ANMELDENSuara perekat kimia yang larut terdengar halus. Dengan perlahan dan sangat hati-hati, dokter menjepit ujung lapisan tipis bercorak pori-pori kulit di leher pasien, lalu menariknya perlahan ke atas.Plak... Srrkk!Lapisan kulit sintetis tersebut terkelupas. Sebuah topeng prototipe silikon fleksibel berteknologi tinggi yang dirancang begitu halus hingga mampu menirukan lekuk wajah, pori-pori, hingga warna kulit asli Arjuna terlepas sepenuhnya dari wajah pria di atas ranjang. Di balik topeng buatan yang sempurna itu, terkuak raut wajah pria asing berusia tiga puluhan dengan struktur tulang pipi dan rahang yang sangat berbeda dari Arjuna!DEG!"Apa-apaan ini?!" pekik Zacky terperanjat, matanya membelalak lebar. "Wajah di balik topeng ini... Ternyata dia bukan Arjuna?!"Thalia menahan nafasnya sejenak. Manik matanya menatap topeng silikon di tangan dokter, lalu beralih menatap wajah asing pria tersebut. Kepalanya berputar cepat merangkai fakta-fakta yang ada."Zacky..." panggil
l"Pak Ivan, apa hasil analisis awal tim medis mengenai kondisi pria yang koma itu?" tanya Thalia dengan nada suara yang tenang dan penuh percaya diri.Gadis itu berdiri tegak di samping meja kerja Zacky, tidak ada lagi raut ketakutan atau tubuh gemetar di wajah cantiknya. Keberanian yang tumbuh dalam dirinya, serta rasa percaya pada perlindungan Zacky, membuat Thalia tampil begitu dewasa dan berani menghadapi setiap teka-teki yang muncul.Ivan yang baru saja melangkah masuk ke dalam ruang kerja utama langsung membungkuk hormat dan sedikit terkejut dengan pertanyaan Thalia. "Nona Thalia, Pak Zacky... Tim medis di fasilitas pribadi Alvarez Group menemukan ketidakwajaran fisik pada tubuh pasien saat hendak memasang alat bantu napas tambahan."Zacky mengangkat kepalanya pelan dari dokumen di mejanya. Manik mata menyala tajam, menunjukkan ekspresi dingin yang nyata. "Ketidakwajaran apa, Ivan?""Ada anomali pada tekstur kulit di sekitar leher dan belakang telinga pasien, Pak," lapor
Dada Thalia berdesir hebat saat tangan Zacky bergerak aktif di balik blazer abu-abunya, menyusup ke pinggang mulusnya dengan sentuhan hangat yang memabukkan. Kehangatan dan rasa aman yang diberikan Zacky sepenuhnya mengikis sisa-sisa trauma dan ketakutan akan ancaman teror yang baru saja mereka baca."Mmphh... Zacky... Ini masih pagi..." cicit Thalia terbata-bata saat Zacky melepaskan pertautan bibir mereka sejenak untuk mengecup ceruk lehernya yang mulus."Justru itu yang membuatku semangat, Thalia," pangkas Zacky kaku di leher Thalia, suaranya berat dan penuh gairah. "Aku selalu menginginkanmu..""Tapi jam kerja masih baru dimulai, Pak Zacky..." protes Thalia pelan, walau jari tangannya justru meremas bahu kokoh Zacky makin erat.Zacky menyunggingkan senyum tipis. Pria itu mengangkat tubuh ringan Thalia, membawanya duduk di atas meja kerja yang luas, menggeser beberapa map berkas. Mengungkung tubuh Thalia di antara kedua tangannya, menatap dalam ke manik mata cokelat gadis it
"Zacky..." cicit Thalia lirih, suaranya gemetar saat manik mata melihat Zacky baru saja melangkah keluar dari pintu ruang kerja utama.Zacky berjalan mendekat dengan langkah lebar yang tegas. Manik matanya yang tajam langsung terkunci pada sesuatu dalam genggaman tangan Thalia yang gemetaran."Apa yang kalian sembunyikan dariku?" tanya Zacky dengan nada suara sangat rendah dan penuh intimidasi.Ivan menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Maafkan saya, Pak Zacky. Saya baru saja mau melaporkan hal ini pada Anda setelah memastikan keabsahan dokumen dari pihak kejaksaan."Zacky tidak membalas ucapan Ivan. Tangannya meraih foto tersebut dari genggaman Thalia. Saat matanya membaca setiap deretan kalimat betinta merah pekat di atas kertas hitam itu, rahang Zacky mengetat keras. Aura mematikan yang sangat dingin seketika tampak jelas dari tubuh tegapnya."Keracunan di dalam sel isolasi..." desis Zacky kaku, suaranya terdengar bagaika
Pintu kamar VIP kembali tertutup rapat. Suara jeritan histeris Sabrina perlahan menghilang di kejauhan koridor, menyisakan suasana hening yang berat di dalam ruangan. Nyonya Tamara terduduk lemas di sofa ruang tunggu, menutupi wajahnya dengan kedua tangan sambil terisak pelan. Rasa syok dan kekecewaan yang mendalam terpancar jelas dari bahunya yang gemetaran. Thalia menghembuskan napas panjang, melepaskan ketegangan yang sempat mengepung dadanya. Ia melangkah mendekati Nyonya Tamara, lalu berlutut perlahan di samping sofa wanita paruh baya tersebut. "Mama..." panggil Thalia lembut, mengulurkan tangannya dan mengusap jemari Nyonya Tamara dengan penuh rasa iba. "Mama yang sabar ya..." Nyonya Tamara menurunkan tangannya, menatap wajah cantik Thalia dengan mata yang sembab oleh air mata. Rasa bersalah seketika memenuhi hati Nyonya Tamara saat mengingat bagaimana ia dulu sempat meragukan Thalia dan membela S
”Zacky... Tunggu! Kamu modus aja nih!” protes Thalia sambil mendorong tubuh Zacky. “Lagian, aku kan kesana buat bantu kamu..." bisik Thalia lirih, mengulurkan kedua tangannya dan melingkarkannya di leher tegap pria itu. “Tetap saja tidak patuh! Jadi hukuman setiap hari berlalu..” Tangan Zacky menarik tubuh Thalia merapat ke tubuhnya. Rasa bahagia dan cinta terlihat tulus dari mata coklatnya. "Baiklah... Kalau Pak CEO mau kasih hukuman... Aku gak bakal lari kok." Zacky menyunggingkan senyum sensual yang sangat memikat. Tanpa memberikan celah sedikitpun, pria itu menundukkan kepala dan mendaratkan ciuman yang sangat dalam, panas, dan memabukkan di atas bibir Thalia. "Mmphh... Zacky..." desah Thalia halus, membalas tautan bibir pria itu dengan penuh rasa cinta mendalam. Zacky mengangkat tubuh ramping Thalia ke dalam gendongannya tanpa memutuskan tautan bibir mereka. Langkah tegap pria itu mem







