Beranda / Romansa / Presiden BEM Itu Kekasihku / BAB V : Semakin Dekat

Share

BAB V : Semakin Dekat

Penulis: Essenick
last update Terakhir Diperbarui: 2025-04-08 22:56:25

"Vero, gue nanti harus ke Bandung sama Bunda." Seorang laki-laki berkata dengan nada sedikit berteriak sambil berjalan cepat menghampiri Vero.

"Harus hari ini?" tanya Vero tanpa mengubah ekspresi wajahnya.

Laki-laki itu mengangguk sambil membereskan barang-barangnya dengan terburu-buru. "Iya, Kakek gue masuk rumah sakit. Kayaknya gue bakal pulang-pergi terus selama beliau dirawat."

Vero hanya mengangguk lagi. Ekspresinya tetap datar saat berkata, "Ya udah, gak apa-apa. Gue bisa nyari sponsor sendiri."

"Loh, jangan!" sergah laki-laki itu cepat. "Sama Dila aja, Ro. Dia kan cewek lo, sekalian tuh PDKT kalian biar cepet jadian. Kasihan sekampus pada gemes," lanjutnya dengan seringai menggoda sambil menggendong tas ranselnya.

Vero mendengus pelan, tapi sebelum sempat membalas, laki-laki itu menepuk punggungnya, seolah ingin meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.

“Loh, kebetulan.”

Suara lain menyela percakapan mereka. Vero spontan menoleh ke arah pintu dan mendapati seorang teman laki-lakinya berdiri di sana, bersamaan dengan Dila yang tampak kebingungan di sampingnya.

"Lo nyari sponsor, ya?" tanya temannya dengan ekspresi datar.

Dila yang awalnya diam langsung memasang wajah sewot begitu menyadari situasinya. "Loh, itu kan tugas lo, Bima! Gue udah susah-susah nyiapin semuanya, tinggal cari sponsor aja lo kabur?" omelnya tajam, tatapannya menantang.

Bima, laki-laki yang baru datang itu, menghela napas berat. "Maaf, kakek gue dirawat, jadi kayanya buat sekarang gue belum bisa ikut cari sponsor," jawabnya dengan nada lebih tenang.

Dila menyipitkan mata, jelas tak puas dengan jawaban itu. "Lah, terus gimana dong?"

"Lo nyari sponsor sama Vero, ya?" Bima menatap Dila penuh harap. "Gue minta tolong banget. Gue juga gak enak ninggalin tanggung jawab gini."

Dila melipat tangan di dada, menghela napas dramatis sebelum akhirnya menoleh ke Vero. Wajahnya yang tadi sebal kini berubah jadi penuh senyum jahil.

"Dih! Gak bilang dari tadi kalo sama Mas Vero," katanya dengan nada sok kesal, lalu menambahkan, "Ya gas atuh, hehe."

Vero hanya menghela napas panjang, sudah menduga kalau ini bakal jadi hari yang panjang.

Dila menatap Vero dengan senyum termanisnya sebelum meletakkan kotak bekalnya di depan Vero. “Kebetulan yang anjay ya, Mas.”

Vero hanya menatapnya sekilas tanpa memberikan jawaban. Tak ingin menunggu lebih lama, Dila pun melangkah pergi, berniat meninggalkan ruangan. Namun, baru beberapa langkah, suara berat menghentikan langkahnya.

“Nanti saya jemput.”

Dila terdiam sejenak, lalu senyumnya semakin merekah. Dengan riang, ia membentuk lingkaran dengan ibu jari dan telunjuknya, lalu berkata, “Oke.”

—•§•—

Mobil Vero melaju perlahan sebelum akhirnya berhenti di depan sebuah gedung perkantoran besar dengan logo perusahaan yang mencolok di bagian atasnya. Gedung itu tampak megah dengan eksterior kaca yang berkilauan diterpa sinar matahari. Vero mematikan mesin mobil dan menoleh ke samping, ke arah Dila yang duduk di kursi penumpang.

“Kita nanti jelaskan tujuan acara, olimpiade, dan rundown acaranya. Kamu bantu saya nanti, ya,” ujar Vero, suaranya terdengar lembut namun tegas, seperti biasa.

Dila langsung mengangguk dengan semangat. “Ok!” sahutnya, hampir terlalu berlebihan.

Dia segera turun dari mobil, mengikuti langkah Vero yang berjalan menuju pintu masuk gedung dengan gaya khasnya—tenang, penuh percaya diri, dan sedikit dingin. Dila mengekori di belakang, tidak bisa menahan senyum kecil yang terus muncul di wajahnya. Bagaimana pun juga, ini pertama kalinya dia pergi berdua dengan Vero dalam situasi formal seperti ini.

