登入"Saya---hamil?!"
Suara Ana memantul di dinding ruang periksa yang serba putih dan berbau antiseptik tajam.Dokter paruh baya di hadapannya hanya tersenyum simpul, seolah berita ini adalah kado ulang tahun yang manis, bukan sebuah vonis mati bagi masa depan Ana."Iya, selamat ya. Usianya sudah masuk empat minggu," ucap dokter itu tenang sembari merapikan hasil USG. "Wajar jika kamu merasa kram perut belakangan ini. Nanti setelah masuk trimester 2 gejalanya akan hilanDirga dan Citra juga menatap putri mereka dengan penuh tanya, meski sorot mata mereka lebih lembut dan dipenuhi kekhawatiran."Anu, Kak... beri aku waktu sebentar untuk mencuci muka. Kepalaku sedikit pusing," pinta Ana pelan.Ia masuk ke kamar, mengunci pintu dengan tangan gemetar, dan menyandarkan punggungnya di sana. Jantungnya berpacu hebat, seolah ingin melompat keluar. Ana mengelus perut yang masih datar, merasakan dingin yang menjalar dari ujung jari."Sedikit lagi... tolong bertahanlah sedikit lagi," bisiknya pada diri sendiri, menahan rasa mual yang mendesak di pangkal tenggorokan. "Bantu Mama menjaga rahasia ini."Setelah merasa lebih tenang, Ana keluar dan menghampiri Leo yang sedang duduk di teras belakang, menatap taman kecil mereka dengan wajah muram. Ana duduk di sampingnya, menyandarkan kepalanya di bahu kakak laki-lakinya itu."Kak Leo marah?" tanya Ana pelan, suaranya seperti anak kecil yang takut dihukum.Le
Kesunyian malam membungkus kabin yang melaju membelah jalanan kota. Cahaya lampu jalan bergantian menerangi wajah Max dari balik kemudi, menampilkan rahang tegasnya yang tampak tenang. Di sampingnya, Ana meremas pelan jemarinya sendiri, mencoba mencairkan kecanggungan yang merayap di antara mereka."Selamat atas keberhasilanmu," ungkap Ana, memecah keheningan yang sempat merajai selama beberapa kilometer.Max tidak mengalihkan pandangannya dari aspal di depan. "Ini berkatmu."Ana menoleh, sedikit terkejut dengan jawaban datar itu. "Jangan asal bicara. Aku selama ini memikirkan bagaimana cara untuk membalas dendam pada Ryan. Tapi kamu bisa membereskannya dalam sekejap.""Semua ini mustahil kulakukan, tanpa bukti darimu," sahut Max, menoleh singkat. Tatapan matanya sanggup membuat dada Ana berdesir aneh.Ana memalingkan wajah ke luar jendela, menyembunyikan rona tipis yang mendadak muncul di pipinya. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum men
Di dalam mobil mewah, suasana terasa begitu menyesakkan. Ana meremas jemarinya yang dingin, menatap keluar jendela dengan tatapan kosong sebelum akhirnya memberanikan diri menoleh ke arah Helena dan Max.Ia sempat tersentak saat menyadari ada yang berbeda. Max tidak lagi memakai jas formalnya yang kaku, ia telah berganti pakaian yang lebih kasual, dan yang paling mengejutkan, aroma parfum yang tadi membuatnya mual kini telah lenyap. Pria itu benar-benar menanggalkan bau yang ia benci."Anu... Pak Max... saya mohon," suara Ana bergetar, nyaris menyerupai bisikan. "Tolong jangan katakan apa pun soal kehamilan ini kepada keluarga saya."Max mengernyitkan alis, rahangnya mengeras. "Apa maksudmu? Kamu ingin aku datang ke sana dan berbohong?""Keluarga saya baru saja terkena masalah," potong Ana cepat, nada suaranya menyayat hati. "Papa baru saja pulih dari masalah di kantornya, dan Mama masih sering cemas. Kalau mereka tahu saya hamil di luar nikah...
