LOGINNing Yuan memasuki ruang utama dan segera memberi hormat pada Nyonya Besar Wang. Wanita tua itu duduk di kursi utama dengan wajah keriput dan tatapan tajam. Meskipun usianya sudah sangat sepuh, matanya masih awas mengamati setiap orang yang masuk ke rumahnya."Hormat pada Nyonya Besar Wang," kata Ning Yuan dengan sopan. "Semoga Nyonya Besar selalu sehat."Nyonya Besar Wang mengangguk dingin. "Ning Yuan. Sudah lama tidak bertemu. Kau tumbuh semakin dewasa.""Terima kasih, Nyonya Besar."Wanita tua itu tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia tidak begitu menyukai Ning Yuan, tapi juga tidak terlalu membencinya. Baginya, Ning Yuan hanyalah anak yatim piatu dari kalangan pedagang yang tidak akan ada gunanya bagi keluarga Wang. Tapi karena Ning Yuan cukup penurut saat tinggal di sana dulu, dia tidak pernah menunjukan rasa risih jika Ning Yuan datang.Makan malam berlangsung dengan suasana yang cukup hangat—setidaknya di permukaan. Nyonya Wang terus meletakan makanan yang enak-enak di depan Ning
Kereta akhirnya berhenti di depan gerbang kediaman keluarga Wang.Ning Yuan turun dengan hati-hati, matanya menatap rumah besar di hadapannya. Rumah itu masih sama seperti yang dia ingat—halaman luas dengan pohon-pohon rindang, taman kecil di depan, dan deretan bunga yang ditanam dengan rapi di sepanjang pagar.Seorang wanita paruh baya dengan wajah ramah berlari keluar dari pintu utama. Begitu melihat Ning Yuan, wajahnya langsung berseri-seri."Ning Yuan!" serunya, berlari menghampiri. "Kau benar-benar datang! Aku sangat senang melihatmu!""Bibi!" Ning Yuan tersenyum lebar, membalas pelukan hangat wanita itu. "Aku rindu padamu."Nyonya Wang melepaskan pelukannya, menatap Ning Yuan dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kau tumbuh semakin cantik, Yuan. Aku hampir tidak mengenalimu. Kemarilah, biar aku lihat wajahmu lebih dekat."Ning Yuan tertawa kecil, membiarkan Nyonya Wang memeriksa wajahnya dengan penuh kasih sayang. "Bibi.. kau yang semakin cantik. Bibi apa kabar? Bibi sehat kan?"
Di dalam kereta, Ning Yuan duduk dengan tenang, matanya menatap keluar jendela. Qinlan di sampingnya, sesekali menatap majikannya dengan khawatir.Setelah beberapa jam perjalanan, Qinlan akhirnya memberanikan diri bertanya. "Nona, bukankah kita seharusnya menuju ke arah Baili? Tapi kenapa kereta ini malah berbelok ke arah yang berbeda?"Ning Yuan tersenyum tipis. "Aku mengubah rencana, Qinlan."Qinlan mengerutkan kening. "Nona?""Aku tidak akan pergi ke Baili," kata Ning Yuan pelan. "Aku akan pergi ke tempat lain. Ke tempat yang tidak akan terpikirkan oleh siapa pun.""Tapi Yang Mulia Janda Permaisuri sudah mengatur semuanya untuk nona di sana—""Aku tahu." Ning Yuan menatap pelayannya dengan tatapan teduh. "Tapi aku tidak ingin hidup di bawah perlindungan orang lain, Qinlan. Aku ingin memulai hidup baru dengan caraku sendiri."Qinlan terdiam. Dia tidak bisa membantah."Malam ini, aku akan pergi ke tempat kenalan ibuku. Ke kediaman keluarga Wang. Nyonya Wang adalah sahabat ibuku. Ruma
Shen Ziyuan berjalan menyusuri koridor menuju kamarnya. Langkahnya ringan, hatinya terasa lega. Meskipun Ning Yuan telah menghancurkan keluarga Shen dengan tuntutan hutang yang sangat besar, setidaknya dia bisa hidup dengan tenang bersama Ning Xue'er tanpa gunjingan orang.Status Ning Xue'er yang hanya anak selir, selama ini sangat mengusiknya. Itulah mengapa dia selalu mengupayakan agar Ning Xue'er menjadi istri setara. Paling tidak dengan begitu, orang-orang tidak akan memandang remeh pada Ning Xue'er.Dan kini, dengan perceraian ini, jalan malah terbuka lebar. Ning Yuan pergi dengan sendirinya, dan Xue'er otomatis bisa menjadi istri sah Shen Ziyuan.Shen Ziyuan tersenyum tipis. "Akhirnya bisa aku memberikannya status yang tinggi."Shen Ziyuan teringat masa kecilnya. Saat anak-anak lain membulinya, mendorongnya ke sungai, dan dia hampir tenggelam. Tangan kecil menariknya keluar. Tangan dengan gelang tali merah di pergelangannya.Gelang yang sama yang dia lihat di tangan Ning Xue'er.
Dua tahun lalu...Weitian berjalan menyusuri jalanan malam dengan jubah hitam yang menyamarkan identitasnya. Ini adalah kebiasaannya—keluar dari istana tanpa sepengetahuan siapa pun, menyusup di antara rakyat biasa, mendengar apa yang mereka katakan tentang pemerintahannya.Malam itu, langkahnya membawanya ke Paviliun Bulan, untuk sebuah alasan yang lebih pribadi ketimbang urusan kerajaan.Dan di sanalah dia melihatnya.Seorang wanita berjalan sempoyongan di bawah cahaya rembulan. Gaun merah pengantinnya masih melekat di tubuhnya dengan mahkota pengantin di kepalanya yang sudah miring. Wajahnya merah, napasnya memburu, dan matanya... matanya penuh dengan kepanikan dan kebingungan.Weitian mengenali wanita itu. Ning Yuan. Wanita yang selama ini dia awasi diam-diam.Malam ini adalah malam pernikahannya. Dan Weitian tahu. Itu juga yang menjadi alasan Weitian datang khusus ke Paviliun malam itu untuk menenangkan diri sebab dia tahu Ning Yuan menikah hari itu. Hanya saja dia tidak menyangk
Kaisar berlari ke arah kudanya, melompat dengan gerakan cepat. Tidak ada waktu untuk berpikir. Hanya satu tujuan di kepalanya—menemukan Ning Yuan.Dia mencambuk kudanya, melesat melewati jalanan berbatu menuju istana. Angin malam menerpa wajahnya, tapi dia tidak merasakan apa-apa. Hanya kegelisahan yang semakin menjadi-jadi.Di jalan yang sama, dari arah berlawanan, sebuah kereta melaju pelan menuju gerbang kota. Di dalamnya, Ning Yuan duduk dengan tenang, jari-jarinya memegang giok kekaisaran di lehernya. Qinlan duduk di sampingnya, matanya masih sembab karena menahan tangis.Kereta dan kuda Kaisar berpapasan di tikungan. Ning Yuan menoleh ke luar jendela, matanya menangkap sosok penunggang kuda yang melesat cepat—jubah hitam berkibar, rambut panjang tergerai, tubuh tegap yang sangat dikenalnya.Jantungnya berdegup kencang. Weitian...Tapi dia tidak berteriak. Dia hanya menatap sosok itu hingga menghilang di balik debu."Selamat tinggal," bisiknya pelan.Di sisi lain, Kaisar tidak me







