Se connecter“Hai, Ukas.” Leo menyapa Lukas. Senyum manis pria itu terlihat tampan sekali.
Elle hanya terpaku melihat pria yang selama ini dicarinya sedang berjalan ke arahnya. Susah payah mencari pria itu, tetapi pria itu sekarang berada di depan matanya. Yang membuatnya lebih tercengang adalah pria itu menyapa anaknya. “Hai, Elle.” Jack yang berada tepat di depan Elle menyapa wanita itu. Sayangnya, Elle hanya diam saja ketika mendapatkan sapaan dari Jack. Pandangannya masih tertuju pada Leo yang berada di belakang Jack. Jack melihat ke arah belakang. Dilihatnya Leo sedang melambaikan tangan pada Lukas. Lukas sudah pernah bermain dengan Leo. Jadi wajar saja jika mereka begitu semangat saat bertemu kembali. “Shut ….” Jack memberikan peringatan pada Leo untuk diam. Tak mau mengganggu Lukas. Jack berpikir jika Elle tidak suka dengan apa yang dilakukan Leo. Seketika Leo pun menghentikan aksinya itu. Tak mau mencari masalah dengan atasannya itu. “Elle.” Jack kembali memanggil. Panggilan itu kali ini menyadarkan Elle yang terpaku melihat Leo. Apalagi Leo sudah berhenti melambaikan tangan pada anaknya. “Hai, Jack.” Elle mengalihkan pandangan dan langsung menyapa Jack yang berada di depannya. “Maafkan asistenku membuat kamu tidak nyaman.” Jack memaksakan senyumnya. Dia menebak Elle yang tadi diam ketika melihat Leo. Jadi dia asisten Jack. Akhirnya Elle menemukan jawaban kenapa Leo bersama dengan Jack. Tidak pernah disangka, Leo yang awalnya pemilik restoran kini menjadi asisten seorang CEO. “Minta maaflah, kamu sudah membuat Elle tidak nyaman.” Jack menyenggol Leo, memberikan peringatan pada pria itu. “Maafkan saya sudah membuat Anda tidak nyaman.” Leo segera membungkukkan tubuhnya sedikit. Melakukan apa yang diperintahkan oleh Jack. Elle hanya termangu melihat Leo. Pria itu seolah tidak mengenali dirinya sama sekali. Tatapannya juga tampak seperti melihat orang asing. Tentu saja itu membuatnya merasa bingung. Apa dia lupa aku? Apa dia sengaja pura-pura? Pertanyaan itu menghiasi kepala Elle. Dia bingung kenapa pria yang menghamilinya dan yang telah memberikannya anak itu tidak mengenalinya sama sekali. Apa karena waktu itu kami dalam keadaan mabuk, jadi dia tidak mengenalku? Elle mengingat kala itu mereka mabuk dan tidak sadar. Belum lagi saat pagi hari, Leo langsung pergi saat kepergok kekasihnya. Jadi wajar pria itu tidak mengenalinya. Namun, sebelum bergabung minum. Mereka masih sadar dan masih berkenalan. Jadi pikirnya, harusnya Leo mengenali. “Elle.” Suara Jack kembali memanggil Elle kembali. “Mommy.” Lukas yang melihat sang mommy hanya diam saja menarik baju sang mommy. Apa yang dilakukan Lukas itu membuat Elle kembali tersadar. Dia segera kembali pada Leo dan juga Jack. “Tidak apa-apa. Aku hanya terkejut saja ketika anakku mengenal pria asing.” Elle memaksakan senyumnya, dan memberikan alasan agar Jack tidak curiga. “Mari duduk.” Elle menatap Jack dan Leo bergantian. Jack segera menarik kursi yang berada di seberang kursi Elle. Membuatnya duduk berhadapan dengannya. Sedangkan, Leo memilih menarik kursi yang berada di sebelah meja yang dipesan Elle. Mendudukkan tubuhnya di sana. “Uncle Leo kenapa duduk di situ?” Lukas menatap Leo. “Unlce—” “Duduklah di sini. Masih ada satu kursi yang kosong.” Elle menatap Leo, memintanta berpindah sambil memandang kursi yang berada di sebelah Jack. Leo ragu. Sejak menjadi asisten Jack dia tidak pernah duduk di samping atasannya itu. Hingga membuat Leo