Langkah kaki Max menghantam lantai marmer kantor dengan irama mematikan. Matanya yang tajam memindai setiap sudut, namun sosok yang dicarinya tak kunjung terlihat."Dimana Ana?" Suara Max berat, sarat akan tekanan yang membuat atmosfer ruangan mendadak mencekam.Fero, sang sekretaris yang sedang merapikan jadwal, tersentak hingga nyaris menjatuhkan tab-nya. Ia jarang melihat bosnya kehilangan ketenangan seburuk ini. "Ng... tadi saya melihatnya sedang membuat teh di pantry."Tanpa sepatah kata pun, Max berbalik. Jubah kekuasaannya seolah berkibar tertiup amarah saat dia melangkah menuju ruang di ujung lorong.Di dalam sana, Ana sedang bersandar pada meja bar, memandangi cangkir tehnya dengan tatapan kosong. Namun, ketenangannya hancur saat pintu terbuka dengan kasar. Max berdiri, auranya mengintimidasi, menutup ruang gerak Ana dalam sekejap."Ana, apa yang kamu lakukan di dokter kandungan?" Max menagih penjelasan tanpa basa-basi.
"Saya---hamil?!"Suara Ana memantul di dinding ruang periksa yang serba putih dan berbau antiseptik tajam.Dokter paruh baya di hadapannya hanya tersenyum simpul, seolah berita ini adalah kado ulang tahun yang manis, bukan sebuah vonis mati bagi masa depan Ana."Iya, selamat ya. Usianya sudah masuk empat minggu," ucap dokter itu tenang sembari merapikan hasil USG. "Wajar jika kamu merasa kram perut belakangan ini. Nanti setelah masuk trimester 2 gejalanya akan hilang."Dunia Ana rasanya berputar. Dia datang ke rumah sakit karena mengira ada yang salah dengan pencernaannya, tapi kenyataan justru menghantamnya lebih keras. Di dalam perutnya, ada benih yang tumbuh.Pikirannya kalut. Di kehidupan ini, mereka memang tidak memiliki hubungan darah, hanya sebatas atasan dan bawahan di kantor tempatnya magang. Namun, Ana masih dihantui oleh identitas sebelumnya."Bagaimana ini?! Orang tuaku bisa serangan jantung kalau tahu anak lugunya ha
Cahaya lampu jalan yang remang masuk menembus jendela mobil, jatuh di wajah Ana yang kini terlelap karena kelelahan. Max memacu kendaraan dengan kecepatan sedang, satu tangannya memegang kemudi sementara jemarinya yang lain sesekali mengetuk setir dengan gelisah.Max melirik ke samping. Gadis itu tampak sangat rapuh ketika tidur. Pikirannya kembali ke map cokelat yang kini tersimpan aman di dasbor."Lagi-lagi kebetulan yang aneh," batin Max."Bagaimana mungkin secara kebetulan dia masuk ke kamar Reta dan menemukan dokumen itu?"Max merasa ada rahasia besar yang disembunyikan Ana, sebuah kepingan puzzle yang tidak pas.Drt... Drt...Ponsel Max yang berada di konsol tengah bergetar nyaring. Ana tersentak, kelopak matanya terbuka perlahan, tampak bingung dengan sekelilingnya yang gelap. Sebelum Ana sadar sepenuhnya, Max refleks menekan tombol tolak pada layar ponsel. Ia tidak ingin kebisingan itu merusak istirahat Ana."Tid
Keheningan yang dingin menyelimuti kamar setelah Max selesai mengoleskan salep. Ana meringis kecil, merasakan sensasi dingin yang perlahan meredam rasa panas di punggungnya. Namun, rasa perih di kulitnya tak sebanding dengan debaran jantungnya saat melihat Max meraih map coke
"Kalian tidak tahu," bisik Ana pada pantulan dirinya di cermin yang kini tampak lebih tajam dan berbahaya. "Bahwa kunci yang kalian pegang saat ini justru akan mengunci peti mati kalian sendiri."Hawa lembap memenuhi kamar mandi mewah itu. Dengan gerakan penuh kehati-hatian, Ana meraba p
Matahari di ufuk barat telah menghilang, tergantikan oleh selimut malam yang dingin.Ana berdiri di depan cermin, menatap bayangan gadis muda yang kini menjadi cangkangnya. Wajah ini mungkin masih terasa asing, namun di balik mata itu, bersemayam jiwa yang hangus terbakar oleh pengkhiana
Kesadaran menghantam Ana seperti siraman air es.Matanya terbelalak,Di sela napas yang terengah, logika mulai mengambil alih, mengingatkan dirinya yang nyaris melewati batas."Sial! Ada apa denganku? Kenapa tubuhku selemah ini," batin Ana menjerit kesal."Bisa







