Share

Kilauan pesta

last update publish date: 2026-06-09 09:57:24

Cahaya lampu kristal memantul sempurna pada lantai marmer kediaman Ana yang biasanya tenang.

Malam ini, rumah mereka bertransformasi. Karangan bunga lili putih dan peony merah muda menghiasi setiap sudut guna merayakan dua peristiwa penting.

Keberhasilan proyek besar pertama Leo dan hari bertambahnya usia sang putri, Ana.

Wangi aromaterapi mahal bercampur dengan aroma hidangan fine dining yang tersaji apik. Namun, di balik keramaian ini, ada ketegangan yang merayap
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pria milik 'ARANA'   Kunci ahli waris

    "Kalian tidak tahu," bisik Ana pada pantulan dirinya di cermin yang kini tampak lebih tajam dan berbahaya. "Bahwa kunci yang kalian pegang saat ini justru akan mengunci peti mati kalian sendiri."Hawa lembap memenuhi kamar mandi mewah itu. Dengan gerakan penuh kehati-hatian, Ana meraba punggung, menarik map cokelat yang terasa kasar di kulitnya.Begitu map itu berada di genggaman, Ana menyeringai. Sebuah seringai yang tidak akan pernah dibayangkan oleh Ryan, jika jiwa istrinya telah bangkit untuk menagih keadilan."Kalian tidak tahu," bisik Ana menatap cermin yang berlukis pantulan dirinya. "Bahwa selama ini, kalian telah menyimpan kunci peti mati kalian sendiri."Ana membuka map itu. Jemarinya gemetar saat menyentuh lembaran kertas di dalamnya. Ingatan membawa Ana melayang ke masa lalu, ke sebuah sore yang tenang di perpustakaan rumah ini, saat ia masih di tubuh Reta."Ryan, aku berpikir untuk membuat surat wasiat dan ahli waris. Menging

  • Pria milik 'ARANA'   Kamar lama yang masih sama

    Ana menempelkan telinga ke pintu. Mencoba memastikan keadaan di luar, dan menyelinap di tengah kesunyian.Berjinjit pelan lalu berlari seringan kucing. Ana mendatangi sebuah ruang berpintu jati di ujung lorong, kamar utama yang dulu mereka tempati sebagai suami istri."Aku harus mencari surat itu sekarang," bisiknya pada kegelapan.Pintu itu tidak terkunci. Ryan terlalu percaya diri bahwa tidak akan ada yang berani masuk ke wilayah pribadinya.Kamar mereka masih memiliki tata letak yang sama, namun dekorasinya kini terasa lebih dingin dan maskulin. Aroma parfum Reta yang dulu memenuhi ruang telah digantikan aroma tembakau yang menyesakkan."Apa dia masih menempati kamar ini?" batin Ana terheran, merasakan jejak baru di sana.Ia beralih ke depan lemari pakaian yang menempel di dinding. Di sana, tanpa sepengetahuan Ryan, di balik panel kayu yang tampak biasa itu, tersembunyi sebuah brankas baja."Aku harus cepat," bisik An

  • Pria milik 'ARANA'   Makan malam mewah

    Matahari di ufuk barat telah menghilang, tergantikan oleh selimut malam yang dingin.Ana berdiri di depan cermin, menatap bayangan gadis muda yang kini menjadi cangkangnya. Wajah ini mungkin masih terasa asing, namun di balik mata itu, bersemayam jiwa yang hangus terbakar oleh pengkhianatan.Jiwa Reta, seorang wanita yang pernah mempercayakan seluruh hidupnya pada seorang pria."Satu langkah lagi, Ryan," bisik Ana bernada sedingin es.Ia memilih sebuah dress selutut berwarna hitam pekat yang kontras dengan kulit putih pucatnya. Potongan punggung sengaja dirancang rendah guna memamerkan lekuk tubuhnya yang anggun.Rambut lurusnya kini Ana tata sedikit bergelombang, lalu dikumpulkan ke sisi kiri, membiarkannya jatuh di satu bahu, tak lupa memakai kalung pemberian Ryan yang berhasil dia temukan semalam.Sentuhan terakhir adalah aroma. Ana menyemprotkan parfum dengan note melati dan sandalwood. Ia tahu persis, aroma ini adalah kelem

