacky sek
Thalia mengangkat kepalanya mantap. "Aku akan pergi menemui Maya sekarang, Pak Ivan."Zacky seketika berdiri dari kursinya. "Tidak, Thalia. Itu terlalu berbahaya. Kita tidak tahu apakah ini jebakan baru lagi.""Zacky, dengarkan aku," potong Thalia cepat, melangkah mendekati meja kerja Zacky tanpa rasa ragu.Thalia menatap lurus manik mata hitam Zacky dengan keberanian yang sangat nyata. "Maya minta ketemu aku karena dia merasa bersalah sama aku. Kalau kamu atau Pak Ivan yang datang dengan pengawalan ketat, Maya pasti bakal takut dan tutup mulut lagi. Biarkan aku yang bicara sama dia.""Thalia—""Aku gak bakal sendirian, Zacky," tegaskan Thalia dengan senyuman percaya diri. "Pak Ivan bisa ikut dan berdiri di luar kamar. Aku cuma butuh lima belas menit untuk dengar pengakuan Maya."Zacky menatap Thalia cukup lama. Rasa khawatir yang luar biasa berkecamuk dalam hatinya, namun melihat keteguhan dan keberanian yang jelas dari mata cokelat gadisnya, Zacky akhirnya menghembuskan napa







