Home / Romansa / Pura-Pura Cerai / 4. Menduga yang Tak Terduga

Share

4. Menduga yang Tak Terduga

Author: AR Disza
last update publish date: 2026-09-20 16:19:36

Satu detik pun Alda tidak menurunkan kewaspadaannya. Seakan dirinya adalah mangsa yang menyadari perangkap di depan mata. Perasaan dihantui menggelayut dalam diri Alda. 

 Prinsip Alda: kalau terpaksa harus berinteraksi dengan Dito, cukup sekadarnya saja. 

 Tanpa banyak berbicara, Alda memilih duduk di kursi belakang bersama Chika di car seat dan Siska di sisi kanan. Sementara Miska dan Dito duduk di bangku depan. Untung saja, Miska sudah lebih dulu duduk di sana sehingga Alda tidak terpaksa duduk persis di sebelah Dito.

  Meskipun tidak ada percakapan yang terjadi antara dirinya dengan Dito, Alda tetap merasa risi. Dia bisa merasakan tatapan Dito dari kaca spion tengah. Alda mengalihkan pandangan matanya ke arah lain.

Perjalanan yang seharusnya singkat terasa begitu jauh. Bahkan lagu yang berputar dari radio tidak berhasil membuat rasa diawasi itu hilang.

  "Tante, kok, aku baru lihat Tante?" Siska, anak tengah Lola, bertanya. Anak itu mengamatinya polos. Murni penasaran. 

  Bagi Alda, interaksi ini layaknya angin segar. Tidak ada tatapan menghakimi. Di lain sisi, Alda tahu harus menjawab dengan hati-hati. Dia tidak perlu menjelaskan konflik yang terjadi antara dirinya dan keluarga Roni. Belum lagi Dito yang juga mengawasi di balik kemudi. Bahkan Dito sampai menurunkan volume radio.

  "Iya. Soalnya, selama ini Tante baru sempat datang." Alda tidak tahu jawaban yang lebih baik dari ini. Cukup menjelaskan secara singkat dan padat. Tidak terlalu mendetail. 

  "Mama pernah bilang Om Roni dan Tante itu pindah keluar kota." Miska di bangku depan menimbrung obrolan meski tatapannya terpaku ke layar tablet di pangkuan.

  Alda akhirnya mengetahui kalau ketidakhadirannya di keluarga Roni adalah mereka hidup di tempat lain. Miska dan Siska pasti menanyakan pamannya yang tidak lagi terlihat. Chika mungkin tidak begitu ingat Roni untuk bertanya keberadaan pamannya itu. Setidaknya, Alda melihat alasan kepergian mereka bukan sesuatu yang lebih buruk seperti dianggap tiada. Seakan menghilang seperti udara.

  "Sibuk, ya?" Siska mengangguk-angguk, mengambil kesimpulan sendiri. "Tapi, habis ini sering-sering datang ya. Biar aku ada teman main lagi."

  "Oh, iya karena Mbak-nya nggak di situ lagi ya?" Alda menanggapi dengan informasi kecil yang dimiliki.

  "Iya, tapi Mbak yang kemarin juga lebih sering main sama Papa." Siska mencebik. "Padahal, Papa kan nggak perlu Mbak."

  Dito berdeham. "Siska yang suka bandel makanya Mbaknya pergi."

  Siska mengelak dan berceloteh ke hal lain. Siska berkata akan menjadi anak baik agar Alda sering datang mengunjungi.

  Mengerikan. Alda merinding mendapati bagaimana sikap Dito yang mengemas perkataannya kasual. Seakan-akan ingin mengenyahkan informasi penting yang diloloskan seorang anak kecil lugu. Siska mungkin tidak mengerti sepenuhnya, tentang permainan yang memiliki definisi berbeda seperti yang tebersit di pikirannya.

  Alda berharap tidak mendengar percakapan ini. Sudah pasti banyak asumsi yang muncul begitu saja dalam benak Alda. Yang terpenting adalah dirinya yang harus menjaga jarak dengan Dito. Pria itu sama sekali tidak beres. Pengasuh yang bekerja saja didekati dan disaksikan oleh anaknya sendiri. Alda mampu membayangkan bagaimana Dito akan memutarbalikkan fakta dan menyalahkan pihak lain.