menatap atasannya lebih dulu. “Duduklah di sini.” Jack mengangguk. Dia tidak punya pilihan selain meminta Leo duduk bersamanya. Padahal dia tidak suka jika bawahannya itu duduk bersama. Baginya, ada kasta yang harus dibedakan. Agar mereka para orang rendahan tidak besar kepala. Mendapati perintah atasannya, Leo pun berpindah ke kursi yang berada di samping Jack. Berhadapan dengan Lukas. “Uncle.” Lukas dengan senangnya menyapa Leo. Leo pun membalas sapaan itu dengan senyum manis di wajahnya. Elle melihat jelas bagaimana interaksi dua orang tersebut. Mereka berdua tidak tahu jika mereka sebenarnya adalah ayah dan anak. Jack langsung memanggil pramusaji. Mereka memang berniat makan bersama. Jadi mereka mau memesan makanan bersama. Pramusaji yang datang segera memberikan menu pada Jack dan Elle. “Kamu mau pesan apa Elle?” Jack menatap Elle. “Aku mau steak daging medium rare saja. Lukas pesan nasi goreng, tapi tolong jangan berikan kacang polong. Berikan dua orange jus saja.” Elle menatap Jack dan menyebutkan menu yang diinginkannya. “Baiklah.” Jack mengangguk. Dia segera beralih pada pramusaji. “Satu steak medium rare, satu steak rare, satu nasi goreng tanpa kacang polong dan ….” Dia menggantung ucapannya karena harus beralih pada Leo yang duduk di sebelahnya. “Kamu mau apa, Leo?” tanyanya. “Saya nasi goreng tanpa kacang polong juga.” Leo tersenyum sambil menyampaikan apa yang ingin dipesannya. “Jadi nasi goreng tanpa kacang polongnya dua dan empat orange jus.” Jack menatap pramusaji. Pramusaji langsung mencatat pesanan yang diminta oleh Jack. Elle menatap Leo. Dia memikirkan kenapa Leo juga tidak mau makan kacang polong. Apakah dia juga memiliki alergi seperti yang terjadi pada anaknya? “Elle, bagaimana pekerjaanmu? Aku dengar kamu belum lama bekerja? Apa ada kendala?” Jack memecah keheningan dengan mengajak Elle untuk mengobrol. Elle yang sedang memandangi Leo pun segera beralih pada Jack. Tak mau membuat Jack curiga. “Semua aman. Aku masih harus belajar banyak tentang bisnis.” Di saat Elle sedang mengobrol dengan Jack, Leo sedang menggoda Lukas. Hingga membuat anaknya itu tertawa. “Jika ada apa-apa, kamu bisa bertanya kepadaku.” Jack tersenyum. Dia mengambil kesempatan untuk mendekati Elle. Alasan mengajari jelas hanya alibi. “Tentu saja aku akan bertanya padamu.” Elle menjawab, tetapi dia terus melirik Leo dan anaknya. Ayah dan anak itu tampak begitu akur sekali. Jack merasa terganggu sekali dengan Leo yang terus menggoda Lukas. Hingga, dia pun menyenggol kaki Leo untuk menghentikan aksinya itu. Seketika Leo pun menghentikan aksinya itu. Dia langsung mengerti apa yang diinginkan atasannya itu. Nasi goreng datang lebih dulu. Pramusaji langsung menyajikan di atas meja. Dua nasi goreng sama persis. Hal itu membuat Lukas senang. “Uncle Leo tidak pakai kacang seperti aku?” Lukas tersenyum melihat makanan milik Leo. “Iya, Uncle alergi kacang.” Leo tersenyum sambil menjelaskan kenapa dirinya tidak memakai kacang juga. “Ukas juga alergi kacang.” Hati Elle mencelos mendengar ayah dan anak memiliki alergi yang sama. Ternyata Leo menurunkan alergi itu pada anaknya. Seolah tak mau melepaskan jika Lukas memang anaknya. Beberapa saat makanan Elle dan Jack datang. Mereka menikmati makan bersama. Saat makan, tidak ada suara sama sekali. Awalnya Jack mengajak bicara, tetapi Elle memberikan isyarat untuk diam. Elle mengajarkan anaknya untuk makan tanpa bicara. Jadi dia tidak mau memberikan contoh pada