ANMELDEN“Tuan...”Hayes mengangkat tangannya. “Erwin, kau masuklah lebih dulu. Aku akan menyusul,” ujarnya, masih dengan gari-garis senyuman yang enggan hilang dari wajahnya.Tawa Hayes memang telah reda, tetapi binar kebahagiaan itu masih terpancar jelas di matanya yang biasanya tampak kosong dan dingin.“Baik, Tuan.” Erwin tidak bertanya lebih jauh. Dia hanya menatap Kian selama beberapa detik, sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan area parkiran.Hayes berdiri, lalu mengulurkan tangannya yang besar. Kian ragu-ragu menerima uluran tangannya.“Kau ingin membangun rumah besar seperti ini untuk Ibumu?” tanya Hayes, kembali ke topik mereka semula.Kian langsung mengangguk kepalanya dengan semangat. “Hu'um! Ian ingin membangun rumah yang sangat besar untuk Ibu. Bagaimana caranya, Bapak Yang Terhormat?”Hayes terkekeh pelan mendengar panggilan formal itu. “Bagaimana kalau panggil Paman saja?”“Paman?”“Iya, Paman Hayes.”“Baik, Paman!”Hayes tersenyum dan menarik Kian keluar dari area park
“Mira, ini kamarmu. Kau akan tinggal di sini selama dua minggu.”Kepala pelayan menunjuk ruangan di ujung lorong lantai dua. Satu lorong dengan perpustakaan yang ‘seharusnya’ ia bersihkan.“Terima kasih, Bu Ines.”Bu Ines mengangguk singkat. Sejenak, matanya melirik Kian yang terus bersembunyi di belakang Mira. Keningnya berkerut menyadari anak itu tampak takut melihatnya.“Ya sudah, aku menunggumu di bawah,” ucapnya kemudian sebelum berbalik pergi.Mira dan Kian berdiri memperhatikan Bu Ines sampai sosoknya menghilang di belokan.“Ibu, apa itu nenek sihirnya?” tanya Kian, mendongak menatap ibunya dengan takut-takut.“Eh bukan, Sayang.” Mira buru-buru membantah. Ia berlutut, lalu merapikan rambut anaknya. “Ibu itu sangat baik, bukan nenek sihir.”“Jadi di mana nenek sihirnya?”“Nanti biar Bibi Alina sendiri yang perlihatkan, ya?” ujar Mira, hampir menepuk jidatnya sendiri. Seharusnya ia tidak membiarkan Alina merecoki pikiran Kian. Sekarang, Kian pasti akan terus memikirkan itu sampai
“Ibu, kita mau ke mana?”Kian duduk di atas tikar sambil memperhatikan ibunya yang mengepak pakaian ke dalam tas ransel.Mira menoleh dengan senyum kecil. “Untuk sementara, kita akan pindah ke tempat Ibu bekerja, Sayang. Ibu mendapat pekerjaan tambahan, jadi kita akan tinggal di sana selama dua minggu.”“Apa itu tempat yang Ibu bilang kereta api juga bisa lewat?” tanya Kian ceria, membayangkan rumah besar yang biasa ia lihat di buku dongeng.“Iya, Sayang. Tapi ingat, Kian tidak boleh nakal di sana.”“Siap!” Kian segera memberi hormat. “Ian akan menuruti apa kata Ibu.”Mira tersenyum dan menaikkan ritsleting jaket Kian sampai ke leher. Udara begitu dingin setelah hujan deras mengguyur dini hari tadi. Mira tidak ingin anaknya kembali sakit.“Ayo berangkat, Sayang. Bibi Alina pasti sudah menunggu.”Mira mengambil tasnya dan meraih tangan mungil Kian. Hari ini, Mira sengaja tidak membiarkan Kian ke TK Bintang, mengingat dia baru pulih.Mereka melewati pintu dan Kian mendadak berhenti di d
Semilir angin pagi menyapu lembut wajah Hayes yang berdiri di dekat jendela. Otaknya terus memutar senandung milik Sora. Senandung yang sama yang akan Mira nyanyikan nanti malam. Untuk ke sekian kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri—apa ia sungguh ingin mendengarkan senandung itu setiap malam? Bagaimana kalau perasaan familier itu tak kunjung hilang setelah dua minggu? Bagaimana kalau ia masih melihat Mira seolah ia tengah menatap sosok Sora? Hayes mengusap wajahnya dan melangkah ke sofa. Tepat saat ia duduk, Erwin mengetuk pintu. “Tuan, Nona Audrey sudah tiba.” “Persilakan masuk.” Pintu terbuka lebih lebar, memperlihatkan seorang wanita dalam balutan blazer dan rok pensil selutut. Sepatu hak tingginya mengetuk keramik dengan keras saat dia berjalan ke arah Hayes dengan percaya diri. Audrey Regina. Seorang maestro desain interior yang menguasai pasar kelas atas. Calon kolega bisnis Hayes. Audrey menawarkan kerja sama bisnis begitu melihat potensi dari perusahaan man
Mira menatap sisa uang yang ada di dompetnya. Setelah membayar sebagian utang dan sewa kontrakannya yang menumpuk, ia masih memiliki cukup uang untuk membeli beras dan lauk selama beberapa minggu.Uang muka dari Tuan Hayes kelewat banyak. Mira seharusnya tidak menerima uang lagi setelah kontrak senandung itu berakhir. Ia merasa tidak enak hati karena biaya rumah sakit Kian saja bukan jumlah yang sedikit.Ia bahkan belum bersenandung untuk Hayes.Apa memang... Tuan Hayes sedermawan itu?‘Aku harus bekerja lebih keras lagi,’ janjinya dalam hati.Mira mengambil bibit kacang koro yang dibelinya dan bergegas naik ke kamar rawat Kian. Pagi itu, Mira ingin memastikan Kian sarapan terlebih dahulu sebelum pergi ke mansion Tuan Hayes.Mira mendorong pintu terbuka dengan senyum mengembang. “Ian Sayang, lihat Ibu beli apa?”Di atas sofa, Kian mendongak penasaran. Dokter sudah memperbolehkannya untuk turun dari ranjang, jadi ia mulai bermain mobil-mobilan di sofa. “Ibu bawa apa?” tanyanya antusias
Suasana di dalam rumah kecil itu mendadak sunyi senyap, menyisakan suara detak jam dinding di sudut. Mira terpaku di tempatnya berdiri, menatap Nathan dengan mata membulat tidak percaya.“Nathan...” Mira bersuara lirih, mencoba menarik napas dalam-dalam untuk meredakan kepanikan yang muncul. “Kau... kau pasti hanya bercanda 'kan? Iya, 'kan?”Nathan menggeleng, sepasang mata hitamnya memancarkan keseriusan. Tidak ada sedikit pun candaan di sana. “Mira, aku benar-benar ingin tahu apa ada sedikit ruang di hatimu untukku?” suaranya mengecil, terdengar penuh harap.Mira terdiam, untuk sesaat merasa linglung.Nathan mencoba menariknya lebih dekat, tetapi Mira buru-buru melepaskan pergelangannya.Nathan menatap kecewa. “Mira...”“Maaf, Nathan.” Mira memalingkan wajah dan mundur beberapa langkah. “Aku... aku tidak bisa,” bisiknya.Jawaban itu terasa seperti tikaman belati di hati Nathan. Kekecewaan terpampang jelas di wajahnya. Nathan menatap terluka. “Kenapa, Mira? Kenapa kau tidak bisa? Apa