  Lambat laun, perjalanan melelahkan itu berakhir seiring mobil yang ditumpangi memasuki parkiran taman pemakaman. Dari jendela, Alda mendapati mobil jenazah sudah tiba lebih dulu. Pintu mobil bagian di belakang telah dibuka. Roni turun lebih dulu membantu ibunya.

  Siska mengekori Alda. Dengan sigap, Alda menggandeng tangan Siska dan melangkah sesuai jalan setapak. Alda buru-buru menjauh dari Dito yang menghampiri Chika di car seat. Dari kejauhan, dia melihat tenda yang sudah disiapkan dan gundukan tanah galian. Roni memandang ke arahnya, Alda hanya memberi anggukan kepala. Alda membiarkan Roni agar fokus untuk prosesi.

  Sejujurnya, Alda memilih untuk berada di belakang. Bukan karena dia merasa kerdil di mata keluarga suaminya, melainkan luka dukanya sendiri mulai merayap. Bagi Alda, luka kehilangan tidak seperti luka di permukaan kulit yang bisa mengering, baik menyisakan bekas luka atau hilang tanpa jejak. Duka kehilangan kedua orangtuanya diibaratkan sebagai luka yang akan selalu menimbulkan rasa nyeri maupun perih.

  Lantas Alda melangkah mundur ketika Siska melepas tangannya demi menghampiri ibunya. 

  Mengamati pemakaman, Alda justru akan terlempar ke memori yang diharapkan sebagai mimpi buruk. Setidaknya, jika semua itu mimpi buruk, yang perlu dilakukan oleh Alda adalah terjaga dari tidurnya.

  Alda menahan napas seiring tangisan ibu mertuanya semakin lantang. Lola tengah menenangkan meski air mata juga menitik di wajah. Sementara Roni turun ke liang lahat membantu membaringkan ayahnya pada peristirahatan terakhirnya. 

  Pemakaman berlangsung lancar. Beberapa orang sudah lebih dulu pamit. Yang tersisa hanya keluarga terdekat. Ibu mertuanya masih menangis tersedu-sedu. Lola mulai kerimpungan harus mengurus ketiga anaknya sekaligus memastikan ibunya baik-baik saja. Roni dengan pakaian dan celananya terdapat noda tanah pun mendekati ibunya. 

  Alda masih menjaga jarak sampai akhirnya Roni melangkah ke arahnya.

  Kedua tangan Alda terbuka lebar, menawarkan pelukan yang hangat. Dia tidak peduli pakaian yang dikenakan akan ikut kotor. Alda hanya memikirkan dirinya menjadi tumpuan untuk Roni.

  Langkah Roni gontai. Pria itu menyerahkan dirinya ke dekapan sang istri. 

  Alda tidak mengucapkan apa pun. Tidak ada kata-kata yang tepat mampu merajut dan menutup rasa kehilangan yang ada. Alda pernah mengalami ini. Ucapan duka, dulu, berlalu begitu saja. Alda bisa merasakan bahu Roni naik-turun ritmis.

  Tidak berselang lama, Dito menghampiri. 

  "Kata Lola, Ibu minta kalian balik ke rumah lagi, ya." Dito bersikap wajar saat membawa pesan ini. Tidak ada tatapan mengawasi seperti sebelumnya. Bahkan selama proses pemakaman, dia berlagak seperti suami siaga untuk Lola. 

  Roni mengangguk. "Iya, niatnya memang begitu."

  Alda juga setuju. Bahkan, Alda ingin menyarankan agar Roni menginap di rumah keluarganya.

  "Katanya nanti bakal ada notaris," ujar Dito menambahkan.

  Mata Roni melebar. Bahkan, wajahnya sedikit memerah. Seakan tidak percaya dengan apa yang didengar. "Bapak belum ada setengah jam dikubur, tapi mau ada notaris?"

  Menurut Alda, reaksi Roni sangat valid. Sejauh yang diketahui oleh Alda bahwa kehadiran notaris selalu berkaitan dengan perihal waris.

