MasukWARNING 21+ Di pesta satu tahun pernikahan, Reta tewas dalam kecelakaan mobil yang diatur suami dan sahabatnya sendiri. Beruntung Tuhan memberi Reta kesempatan kedua. Kali ini, dia berjanji akan merebut semua yang pernah menjadi miliknya. Berencana menghubungi satu-satunya keluarga yang dipercaya, malah berakhir dalam kesalahpahaman. "Kubeli tubuhmu seharga tiga miliar." tegas Max menatap gadis bersetelan bikini di depannya, Bisakah Reta membalas dendam sembari mengatur takdir yang membelenggu tubuh keduanya?
Lihat lebih banyak"S-sakit... Kenapa gelap sekali?" batin Reta.
Hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang menyentak kesadaran Reta. Namun, rasa nyeri yang hebat di sekujur tubuh memaksanya tetap terpejam. "Argh!" Reta mengerang, merintih dalam sesak. Saat kelopak matanya perlahan terbuka, ia tertegun. Dunianya jungkir balik. Tubuhnya tersungkur tak berdaya di atas langit-langit mobil yang ringsek. Reta baru tersadar, mobil yang ia tumpangi mengalami kecelakaan hebat. Tangannya gemetar, meraba sumber rasa sakit yang menghunjam. "Sshhh..." Tak ada luka terbuka yang terlihat, namun bagian dalam tubuhnya terasa terbakar, seolah puluhan belati baru saja dihujamkan ke organ vitalnya. Dengan sisa tenaga yang ada, Reta bersusah payah membalikkan tubuh. Napasnya terengah saat menatap lantai mobil yang kini berada di atas kepalanya. Benar saja, mobil itu terbalik setelah terguling ke dasar jurang yang kelam. Di tengah keheningan hutan yang mencekam, ingatan Reta berputar. Ada tiga orang lainnya di dalam mobil hitam itu. Ia melirik panik, mencari keberadaan mereka. Seharusnya, malam ini menjadi perayaan ulang tahun pertama pernikahannya. Namun, perjalanan menuju pesta itu berubah menjadi tragedi. Rem mobil mendadak blong, melempar mereka ke dalam kegelapan jurang. "Ryan! Ryan! Hei, bangun!" Suara pekikan itu memecah keheningan. Seorang gadis tampak tergesa-gesa mendekat. Suaranya yang melengking menarik Reta dari lamunan traumatisnya. "Siapa?" Reta mendongak, mencoba merangkak di sela-sela kursi belakang yang remuk. Ia melihat salah satu sahabatnya sudah berhasil keluar. "Syla?" "Syukurlah... dia selamat," gumam Reta dengan napas lega. Tubuh Reta kembali ambruk. Tenaganya luruh. Rasa sakit itu kian mencekik, bahkan hanya untuk mengangkat tangan pun ia tak mampu. Sakit. Luar biasa sakit! Reta kembali menoleh saat melihat seorang pria mulai bergerak sadar. Pria itu tampak meringis memegangi bahu kanannya yang cedera. "Bagaimana dengan Reta?" tanya Ryan setelah berhasil merangkak keluar dari bangkai mobil. Ia menatap sekilas helai rambut yang menjuntai dari jendela yang pecah. "Ryan..." Reta mendongak dengan tatapan sayu. Suaranya hilang di tenggorokan. Secercah senyum pahit terukir di sudut bibirnya. "Tentu saja pria itu mengkhawatirkanku," pikirnya. Tangan Reta terulur dengan gemetar, mencoba meraih bantuan. "Aku... di sini---" "Buat apa dipikirkan? Tujuanmu sudah berhasil, biarkan saja dia mati di dalam," potong Syla dengan nada ketus yang dingin. Langkah kaki Ryan terhenti. "Lagi pula, selama ini kamu hanya pura-pura mencintainya, kan?" sambung Syla lagi. DEG. Reta terpaku. Bibir keringnya terkatup rapat. Sorot mata penuh harap itu seketika padam, digantikan oleh kekosongan yang mengerikan. "Bohong! Itu pasti khayalan. Kepalaku pasti terbentur terlalu keras... iya, kan?" Tanpa sadar, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Reta tak bisa lagi membohongi diri sendiri. Hatinya jauh lebih sakit daripada tulang-tulangnya yang patah. Dadanya sesak, perutnya mual, ia merasa baru saja ditampar oleh kenyataan yang paling menjijikkan. "Apa maksudnya?" Reta tersenyum getir di tengah kegelapan. Sulit dipercaya bahwa setiap kecupan, setiap janji, dan kenangan indah selama ini hanyalah sandiwara murahan. Harta, perusahaan, jabatan, Reta