ログインKittie tidak percaya pada cinta sejak kecil, ia sudah belajar bahwa orang yang paling ia butuhkan bisa pergi kapan saja. ketika mantan kekasihnya mengkhianatinya dan meninggalkan hutang yang membuatnya dikejar rentenir, Kittie tidak punya banyak pilihan sampai sebuah malam mempertemukannya dengan tiga bersaudara Calloway. Zade. Aiden. Avan. malam itu, mereka menginginkan target baru, dan siapa sangka Kittie masuk dengan sendiri. dimana tawaran bantuan sebenarnya, taruhan yang selubung Tiga pria paling berkuasa di kampus. . Satu semester. Satu kontrak. Semua hutangnya akan dilunasi. Tapi tidak satupun dari mereka menyadari… bahwa mereka semua terjebak dalam permainan mereka sendiri
もっと見る"Ini... apa maksudnya?"
Kittie menerima kertas itu ragu, matanya bergerak cepat membaca deretan angka yang memang cocok dengan nomor ID-nya sendiri. Ia mendongak, bingung.
"Ada tunggakan pinjaman dengan namamu sebagai penjamin di dalamnya," pria berjaket kulit menjawab, tangannya terlipat di dada. "Seratus delapan puluh juta. Sudah jatuh tempo tiga minggu."
"Saya nggak pernah pinjam uang." Kittie menggeleng cepat, suaranya mulai naik. "Kalian salah orang!"
Pria kurus mendengus, nyaris seperti tertawa. "Salah orang katanya." Ia membuka map, menunjuk satu kolom tanpa melepaskan kertas dari tangannya, " Ini nomor ID mu. Dan ini" jarinya berhenti di kolom tanda tangan, "ini tanda tanganmu. Mau bilang salah orang lagi?" Suara pria itu semakin mengancam.
Kittie merasa dadanya sesak. "Tanda tangan siapa? Saya nggak pernah tanda tangan apa pun!" tegas Kittie.
"Itu bukan urusan kami!" Pria kurus membalik satu halaman, kali ini menyodorkan kertas itu lebih dekat, "Lihat baik-baik bagian ini."
Kittie menerima kertas itu dengan tangan gemetar. Matanya berhenti di satu kolom bertuliskan Penjamin/Pihak Kedua, dan nama yang tertera sebagai peminjam membuat napasnya tercekat.
Dimas Aditya Pratama.
"Ini ..." Kittie mendongak, suaranya nyaris hilang. "Ini pacar saya."
"Dia yang ajukan pinjaman pakai data mu sebagai penjamin. Tanda tangan mu juga ada di sini, entah kau sadar atau tidak waktu tanda tangan." Pria berjaket kulit mengangkat bahu, acuh.
"Saya nggak pernah tanda tangan apa pun buat dia!" Kittie hampir berteriak, tangannya mencengkeram kertas itu erat-erat.
"Itu urusan kalian berdua." Pria kurus menutup map dengan bunyi keras. "Yang jelas, kalau dia nggak bisa dihubungi, tanggung jawabnya jatuh ke penjamin. Dan penjamin itu kamu." Suaranya turun, tapi justru lebih dingin.
Kittie merasa lantai di bawah kakinya seperti mulai retak. "Saya baru tahu soal ini. Kasih saya waktu buat cari dia dulu." Kittie coba membujuk.
Kedua pria itu saling melirik sebentar, seperti sudah biasa mendengar alasan serupa dari orang lain. Pria berjaket kulit mendekat, nyaris berbisik tepat di dekat telinga Kittie. "Kami kasih waktu seminggu," katanya, nadanya tidak melunak sedikit pun.
"Kalau nggak ada itikad baik dari kalian berdua, kami yang datang lagi. Atau orang lain yang datang. mungkin dengan cara yang lebih buruk." Ia mengetuk pelan map di tangannya ke dada Kittie.
Tanpa menunggu jawaban, keduanya berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan Kittie berdiri sendirian di tengah parkiran yang mulai sepi. Ia menatap nama itu sekali lagi, memastikan matanya tidak salah baca, sebelum buru-buru mengeluarkan ponsel dan menekan nomor Dimas berkali-kali. Tidak diangkat.
Karena tidak sanggup menunggu lebih lama, Kittie menghidupkan motornya dan langsung memacunya menuju Rosewood Residence. Sesampainya di sana, tangannya masih gemetar. Ia menaiki tangga darurat ke lantai dua, tidak sabar menunggu lift, dan berhenti tepat di depan pintu unit 4B. Kittie mengetuk tiga kali, keras, hampir seperti menggedor.
"Dimas! Buka pintunya!"
