Share

Bab 138

Author: Kayla Sango
Sudut Pandang Vivian.

Dua hari setelah pengungkapan tentang Elisa dan mobil Alex, aku masih berusaha mencerna semua yang sudah kami temukan. Adriel menghabiskan pagi hari di telepon bersama Rivan membahas langkah selanjutnya dalam penyelidikan, sementara aku mencoba mempertahankan semacam rutinitas normal atau setidaknya berusaha.

Dari ambang pintu, aku memperhatikannya bergerak di dalam ruangan, menyadari betapa dia terlihat jauh lebih kuat dan stabil. Kekakuan yang sempat tersisa dalam gerakan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 142

    Adriel masih mengancingkan kancing terakhir kemejanya saat aku membuka pintu dan mendapati Anna serta Rivan di luar. Adikku langsung masuk seperti badai dengan penuh energi dan antusiasme tentang berita pentingnya, sementara Rivan menyusul di belakangnya dengan wajah yang sangat serius sampai terasa kontras dengan suasana hati Anna. Tidak butuh waktu lama untuk menyadari ketegangan di antara mereka. Mereka menjaga jarak sopan, dan ini sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ada."Hai, Kak!" sapa Anna dan mengecup pipiku sebelum tiba-tiba berhenti. Matanya berpindah cepat antara aku dan Adriel, alisnya langsung terangkat. "Kenapa kalian berdua kelihatan seperti habis lari maraton? Dan kenapa Adriel kelihatan seperti kalah berantem sama sisir?"Wajahku langsung panas saat aku buru-buru merapikan rambut."Anna," gumamku yang malu setengah mati."Ohhh," katanya sambil tertawa saat melihat ekspresi Adriel. "Ngerti. Maaf soal waktunya, tapi sumpah ini penting!""Sebaiknya memang penting," gumam

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 141

    Sudut pandang Vivian.Cahaya lembut dari TV berkedip di wajah kami saat kami menonton film konyol tentang alien yang jatuh cinta dengan manusia. Adriel bersikeras kami butuh sesuatu yang santai dan tanpa stres, jujur saja, dia benar. Setelah semua yang kami lewati beberapa minggu terakhir ini, malam tenang di rumah memang tepat seperti yang kami butuhkan.Aku meringkuk di dadanya di atas sofa, sambil memegang mangkuk di pangkuanku yang berisi ngidam terbaruku yaitu es krim vanila dengan irisan acar dan mustar. Aku tahu ini terdengar menjijikkan, tapi entah kenapa aku tidak bisa berhenti memakannya."Vivian," kata Adriel sambil memperhatikanku mencelupkan acar lagi ke dalam es krim. "Itu mungkin hal paling aneh yang pernah kulihat kamu makan.""Bukan salahku," kataku sambil mengambil suapan besar. "Ini gara-gara hormon. Itu bikin aku ngidam hal-hal paling aneh.""Itu bahkan lebih dari sekedar aneh," godanya sambil mengecup puncak kepalaku. "Minggu lalu cokelat dan sarden. Sekarang ini.

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 140

    Sudut pandang Anna.Aku tidak pernah menyangka bakal duduk di kafe murah di pusat kota sambil membahas percobaan pembunuhan dan konspirasi perusahaan. Tapi dengan Vivian yang sedang hamil dan Adriel masih dalam masa pemulihan setelah kecelakaan, aku dan Rivan jadi satu-satunya yang bisa menggali informasi. Jujur saja, aku mulai sadar kalau aku ternyata cukup jago dalam hal ini."Anna, fokus," kata Rivan tajam sambil mendorong sebuah berkas ke arahku. "Kita punya informasi yang bisa menyelamatkan nyawa Adriel.""Santai, Detektif," godaku sambil tetap mengambil berkas itu. "Kamu terlalu serius. Apa selanjutnya? Kacamata hitam sama nama sandi?"Rivan menatapku datar dan jelas tidak sedang ingin bercanda. Dia terlihat fokus, terkendali dan benar-benar berbeda dari sosok santai yang biasa aku kenal. Situasi ini mengubahnya."Kita mulai saja," katanya dengan nada tenang dan singkat. "Aku sudah mengumpulkan bukti yang cukup kuat. Tiga kamera keamanan yang berbeda menangkap mobil yang sama di

