Se connecter"Kau serius? Kau benar-benar berpikir aku masih mencintaimu?"Wang Yichen terdiam. Matanya menatap Ning Yuan dengan tatapan yang sulit diartikan. Entah itu perasaan marah, bingung, atau yang lain, kini semua seakan menjadi satu. Satu perasaan yang bahkan dia sendiri tidak mengerti. Perlahan, senyum sinis mengembang di bibir Wang Yichen.."Baik!" ucapnya dengan suara keras, hampir berteriak. "Jika kau memang masih ingin meneruskan sandiwara ini, Ning Yuan! Akan aku ladeni sandiwaramu ini!" Dia menunjuk ke arah Ning Yuan dengan jari gemetar. "Aku mau lihat, sampai kapan kau akan sanggup bertahan dengan sandiwaramu!"Ning Yuan membuka mulut ingin membantah, tapi Wang Yichen sudah berbalik dan melangkah keluar dengan langkah lebar dan penuh amarah. Pintu kamarnya dibanting hingga berguncang.Ning Yuan hanya bisa berdiri di sana, tercengang. Pria itu benar-benar gila!Dia menghela napas panjang dan duduk di tepi tempat tidur. Tangannya menggenggam erat ujung selimut. "Sudahlah. Aku tidak
"Maaf..." Ning Yuan mengalihkan pandangannya ke arah lain, tidak berani menatap mata Lou Yu lagi. "Hanya saja aku merasa kau mirip dengan seseorang."Lou Yu terdiam sejenak. Di balik topengnya, matanya menyipit. Bukan karena curiga, tapi karena ada sesuatu yang berdesir di dadanya. Dia merasakannya?"Kekasihmu?" tebak Lou Yu dengan nada main-main, berusaha menyembunyikan getaran di hatinya.Ning Yuan tersentak. Wajahnya memerah. "A-apa? T-tidak! Bukan!" Dia menggeleng dengan cepat, terlalu cepat, membuatnya terlihat semakin mencurigakan. "Dia bukan kekasihku! Dia hanya... seseorang yang kukenal dulu. Sudah lama. Sangat lama."Lou Yu menahan senyum di balik topengnya. "Kau berbohong, Ning Yuan. Aku tahu kau tidak akan pernah bisa melupakanku.""Tuan Muda Lou," Ning Yuan segera mengalihkan topik, suaranya berusaha terdengar tenang meskipun jantungnya berdebar kencang. "Kembali ke topik pembicaraan kita tadi tentang gaun pengantin itu. Apakah kau benar-benar tidak bisa melepaskannya untu
Dengan tangan yang mantap, Tuan Besar Wang mengambil kuas dan tinta emas. Dia membuka halaman terakhir buku silsilah keluarga Wang, lalu dengan tulisan yang indah dan rapi, lalu menuliskan nama Ning Yuan di dalam buku silsilah keluarga Wang. "Dengan ini, kau resmi menjadi putri dari keluarga Wang. Seluruh hak dan kewajiban sebagai anggota keluarga Wang berlaku bagimu mulai hari ini.""Terima kasih, Ayahanda." ucap Ning Yuan, puas.Saat senyum puas Ning Yuan masih mengembang, tiba-tiba tangan Wang Yichen yang kasar menggenggam pergelangan tangannya dengan erat dan menariknya keluar dari paviliun."Apa perlu sampai sejauh ini kau bersandiwara, Yuan?"Ning Yuan terkejut. "Kak—""Apa kau tidak tahu prosesi seperti hari ini sangat sakral dan tidak bisa kau jadikan bagian dari rencana licikmu?" suara Wang Yichen meninggi, mata merahnya menatap Ning Yuan dengan penuh amarah dan... sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa dia pahami. "Cukup, Yuan! Cukupkan semua sandiwaramu sebelum kau men
Seharian ini Wang Yichen tidak tenang. Dia bolak-balik melihat ke luar jendela kamarnya yang tidak jauh dari paviliun neneknya. Langkahnya mondar-mandir di atas lantai kayu, menciptakan suara berdecit yang mengganggu ketenangan ruangan."Kak, kau kenapa?" tanya Liu Meiling dari kursi di sudut ruangan, matanya mengamati tunangannya dengan cermat.Wang Yichen berhenti sejenak, lalu kembali melangkah. "Tidak. Aku tidak kenapa-napa."Liu Meiling mengerutkan kening. Dia bangkit dan berjalan mendekat. "Kak, kau yakin tidak kenapa-napa? Kau terlihat gelisah. Dari tadi pagi kau bolak-balik melihat ke luar jendela seperti sedang menunggu sesuatu."Wang Yichen menghela napas. Di satu sisi, ada keyakinan keras dalam dirinya bahwa Ning Yuan pasti sedang merencanakan sesuatu yang besar hari ini untuk membatalkan prosesi pengangkatannya sebagai anak keluarga Wang. Itu pasti! "Tidak mungkin gadis keras kepala itu tiba-tiba menyerah begitu saja. Pasti ada akal-akalan di balik semua ini." Batin Wang Y
Sesampainya di paviliun Nyonya Tua Wang, Ning Yuan langsung disambut oleh suasana yang hangat. Nyonya Tua sedang duduk di kursi goyangnya, menikmati teh sambil mengipasi dirinya dengan kipas sutra."Nenek," sapa Nyonya Wang dengan hormat. "Hari ini aku membawa Yuan untuk menyampaikan sesuatu."Nyonya Tua Wang mengangkat alisnya. Matanya yang keriput menatap Ning Yuan. "Ada apa, Yuan? Kau jarang datang ke paviliunku."Ning Yuan membungkuk sopan. "Nenek, aku ingin meminta izin..."Dengan hati-hati, Ning Yuan menyampaikan niatnya. Dia menjelaskan keinginannya untuk menetap di kota ini, membuka toko, dan menjadi anak angkat keluarga Wang.Nyonya Tua Wang mendengarkan dengan saksama. Setelah Ning Yuan selesai bicara, wanita tua itu terdiam beberapa saat. Lalu, perlahan, senyum mengembang di wajahnya yang keriput."Aku setuju," kata Nyonya Tua dengan suara mantap.Ning Yuan terkejut. "Nenek—""Tidak hanya setuju," potong Nyonya Tua, matanya berkilat. "Aku bahkan ingin mencatat namamu dalam
Ning Yuan menarik napas dalam-dalam di depan pintu kamar Nyonya Wang. Keputusannya sudah bulat. Dia mengetuk pintu dengan mantap."Masuk," suara Nyonya Wang terdengar dari dalam.Ning Yuan membuka pintu dan melangkah masuk. Nyonya Wang sedang duduk di depan meja rias, merapikan sanggulnya. Begitu melihat Ning Yuan, wajahnya langsung berseri."Yuan! Kau datang. Ada apa, sayang?" sapa Nyonya Wang dengan nada lembut.Ning Yuan menunduk sopan. "Bibi, aku ingin bicara sesuatu yang penting.""Tentu, duduklah." Nyonya Wang menepuk kursi di sampingnya.Ning Yuan duduk, tangannya menggenggam erat ujung kain bajunya. "Bibi, aku sudah berpikir dengan matang... Aku memutuskan untuk menetap di kota ini."Nyonya Wang mengerjap, lalu tersenyum. "Benarkah? Itu kabar baik, Yuan! Aku sangat senang mendengarnya.""Ya, Bibi." Ning Yuan mengangguk. "Aku sudah survey beberapa lokasi dan sepertinya prospek di sini bagus. Aku berencana membuka beberapa toko di kota ini." Dia berhenti sejenak, menelan ludah.







