MasukDunia tetap berjalan seperti semestinya, seolah tak peduli pada apa pun yang pelan-pelan runtuh di hidup Dila. Ia memilih tidak pulang selama beberapa hari ini, menghindari ayahnya. Gaji kecil yang ia miliki digunakan untuk menyewa rumah petak dekat tempat kerjanya, cukup untuk berteduh dan bertahan hidup.Hari-harinya berjalan seperti biasa. Setidaknya, seperti itu yang ia paksa agar terlihat. Dila tetap memasak, tetap menyiapkan makanan untuk Vero, meski hubungan mereka tak lagi sama.Vero menjauh.Ia tak lagi datang ke kafe tempat Dila bekerja. Tak ada pesan singkat yang menanyakan jam pulang. Tak ada obrolan ringan di sela malam. Tidak ada pertengkaran, tidak ada penjelasan. Semua memburuk begitu saja, seiring hari-hari yang lewat tanpa suara.Bahkan untuk acara yang akan diadakan beberapa hari lagi, Dila tak pernah tahu rencana Vero di sie sponsorship. Namanya ada, posisinya jelas, tapi keberadaannya seperti sengaja dihapus dari percakapan.Siang itu, Dila tetap datang ke kampus.
“Butuh kerjaan nggak, gue ada nih”Kalimat itu melintas begitu sajam tapi justru membuat kepala Dila semakin riuh. Ia menoleh sekilas, lalu kembali menatap meja. Semua pikirannya berputar tanpa arah. Semua saling betumpang tindih. Berantakan. Menyebalkan.Daren tidak mendesak. Tidak mengulang. Ia hanya mengaduk kopinya perlahan, sendok beradu dengan dinding cangkir, suaranya pelan tapi konstan. Seolah jawab ya atau tidak tak akan mengubah apapun baginya.“Gue belum yakin mau kerja lagi, Ren” ucap Dila akhirnya. Suaranya taruh di akhir, seperti habis diperas. “Kayanya… capek.”Ia tak bilang kalau yang ia takutkan bukan soal waktu, tapi dirinya sendiri. Takut tak sanggup seperti sebelumnya dan hanya akan membuat Daren kesusahan sendiri.“Ya udah.”Jawab itu ringan. Tapi itu yang membuat Dila merasa dadanya sedikit mengendur. Tidak ada bujukan. Tidak ada tuntutan.Mereka kembali diam dengan kopinya yang makin dingin. Dila dengan pikirannya yang tak kunjung reda. Di dalam kepalanya, hati
Gedung sekretariat masih menyala ketika Dila tiba. Lampunya temaram, pintunya setengah terbuka. Dari dalam terdengar suara kursi digeser dan langkah kaki yang ia kenal.“Kok lama?” suara itu menyapa santai. “Gue kira gak jadi.”Dila mengangkat bahu. “Motoran macet.”Ia duduk tanpa diminta. Meletakkan tas di lantai. Gerakannya rapi, terlalu rapi untuk seseorang yang kepalanya sedang berisik.Ketua Himpunan menatapnya sekilas. Tidak lama. Tidak menusuk.“Tadi ada orang nyarin lo,” katanya sambil menuang air ke gelas plastik. “Ngaku dari luar kampus. Gayanya gak enak.”Dila mengangguk kecil. Tidak kaget. Tidak menyangkal.“Udah gue suruh balik,” lanjutnya. “Bilang urusan pribadi gak boleh dibawa ke sini.”“Thanks,” jawab Dila cepat. Terlalu cepat. Seolah takut topik itu berkembang.Ketua Himpunan tersenyum tipis. “Masalah lo apa sih?”“Bukan masalah,” potong Dila. “Cuma repot sebentar.”Selalu saja tak jauh dari alasan itu. Dila memang paling ahli menangani masalahnya sendiri, memendam s
‘Ardila, lo kejerat hutang apaan, La?! Ada orang hubungi ketua Himpunan nagih hutang lo.’ Sendok terlepas dari tangannya. Bunyinya kecil. Tapi di telinga Dila, itu terdengar seperti sesuatu yang runtuh. Nyaring. Memalukan. Dan tak bisa ditarik kembali. Dunia Dila berhenti. Kata hutang berputar-putar di kepalanya, saling menabrak, menghantam pelipisnya berkali-kali. Napasnya mendadak pendek, terputus-putus. Perutnya mengempis, jauh lebih kosong daripada sebelum ia makan. Ia kenal rasa ini. Rasa saat namanya dipakai tanpa izin. Rasa saat kesalahan orang lain mendarat tepat di dadanya. Vero menoleh cepat. “Kenapa?” Dila tersentak. Tangannya gemetar saat ia mengunci layar ponsel terlalu cepat, terlalu panik, seperti menutup luka dengan tangan kosong. “Mas…” suaranya pecah di tengah kata. Ia menelan ludah, tapi tenggorokannya terasa dicekik dari dalam. “Mas bisa pulang dulu nggak?” Kalimat itu keluar dengan susah payah. Tipis. Rapuh. Kepalanya berputar liar. Hutang a
Hari semakin siang. Matahari naik perlahan, cahayanya menembus cela jendela yang sudah lama jarang dibuka. Dila selesai membersihkan rumah. Lantainya bersih, meja rapi, seolah keadaan ini telah menutupi kehancurannya semalam.Di kamar mandi, ia duduk di lantai dingin. Kotak P3K terbuka di samping. Tangan Dila bergerak pelan, hampir tanpa suara, seperti takut mengganggu rumah itu sendiri. Kapas dibasahi, ditempelkan ke kulit yang memar. Rasa perih membuat rahangnya mengeras, tapi tidak ada keluar yang keluar. Ia terlalu terbiasa dengan perasaan itu.Perih yang dia rasa tak lebih ketimbang kesunyian sehari-hari.Rumah ini dulu penuh suara. Bahkan teriakan Bunda memanggilnya untuk bangun masih sering menjadi alarm paginya dalam mimpi. Tawa yang sesekali pecah. Nada marah yang cepat reda. Bau masakan Bunda di pagi hari.Sekarang, rumah ini hanya tinggal bangunan.Ayahnya punya hidup lain. Bundanya juga. Keluarga baru. Meja makan lain. Tawa lain. Dan tak sat
“Mana wanita itu?” Suara itu datang dari kegelapan. Rendah. Tajam. Dingin. Senyum Dila langsung runtuh. Jantungnya jatuh, seakan ada tangan kasar yang meremasnya tiba-tiba. Hangat yang ia bawa dari luar rumah menguap seketika, digantikan rasa dingin yang merambat cepat ke tulang. Langkahnya terhenti. Udara terasa menipis. Malam yang tadi terasa ramah, kembali menunjukkan wajah aslinya. Dan Dila tahu ia baru saja kembali ke mimpi buruk yang selama ini selalu menunggunya di rumah. Lampu menyala. Cahaya kuning itu tidak memberi rasa aman. Justru memperjelas segalanya. Seorang laki-laki paruh baya berdiri di depannya. Ayahnya. Tatapannya penuh amarah yang belum sempat reda, penuh dendam yang seolah hanya menunggu tubuh kecil di depannya untuk dilampiaskan. Dila menunduk. Ia tak sanggup menahan tatapan itu terlalu lama. Dadanya semakin sesak, napasnya tersendat, seperti ada tangan tak kasa







