Share

Bab 221

Author: Biee
last update publish date: 2026-06-12 15:33:59

Bara menekan pinggul Sandra ke bawah dengan telapak tangannya, menahan posisi menungging itu agar tetap stabil. Dada bidang Bara berada tepat di belakang punggung Sandra, menjaga keseimbangan tubuh gadis itu.

"Bara! Gak usah pegang-pegang pinggul gue juga kali," ketus Sandra. Matanya melirik tajam ke arah Bara lewat pantulan cermin besar di depan mereka.

"Diam, Sandra. Ini posisi squat yang benar. Kalau pinggulmu goyah, otot pahamu tidak akan terlatih dengan maksimal," ucap Bara tenang.

Bara me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 225

    Bara mengalihkan pandangannya dari lorong VIP kembali ke layar monitor komputer. Jari-jarinya yang besar kembali mengetuk papan ketik dengan ritme yang lambat dan teratur, menyelesaikan rekap data anggota baru."Buset dah, Bar. Lu kenal ama entu bos gede? Galak bener mukanya, mana anak ceweknya songong amat lagi nyindir-nyindir lu," celetuk Bang Jaka dari sebelah meja konter. Pria berotot itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil merapikan tumpukan handuk bersih.Bara tidak menoleh, wajah rahang tegasnya tetap tenang. "Tidak, Bang. Hanya pengunjung biasa yang kebetulan lewat.""Halah, orang kaya mah emang begitu, Bar. Sukanya mandang sebelah mata sama kita-kita yang nyari duit pakai keringat. Kagak usah lu masukin ke ati omongan cewek ingusan tadi," hibur Bang Jaka sambil menepuk bahu kokoh Bara sekilas sebelum melangkah masuk ke dalam ruang staf.Bara hanya tersenyum tipis. Di dalam hatinya, sebuah skenario besar untuk menghancurkan harga diri Handoko dan membuat Keyla bertekuk lutut

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 224

    "Gimana Neng Sandra? Puas kagak dilatih sama si Bara? Kalo kurang mantep, entar gua suruh dia tambahin set-nya.""Tau ah, Bang Jaka! Tanya aja sendiri sama anak kampung itu! Gue mau balik, gerah di mari lama-lama!" pekik Sandra ketus dengan wajah merah padam sampai ke telinga.Sandra buru-buru melangkah lebar keluar dari lobi, mendorong pintu kaca otomatis dengan kasar tanpa menoleh lagi ke belakang.Bang Jaka tertawa renyah, menepuk bahu kokoh Bara dengan tangannya yang besar. "Gokil lu, Bar. Cewek sekota dan seangkuh si Sandra bisa lu bikin mati kutu begitu. Lu apain sih di atas tadi?"Bara hanya tersenyum tipis, merapikan letak kaos polo hitam ketatnya. "Hanya latihan biasa, Bang. Sandra saja yang terlalu banyak mengeluh.""Ya udah, Bar. Keperluannya lu cek dulu di komputer, ada rekap data member baru VIP dua," sahut Bang Jaka.Bara mengangguk sopan. "Baik, Bang. Saya periksa sekarang."Bara menggeser kursi di balik meja konter, lalu mulai fokus menatap layar monitor. Jari-jarinya

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 223

    "Bara, gue mau nanya satu hal lagi," ucap Sandra tiba-tiba. Logat kotanya terdengar agak berat, kehilangan nada tsundere yang biasanya."Tanya apa?" Bara berjalan mendekat, berdiri di samping Sandra.Sandra menoleh sedikit, sepasang mata sayunya menatap lekat rahang tegas Bara. "Lo... lo lagi deket ya sama cewek lain? Maksud gue, cewek yang beneran lo suka, bukan cuma buat main-main."Bara menoleh, menatap balik mata Sandra tanpa ekspresi. "Kenapa kamu tiba-tiba tanya begitu?""Ya... gue ngerasa aja. Belakangan ini lo sering senyum-senyum sendiri kalau liat ponsel. Terus tadi di lobi, lo dapet pesen kan? Muka lo langsung berubah beda," ceroscos Sandra, pipinya agak merona merah karena gengsi. "Cewek kota mana sih yang bisa bikin cowok kaku kayak lo kayak gitu?"Bara terdiam sesaat, lalu kembali membuang pandangannya ke luar jendela. Wajah polos Arum yang menemaninya subuh tadi mendadak melintas di kepalanya."Dia bukan cewek kota. Dia gadis kampung, namanya Arum," jawab Bara jujur. Su