anaknya. “Saya permisi dulu.” Leo mendorong kursi ke ke belakang. Kemudian berdiri. Jack mengangguk. Leo segera berdiri dan berlalu pergi ke toilet. Meninggalkan Jack bersama Lukas. Melihat Leo yang pergi, Elle segera berinisiatif untuk menemuinya. “Mommy, ke toilet dulu.” Dia menatap Lukas. Kemudian beralih pada Jack. “Aku permisi dulu.” Tanpa menunggu jawaban dari Jack, dia segera pergi. Jack tidak menaruh curiga sama sekali dengan Elle yang ingin ke toilet bertemu Leo. Jadi dia mengangguk saja ketika wanita itu pergi. Elle tidak ke toilet. Dia hanya berdiri di depan toilet menunggu Leo. Ada banyak hal yang ingin ditanyakan pada Leo. Karena sedari tadi pria itu seperti tidak mengenalnya. “Nona Elle.” Leo yang keluar dari toilet tampak terkejut ketika melihat wanita itu di depan toilet. “Apa kamu tidak mengenal aku?” Elle menatap Leo, tanpa basa-basi langsung melemparkan pertanyaan itu. “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”“Untuk saat ini belum. Aku mau fokus pada Lukas saja.” Elle menatap ke arah anaknya yang sedang bermain dengan Leo.Jack merasa jawaban itu tidak menjadi penghambat. Jika saat ini belum, artinya masih ada kemungkinan jika suatu saat nanti Elle akan membuka hati.“Kamu harus bisa move on. Lukas butuh sosok daddy.” Jack menatap Elle. Dia mengambil celah untuk membuat Elle membuka hati.Sejenak Elle melihat ke arah Lukas. Yang dikatakan Jack memang benar. Lukas memang selama ini butuh sosok daddy. Selama ini, Lukas juga berharap dapat bertemu dengan daddy-nya.“Anak-anak sebesar Lukas memang butuh sosok daddy. Apalagi dia anak laki-laki.” Suara Jack kembali terdengar.Kali ini Elle setuju dengan ucapan Jack. Lukas memang butuh sosok daddy, dan daddy Lukas ada di depan mata sekarang. Karena itu Elle pun bertekad untuk membuat Leo ingat kejadian enam tahun lalu.“Iya, kamu benar. Dia butuh sosok daddy.”Mendapati jawaban itu, Jack tampak senang. Karena artinya Elle mau berusaha membuka h
“Leo, kita ke Marlene Italian Restaurant.” Jack menatap Leo, memberikan perintah.“Baik, Pak.” Leo mengangguk. Elle melihat reaksi Leo. Sayangnya, Leo tampak biasa saja. Tidak menunjukan reaksi apa pun. Dia jadi bingung. Apa benar Leo tidak ingat tentang restoran yang dulu menjadi milik keluarganya itu.Leo melajukan mobilnya ke restoran yang diminta. Saat sampai di restoran, Leo memarkirkan mobilnya. Tak ada ekspresi apa pun yang terlihat pada wajah Leo. Tampak pria itu biasa saja. Tentu saja itu membuat Elle bingung. Seharusnya pria itu tampak terkejut karena dia mengajak ke restoran milik keluarganya yang dulu.“Leo, kamu ikut saja sekalian.” Sebelum keluar dari mobil, Elle menatap Leo. Dia masih belum puas jika melihat Leo tenang saja. Minimal pria itu harus terlihat jika tidak familiar dengan restoran yang berada di sana.“Baik, Bu.” Leo mengangguk.Akhirnya semua turun dari mobil. Elle berjalan bersama putranya. Di sampingnya ada Jack yang berjalan di sebelah Lukas. Mereka
Leo mengalihkan pandangan pada Jack. Karena yang berhak memberikan perintah padanya hanya Jack. Jadi dia tidak berani bertindak.“Uncle Leo, ayo turun.” Lukas melambaikan tangannya, ikut-ikut sang mommy mengajak Leo untuk masuk.Leo masih tidak keluar dari mobil. Dia masih diam dan tidak mengikuti perintah. Tatapannya masih terarah pada Jack yang berdiri di samping Lukas.“Turunlah, dan ikut masuk!” Akhirnya suara Jeck terdengar juga.Jika Jack sudah memerintahkan, artinya Leo tidak bisa menolak. Dengan segera dia keluar dari mobil.Melihat Leo yang sudah keluar, Elle segera menuju ke rumah. Asisten rumah tangga tampak sedang merapikan meja makan. Menyiapkan makan siang.“Kalian tunggu dulu di sini. Aku akan menemani Lukas mengganti baju dulu.” Elle menatap Leo dan Jack di ruang keluarga.“Baiklah.” Jack mengangguk.Jack duduk di sofa ruang keluarga bersama Leo. Menunggu Elle dan Lukas.“Maaf, Pak. Saya ikut masuk.” Leo menatap Jack, merasa tidak enak. “Karena Elle yang minta, ak
Mendapati Elle yang memberikan kotak makan, membuat Leo terperangah. Dia tentu terkejut dengan aksi Elle itu.“Kamu datang pagi-pagi, atasanmu makan, tapi kamu tidak. Jadi makanlah ini.” Elle menyodorkan kembali kotak makan tersebut. Leo masih ragu dengan apa yang diberikan Elle. Dia menatap Jack yang berada di sebelah Elle. Tatapannya seolah meminta untuk izin pada atasannya itu.Jack memberikan anggukan. Memberikan kode pada Leo untuk menerima bekal yang diberikan oleh Elle. Walaupun sebenarnya Jack sedikit kesal karena Elle memerhatikan Leo. Leo yang mendapatkan kode itu membuatnya segera menerima kotak makan tersebut. “Terima kasih, Bu.”“Aku permisi dulu.” Setelah memberikan makanan itu pada Leo, Elle segera keluar dari mobil. Leo meletakkan kotak makan di kursi penumpang yang berada di sebelahnya. Kemudian melajukan mobilnya ke kantor Jack. Di dalam mobil hening. Tidak ada yang bicara sama sekali. Jack pilih diam selama perjalan ke kantor. Sesampainya di kantor, Jack keluar
Leo membuka ponselnya. Dilihatnya pesan dari Jack yang memintanya untuk datang ke apartemennya lebih awal.Dengan segera Leo bersiap. Kemudian menjemput Jack di apartemen Jack. Beruntung kos milik Leo tak jauh dari apartemen Jack. Berada di belakang pemukiman di belakang apartemen Jack. Jadi dia bisa sampai dengan cepat ke apartemen. Leo juga hanya tinggal berjalan kaki ke apartemen Jack. Saat sampai, Leo harus melihat ruang tamu begitu berantakan sekali. Sambil menunggu Jack keluar, dia membersihkan ruang tamu. Membuang kaleng-kaleng soda ke tempat sampah dan merapikan beberapa sisa makanan ringan.“Ayo, berangkat.” Suara Jack terdengar ketika keluar dari kamarnya. “Pak Jack, tidak sarapan dulu?” Leo menatap Jack. Dia belum sempat membuatkan sarapan, tetapi Jack sudah mengajaknya pergi.“Tidak, aku akan sarapan di tempat Elle.” Jack berjalan mengambil kunci mobil. “Jadi kita akan ke tempat Bu Elle, Pak?”“Iya, sudah jangan banyak bertanya.” Jack melemparkan kunci mobil pada Leo. “
Mendapati jawaban itu membuat hati Elle merasa sakit. Dia tidak menyangka jika ternyata Leo tidak mengenalinya sama sekali. Padahal harusnya dia mengenali walaupun malam itu mereka mabuk. Buktinya, dirinya saja masih mengenali Leo.“Kita pernah bertemu di restoran Italia.” Elle menatap lekat sambil mencoba memberikan clue. Siapa tahu Leo ingat.“Restoran Italia?” Wajah Leo tampak bingung.“Restoran milik keluargamu.” Suara Elle kembali terdengar,mencoba menjelaskan lebih rinci.“Anda sepertinya sedang salah orang. Saya tidak punya restoran. Keluarga saya hanya keluarga dari desa. Mana bisa punya restoran.” Leo tersenyum mencela ucapan Elle.Elle berusaha mencerna ucapan itu. Kenapa bisa keluarga dari desa? Bukankah keluarga Smith berasal dari kota. Tentu saja itu membuatnya bingung.“Elle.” Jack menghampiri Elle. Dia yang menunggu merasa wanita itu terlalu lama. Karena itu dia memilih untuk menyusulnya. Alangkah terkejutnya ketika melihat Elle sedang mengobrol dengan Leo.Elle segera







