MasukKeesokan paginya, mereka berpamitan pada nenek Weitian."Jagalah dirimu, Nak," nenek Weitian memeluk Ning Yuan erat. "Dan ingat, apa pun yang terjadi, kau memiliki restuku.""Terima kasih, Nenek," Ning Yuan menangis.Weitian juga memeluk neneknya. "Nenek, kau pasti akan datang ke istana, kan?""Tentu saja. Aku akan datang untuk pernikahan cucuku," nenek Weitian tersenyum. "Tapi untuk sekarang, pergilah. Perjalananmu masih panjang."Mereka berempat pun berangkat. Ning Yuan, Weitian, Shen Ziyuan, dan Zan menunggang kuda meninggalkan desa kecil itu. Ning Yuan masih merasakan hangatnya pelukan nenek Weitian di hatinya.***Di tengah perjalanan, Weitian mendekatkan kudanya ke Ning Yuan."Sayang," katanya pelan, "tadi malam, kau dan nenek bicara apa?"Ning Yuan menoleh. "Tidak ada. Hanya ngobrol saja.""Hanya ngobrol?" Weitian mengangkat alis di balik topeng. "Nenek tidak mengatakan apa-apa tentang ibuku?""Tidak," Ning Yuan berbohong. "Hanya... cerita masa kecilmu. Tentang betapa nakalnya
Perjalanan panjang akhirnya sampai di tujuan. Sebuah desa kecil yang sunyi di kaki gunung, dengan rumah kayu sederhana yang dikelilingi kebun bunga. Udara di sana segar, dan suara burung berkicauan merdu.Weitian turun dari kuda, lalu membantu Ning Yuan turun dengan gerakan lembut. "Kita sudah sampai."Ning Yuan melihat sekeliling. "Di sinilah orang penting yang ingin kau kenalkan padaku?"Weitian mengangguk. "Ya. Dia adalah satu-satunya keluarga yang masih kumiliki."Shen Ziyuan juga turun dari kuda, matanya menyipit curiga. "Siapa?"Weitian tidak menjawab. Dia berjalan ke pintu rumah kayu itu dan mengetuk pelan.Pintu terbuka. Di ambang pintu, berdiri seorang wanita tua dengan rambut putih yang disanggul rapi. Wajahnya berkerut karena usia, tapi matanya masih tajam dan penuh wibawa. Dia mengenakan jubah sederhana, tapi aura kebangsawanannya tetap terpancar."Ini dia?" suara wanita tua itu dingin, matanya menyapu Ning Yuan dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan menghakimi
Setelah Weitian memberi izin, rombongan pun bersiap berangkat. Kini ada empat orang: Ning Yuan, Weitian, Shen Ziyuan, dan Zan di belakang mereka dengan membawa kuda-kuda.Shen Ziyuan menatap Zan dari ujung ke ujung. "Kau pengawalnya?"Zan mengangguk datar. "Ya.""Kau tidak perlu ikut," kata Shen Ziyuan dengan angkuh. "Aku bisa menjaga Ning Yuan."Zan menatapnya tanpa ekspresi. "Tidak.""Tidak?!" Shen Ziyuan hampir melompat. "Kau tahu siapa aku? Aku adalah—""Seorang pria yang sudah pernah kehilangan Ning Yuan sekali," potong Weitian dengan santai, "dan sekarang berusaha mati-matian untuk mendapatkannya kembali, meskipun kenyataannya dia sudah menjadi milikku."Shen Ziyuan menoleh dengan wajah merah padam. "Kau—aku—""Ayo berangkat," Weitian memotong, menggenggam tangan Ning Yuan. "Kita buang-buang waktu terlalu banyak di sini."***Perjalanan dimulai. Ning Yuan menunggang kuda di sisi Weitian, dengan Shen Ziyuan di sisi lainnya. Zan mengikuti dari belakang, matanya waspada mengawasi s