  • Pria milik 'ARANA'   Hutang tiga milliar

    Keributan yang diciptakan Sarah dan Mia segera diredam oleh pihak keamanan. Mereka diseret ke area belakang pesta dalam kondisi masih meracau,Meninggalkan atmosfer ruangan yang dipenuhi bisik-bisik sinis.Di tengah distraksi itu, seorang pria dengan raut wajah tegas namun tampak lelah mendekati Max."Maaf, atas keributan yang terjadi." ungkap Leo kakak kandung Ana,Leo berdiri dengan segelas sampanye di tangan, menghadap Max sambil mempertahankan senyum."Tidak perlu sungkan, seharusnya saya yang minta maaf---karena tidak bisa membantu apa pun. Pasti sulit mengurus pesta seperti ini," Max menepuk bahu Leo singkat."Iya, ini lebih melelahkan dari mengurus perusahaan." Leo tersenyum sepat,"Oh ya, Tuan Max. Sebenarnya ada yang ingin saya bicarakan---Soal uang 3 miliar yang anda pinjamkan pada adik saya,"Max tertegun, hampir menjatuhkan gelas di tangannya. Dia tidak tahu jika Ana membeberkan rahasia itu pada Leo,

  • Pria milik 'ARANA'   Kehancuran di tengah pesta

    Ana berjalan keluar dengan jantung yang masih berdegup kencang. Di depan cermin besar koridor, ia menoleh.Jemarinya yang sedikit gemetar begitu tergesa-gesa menata ulang rambutnya, membiarkan helaian gelombang guna menutupi leher.Ana mencoba menyembunyikan tanda merah yang Max tinggalkan. Dia juga berbalik, memastikan resleting gaunnya kembali sempurna,"Huft...tenanglah," gumam Ana menarik napas dalam, memaksakan topeng santai di wajahnya.Menerbitkan senyum sebelum kembali ke aula pesta,Di sana Ryan tampak mencari dan langsung menghampiri."Ana, dari tadi aku menunggumu." ujar Ryan merendahkan suara,Matanya segera tertuju pada leher Ana yang dibiarkan polos. "Lho, dimana kalung berliannya? Kenapa tidak kamu pakai?""Ha? Mm..." Ana terbata-bata, merasakan perutnya melilit.Teringat bagaimana Max merenggut kalung itu dan membuangnya entah kemana.Ia memaksakan senyum tipis yang terlihat ren

  • Pria milik 'ARANA'   Hadiah utama

    Kesadaran menghantam Ana seperti siraman air es.Matanya terbelalak,Di sela napas yang terengah, logika mulai mengambil alih, mengingatkan dirinya yang nyaris melewati batas."Sial! Ada apa denganku? Kenapa tubuhku selemah ini," batin Ana menjerit kesal."Bisa-bisanya aku tergoda dan menikmati setiap sentuhannya. Sadar! Dia ini ommu sendiri! Walau sudah ada di tubuh berbeda, tidak etis rasanya menjalin hubungan dengan dia.""Sadarlah Ana!"Ana meronta, tangannya yang tadi meremas kemeja Max, kini berubah menjadi dorongan keras demi menjauhkan dada pria itu.Ia terus berusaha memundurkan tubuh dari himpitan Max, namun sudah terlambat.Lengan kekar Max terlalu kuat mencengkram dua paha Ana sampai tak berkutik."Lepaskan...saya mohon. Cukup!" pinta Ana memukulkan kepalan tangannya,Seberapa keras dia berteriak, kata-katanya tertelan oleh dominasi Max.Max malah mempererat cengkraman, tak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status