Jangan Jatuh Cinta, Kittie!

Jangan Jatuh Cinta, Kittie!

last update最終更新日 : 2026-09-26
作家:  Aretha Wangたった今更新されました
言語: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
評価が足りません
11チャプター
38ビュー
読む
本棚に追加

共有:  

報告
あらすじ
カタログ
コードをスキャンしてアプリで読む

概要

Dark Romance

POV 3

Pewaris

Arogan

Kampus/Sekolah

Benci jadi Cinta

Kittie tidak percaya pada cinta sejak kecil, ia sudah belajar bahwa orang yang paling ia butuhkan bisa pergi kapan saja. ketika mantan kekasihnya mengkhianatinya dan meninggalkan hutang yang membuatnya dikejar rentenir, Kittie tidak punya banyak pilihan sampai sebuah malam mempertemukannya dengan tiga bersaudara Calloway. Zade. Aiden. Avan. malam itu, mereka menginginkan target baru, dan siapa sangka Kittie masuk dengan sendiri. dimana tawaran bantuan sebenarnya, taruhan yang selubung Tiga pria paling berkuasa di kampus. . Satu semester. Satu kontrak. Semua hutangnya akan dilunasi. Tapi tidak satupun dari mereka menyadari… bahwa mereka semua terjebak dalam permainan mereka sendiri

もっと見る

第1話

BAB 1 Bukan Aku

"Ini... apa maksudnya?"

Kittie menerima kertas itu ragu, matanya bergerak cepat membaca deretan angka yang memang cocok dengan nomor ID-nya sendiri. Ia mendongak, bingung.

"Ada tunggakan pinjaman dengan namamu sebagai penjamin di dalamnya," pria berjaket kulit menjawab, tangannya terlipat di dada. "Seratus delapan puluh juta. Sudah jatuh tempo tiga minggu."

"Saya nggak pernah pinjam uang." Kittie menggeleng cepat, suaranya mulai naik. "Kalian salah orang!"

Pria kurus mendengus, nyaris seperti tertawa. "Salah orang katanya." Ia membuka map, menunjuk satu kolom tanpa melepaskan kertas dari tangannya, " Ini nomor ID mu. Dan ini" jarinya berhenti di kolom tanda tangan, "ini tanda tanganmu. Mau bilang salah orang lagi?" Suara pria itu semakin mengancam.

Kittie merasa dadanya sesak. "Tanda tangan siapa? Saya nggak pernah tanda tangan apa pun!" tegas Kittie.

"Itu bukan urusan kami!" Pria kurus membalik satu halaman, kali ini menyodorkan kertas itu lebih dekat, "Lihat baik-baik bagian ini." 

Kittie menerima kertas itu dengan tangan gemetar. Matanya berhenti di satu kolom bertuliskan Penjamin/Pihak Kedua, dan nama yang tertera sebagai peminjam membuat napasnya tercekat.

Dimas Aditya Pratama.

"Ini ..." Kittie mendongak, suaranya nyaris hilang. "Ini pacar saya."

"Dia yang ajukan pinjaman pakai data mu sebagai penjamin. Tanda tangan mu juga ada di sini, entah kau sadar atau tidak waktu tanda tangan." Pria berjaket kulit mengangkat bahu, acuh.

"Saya nggak pernah tanda tangan apa pun buat dia!" Kittie hampir berteriak, tangannya mencengkeram kertas itu erat-erat.

"Itu urusan kalian berdua." Pria kurus menutup map dengan bunyi keras. "Yang jelas, kalau dia nggak bisa dihubungi, tanggung jawabnya jatuh ke penjamin. Dan penjamin itu kamu." Suaranya turun, tapi justru lebih dingin. 

Kittie merasa lantai di bawah kakinya seperti mulai retak. "Saya baru tahu soal ini. Kasih saya waktu buat cari dia dulu." Kittie coba membujuk.

Kedua pria itu saling melirik sebentar, seperti sudah biasa mendengar alasan serupa dari orang lain. Pria berjaket kulit mendekat, nyaris berbisik tepat di dekat telinga Kittie. "Kami kasih waktu seminggu," katanya, nadanya tidak melunak sedikit pun. 

"Kalau nggak ada itikad baik dari kalian berdua, kami yang datang lagi. Atau orang lain yang datang. mungkin dengan cara yang lebih buruk." Ia mengetuk pelan map di tangannya ke dada Kittie.

Tanpa menunggu jawaban, keduanya berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan Kittie berdiri sendirian di tengah parkiran yang mulai sepi. Ia menatap nama itu sekali lagi, memastikan matanya tidak salah baca, sebelum buru-buru mengeluarkan ponsel dan menekan nomor Dimas berkali-kali. Tidak diangkat.