Seandainya ada alat pendeteksi jantung, mungkin sekarang sudah berbunyi nyaring, menandakan betapa cepatnya jantung Dila memompa darah. Dia benar-benar memuja momen ini.

Begitu mereka tiba di lobi, seorang resepsionis menyambut dengan ramah. Setelah melakukan konfirmasi janji temu, mereka dipersilakan naik ke lantai atas. Dila melirik Vero sekilas—laki-laki itu tampak begitu fokus dan profesional, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda gugup.

Sampai di ruang meeting, presentasi pun dimulai. Vero menjelaskan konsep acara mereka dengan tenang dan terstruktur. Nada suaranya begitu stabil, ekspresi wajahnya penuh keyakinan. Bahkan tanpa sadar, Dila ikut terhanyut dalam caranya berbicara.

Ketika tiba gilirannya untuk menambahkan beberapa poin, Dila ikut berbicara dengan percaya diri. Ia menambahkan detail-detail menarik, sedikit bumbu persuasif, dan memainkan nada suaranya dengan antusias.

Beberapa perwakilan perusahaan itu tampak mengangguk, seolah tertarik dengan penjelasan mereka. Dila melirik ke arah Vero sekilas—laki-laki itu tetap dengan ekspresi tenangnya, meskipun Dila tahu dia pasti sedang menganalisis situasi.

Setelah beberapa pertanyaan dan diskusi singkat, mereka akhirnya menutup presentasi dengan profesional. Namun, keputusan final mengenai sponsor masih harus menunggu persetujuan dari pusat.

Tak ingin langsung pergi, Vero mengajak Dila mampir ke kantin di lantai bawah untuk sekadar minum kopi.

“Kayaknya kalau Mas presentasi proyek langsung di-approve, deh,” komentar Dila sembari menyeruput es kopinya.

Vero terkekeh pelan, lalu mengangkat alis. “Gak juga, tadi aja gak langsung approve, kan?”

Dila menggeleng cepat. “Kalau aku baca situasi tadi, kemungkinan besar ACC pusat! Tinggal nunggu formalitas aja,” katanya yakin.

Vero hanya menghela napas, lalu menggelengkan kepala kecil. “Saya ke toilet dulu,” pamitnya sebelum berdiri dan berjalan meninggalkan Dila sendiri di kafetaria.

Dila mengambil ponselnya dan mulai menggulir layar, mengecek notifikasi grup. Namun, baru beberapa detik dia fokus pada ponselnya, seseorang tiba-tiba menarik kursi di depannya dan duduk.

Seorang perempuan dengan pakaian rapi dan blazer gelap. Aura elegannya langsung terasa, tetapi ekspresi wajahnya sama sekali tidak ramah.

“Ngapain kamu di sini?” tanyanya dengan suara ketus.

Dila terkejut sejenak, tetapi dengan cepat menguasai diri. Senyum cerah masih menghiasi wajahnya. “Aku lagi nyari sponsor di sini,” jawabnya dengan riang, mencoba tetap santai meskipun ada perasaan aneh yang mulai muncul di dadanya.

Namun, perempuan itu tidak tersenyum balik. Sebaliknya, dia justru mengernyit, ekspresinya berubah menjadi penuh ketidaksukaan.

“Dari sekian banyak perusahaan, kenapa harus di sini sih?!!” suaranya meninggi, terdengar seperti seseorang yang sedang menahan emosi.

Dila mengerutkan dahi, bingung dengan reaksi itu. “Ha? Kenapa memangnya?”

Perempuan itu menatapnya dengan intens, lalu berbisik dengan nada mengancam. “Cepat keluar dari gedung ini. Jangan lama-lama di sini. Saya gak mau dia tahu hubungan kita.”

Dila terdiam, kepalanya menunduk dalam. Nada bicara tiap kalimat membuatnya terdengar seperti malu memiliki Dila dalam hidupnya.

Darahnya berdesir. Ada sesuatu yang janggal dalam situasi ini.

“Oh… em… i-iya…” jawabnya terbata-bata, meskipun pikirannya masih dipenuhi tanda tanya.

Tanpa berkata lagi, perempuan itu langsung berdiri dan melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Dila yang masih duduk di tempatnya—terkejut, bingung, dan bertanya-tanya, kesalahan apa yang sebenarnya baru saja ia lakukan.

Sejurus kemudian, Vero kembali dari toilet dan langsung duduk kembali di hadapan Dila, tanpa menyadari perubahan ekspresi di wajahnya.