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 222

    Bara menarik sebuah matras lipat berwarna hitam dari sudut ruangan, lalu membentangkannya di atas lantai kayu parket."Duduk di sini, Sandra. Luruskan kedua kakimu ke depan," perintah Bara sambil menunjuk matras dengan dagunya.Sandra menurut tanpa membantah lagi. Sikap ketusnya benar-benar melayang entah ke mana. Dia duduk di atas matras dengan kaku, meluruskan paha mulusnya yang berbalut legging abu-abu ke depan.Bara ikut berlutut di ujung matras, tepat di depan sepasang kaki Sandra. Tangan besarnya mencengkeram lembut pergelangan kaki kanan Sandra, lalu mengangkatnya sedikit ke atas."Eh, mau diapain?" tanya Sandra gugup. Tubuhnya refleks sedikit condong ke belakang, bertumpu pada kedua telapak tangannya di matras."Peregangan otot hamstring. Tarik napas yang dalam, lalu hembuskan perlahan saat aku mendorong kakimu," ucap Bara tenang.Bara mulai mendorong kaki kanan Sandra ke arah dada gadis itu dengan gerakan yang sangat lambat dan terukur."Aduhh... Bar, bentar, ssshh... agak ke

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 221

    Bara menekan pinggul Sandra ke bawah dengan telapak tangannya, menahan posisi menungging itu agar tetap stabil. Dada bidang Bara berada tepat di belakang punggung Sandra, menjaga keseimbangan tubuh gadis itu."Bara! Gak usah pegang-pegang pinggul gue juga kali," ketus Sandra. Matanya melirik tajam ke arah Bara lewat pantulan cermin besar di depan mereka."Diam, Sandra. Ini posisi squat yang benar. Kalau pinggulmu goyah, otot pahamu tidak akan terlatih dengan maksimal," ucap Bara tenang.Bara mengetuk bagian samping paha Sandra dengan ujung jarinya. "Jarak kakimu terlalu lebar. Sejajarkan dengan bahu. Coba geser sedikit ke dalam."Sandra mendengus kencang, namun tetap menggeser kaki kanannya ke dalam sesuai instruksi Bara. "Sok tahu banget sih lo jadi instruktur. Gue udah biasa latihan kayak gini ya di tempat lain.""Kalau sudah biasa, kenapa posisi punggungmu masih membungkuk begitu? Tegakkan sedikit dadamu," tuntut Bara tegas.Sandra menarik napas panjang, menegakkan punggungnya hing

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 220

    Bara melangkah masuk ke dalam lobi tempat gym yang ber-AC sejuk, diikuti oleh Sandra yang masih berjalan dengan wajah cemberut di belakangnya. Di balik meja resepsionis yang melingkar, seorang pria berbadan tegap dengan kaos dalam ketat warna hitam sedang sibuk menyusun berkas keanggotaan.Pria itu adalah Bang Jaka, instruktur senior sekaligus kepala pengawas di pusat kebugaran mewah tersebut.Begitu mendengar suara langkah kaki mendekat, Bang Jaka mendongak. Alis tebalnya bertaut heran saat melihat sosok Bara yang sudah berdiri di depan meja konter siang-siang begini."Lah, Bara? Tumben amat lu jam segini udah nongol di mari?" tanya Bang Jaka dengan logat Betawi cadasnya yang khas. Dia meletakkan pulpennya ke meja, lalu melipat kedua lengannya yang kekar penuh tato di atas pembatas konter. "Kaga salah jadwal lu? Bukannya kelas lu baru mulai entar sore, ya? Lu kaga lagi sibuk kuliah apa pegimana?"Bara menghentikan langkahnya, lalu mengangguk hormat dengan sikap yang tetap sopan kepad

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status