Tidak ada jawaban selama beberapa detik. Kittie mengetuk lagi, kali ini telapak tangannya sampai memerah.
"Aku tahu kamu di dalam!" Kittie menggedor pintunya lebih kencang.
Pintu akhirnya terbuka, hanya setengah, dan wajah Dimas yang muncul di baliknya. "Kittie? Kok tiba-tiba ke sini malam-malam?" Dimas berdiri menghalangi pintu.
Kittie mengeluarkan kertas, membentangkannya tepat di depan wajah Dimas. "Ini apa?"
Dimas menerima kertas itu, dan Kittie melihat jelas bagaimana ekspresi wajahnya berubah.
"Kittie, dengerin dulu—" Dimas bersiap membela diri.
"Jawab aku." Suara Kittie mulai bergetar. "Kamu pinjam seratus delapan puluh juta, pakai nama aku sebagai penjamin?"
"Aku ... waktu itu lagi kepepet banget." Dimas meletakkan kertas itu di meja, tidak berani menatap Kittie langsung. "Aku janji, aku udah ada rencana buat—"
"Rencana apa, Dimas?" Kittie memotong cepat, air matanya mulai menggenang tapi ia tahan sekuat tenaga. "Ada orang samperin aku tadi sore, ngancam aku di tengah parkiran! Aku baru tahu soal ini dari orang asing di jalan, bukan dari kau!" suaranya mulai bergetar.
"Aku emang niatnya mau cerita, tapi—"
"Tapi apa?" Kittie mendekat, suaranya naik satu oktaf, jari telunjuknya nyaris menyentuh dada Dimas.
"Kamu tiru tanda tangan aku?" Kittie hampir tidak percaya kata-katanya sendiri, tawa getir kecil lolos dari bibirnya. "Serius?"
"Aku nggak ada pilihan lain waktu itu!" Dimas akhirnya membentak balik, lebih terdengar seperti membela diri daripada menyesal.
"Kau pikir gampang apa cari uang sebanyak itu?!" Kittie ikut membentak, tangannya terkepal di samping tubuh.
Dimas meraih tas ranselnya yang tergeletak di sofa, mulai memasukkan beberapa barang tanpa menjawab pertanyaan Kittie.
"Kamu mau ke mana?" Kittie mencengkram lengannya, coba menahan agar Dimas tidak pergi, suaranya kini nyaris memohon di sela amarah. "Kau nggak boleh pergi gitu aja!"
"Aku butuh waktu buat mikir." Dimas melepaskan cengkeramannya dengan satu sentakan, cukup keras hingga Kittie terhuyung ke belakang, menabrak sudut meja.
"Terus aku gimana?" Suara Kittie pecah, antara marah dan putus asa. Dimas melewatinya begitu saja, membuka pintu, langkahnya cepat menuruni tangga darurat yang sama.
"Dimas!" air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya lolos begitu saja.
Kittie berdiri lama disana, menatap ruangan yang tiba-tiba terasa asing, sebelum akhirnya melangkah keluar. Kittie tidak ingat sudah berapa lama berjalan, sampai langkahnya berhenti di sebuah bangunan dengan papan neon bertuliskan Noctra.
Musik bass terdengar samar dari dalam, cukup keras untuk menenggelamkan isi kepalanya sendiri. Kittie mendorong pintu masuk, disambut cahaya temaram dan aroma alkohol yang bercampur asap rokok.
"Mau pesan apa, Mbak?" Seorang bartender muda mendekat, mengelap gelas di tangannya.
"Yang paling murah aja," jawab Kittie pelan, matanya menatap kosong.
"Bir Lokal oke?" Bartender itu sudah bersiap mengambil botol sebelum Kittie sempat menjawab.
"Terserah." Kittie menjatuhkan wajahnya ke telapak tangan, sikunya bertumpu di meja bar.
Kittie mengangkat gelasnya, meneguk satu tegukan, lalu tegukan kedua, membiarkan cairan itu membakar tenggorokannya. Ia tidak tahu, dari sudut ruangan itu, sepasang mata milik keluarga paling berkuasa di Westbridge sudah mulai memperhatikannya sejak ia melangkah masuk.
"Senang minum-minum sendiri, Kucing kecil?"