bahkan rela memutus hubungan dengan keluarga yang merawatnya sejak kecil demi pria ini. Ia percaya Ryan adalah dermaga terakhirnya. "Apa yang Syla maksud? Tujuan... apa?" suara Reta serak, nyaris tak terdengar. "Tidak. Ryan sangat mencintaiku..." Reta menangis terisak. Hatinya menolak fakta yang terpampang nyata. Ia mencoba memanggil nama pria yang ia puja itu sekali lagi. "Ryan---" "Kamu benar. Tujuanku sudah tercapai," sahut Ryan dingin. Tak ada lagi nada lembut yang biasanya menenangkan Reta. "Aku sudah berhasil mengambil alih seluruh kekayaan keluarga Sidney." "Ryan? Kenapa..." Reta tercengang. "Lima tahun! Setelah semua yang kita lalui... apa sedetik pun kamu tidak pernah tulus mencintaiku?" Air mata kian deras membasahi pipi yang berlumuran debu. Reta jatuh ke dasar kekecewaan yang paling dalam. "Ayo cepat! Kita harus pergi sebelum mobil ini meledak!" Syla menarik paksa lengan Ryan. Suara langkah kaki mereka terdengar menjauh, kian samar, lalu hilang ditelan sunyi. "Semua yang kuberikan... apa belum cukup?" "Bukankah hartaku sudah lama kamu kuasai?" "Tidak bisakah... kamu belajar mencintaiku sedikit saja?" "Kenapa?" "Heh... tidak kusangka. Suami dan sahabatku sendiri... bersekongkol untuk membunuhku." "Haha... Hahaha!" Reta tertawa lantang. Tawanya terdengar gila di tengah reruntuhan. Ia menertawakan kebodohannya sendiri. Bagaimana bisa ia tertipu oleh topeng yang begitu sempurna? Kebahagiaan yang ia bangga-banggakan ternyata hanyalah pedang beracun yang kini tertancap tepat di jantungnya. "Argh..." Sebuah rintihan dari sisi lain mengejutkan Reta. Ia tersentak, mencari sumber suara itu. "Lia!" Mata Reta membelalak. Sahabatnya yang lain ternyata terpental keluar dari mobil. Gadis itu tampak kesakitan, berusaha bangkit dengan tubuh gemetar. Dalam posisi tengkurap, Lia menoleh dengan pandangan linglung. "Reta!" pekik Lia saat melihat Reta masih terjepit di dalam. Ia merangkak dengan sisa tenaga, mencoba meraih tangan Reta. "Kamu tidak apa-apa?" "Lia... cepat pergi!" tegas Reta, menepis tangan itu. "Tapi, Reta... aku harus membantumu dulu, ayo cepat!" Lia menangis, suaranya serak karena cemas. Ia terus menggapai-gapai ke dalam kabin yang sempit. "Jangan, Lia! Tidak ada waktu! Sebentar lagi mobil ini akan meledak!" "Bodo amat! Kamu jangan mengusirku!" bentak Lia keras kepala. "Cepat, berikan tanganmu!" Lia mulai tersedu-sedu, wajahnya memerah karena tangis dan amarah. "Ayo, Reta... aku tidak mau pergi tanpamu. Bangunlah, pegang tanganku!" Namun, Reta tahu ia sudah mencapai batasnya. Rasa sakit itu sudah berubah menjadi mati rasa yang dingin. Tubuhnya seolah lumpuh. Hanya suara parau yang sanggup ia keluarkan. "Aku mohon... demi aku. Larilah." "Tidak!" "Hubungi Om Neil! Katakan padanya... aku belum menandatangani surat alih kuasa," ujar Reta dalam satu tarikan napas yang menyakitkan. "Bilang padanya untuk mengambil alih kembali seluruh aset Sidney. Jangan biarkan Ryan menyentuhnya sedikit pun!" Lia terisak semakin kencang. "Kenapa jadi seperti ini? Reta, ayo kita pulang..." "Kamu pulanglah lebih dulu. Sampaikan pesanku, oke?" Reta memaksakan sebuah senyuman hangat, senyum perpisahan. Seketika, aroma bensin yang tajam menusuk hidung. Lia melirik ke belakang, asap putih mulai mengepul tebal, menghalangi pandangan. Dengan berat hati dan raungan tangis, Lia terpaksa mundur dam berlari menjauh tepat sebelum api menjilat bangkai mobil. "Terima kasih," bisik Reta lega. Ia kembali dipeluk oleh keheningan. "Hhh... jadi begini rasanya akan mati. Sepi sekali." "Uhuk! Uhuk!" Reta terbatuk keras, memuntahkan cairan merah pekat yang kental. Bau besi berkarat memenuhi indra penciumannya. Darah mengalir membasahi gaun indah yang seharusnya ia pamerkan malam ini. Napasnya pendek dan putus-putus. Betisnya kaku, dan rasa dingin mulai menjalar dari ujung kaki ke