Se connecterMendapati jawaban itu membuat hati Elle merasa sakit. Dia tidak menyangka jika ternyata Leo tidak mengenalinya sama sekali. Padahal harusnya dia mengenali walaupun malam itu mereka mabuk. Buktinya, dirinya saja masih mengenali Leo.
“Kita pernah bertemu di restoran Italia.” Elle menatap lekat sambil mencoba memberikan clue. Siapa tahu Leo ingat. “Restoran Italia?” Wajah Leo tampak bingung. “Restoran milik keluargamu.” Suara Elle kembali terdengar,mencoba menjelaskan lebih rinci. “Anda sepertinya sedang salah orang. Saya tidak punya restoran. Keluarga saya hanya keluarga dari desa. Mana bisa punya restoran.” Leo tersenyum mencela ucapan Elle. Elle berusaha mencerna ucapan itu. Kenapa bisa keluarga dari desa? Bukankah keluarga Smith berasal dari kota. Tentu saja itu membuatnya bingung. “Elle.” Jack menghampiri Elle. Dia yang menunggu merasa wanita itu terlalu lama. Karena itu dia memilih untuk menyusulnya. Alangkah terkejutnya ketika melihat Elle sedang mengobrol dengan Leo. Elle segera mengalihkan pandangannya ketika mendengar suara Jack. Dia tampak terkejut melihat Jack menghampirinya. “Kamu di sini?” “Iya, kamu lama sekali. Jadi aku ke sini.” Jack menatap Elle. Wajahnya tampak curiga. Melihat Jack yang berada di tempat yang sama, membuat Elle berpikir jika anaknya kini tengah sendiri. Tanpa menjawab apa-apa, Dia segera berlalu untuk menghampiri anaknya. Jack segera menyusul. Mengikuti Elle dari belakang. Elle tampak panik ketika anaknya sendiri. Beruntung anaknya baik-baik saja. “Tadi aku mencarimu karena Lukas menunggu lama.” Jack menatap Elle yang tampak khawatir. “Lukas tadi cari Mommy?” Elle tidak menjawab ucapan Jack, justru beralih menatap anaknya. “Iya, Mommy lama sekali tadi.” Lukas mengangguk. Wajahnya tampak sedih. Elle merasa jika sejak bertemu Leo, dia terus mengabaikan anaknya. Pertama waktu di pesta, sekarang di restoran. Rasanya, Elle benar-benar menyesal. Karena mengabaikan anak semata wayangnya itu. “Maaf tadi Mommy lama.” Elle mendaratkan kecupan di puncak rambut Lukas. “Iya, Mommy.” Lukas mengangguk. Leo kembali dari toilet. Bergabung dengan Elle dan juga Jack. Elle yang melihat Leo benar-benar masih bingung. Dia memikirkan kenapa Leo seolah menyembunyikan fakta jika dia adalah anak seorang pengusaha restoran. Walaupun sebenarnya kini restoran itu bukan miliknya lagi karena sudah berpindah tangan pada kakak tirinya. Banyak sekali pertanyaan di kepala Elle dengan sikap Leo itu. Tetapi, dia tidak bisa langsung mendapatkan jawaban sekarang. “Jack, sepertinya aku harus segera pulang. Aku harus mengantarkan Lukas pulang dulu. Kita atur makan siang lagi lain waktu.” Elle menatap Jack. Dia harus mengetahui semua tentang Leo, tapi bukan sekarang. Jadi dia memanfaatkan pertemuan dengan Jack lagi. “Baiklah kalau begitu.” Jack mengangguk. “Ayo, Sayang.” Elle segera meraih tangan anaknya dna mengajak anaknya. “Da ... Uncle Jack.” Lukas melambaikan tangan. “Da ... Lukas.” Jack membelai lembut kepala Lukas. Lukas segera beralih pada Leo yang berada di belakang Jack. “Sampai jumpa lagi Uncle Leo.” Senyum menghiasi wajahnya. “Sampai jumpa, Jagoan.” Leo melayangkan tangan meminta tos pada Lukas. Lukas dengan semangat langsung menerima tos. Wajahnya tampak senang sekali diajak tos oleh Leo. Leo mengulas senyumnya. Kemudian beralih pada Elle. Dia menganggukkan kepalanya untuk memberikan salam pada Elle yang hendak pulang. Elle sedikit kesal dengan Leo yang seolah tidak mengenalinya itu. Dia masih belum bisa menebak apa yang membuat Leo tidak mengenalinya. “Ayo, Ukas.” Elle menarik lembut tangan Lukas untuk pulang. Lukas langsung menautkan jari jemari mungilnya di tangan sang mommy. Kemudian mengayunkan langkahnya mengimbangi sang mommy. Kini di restoran tinggal tersisa Jack dan Leo saja. Dia pria itu pun masih melihat Elle dan Lukas yang berjalan keluar. “Leo, bayar makan siang ini. Lalu, ayo kita kembali ke kantor.” Jack menatap Leo memberikan perintah pada asistennya itu. “Baik, Pak.” Leo mengangguk. Kemudian berlalu ke kasir untuk membayar makan siang yang mereka nikmati tadi. Jack duduk kembali untuk menunggu Leo. Leo kembali beberapa saat kemudian. Jack meminta Leo untuk duduk lebih dulu. Karena ada beberapa yang ingin ditanyakan. “Aku melihatmu bicara dengan Elle. Apa yang kamu bicarakan?” Jack menatap dengan tatapan ingin tahu. Leo terdiam. Jika dia mengatakan kejujuran apa yang dilakukan Elle, pasti atasannya akan merasa aneh jika Elle kenal dirinya. “Nona Elle hanya bertanya apakah air keran di toilet tadi mati, Pak.” Leo tersenyum agar alasan palsunya diterima. Jack diam. Dia memikirkan tidak mungkin Elle menanyakan hal lain. Karena Elle dan Leo tidak saling kenal. “Aku harus mendekatinya, tapi dia tampak dingin sekali.” Jack mengembuskan napasnya, sedikit frustasi. Dia merasa usaha untuk mendekati Elle sepertinya akan sangat sulit sekali. “Jika boleh saya saran, Anda bisa menggunakan anaknya, Pak.” Suara Leo terdengar bersemangat, memberikan komentar atas curahan hati atasannya itu. “Lukas maksud kamu?” Jack menatap Leo. “Iya, biasanya jika anak bisa dekat dengan calon ayahnya, ibunya pun akan luluh.” Mendengar ucapan Leo itu, Jack berbinar. Sepertinya memang cara itu cocok untuknya. “Baiklah, aku akan dekati anaknya dulu. Pasti Elle akan mau menerima aku.” Wajah Jack begitu semringah sekali. Leo ikut senang. Dengan sang atasan memiliki pasangan, paling tidak pekerjaannya akan sedikit berkurang. Karena kebutuhan pribadi pasti akan disiapkan oleh istrinya. **** Elle mengantarkan anaknya untuk pulang. Lukas langsung mandi sebelum tidur siang. Lukas begitu pintar. Banyak hal yang dikerjakannya sendiri. Hal itu membuat Elle begitu bangga. Namun, sebagai orang tua, dia tetap berada di sisi anaknya. “Mommy tidak kembali ke kantor?” Lukas yang hendak tidur menatap sang mommy. “Tidak, Sayang, sudah jam segini juga.” Waktu sudah menunjukan jam setengah tiga siang. jadi Elle merasa jika akan capek jika berangkat ke kantor jam segini. Karena nanti jam lima dia akan pulang. Lukas mengangguk. Kemudian naik ke atas tempat tidur. Walaupun sudah sedikit terlambat untuk tidur siang, Lukas, tetap melakukannya. Nanti akan bangun sekitar jam empat. “Ayo, Mommy temani.” Elle duduk di karpet sambil membelai lembut rambut sang anak. Lukas dengan senangnya bersiap tidur. Belaian sang mommy membuatnya akan jauh lebih cepat tidur. Perlahan Lukas tertidur. Rasa kantuk yang menghampiri membuatnya dalam hitungan detik tertidur. Apalagi belaian lembut sang mommy. Mengantarkan tidur lebih cepat. Elle melihat wajah Lukas. Jika diperhatikan, wajah Lukas benar-benar mirip dengan Leo. Alergi yang dirasakan oleh Lukas itu juga diturunkan oleh Leo. Menjelaskan jika darah yang sama tidak akan bisa dielakkan. “Kamu benar-benar persis daddy-mu.” Elle membelai rambut Lukas, merasa jika anaknya memang memilih darah keluarga Smith. Namun, tiba-tiba hati Elle merasa sakit ketika mengingat bagaimana Leo bertanya balik padanya. Seolah pria itu tidak mengenal dirinya sama sekali. “Apa dia benar-benar tidak mengenal aku? Atau memang sengaja pura-pura tidak mengenal aku?”“Untuk saat ini belum. Aku mau fokus pada Lukas saja.” Elle menatap ke arah anaknya yang sedang bermain dengan Leo.Jack merasa jawaban itu tidak menjadi penghambat. Jika saat ini belum, artinya masih ada kemungkinan jika suatu saat nanti Elle akan membuka hati.“Kamu harus bisa move on. Lukas butuh sosok daddy.” Jack menatap Elle. Dia mengambil celah untuk membuat Elle membuka hati.Sejenak Elle melihat ke arah Lukas. Yang dikatakan Jack memang benar. Lukas memang selama ini butuh sosok daddy. Selama ini, Lukas juga berharap dapat bertemu dengan daddy-nya.“Anak-anak sebesar Lukas memang butuh sosok daddy. Apalagi dia anak laki-laki.” Suara Jack kembali terdengar.Kali ini Elle setuju dengan ucapan Jack. Lukas memang butuh sosok daddy, dan daddy Lukas ada di depan mata sekarang. Karena itu Elle pun bertekad untuk membuat Leo ingat kejadian enam tahun lalu.“Iya, kamu benar. Dia butuh sosok daddy.”Mendapati jawaban itu, Jack tampak senang. Karena artinya Elle mau berusaha membuka h
“Leo, kita ke Marlene Italian Restaurant.” Jack menatap Leo, memberikan perintah.“Baik, Pak.” Leo mengangguk. Elle melihat reaksi Leo. Sayangnya, Leo tampak biasa saja. Tidak menunjukan reaksi apa pun. Dia jadi bingung. Apa benar Leo tidak ingat tentang restoran yang dulu menjadi milik keluarganya itu.Leo melajukan mobilnya ke restoran yang diminta. Saat sampai di restoran, Leo memarkirkan mobilnya. Tak ada ekspresi apa pun yang terlihat pada wajah Leo. Tampak pria itu biasa saja. Tentu saja itu membuat Elle bingung. Seharusnya pria itu tampak terkejut karena dia mengajak ke restoran milik keluarganya yang dulu.“Leo, kamu ikut saja sekalian.” Sebelum keluar dari mobil, Elle menatap Leo. Dia masih belum puas jika melihat Leo tenang saja. Minimal pria itu harus terlihat jika tidak familiar dengan restoran yang berada di sana.“Baik, Bu.” Leo mengangguk.Akhirnya semua turun dari mobil. Elle berjalan bersama putranya. Di sampingnya ada Jack yang berjalan di sebelah Lukas. Mereka
Leo mengalihkan pandangan pada Jack. Karena yang berhak memberikan perintah padanya hanya Jack. Jadi dia tidak berani bertindak.“Uncle Leo, ayo turun.” Lukas melambaikan tangannya, ikut-ikut sang mommy mengajak Leo untuk masuk.Leo masih tidak keluar dari mobil. Dia masih diam dan tidak mengikuti perintah. Tatapannya masih terarah pada Jack yang berdiri di samping Lukas.“Turunlah, dan ikut masuk!” Akhirnya suara Jeck terdengar juga.Jika Jack sudah memerintahkan, artinya Leo tidak bisa menolak. Dengan segera dia keluar dari mobil.Melihat Leo yang sudah keluar, Elle segera menuju ke rumah. Asisten rumah tangga tampak sedang merapikan meja makan. Menyiapkan makan siang.“Kalian tunggu dulu di sini. Aku akan menemani Lukas mengganti baju dulu.” Elle menatap Leo dan Jack di ruang keluarga.“Baiklah.” Jack mengangguk.Jack duduk di sofa ruang keluarga bersama Leo. Menunggu Elle dan Lukas.“Maaf, Pak. Saya ikut masuk.” Leo menatap Jack, merasa tidak enak. “Karena Elle yang minta, ak