“Ada apa?” tanyanya, melihat Dila yang tampak berbeda dari sebelumnya.

Dila hanya menggeleng pelan, menekan rasa penasaran yang semakin membesar di dadanya. “Nggak ada apa-apa.”

Hanya perlu pergi, kan? Selagi dia menurut tak ada yang perlu di khawatirkan.

Dia menatap laki-laki di depannya yang sedang sibuk mengaduk kopinya dengan tenang, seolah dunia berjalan dengan ritme biasa.

“Mas, kita ke perusahaan selanjutnya sekarang aja ya,” ujar Dila, mencoba merayu dengan nada ceria, meskipun jantungnya masih berdetak tak beraturan.

Vero mengangkat alis sekilas, menatapnya dengan ekspresi tenang seperti biasa. “Nggak istirahat dulu? Kita baru aja selesai presentasi. Kamu sudah siap presentasi lagi?” tanyanya, sedikit ragu.

Dila mengangguk cepat, mencoba terlihat meyakinkan. “Aku mau cepat pulang. Mama nggak suka kalau aku pulang kemalaman.”

Sebenarnya, bukan hanya itu alasannya. Dia hanya ingin segera meninggalkan gedung ini—meninggalkan bayangan sosok perempuan tadi yang entah kenapa membuatnya gelisah.

Vero mengamati wajah Dila beberapa detik, seolah sedang menilai apakah dia berkata jujur atau tidak. Namun, akhirnya dia mengangguk mengerti. "Oke. Kita langsung jalan sekarang."

Dila tersenyum kecil, merasa sedikit lega.

Mereka pun beranjak dari kafetaria.

TO BE CONTINUE —

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXIV : Sunyi yang Tidak Mencari Saksi

    Gedung sekretariat masih menyala ketika Dila tiba. Lampunya temaram, pintunya setengah terbuka. Dari dalam terdengar suara kursi digeser dan langkah kaki yang ia kenal.“Kok lama?” suara itu menyapa santai. “Gue kira gak jadi.”Dila mengangkat bahu. “Motoran macet.”Ia duduk tanpa diminta. Meletakkan tas di lantai. Gerakannya rapi, terlalu rapi untuk seseorang yang kepalanya sedang berisik.Ketua Himpunan menatapnya sekilas. Tidak lama. Tidak menusuk.“Tadi ada orang nyarin lo,” katanya sambil menuang air ke gelas plastik. “Ngaku dari luar kampus. Gayanya gak enak.”Dila mengangguk kecil. Tidak kaget. Tidak menyangkal.“Udah gue suruh balik,” lanjutnya. “Bilang urusan pribadi gak boleh dibawa ke sini.”“Thanks,” jawab Dila cepat. Terlalu cepat. Seolah takut topik itu berkembang.Ketua Himpunan tersenyum tipis. “Masalah lo apa sih?”“Bukan masalah,” potong Dila. “Cuma repot sebentar.”Selalu saja tak jauh dari alasan itu. Dila memang paling ahli menangani masalahnya sendiri, memendam s

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXIII : Silent Liability

    ‘Ardila, lo kejerat hutang apaan, La?! Ada orang hubungi ketua Himpunan nagih hutang lo.’ Sendok terlepas dari tangannya. Bunyinya kecil. Tapi di telinga Dila, itu terdengar seperti sesuatu yang runtuh. Nyaring. Memalukan. Dan tak bisa ditarik kembali. Dunia Dila berhenti. Kata hutang berputar-putar di kepalanya, saling menabrak, menghantam pelipisnya berkali-kali. Napasnya mendadak pendek, terputus-putus. Perutnya mengempis, jauh lebih kosong daripada sebelum ia makan. Ia kenal rasa ini. Rasa saat namanya dipakai tanpa izin. Rasa saat kesalahan orang lain mendarat tepat di dadanya. Vero menoleh cepat. “Kenapa?” Dila tersentak. Tangannya gemetar saat ia mengunci layar ponsel terlalu cepat, terlalu panik, seperti menutup luka dengan tangan kosong. “Mas…” suaranya pecah di tengah kata. Ia menelan ludah, tapi tenggorokannya terasa dicekik dari dalam. “Mas bisa pulang dulu nggak?” Kalimat itu keluar dengan susah payah. Tipis. Rapuh. Kepalanya berputar liar. Hutang a