jantungnya. Di detik-detik terakhirnya, bayangan seseorang melintas. Senyum hangat pria yang sudah ia anggap sebagai ayah kandung sendiri. "Om Neil... apa Om akan memaafkanku?" "Dulu, Om selalu melarangku berhubungan dengan Ryan." "Andai ada kesempatan kedua... aku tidak akan pernah sudi mengenal bajingan itu."WARNING 21+ HARAP BIJAK DALAM MEMBACA!Tubuh Ana mematung, ditatapnya handuk putih yang terjatuh di atas lantai.Persetujuan tadi masih mengejutkan, benarkah pria itu sanggup membayarnya?DEG!Degup jantung Ana terpacu semakin cepat saat telunjuk dingin Max membuka ikatan tali di pinggangnya.Takut? Pasti.Terasa keras dan dingin, pucuk batang Max menyesak masuk ke sela paha. Dia memaksa Ana membuka jalan dengan merentangkan kaki,"Jangan---HM!" suaranya tercekat,Max sigap membungkam mulut yang hendak berteriak, sembari memaksa benda kekarnya masuk sepenuhnya.Dingin dan sempit, perlahan digoyangkan pinggul sambil terus menahan Ana agar tak bisa melawan."HM! HM!" Ana meronta,Berusaha menarik paksa tangannya namun tak bisa. Tenaga pria itu terlalu kuat,Ana memejamkan mata, merasakan nyeri menusuk, dirasakan batang
CEKLEK!Setelah lama menunggu, pembatas itu akhirnya terbuka. Ana tersenyum lega melirik kaki yang berjalan keluar,"Hh!" Reflek menutup muka,Tak kuasa melihat pria telanjang yang hanya memakai handuk kecil guna menutupi pinggang."Kenapa Bapak ga pake baju dulu?" tegur Ana sedikit mengintip,Mengenali benda yang tengah menggantung di jari Max."Itu, kan---""Dasar mesum!" pekik Ana berlari mendekat,Tangannya berusaha merebut namun dihalangi oleh telapak yang sigap menghadang. Mendorong mundur kepala Ana hingga tak bisa menggapai,"Mana---kembalikan itu padaku!""Jadi ini milikmu?" gumam Max merendahkan suara,"Kecil sekali,""Aaa! Cepat kembalikan!" ujar Ana dibuat kesal, ucapan tadi terdengar seperti ejekan.Ana sengaja merendam bikini miliknya yang terkena noda, tak disangka malah ditemukan Max.
Begitu banyak remah camilan berserakan di atas meja, dengan gelas anggur yang tak dibiarkan kosong.Mengenakan kostum tipis, 5 pelayan itu siap berdiri melayani para pria yang tampak asik bersenda gurau.Di sisi lain Ryan duduk santai mengawasi, tangannya tiba-tiba merogoh ke dalam saku, mengeluarkan botol kecil berisi cairan bening.Matanya melirik ke depan, memastikan tak ada yang menyadari sebelum dituangkannya ke dalam gelas."Ehem!" Ryan berdehem sambil memutar gelas,Diam-diam menunduk maju, menukarnya dengan gelas lain.Setelah itu tubuhnya bersandar kembali, bersikap santai dan melihat bagaimana gelas tadi diteguk habis oleh pria berjas di depannya."...?" Syla mengernyit,Dari belakang dia mengawasi aksi tersebut.Waktu berlalu, dan perubahan mulai terjadi. Max menunjukkan reaksi aneh,Padahal mereka tengah duduk di ruang berAC, namun t
"Huft ... akhirnya aku bisa bebas dari sana," helas Ana lega.Dia berbaring santai di atas ranjang kamar, menatap langit-langit sembari menenangkan pikiran. Bibirnya menyunggingkan senyum saat mengingat sikap seseorang yang berani membelanya, sosok pria yang dulu selalu melindunginya.Berkat bujukan Max, Ana diizinkan turun dan beristirahat dengan alasan harus mengerjakan laporan magang.Samar-samar, canda tawa dari lantai atas masih terdengar. Ana perlahan memiringkan tubuh, berniat menguping, tetapi rasa kantuk yang berat telanjur membawanya terlelap.Empat jam kemudian ....Ceklek!Pintu kamar terbuka. Suara itu seketika menyentak Ana dari tidurnya.Matanya menyipit menyesuaikan cahaya, baru tersadar jika dia lupa mengunci pintu. Ana langsung bangkit begitu melihat Max berjalan masuk dengan tubuh sempoyongan."Hh!"Ana bergegas turun dari ranjang, menahan tubuh Max yang nyaris ambruk. "Hih! Berapa gelas anggur yang Bapak minum?!" tanyanya ketus. Hidungnya mengernyit, tertusuk aroma






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak