LOGINCahaya lampu jalan yang remang masuk menembus jendela mobil, jatuh di wajah Ana yang kini terlelap karena kelelahan. Max memacu kendaraan dengan kecepatan sedang, satu tangannya memegang kemudi sementara jemarinya yang lain sesekali mengetuk setir dengan gelisah.
Max melirik ke samping. Gadis itu tampak sangat rapuh ketika tidur. Pikirannya kembali ke map cokelat yang kini tersimpan aman di dasbor."Lagi-lagi kebetulan yang aneh," batin Max."Bagaimana mungkin secarDengan alis saling bertaut, Ryan melangkah masuk ke ruang rapat dewan komisaris. Ia berharap mendapatkan dukungan untuk melakukan perlawanan hukum terhadap perusahaan asing ini.Namun, atmosfer di dalam ruangan justru terasa seperti pemakaman.Kursi-kursi dewan banyak yang kosong. Hanya ada 5 orang yang hadir dari 12 anggota. Seharusnya berita itu sudah sampai ke telinga mereka, namun tidak ada jejak kemarahan, 5 orang itu justru memasang raut muak pada Ryan."Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian diam saja saat perusahaan asing mencoba menginjak-injak kita?!" teriak Ryan, mencoba membakar semangat mereka."Bukan mereka yang menginjak kita, Ryan. Tapi, kamu yang membiarkan kita terinjak," sahut salah satu komisaris senior dengan nada dingin. "Djiwa Group tidak hanya datang membawa uang. Mereka datang membawa berkas.""Berkas apa maksud Anda?"Pria tua itu melemparkan sebuah tablet ke arah Ryan. Layarnya menunjukkan grafik penuru
Dirga dan Citra juga menatap putri mereka dengan penuh tanya, meski sorot mata mereka lebih lembut dan dipenuhi kekhawatiran."Anu, Kak... beri aku waktu sebentar untuk mencuci muka. Kepalaku sedikit pusing," pinta Ana pelan.Ia masuk ke kamar, mengunci pintu dengan tangan gemetar, dan menyandarkan punggungnya di sana. Jantungnya berpacu hebat, seolah ingin melompat keluar. Ana mengelus perut yang masih datar, merasakan dingin yang menjalar dari ujung jari."Sedikit lagi... tolong bertahanlah sedikit lagi," bisiknya pada diri sendiri, menahan rasa mual yang mendesak di pangkal tenggorokan. "Bantu Mama menjaga rahasia ini."Setelah merasa lebih tenang, Ana keluar dan menghampiri Leo yang sedang duduk di teras belakang, menatap taman kecil mereka dengan wajah muram. Ana duduk di sampingnya, menyandarkan kepalanya di bahu kakak laki-lakinya itu."Kak Leo marah?" tanya Ana pelan, suaranya seperti anak kecil yang takut dihukum.Le
Kesunyian malam membungkus kabin yang melaju membelah jalanan kota. Cahaya lampu jalan bergantian menerangi wajah Max dari balik kemudi, menampilkan rahang tegasnya yang tampak tenang. Di sampingnya, Ana meremas pelan jemarinya sendiri, mencoba mencairkan kecanggungan yang merayap di antara mereka."Selamat atas keberhasilanmu," ungkap Ana, memecah keheningan yang sempat merajai selama beberapa kilometer.Max tidak mengalihkan pandangannya dari aspal di depan. "Ini berkatmu."Ana menoleh, sedikit terkejut dengan jawaban datar itu. "Jangan asal bicara. Aku selama ini memikirkan bagaimana cara untuk membalas dendam pada Ryan. Tapi kamu bisa membereskannya dalam sekejap.""Semua ini mustahil kulakukan, tanpa bukti darimu," sahut Max, menoleh singkat. Tatapan matanya sanggup membuat dada Ana berdesir aneh.Ana memalingkan wajah ke luar jendela, menyembunyikan rona tipis yang mendadak muncul di pipinya. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum men
Di dalam mobil mewah, suasana terasa begitu menyesakkan. Ana meremas jemarinya yang dingin, menatap keluar jendela dengan tatapan kosong sebelum akhirnya memberanikan diri menoleh ke arah Helena dan Max.Ia sempat tersentak saat menyadari ada yang berbeda. Max tidak lagi memakai jas formalnya yang kaku, ia telah berganti pakaian yang lebih kasual, dan yang paling mengejutkan, aroma parfum yang tadi membuatnya mual kini telah lenyap. Pria itu benar-benar menanggalkan bau yang ia benci."Anu... Pak Max... saya mohon," suara Ana bergetar, nyaris menyerupai bisikan. "Tolong jangan katakan apa pun soal kehamilan ini kepada keluarga saya."Max mengernyitkan alis, rahangnya mengeras. "Apa maksudmu? Kamu ingin aku datang ke sana dan berbohong?""Keluarga saya baru saja terkena masalah," potong Ana cepat, nada suaranya menyayat hati. "Papa baru saja pulih dari masalah di kantornya, dan Mama masih sering cemas. Kalau mereka tahu saya hamil di luar nikah...