Mendapati Elle yang memberikan kotak makan, membuat Leo terperangah. Dia tentu terkejut dengan aksi Elle itu.“Kamu datang pagi-pagi, atasanmu makan, tapi kamu tidak. Jadi makanlah ini.” Elle menyodorkan kembali kotak makan tersebut. Leo masih ragu dengan apa yang diberikan Elle. Dia menatap Jack yang berada di sebelah Elle. Tatapannya seolah meminta untuk izin pada atasannya itu.Jack memberikan anggukan. Memberikan kode pada Leo untuk menerima bekal yang diberikan oleh Elle. Walaupun sebenarnya Jack sedikit kesal karena Elle memerhatikan Leo. Leo yang mendapatkan kode itu membuatnya segera menerima kotak makan tersebut. “Terima kasih, Bu.”“Aku permisi dulu.” Setelah memberikan makanan itu pada Leo, Elle segera keluar dari mobil. Leo meletakkan kotak makan di kursi penumpang yang berada di sebelahnya. Kemudian melajukan mobilnya ke kantor Jack. Di dalam mobil hening. Tidak ada yang bicara sama sekali. Jack pilih diam selama perjalan ke kantor. Sesampainya di kantor, Jack keluar
Leo membuka ponselnya. Dilihatnya pesan dari Jack yang memintanya untuk datang ke apartemennya lebih awal.Dengan segera Leo bersiap. Kemudian menjemput Jack di apartemen Jack. Beruntung kos milik Leo tak jauh dari apartemen Jack. Berada di belakang pemukiman di belakang apartemen Jack. Jadi dia bisa sampai dengan cepat ke apartemen. Leo juga hanya tinggal berjalan kaki ke apartemen Jack. Saat sampai, Leo harus melihat ruang tamu begitu berantakan sekali. Sambil menunggu Jack keluar, dia membersihkan ruang tamu. Membuang kaleng-kaleng soda ke tempat sampah dan merapikan beberapa sisa makanan ringan.“Ayo, berangkat.” Suara Jack terdengar ketika keluar dari kamarnya. “Pak Jack, tidak sarapan dulu?” Leo menatap Jack. Dia belum sempat membuatkan sarapan, tetapi Jack sudah mengajaknya pergi.“Tidak, aku akan sarapan di tempat Elle.” Jack berjalan mengambil kunci mobil. “Jadi kita akan ke tempat Bu Elle, Pak?”“Iya, sudah jangan banyak bertanya.” Jack melemparkan kunci mobil pada Leo. “
Mendapati jawaban itu membuat hati Elle merasa sakit. Dia tidak menyangka jika ternyata Leo tidak mengenalinya sama sekali. Padahal harusnya dia mengenali walaupun malam itu mereka mabuk. Buktinya, dirinya saja masih mengenali Leo.“Kita pernah bertemu di restoran Italia.” Elle menatap lekat sambil mencoba memberikan clue. Siapa tahu Leo ingat.“Restoran Italia?” Wajah Leo tampak bingung.“Restoran milik keluargamu.” Suara Elle kembali terdengar,mencoba menjelaskan lebih rinci.“Anda sepertinya sedang salah orang. Saya tidak punya restoran. Keluarga saya hanya keluarga dari desa. Mana bisa punya restoran.” Leo tersenyum mencela ucapan Elle.Elle berusaha mencerna ucapan itu. Kenapa bisa keluarga dari desa? Bukankah keluarga Smith berasal dari kota. Tentu saja itu membuatnya bingung.“Elle.” Jack menghampiri Elle. Dia yang menunggu merasa wanita itu terlalu lama. Karena itu dia memilih untuk menyusulnya. Alangkah terkejutnya ketika melihat Elle sedang mengobrol dengan Leo.Elle segera