Shen Ziyuan menatap Ning Yuan dan Weitian dari sudut ruangan. Perasaannya campur aduk. Ada penyesalan. Ada kecewa. Dan tidak dipungkiri, sakit hati. Tapi hati kecilnya berkata, dia tetap harus memperjuangkan Ning Yuan. Aku tidak akan menyerah begitu saja, pikir Shen Ziyuan dalam hati. Aku sudah melakukan banyak kesalahan. Tapi kali ini, aku akan memperjuangkannya.Hanya saja masalahnya, di hadapannya berdiri Kaisar Weitian. Pria yang memiliki segalanya—kekuasaan, tahta, dan yang paling telak adalah hati Ning Yuan.Di sisi lain, Ning Yuan sudah selesai berpamitan pada keluarga Wang. Nyonya Besar Wang menangis sambil memeluknya erat. Ibu Wang juga tidak bisa menahan air matanya."Kau akan baik-baik saja, Nak?" tanya Ibu Wang dengan suara bergetar.Ning Yuan tersenyum lembut. "Aku akan baik-baik saja, Ibu. Aku janji akan mengirim kabar."Ayah Wang mengangguk dengan berat. "Jagalah dirimu, Yuan. Dan..." dia menatap Weitian yang berdiri di belakang Ning Yuan, "...jagalah kaisar dengan bai
"Aku... aku mengaku..." bisik Wang Yichen, suaranya pecah. "Aku... aku yang meracuni Ning Yuan... aku yang hampir memperkosanya... aku yang berbohong pada semua orang..." Dia merangkak mendekati Weitian, tangannya yang terperban terulur untuk meraih ujung jubah Weitian."Yang Mulia... Yang Mulia Kaisar..." Wang Yichen tersedu-sedu. "Hamba... hamba memohon ampun! Hamba sadar hamba telah melakukan kesalahan yang sangat besar! Hamba memohon keringanan hukuman!"Weitian tidak bergerak. Matanya menatap Wang Yichen dengan dingin, tanpa secercah belas kasihan pun."Kau memohon ampun?" suara Weitian datar, hampir berbisik. "Kau hampir meracuni Ning Yuan. Kau hampir memperkosanya. Kau memfitnahku. Dan kau berani memohon ampun? Kau layak dihukum mati untuk semua hal buruk yang kau lakukan itu.""Yang Mulia..." Wang Yichen semakin gemetar. "Hamba... hamba tidak akan mengulanginya! Hamba berjanji! Hamba akan menebus semua kesalahan hamba!"Tapi Weitian tetap diam. Tidak ada kata maaf yang keluar
"Kau atau pun KAU! Kalian tidak perlu bertanggung jawab apa pun pada Ning Yuan," kata Weitian akhirnya, suaranya tenang tapi berwibawa. "Sebab dia adalah wanitaku."Ruangan itu hening sejenak. Tapi Wang Yichen tidak tinggal diam. Dengan tubuhnya yang babak belur dan tangan terperban, dia melangkah maju dengan susah payah dan menarik Ning Yuan ke arahnya."OMONG KOSONG!" teriak Wang Yichen, matanya melotot penuh amarah palsu. "Kau pikir kau bisa seenaknya mengaku-ngaku Ning Yuan sebagai wanitamu, Lou Yu?! Kau pria bertopeng misterius yang tidak jelas asal-usulnya! Kau menculiknya! Kau memperkosanya! Dan sekarang kau berani datang ke rumah kami dan dengan seenaknya mengatakan dia adalah wanita mu?!"Ning Yuan mencoba melepaskan diri, tapi Wang Yichen menggenggam pergelangan tangannya dengan erat—terlalu erat, sampai Ning Yuan merasakan sakit."Lepaskan—" Ning Yuan mendesis.Tapi Wang Yichen mengabaikannya. Dia terus berteriak, memanaskan suasana. "KALIAN SEMUA LIHAT SENDIRI! Pria bertop