"Aku tahu siapa dia, Kittie!" Bisikan Clara berubah jadi desisan panik, tangannya mencengkeram lengan Kittie erat-erat. "Seluruh kampus tahu siapa dia!"Avan tersenyum, jelas sudah terbiasa dengan reaksi semacam ini. "Senang berkenalan denganmu." Ia mengulurkan tangan.Clara menatap tangan itu seolah benda tersebut bercahaya. Butuh dua detik penuh sebelum ia berani menjabatnya, dan begitu menyentuh, seluruh wajahnya langsung merona merah. "C-Clara," ucapnya, suaranya naik satu oktaf. "Teman sekamar Kittie.""Aku tahu." Avan masih menggenggam tangan itu sedikit lebih lama dari yang wajar. "Kittie sering cerita soal kamu."Kittie melirik Avan tajam, menangkap kebohongan kecil itu. Avan hanya membalas dengan kedipan singkat, seolah berkata ikuti saja permainanku. Clara sendiri terlalu sibuk menahan jeritan kecil yang nyaris lolos dari mulutnya untuk menyadari pertukaran diam-diam itu."Baiklah." Avan melepaskan tangan Clara, melangkah mundur satu langkah. "Aku permisi dulu. Istirahat yan
Kittie syok dan mencoba melepaskan diri dari pelukan Avan secepat mungkin, merapikan bajunya yang sebenarnya tidak kusut. “Terima kasih sudah menangkapku. Aku duluan,” ucapnya buru-buru.Kittie berbalik, melangkah secepat mungkin, tapi sayangnya baru beberapa langkah, ia sudah bisa mendengar suara sepatu Avan mengikuti di belakangnya, santai.“Dua orang di taman tadi,” Avan berjalan sejajar, tangannya dimasukkan ke saku celana, “siapa mereka?”“Bukan urusanmu,” Kittie mempercepat langkah, matanya lurus ke depan.Avan tidak bersuara, hanya menatap Kittie sambil berjalan, dan itu malah membuat perasaan Kittie semakin tidak nyaman. Bel pergantian jam berbunyi nyaring dari pengeras suara. “Aku telat,” gumamnya, mempercepat langkah menjadi setengah berlari.“Kebetulan,” Avan ikut mempercepat langkahnya, “kelasku juga sama.”Kittie tidak sempat merespons. Ia sudah keburu berlari kecil menyusuri koridor panjang. Satu jam berlalu, Kittie berjalan keluar dari kelasnya, sambil masih sibuk memas
Zade tidak menjawab. Ia hanya merapikan lengan kemejanya yang sebenarnya sudah rapi, lalu melangkah ke arah pintu keluar.Di depan pintu, Zade berhenti tanpa menoleh. "Kau ikut," katanya pada Kittie. Mendengar itu, Kittie berdiri, memberi hormat pada Mr. Hale, lalu berlari menyusul Zade.Begitu mereka berjalan menyusuri koridor yang sepi, Kittie akhirnya bersuara."Zade, tunggu." Ia menarik lengan Zade, memaksanya berhenti.Zade menoleh, satu alis terangkat, tatapannya turun sebentar ke tangan Kittie yang masih mencengkeram lengannya sebelum Kittie sendiri sadar dan buru-buru melepaskannya."Ada apa?" tanya Zade, nadanya datar."Kau sadar ini konyol, kan?" Kittie menatapnya, nyaris tidak percaya dengan kalimatnya sendiri. "Kau yang menyeretku ke ruang ganti tadi. Kau yang buka baju di depanku tanpa peringatan. Dan sekarang, karena semua itu, aku yang berakhir jadi anggota Senat dadakan?""Itu kesempatan, bukan?" Zade menjawab singkat, seolah logikanya sudah sangat jelas bagi dirinya s
Kantor Dr. Richard Hale lebih dingin dari yang Kittie duga, AC-nya diset terlalu rendah, atau mungkin hanya perasaannya saja karena keringat dingin di tengkuknya sendiri. Ia duduk kaku di kursi, sementara Zade memilih berdiri di samping jendela, punggungnya menghadap cahaya sore, membuat wajahnya sedikit tersamar bayangan. "Zade Calloway." Nada Mr.Hale membuat Kittie tanpa sadar menegakkan punggung."Kau tahu sudah berapa lama aku mengenal keluargamu?" Mr. Hale membuka, suaranya pelan, hampir seperti berbicara pada diri sendiri. "Cukup lama dari yang ku ingat," jawab Zade datar, matanya melirik jam tangannya sendiri, seolah pertemuan ini cuma buang-buang waktu. "Aku masih ingat ayahmu dulu juga duduk di kursi itu." Mr. Hale menunjuk kursi yang diduduki Kittie, tanpa mengalihkan tatapan dari Zade. "Umurnya waktu itu sama sepertimu sekarang." Rahang Zade mengeras sepersekian detik. "Aku tahu ke mana arah pembicaraan ini," potongnya. "Anda mau membandingkan kami.""Aku tidak bilang
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.