Langkah kaki Max menghantam lantai marmer kantor dengan irama mematikan. Matanya yang tajam memindai setiap sudut, namun sosok yang dicarinya tak kunjung terlihat."Dimana Ana?" Suara Max berat, sarat akan tekanan yang membuat atmosfer ruangan mendadak mencekam.Fero, sang sekretaris yang sedang merapikan jadwal, tersentak hingga nyaris menjatuhkan tab-nya. Ia jarang melihat bosnya kehilangan ketenangan seburuk ini. "Ng... tadi saya melihatnya sedang membuat teh di pantry."Tanpa sepatah kata pun, Max berbalik. Jubah kekuasaannya seolah berkibar tertiup amarah saat dia melangkah menuju ruang di ujung lorong.Di dalam sana, Ana sedang bersandar pada meja bar, memandangi cangkir tehnya dengan tatapan kosong. Namun, ketenangannya hancur saat pintu terbuka dengan kasar. Max berdiri, auranya mengintimidasi, menutup ruang gerak Ana dalam sekejap."Ana, apa yang kamu lakukan di dokter kandungan?" Max menagih penjelasan tanpa basa-basi.
"Saya---hamil?!"Suara Ana memantul di dinding ruang periksa yang serba putih dan berbau antiseptik tajam.Dokter paruh baya di hadapannya hanya tersenyum simpul, seolah berita ini adalah kado ulang tahun yang manis, bukan sebuah vonis mati bagi masa depan Ana."Iya, selamat ya. Usianya sudah masuk empat minggu," ucap dokter itu tenang sembari merapikan hasil USG. "Wajar jika kamu merasa kram perut belakangan ini. Nanti setelah masuk trimester 2 gejalanya akan hilang."Dunia Ana rasanya berputar. Dia datang ke rumah sakit karena mengira ada yang salah dengan pencernaannya, tapi kenyataan justru menghantamnya lebih keras. Di dalam perutnya, ada benih yang tumbuh.Pikirannya kalut. Di kehidupan ini, mereka memang tidak memiliki hubungan darah, hanya sebatas atasan dan bawahan di kantor tempatnya magang. Namun, Ana masih dihantui oleh identitas sebelumnya."Bagaimana ini?! Orang tuaku bisa serangan jantung kalau tahu anak lugunya ha
Cahaya lampu kristal memantul sempurna pada lantai marmer kediaman Ana yang biasanya tenang.Malam ini, rumah mereka bertransformasi. Karangan bunga lili putih dan peony merah muda menghiasi setiap sudut guna merayakan dua peristiwa penting.Keberhasilan proyek besar pertama Leo
Perusahaan Sidney, bangunan megah yang terletak di pusat kota dengan arsitektur modern dan desain elegan.Gedung ini adalah simbol kesuksesan keluarga Sidney yang telah membangun kerajaan bisnis mereka dari nol.Di sana Max dan Ana datang memenuhi undangan, membahas sebuah proye
Ana menatap Max. "Saya sudah dengar, katanya seminarnya mau dimulai.""Bapak bisa pergi duluan. Saya bisa ganti baju sendiri," Ana menambahkan, suaranya terdengar canggung.Max nampak enggan pergi, tapi tak ada pilihan lain. Sejenak dia menatap tajam ke arah Ana, lalu berbalik pergi."Lain kali, ka
"Tunggu! Ada apa ini?" sontak suara Dirga terdengar keras,Membuat Ana berlari keluar kamar, masih mengenakan kemeja kusutnya.Dia baru saja sampai dari perjalanan melelahkan dan berharap bisa beristirahat, tapi keributan di luar memaksanya bergerak. Seakan lupa pada l