  "Iya, Ibu yang minta biar cepat." Dito mengangkat bahu.

  Alda menelan ludah. Sesungguhnya Alda tidak begitu tertarik dengan urusan warisan Roni. Apalagi urusan seperti ini dapat merusak hubungan keluarga. Alda hanya berharap hubungan Roni dan keluarga tidak semakin pelik.

  Seseorang yang menangis paling kencang justru yang meminta urusan warisan segera diselesaikan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pura-Pura Cerai   6. Intrik Emosi

    Ada pepatah yang diketahui Alda: jangan berjanji saat bahagia dan jangan mengambil keputusan saat marah. Pasalnya, seseorang yang dilahap emosi hanya akan mencari cara untuk membalas menyakiti layaknya api yang menjalar dan membakar apa pun yang terlihat. Dan, Alda berharap Roni tidak bereaksi sesuai emosi. Atmosfer di hadapan Alda begitu berat. Suasananya mencekam. Bahkan, Alda berulang kali menahan napas. Tatapannya tertuju ke Roni yang mematung dengan kepala tertunduk. Raut wajah suaminya tampak tidak fokus. Di mata Alda, yang dialami oleh Roni seperti bentuk penekanan emosional. Roni baru kehilangan ayahnya lalu mendapati wasiat dari mendiang ayahnya yang merupakan tuntutan besar. Hal ini bisa dikatakan sebagai eksploitasi emosi. Alda menyadari bahwa pikiran Roni terlalu bising untuk memutuskan sesuatu pada saat itu juga. Roni terlalu rentan dan serba salah. "Apa ada batas waktunya?" tanya Alda, nada bicaranya netral. "Maksud saya, apa Roni diberi batas waktu?" Yang pali

  • Pura-Pura Cerai   5. Ultimatum Terakhir

    Dengan saksama, Alda mengedarkan pandangannya berkeliling di kamar Roni. Kata Roni, kamarnya di rumah ini dibiarkan seperti semula dan tidak ada yang berubah. Seakan penghuni rumah ini bertaruh bahwa Roni pasti akan kembali kapan pun. Tatapan Alda kini terjatuh ke Roni yang baru saja selesai membersihkan diri. Secara sigap, Roni memilih pakaian yang terlipat rapi di lemari. Pria itu mengganti pakaian yang sebelumnya terkena tanah. Namun, mengubah raut wajah tidak semudah berganti pakaian. Sepanjang jalan Roni terdiam dan hanya mengepalkan tangan kuat-kuat. Mereka menggunakan taksi online untuk kembali ke rumah orangtua Roni. Alda sendiri lebih nyaman seperti ini ketimbang menumpang di mobil Dito atau kerabat yang lain. "Aku nggak ngerti. Kenapa nggak nunggu minggu depan? Atau, sekalian bulan depan?" Roni masih tidak habis pikir ibunya mengadakan pertemuan dengan notaris secepat ini. Alda berusaha mencari sudut pandang lain yang netral. Sesuatu yang terkesan logis untuk diden

  • Pura-Pura Cerai   4. Menduga yang Tak Terduga

    Satu detik pun Alda tidak menurunkan kewaspadaannya. Seakan dirinya adalah mangsa yang menyadari perangkap di depan mata. Perasaan dihantui menggelayut dalam diri Alda. Prinsip Alda: kalau terpaksa harus berinteraksi dengan Dito, cukup sekadarnya saja. Tanpa banyak berbicara, Alda memilih duduk di kursi belakang bersama Chika di car seat dan Siska di sisi kanan. Sementara Miska dan Dito duduk di bangku depan. Untung saja, Miska sudah lebih dulu duduk di sana sehingga Alda tidak terpaksa duduk persis di sebelah Dito. Meskipun tidak ada percakapan yang terjadi antara dirinya dengan Dito, Alda tetap merasa risi. Dia bisa merasakan tatapan Dito dari kaca spion tengah. Alda mengalihkan pandangan matanya ke arah lain.Perjalanan yang seharusnya singkat terasa begitu jauh. Bahkan lagu yang berputar dari radio tidak berhasil membuat rasa diawasi itu hilang. "Tante, kok, aku baru lihat Tante?" Siska, anak tengah Lola, bertanya. Anak itu mengamatinya polos. Murni penasaran. Bagi Alda

