LOGINIa menarik jarinya, lalu memposisikan dirinya di atas Ivy dengan hati-hati—selalu hati-hati karena kehamilan. Lalu menopang tubuh sang istri dengan siku agar tak menekan perut berisi penerus mereka.Penisnya yang sudah tegang dan berdenyut menyentuh pintu masuk vagina Ivy, lalu masuk perlahan, sangat perlahan, hingga seluruhnya terbenam dalam kehangatan yang begitu familiar namun selalu terasa baru.“Aaaah, Ethaan! Mmmh!” Ivy mendesah dan mengerang kenikmatan sekaligus. “Aku mencintaimu,” ucap Ethan lagi saat ia mulai bergerak, dorongannya lambat tapi dalam, penuh perasaan. “Aku mencintaimu setiap kali aku masuk ke dalam dirimu seperti ini. Merasakan bagaimana kau menerimaku meski aku pernah menghancurkanmu.”Ivy merasakan setiap inci penis Ethan mengisi dirinya, dinding vaginanya menjepit erat karena kenikmatan yang semakin memuncak. Tapi yang membuatnya melayang bukan hanya sensasi fisik itu—melainkan kata-kata Ethan yang terus mengalir, satu per satu, seperti mantra yang selama
Ivy masih terpaku, matanya mengerjap seolah sedang berusaha memproses suara yang baru saja masuk ke indra pendengarannya.Selama ini, Ethan telah memberikan segalanya. Pria itu memberikan perlindungan, kekayaan, pengabdian, bahkan mengorbankan apa pun demi dirinya. Tidak ada yang tidak Ethan berikan untuknya.Namun, kalimat tiga kata itu? Ethan selalu menyimpannya di balik tindakan-tindakannya yang luar biasa sejauh ini.“Bisa kau ulangi sekali lagi?” bisik Ivy, suaranya terdengar tidak yakin.Ethan yang tadinya hendak melanjutkan langkah sambil membawa Ivy dalam genggaman eratnya, langsung menghentikan gerakannya. Ia berbalik, menatap Ivy dengan kening sedikit berkerut. “Apa?”“Tadi ... yang baru saja kau katakan.” Ivy merapatkan diri pada Ethan, jarinya meremas ujung jas sang suami. “Katakan lagi.”Ethan menghela napas pendek, sebuah senyum tipis yang sangat langka muncul di sudut bibirnya. Seakan ia menyadari sesuatu. Sekuat apa pun Ivy Harrington di ruang rapat, saat ini Ivy h
“Maafkan aku, menantuku. Semua yang telah terjadi adalah kesalahanku yang tidak bisa dimaafkan. Rasa bersalah ini akan kubawa sampai mati ...” lirihnya parau, menatap kosong ke batu nisan, “maafkan aku juga karena baru sekarang membiarkan nama keluarga kita tersemat di belakang namamu.”Ivy dan Isla maju bersamaan, berlutut di sisi nisan. Pemandangan itu sungguh menyesakkan. Dua putri yang selama ini mengira ibu mereka meninggal dengan tragis dan hilang tanpa jejak, kini akhirnya bisa menyentuh nisan tersebut.“Ibu ... kami datang,” bisik Ivy, suaranya bergetar serak. “Sekarang aku sudah bersama Isla. Ibu tidak perlu khawatir lagi. Dan aku membawa calon cucu Ibu.”Ethan berdiri beberapa langkah di belakang mereka, memberikan ruang. Ia menatap nisan itu dengan perasaan campur aduk.Ibunya adalah alasan dan penyebab utama kenapa wanita di dalam liang lahat itu menderita.Ethan merasa ini adalah tanggung jawabnya untuk setidaknya memberikan penghormatan terakhir yang layak.Tiba-tiba
Ethan bertanya sambil mendekat ke arah Ivy, lalu meletakkan tangannya di pinggang sang istri, menarik lembut ke dalam pelukan.Ivy mengangguk, menyandarkan kepalanya di bahu Ethan. “Dia hanya ingin bicara. Sepertinya dia merasa kesulitan karena kau terus mendiamkannya.”Ethan terdiam sejenak, menatap lurus ke arah jendela yang menampilkan pemandangan mansion yang nyaris beberapa waktu belakangan tidak ia lihat. “Aku tidak membenci Ibu sampai ingin mengusirnya dari hidupku, Ivy. Dia tetap ibuku. Tapi setiap kali aku melihatnya, aku diingatkan pada betapa sering kali aku hampir kehilanganmu karena ambisinya. Sulit bagiku untuk bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.”Sangat jarang bagi seorang Ethan bicara panjang lebar, apalagi mengungkapkan perasaannya. Namun apa pun yang bersangkutan langsung dengan Ivy, akan menjadikan pria yang satu ini berubah. Ia mengecup kening Ivy, tangannya mengusap perut istrinya dengan lembut. “Apa Ibu mengatakan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman? Jika
Ketika Ivy membuka pintu, sosok sang ibu mertua tampak anggun dengan gaun sutranya, namun tatapannya tidak seangkuh dulu.Tubuhnya sedikit lebih kurus, tapi sorot tajam matanya dan ekspresinya masih sama—dingin sekaligus datar saat menatapnya.“Biarkan aku masuk,” pintanya pelan, tidak bernada memaksa, namun tidak pula memohon.Ivy menghela napas. Belum apa-apa, ia sudah lelah dengan wanita satu ini. Kalau bukan karena Anastasia adalah perempuan yang telah melahirkan suaminya, mungkin ia sudah mengusir bahkan sebelum Anastasia membuka mulut. Melebarkan pintu, Ivy menyingkir dari sana dan membiarkan mertuanya masuk. Anastasia melangkah masuk dengan cepat. Ia tidak ingin ketahuan oleh siapa pun saat mengunjungi sang menantu. Karena ia tidak mau disalahpahami, apalagi oleh Ethan yang kini begitu membentengi sang istri.Ia berhenti di tengah ruangan, matanya tertuju pada perut buncit Ivy. Keheningan itu terasa berat baginya.Dari dulu, ia selalu terobsesi mencarikan pasangan yang sepad
Ethan tertawa rendah. Suaranya selalu terdengar seksi di telinga Ivy. “Permintaanmu adalah perintah bagiku, Nyonya Winchester.”Ivy pun ikut tergelak singkat.Lalu Ethan melanjutkan, “Tapi simpan dulu tenagamu, Istriku Sayang. Sepertinya kita hampir sampai.”“Oh, benarkah?” Ivy spontan terduduk tegak, sekaligus tegang.Refleks Ethan merasakan kegelisahan sang istri. “Ada apa, Sayang? Ada yang membuatmu tidak nyaman?”Menghela napas pelan, Ivy berusaha agar apa yang akan ia ungkapkan sekarang, tidak menambah beban pikiran suaminya. “Aku ... aku hanya mengkhawatirkan Isla, Ethan.”Langsung paham maksudnya, Ethan mengangguk, lalu mendekap istrinya erat-erat—cara yang ia tahu paling ampuh untuk menularkan ketenangan. “Tentang kebenaran kau dan Isla yang adalah saudara kembar dan hal lain yang berkaitan dengan itu semua, sudah diurus oleh Julian. Bahkan tanpa diminta, kakekku juga ikut turun tangan menyelesaikannya lewat berbagai media.”“Sudah sejauh itu?” Ivy terpekik tidak percaya. Buka