Karena tidak sanggup menunggu lebih lama, Kittie menghidupkan motornya dan langsung memacunya menuju Rosewood Residence. Sesampainya di sana, tangannya masih gemetar. Ia menaiki tangga darurat ke lantai dua, tidak sabar menunggu lift, dan berhenti tepat di depan pintu unit 4B. Kittie mengetuk tiga kali, keras, hampir seperti menggedor.

"Dimas! Buka pintunya!"

Tidak ada jawaban selama beberapa detik. Kittie mengetuk lagi, kali ini telapak tangannya sampai memerah.

"Aku tahu kamu di dalam!" Kittie menggedor pintunya lebih kencang.

Pintu akhirnya terbuka, hanya setengah, dan wajah Dimas yang muncul di baliknya. "Kittie? Kok tiba-tiba ke sini malam-malam?" Dimas berdiri menghalangi pintu.

Kittie mengeluarkan kertas, membentangkannya tepat di depan wajah Dimas. "Ini apa?"

Dimas menerima kertas itu, dan Kittie melihat jelas bagaimana ekspresi wajahnya berubah.

"Kittie, dengerin dulu—" Dimas bersiap membela diri.

"Jawab aku." Suara Kittie mulai bergetar. "Kamu pinjam seratus delapan puluh juta, pakai nama aku sebagai penjamin?"

"Aku ... waktu itu lagi kepepet banget." Dimas meletakkan kertas itu di meja, tidak berani menatap Kittie langsung. "Aku janji, aku udah ada rencana buat—"

"Rencana apa, Dimas?" Kittie memotong cepat, air matanya mulai menggenang tapi ia tahan sekuat tenaga. "Ada orang samperin aku tadi sore, ngancam aku di tengah parkiran! Aku baru tahu soal ini dari orang asing di jalan, bukan dari kau!" suaranya mulai bergetar.

"Aku emang niatnya mau cerita, tapi—"

"Tapi apa?" Kittie mendekat, suaranya naik satu oktaf, jari telunjuknya nyaris menyentuh dada Dimas. 

"Kamu tiru tanda tangan aku?" Kittie hampir tidak percaya kata-katanya sendiri, tawa getir kecil lolos dari bibirnya. "Serius?"

"Aku nggak ada pilihan lain waktu itu!" Dimas akhirnya membentak balik, lebih terdengar seperti membela diri daripada menyesal.

"Kau pikir gampang apa cari uang sebanyak itu?!" Kittie ikut membentak, tangannya terkepal di samping tubuh.

Dimas meraih tas ranselnya yang tergeletak di sofa, mulai memasukkan beberapa barang tanpa menjawab pertanyaan Kittie.

"Kamu mau ke mana?" Kittie mencengkram lengannya, coba menahan agar Dimas tidak pergi, suaranya kini nyaris memohon di sela amarah. "Kau nggak boleh pergi gitu aja!" 

"Aku butuh waktu buat mikir." Dimas melepaskan cengkeramannya dengan satu sentakan, cukup keras hingga Kittie terhuyung ke belakang, menabrak sudut meja. 

"Terus aku gimana?" Suara Kittie pecah, antara marah dan putus asa. Dimas melewatinya begitu saja, membuka pintu, langkahnya cepat menuruni tangga darurat yang sama.

"Dimas!" air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya lolos begitu saja. 

Kittie berdiri lama disana, menatap ruangan yang tiba-tiba terasa asing, sebelum akhirnya melangkah keluar. Kittie tidak ingat sudah berapa lama berjalan, sampai langkahnya berhenti di sebuah bangunan dengan papan neon bertuliskan Noctra.

Musik bass terdengar samar dari dalam, cukup keras untuk menenggelamkan isi kepalanya sendiri. Kittie mendorong pintu masuk, disambut cahaya temaram dan aroma alkohol yang bercampur asap rokok.

"Mau pesan apa, Mbak?" Seorang bartender muda mendekat, mengelap gelas di tangannya.

"Yang paling murah aja," jawab Kittie pelan, matanya menatap kosong.

"Bir Lokal oke?" Bartender itu sudah bersiap mengambil botol sebelum Kittie sempat menjawab.

"Terserah." Kittie menjatuhkan wajahnya ke telapak tangan, sikunya bertumpu di meja bar.

Kittie mengangkat gelasnya, meneguk satu tegukan, lalu tegukan kedua, membiarkan cairan itu membakar tenggorokannya. Ia tidak tahu, dari sudut ruangan itu, sepasang mata milik keluarga paling berkuasa di Westbridge sudah mulai memperhatikannya sejak ia melangkah masuk.

"Senang minum-minum sendiri, Kucing kecil?"

もっと見る
次へ
ダウンロード

最新チャプター

続きを読む

読者の皆様へ

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

コメントはありません
11 チャプター
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status