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 139

    Aroma daging panggang di halaman belakang rumah orang tuaku langsung membawaku kembali ke masa kecil. Minggu-minggu yang hampir terasa sakral, dipenuhi canda keluarga dan daging panggang terkenal ayahku. Hari ini tidak berbeda, kecuali sekarang Adriel duduk di salah satu kursi plastik tua dekat panggangan sambil mendengarkan dengan saksama cerita ayahku.Agak lucu melihatnya di sana, pria yang biasanya hadir di acara berdasi hitam dan restoran bintang lima, begitu santai di halaman belakang kami yang sederhana. Kaos polo, jeans, dan segelas bir di tangan. Dia tampak seperti memang dilahirkan untuk momen ini. Ayah bersikeras Adriel tetap dekat panggangan untuk mengawasi, yang tentu saja berarti terus dikasih cerita dan saran-saran yang nggak diminta tentang cara memberi bumbu."Vivian," panggil ibuku dari pintu dapur sambil membawa nampan berisi salad. "Makanan ibu hamilmu sudah siap. Dan sebelum kamu tanya, ya, aku sudah mencucinya tiga kali."Aku tersenyum dan mengambil nampan darinya

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 138

    Sudut Pandang Vivian.Dua hari setelah pengungkapan tentang Elisa dan mobil Alex, aku masih berusaha mencerna semua yang sudah kami temukan. Adriel menghabiskan pagi hari di telepon bersama Rivan membahas langkah selanjutnya dalam penyelidikan, sementara aku mencoba mempertahankan semacam rutinitas normal atau setidaknya berusaha.Dari ambang pintu, aku memperhatikannya bergerak di dalam ruangan, menyadari betapa dia terlihat jauh lebih kuat dan stabil. Kekakuan yang sempat tersisa dalam gerakannya setelah kecelakaan hampir sepenuhnya hilang. Memar di wajahnya sudah memudar menjadi bayangan samar, dan dia kembali memiliki energi tenang yang sempat aku khawatirkan tidak akan pernah kembali.Saat dia mengakhiri panggilan, aku bersandar di kusen pintu, dan mencoba menyembunyikan rasa gugup di balik senyum menggoda."Kalau kamu sudah cukup sehat sampai bisa menyelinap ke dalam mobil saat penyelidikan," kataku sambil menyilangkan tangan. "Aku rasa mungkin kamu mau ikut denganku ke janji te

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 137

    Sudut Pandang Adriel.Aku sudah menyesuaikan alat komunikasi di telinga kecil itu untuk ketiga kalinya dalam lima menit terakhir saat duduk di kursi belakang mobil Rivan. Suaranya jelas dan aku bisa mendengar setiap kata dari percakapan Vivian dan Alex lewat alat perekam yang tersembunyi di dalam tasnya. Tapi itu sama sekali tidak membuatku tenang."Santai saja, bro," gumam Rivan dari kursi pengemudi sambil mengamatiku lewat kaca spion. "Kamu kelihatan seperti penguntit obsesif.""Diam, Rivan," geramku. Mataku terpaku pada jendela kafe tempat aku bisa melihat bayangan Vivian dan Alex."Dia tidak salah," kata Anna dari kursi penumpang dengan senyum yang menggoda di bibirnya. "Kamu itu sudah hampir habis menggigit kuku sendiri. Lumayan lucu, sebenarnya."Suara Alex terdengar lewat alat komunikasi di telinga, halus dan penuh percaya diri dengan cara yang otomatis membuat tanganku mengepal."Vivian, kamu kelihatan luar biasa. Kamu memang selalu tahu cara bikin aku hilang kendali, ya?"Anna

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 75

    Setelah Lydia pergi, aku tetap duduk lama di teras, kata-katanya berputar-putar di kepalaku seperti daun yang diterbangkan badai. Aku perlu tahu lebih banyak, dan memahami apa yang sebenarnya terjadi bertahun-tahun lalu.Tepat saat ini Lusi muncul dengan kopiku, dan saat dia menata meja, aku memutus

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 72

    Aku sedang berusaha menenangkan diri di beranda ketika kulihat sosok yang familiar mendekat. Suara Lydia terdengar lebih dulu sebelum aku sempat melihatnya."Wah, Vivian, pertunjukan yang memalukan sekali," katanya, muncul dari bayangan seperti hantu yang tidak diundang. "Merusak sebotol Brunello 19

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 67

    Saat kami berjalan kembali ke festival, keheningan yang nyaman menyelimuti kami. Pengungkapan tentang masa lalu Adriel dengan Lydia masih membebani pikiranku, tapi entah bagaimana, aku merasa dia benar-benar terbuka padaku, dan memperlihatkan kerentanan yang jarang dia tunjukkan pada siapa pun.Alun

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 69

    Bulan menebarkan cahaya peraknya di atas kebun anggur saat Adriel menarikku ke pelukannya dengan desakan yang sama seperti hasratku sendiri. Tidak ada kata-kata, hanya suara napas kami yang terengah-engah saat dia perlahan menurunkanku di antara barisan pohon anggur yang kini seolah menyandang namak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status