  • Pura-Pura Cerai   3. Bukan Reuni Keluarga

    Sembari menunggu pukul satu siang, Alda malah menyibukkan diri dengan menyajikan air minum ataupun makanan ringan untuk tamu yang datang. Masih ada satu jam sampai agenda pemakaman. Mobil jenazah sudah terparkir di depan gerbang. Setiap Alda berpapasan dengan dua wanita paruh baya yang merupakan kerabat jauh dari pihak ibu mertuanya, mereka hanya tersenyum canggung. Barangkali kedua orang itu membicarakannya dengan tamu lain karena keberadaan Alda menjadi pusat perhatian. Selalu ada beberapa pasang mata tertuju padanya. Buah bibir itu memang cepat menjalarnya seperti virus. "Kamu dari mana saja?" tanya Roni yang meraih lengan Alda. Kali ini, mata Roni sedikit membengkak. Alda mengulum senyum. "Aku habis siapin makanan dan minuman buat yang datang." Setidaknya, dengan cara ini, Alda mampu membantu. Dia tidak mungkin menghibur ibu mertuanya dengan berbicara kepadanya. Roni membuang napas pendek. "Kamu belum ketemu Ibu dan Kak Lola." Tidak perlu seseorang yang genius untuk me

  • Pura-Pura Cerai   2. Keluarga Roni

    Kapan terakhir kali Alda menginjakkan kaki di rumah keluarga Roni ini? Tentu saja, Alda mampu mengingatnya dengan jelas. Persisnya tiga tahun dua bulan yang lalu. Namun, Alda merasa seperti baru kemarin. Pada saat itu, Roni membawanya ke sini untuk dikenalkan serta meminta restu bahwa hubungan mereka serius. Roni yang ingin membawa hubungannya dengan Alda ke jenjang selanjutnya. Sambutan yang didapatkan Alda kurang hangat. Dibandingkan perkenalan keluarga, Alda merasa lebih mirip wawancara kerja. Latar belakang Alda. Contohnya, seperti siapa keluarga, di mana saja Alda mengemban pendidikan, apa pekerjaan Alda. Bahkan Alda masih mengingat raut wajah yang mendadak dingin dan sinis saat Alda berkata kedua orangtua meninggal semenjak dia kecil. Tidak ada kata yang lebih halus untuk mengemas komentar ayahnya Roni: asal-usul Alda seperti tidak jelas. Tidak heran apabila Alda gemetar berdiri di depan rumah dengan pagar tembok yang menjulang tinggi. Seakan penghuni rumah itu sengaja me

  • Pura-Pura Cerai   1. Kabar Duka

    Sepasang mata Alda terpaku pada benda di tangannya. Dia berharap melihat satu garis lainnya meski hanya bayangan tipis. Sayangnya, sekian menit berlalu, hanya ada satu garis. Tidak ada yang berubah. Hasil pagi ini masih sama dengan hasil sudah-sudah. Alat tes kehamilan menunjukkan negatif. Seolah-olah ada tangan imajiner yang meremukkan jantungnya, Alda merasa begitu sesak. Sudah tiga tahun. Namun, Alda belum bisa memberikan buah hati untuk keluarga kecil mereka. Apa yang salah? Apa ada duri di dalam rahimnya hingga tidak ada janin yang melekat? Segala pertanyaan berlalu-lalang dalam benak Alda. Hanya saja ada satu pertanyaan yang membuat bulu kuduknya meremang. Apakah Roni menyesali menikahi dirinya? Apakah ini hukuman untuknya karena menikah tanpa restu orangtua Roni? Alda menggelengkan kepalanya cepat agar pikiran itu enyah. Lalu, dia membuang alat tes kehamilan itu ke tempat sampah. Betapa dia berharap rasa kalutnya ikut terbuang. Tangan Alda meraih kenop pintu kamar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status