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXII : Hidden Hurts

    Hari semakin siang. Matahari naik perlahan, cahayanya menembus cela jendela yang sudah lama jarang dibuka. Dila selesai membersihkan rumah. Lantainya bersih, meja rapi, seolah keadaan ini telah menutupi kehancurannya semalam.Di kamar mandi, ia duduk di lantai dingin. Kotak P3K terbuka di samping. Tangan Dila bergerak pelan, hampir tanpa suara, seperti takut mengganggu rumah itu sendiri. Kapas dibasahi, ditempelkan ke kulit yang memar. Rasa perih membuat rahangnya mengeras, tapi tidak ada keluar yang keluar. Ia terlalu terbiasa dengan perasaan itu.Perih yang dia rasa tak lebih ketimbang kesunyian sehari-hari.Rumah ini dulu penuh suara. Bahkan teriakan Bunda memanggilnya untuk bangun masih sering menjadi alarm paginya dalam mimpi. Tawa yang sesekali pecah. Nada marah yang cepat reda. Bau masakan Bunda di pagi hari.Sekarang, rumah ini hanya tinggal bangunan.Ayahnya punya hidup lain. Bundanya juga. Keluarga baru. Meja makan lain. Tawa lain. Dan tak sat

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXI: DIA VERO

    “Mana wanita itu?” Suara itu datang dari kegelapan. Rendah. Tajam. Dingin. Senyum Dila langsung runtuh. Jantungnya jatuh, seakan ada tangan kasar yang meremasnya tiba-tiba. Hangat yang ia bawa dari luar rumah menguap seketika, digantikan rasa dingin yang merambat cepat ke tulang. Langkahnya terhenti. Udara terasa menipis. Malam yang tadi terasa ramah, kembali menunjukkan wajah aslinya. Dan Dila tahu ia baru saja kembali ke mimpi buruk yang selama ini selalu menunggunya di rumah. Lampu menyala. Cahaya kuning itu tidak memberi rasa aman. Justru memperjelas segalanya. Seorang laki-laki paruh baya berdiri di depannya. Ayahnya. Tatapannya penuh amarah yang belum sempat reda, penuh dendam yang seolah hanya menunggu tubuh kecil di depannya untuk dilampiaskan. Dila menunduk. Ia tak sanggup menahan tatapan itu terlalu lama. Dadanya semakin sesak, napasnya tersendat, seperti ada tangan tak kasa

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XX: HAMPIR SAJA

    Malam semakin larut. Lampu-lampu hangat kafe mulai meredup, tanda waktu kerja hampir selesai. Dila duduk sendirian di sudut meja, laptop terbuka, tab-tab tugas berantakan. Matanya berat, hari ini ia harus mengerjakan tugas berpasangan dengan Daren, tapi pikirannya sudah terlalu penuh untuk fokus. Di luar, hujan turun pelan. Suara rintiknya mengenai kaca seperti ritme nina bobo yang justru membuat kelopak matanya semakin turun. Aroma kopi yang tersisa di udara membuat suasana makin tenang, terlalu tenang… sampai hampir membuatnya tertidur. Kemudian tiba-tiba bel pintu berbunyi. Menandakan ada pelanggan masuk sebelum jam kerjanya habis. Dia mengangkat kepala dengan malas, sedikit kaget karena jam layanan tinggal beberapa menit lagi. Ia menutup laptopnya separuh, menarik napas, lalu bangkit dari kursi. Ia melangkah menuju kasir sambil merapikan apron yang sejak tadi kusut. “Selamat malam, Kak. Mau pesan apa?” Dila tercengat.

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XIX: SUNYI

    Hari itu berjalan seperti biasanya, meski dada Dila masih terasa sesak membawa sisa-sisa malam kemarin. Nada suara Ayahnya, tatapan tajam itu, tuduhan yang menusuk… semuanya masih menggantung seperti kabut yang enggan pergi. Kepalanya penuh. Bahkan saat rapat sekalipun, pikirannya masih sibuk memikirkan bagaimana ia harus menyampaikan maksud Ayah pada Bundanya. Ragu itu menggigit dari dalam. Di ruang BEM, semua anggota sie sponsor berkumpul. Berkas-berkas berserakan, suara diskusi memenuhi ruangan, dan Vero sibuk meninjau proposal. Dila mencoba fokus, padahal jantungnya berdetak tak karuan. “Dila udah makan?” suara Daren tiba-tiba terdengar dari pintu. Seisi ruangan sontak menoleh. Suara Daren memang cukup nyaring, tapi perhatian semua orang justru jatuh pada Dila—yang seketika membeku. Dila reflek menatap Vero. Bukan untuk izin sebenarnya… tapi karena entah kenapa, setiap kali namanya dan nama Daren disebut bersamaan,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status